
"Heii bang Gatlin kau melihat siapa di antara kami keluar mulut lorong lebih dulu?"
Gatlin yang sedari di garis awal tidak menunjukkan ekspresi apapun sekarang terlihat tersenyum ke dua orang anak ini. "Aku melihat kalian berdua bersamaan keluar dari mulut lorong."
"Ah sial, ternyata penguji ini buta.." Sanji memaki geram. Dia merasa dialah yang menang.
Mitsuya tertawa keras. "Kau mudah sekali memaki seorang elite militer. Dia jauh lebih hebat dari kita berempat kalau di gabungkan." Mitsuya sampai terpingkal-pingkal karena makian yang di berikan Sanji pada pengawas ujian barusan.
"Aku tidak perduli aku cuma mau dia mengatakan kemenanganku.."
"Kau harusnya tidak perlu bersandiwara seperti ini sudah jelas-jelas aku yang menang"
"Sialan kau.. aku yang menang woii"
'Anak-anak ini mereka tampak hebat ternyata tahun ini ada beberapa anak jenius yang mengikuti ujian elite militer..' Gatlin membatalkan niatnya menghitung orang yang mengikutinya di belakang. Pikirannya terbawa suasana senang melihat kedua orang anak yang sedang berdebat.
'Aku harap kalian akan terus bertahan sampai akhir..' Gatlin tersenyum penuh arti. Dua anak itu tidak melihatnya dan terus beradu mulut.
-
Hahh.. hahh.. hahh.. Theodorus meraih satu dua tiga anak tangga terakhir dan keluar dari lorong seperti menemukan sebuah oase di tengah gurun pasir yang tandus.
"Akhirnya.." Theodorus langsung tergeletak, wajahnya menengadah ke arah langit begitu sampai di sebuah tempat yang bawahnya itu rumput. Bukan lagi anak tangga.
Tempat ini di penuhi kabut dan dingin orang yang semula merasakan tenggorokan mereka kering seketika merasa lebih baik ketika wajah mereka sesekali tertiup oleh hawa dingin di tempat itu.
"Apa kita sudah sampai ke lokasi ujian tahap dua?" Seorang peserta wanita bertanya.
Gatlin menggeleng. "Masih jauh."
Di mulut lorong itu ternyata terdapat sebuah pintu dan ketika satu orang terakhir ingin keluar dari lorong, pintu itu menutup perlahan. Meninggalkan orang yang berusaha sambil terus merangkak menaiki anak-anak tangga terakhir.
Padahal dia sedikit lagi keluar dari lorong, tapi karena sudah sangat kelelahan orang itu tidak bisa memaksakan diri lebih jauh.
Gatlin hanya menatap orang itu dingin.
__ADS_1
Jarak ke lokasi ujian tahap dua masih sangat jauh, tapi melihat orang itu sudah seperti mau mati Gatlin tidak membiarkannya lewat dari lorong itu dan langsung memencet tombol menutup pintu.
Membiarkan orang itu keluar dari lorong, sama dengan Gatlin membunuh orang itu.
-
Di suatu wilayah pada area terbuka di sebuah hutang yang magis, kabut tebal menghalangi jarak pandang orang-orang di tempat itu sejauh sepuluh meter ke depan.
Kondisi tanah yang basah dan udara dingin akan menjadi masalah baru untuk mengikuti lari pria berbadan atletis ini nantinya.
"Kalian harus tau bahwa hutan ini di penuhi dengan monster berbahaya berusia ratusan tahun bahkan jika kalian sial maka ada satu dua monster berusia ribuan tahun di tempat ini" Gatlin menjelaskan.
"Tumbuhan beracun dan juga perangkap banyak tersebar di tiap lokasi hutan"
"Tapi bukan itu yang perlu di takuti oleh orang-orang hebat seperti kalian yang sudah berhasil sampai sejauh ini"
"Hutan ini memiliki kabut segar yang bercampur juga dengan racun yang memungkinkan orang yang menghirupnya terkena efek delusi ilusi" Gatlin menatap semua orang yang ada di tempat ini.
"Jadi kalau kalian tidak ingin selamanya berada di hutan ini, jangan berada terlalu jauh dariku. Kalian akan aku bawa ke lokasi ujian tahap ke dua." Gatlin menyudahi penjelasannya.
"Cih aku sudah curiga ada sesuatu yang aneh di tempat ini"
"Tidak usah khawatir yang penting kita selalu berada dalam jarak yang dekat dengan penguji tahap satu, Gatlin.." Xernathan melihat wajah Theodorus yang memucat.
Jika tempat ini memang tersebar racun dan di penuhi dengan monster dan perangkap berbahaya lainnya pasti sangat beresiko untuk berada jauh dari Gatlin.
Theodorus ragu tenaganya masih sanggup untuk mengejar lari Gatlin. Mengingat sewaktu tenaganya masih banyak saja, dia ketinggalan jauh dengan rombongan di depannya.
"Ba.. Bagaimana kami tau kalau kau yang ada di hadapan kami ini bukanlah ilusi?"
"Iya benar apa kau ini nyata?"
"Mereka semua yang ada di tempat ini sudah terkena efek racun kabut ini, mereka semua jadi paranoid." Sanji berbisik pelan kepada tiga orang temannya.
"Kalian bersiaga, bukan tidak mungkin akan terjadi sebuah pertempuran di hutan ini, kita harus segera mengikuti Gatlin." Xernathan tidak pernah melepaskan pandangannya dari Theodorus. Dia tidak ingin si Theodorus ini berada jauh dari hadapannya.
__ADS_1
Shufftt.. Sebuah jarum melesat dari seorang pria yang menggunakan topeng penuh jarum di wajahnya melesat ke arah Gatlin.
Gatlin menangkap tiga buah jarum yang melesat ke arahnya dengan jari semudah memakan mie menggunakan sumpit.
"Ilusi tidak mungkin bisa menangkap sebuah jarum yang melesat cepat ke arahnya"
"Semua pengawas ujian masuk elite militer ini adalah orang-orang yang hebat"
"Berarti kau memang penguji ujian yang asli.. kau bukanlah ilusi kami." Levin yang tertawa karena melihat keberhasilan Gatlin menangkap serangan temannya.
Dia sendiri pasti sudah tau Gatlin yang di hadapan mereka bukanlah ilusi tapi kekhawatiran orang-orang di tempat ini menjadi alasannya untuk menyerang penguji, Gatlin.
"Tentu saja aku bukan ilusi, aku terima itu sebagai pujian. Tapi kau maupun temanmu itu tidak boleh menyerang petugas dengan alasan apapun, kalau kau memaksa kau akan di diskualifikasi mengerti?" Gatlin menatap Levin dengan wajah datarnya.
"Ya." Levin menghilangkan senyum dari balik topengnya.
Gatlin berbalik badan dan mulai berjalan lalu berlari di ikuti semua peserta yang tersisa.
"Jangan berikan jarak antara aku dan kalian atau kalian akan menyesal." Gatlin memperingati mereka untuk terakhir kalinya.
Chekk.. chekk.. chekk.. Kaki ratusan orang berlari di atas tanah rerumputan yang basah.
Xernathan dan ketiga orang temannya memilih untuk berada di barisan tengah.
Sebelumnya Xernathan memberi tau teman-temannya untuk tidak menoleh ke sembarang arah, hanya fokus mengikuti orang di depan mereka. Ketiga orang temannya pun mengangguk setuju.
"Sanji kita harus cepat, aku tidak ingin berada dekat dengan Levin." Mitsuya berbisik ke arah Sanji. Dia menyadari bahwa beberapa orang di belakang Levin akan memulai pertarungan melawan pria bertopeng kelinci itu.
Sanji mengangguk setuju. "Akupun merasakan tekanan udara di tempat ini menjadi lebih besar."
"Xernathan, Theo cepatlah jika sejauh ini kalian akan tertinggal." Sanji berteriak memanggil dua orang temannya yang berbeda jarak sekitar sepuluh meter lebih darinya. Bahkan sesekali jarak pandang mereka menjadi tidak terlihat karena tertutup kabut.
"Kalau aku bisa pasti aku akan mau berlari lebih cepat, lebih baik." Theodorus berteriak, berlari sekuat tenaganya sambil bertelanjang dada. Udara dingin seperti ini tidak berarti apa-apa di banding wilayah asalnya.
"Kalian berdua duluan saja, aku dan Nathan akan menyusul." Theodorus selalu merasa aman ketika Xernathan ada di dekatnya.
__ADS_1
"Baiklaah." Sanji berteriak. Sanji kemudian memberi kode pada Mitsuya agar mereka berdua lebih dulu merapat dengan orang-orang yang berada di barisan tepat di belakang si penguji ujian, Gatlin.