Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.17 Pohon cakar iblis


__ADS_3

Xernathan, Sanji dan Theodorus berdiri di salah satu pohon yang batangnya seperti sebuah tiang menjulang tinggi ke atas.


Terlihat ada puluhan cabang yang memiliki banyak daun-daun seperti sebuah sisir yang panjang di ujung batangnya.


"Heii kalian berdua tau ini namanya adalah pohon cakar iblis, jika kalian mengucapkan kata-kata kotor dan kata tidak baik di bawah pohon ini, selamanya kalian akan mendapati kutukan kehidupan yang sial." Theodorus berkata itu dengan wajah serius dan juga tanpa berkedip menatap Xernathan dan Sanji bergantian.


"Whaa benarkah? Theodorus kau memiliki wawasan yang sangat luas." Sanji terperanjat terlihat sangat penasaran dengan pohon di hadapannya. Dia mendonga melihat jauh ke arah atas.


Pohon itu memang terlihat memiliki cabang yang mempunyai daun lurus jarang, hingga terlihat seperti sisir maupun cakar kuku yang panjang.


Xernathan tersenyum mendengar bualan Theodorus kali ini. Di sepanjang jalan Theodorus terus mengarang cerita pada apa saja yang asing di lihatnya.


"Pohon ini namanya pohon kelapa!" Xernathan akhirnya membuka suara.


Sanji menatap tajam ke arah anak yang memiliki tubuh lebih besar darinya. "Heii Theo sialan, kau coba untuk menipuku lagi hah?"


Theodorus menunjukkan giginya. "Aku hanya bercanda Sanji kau tidak perlu seperti itu."


Xernathan menatap ke arah atas, melihat ke daun-daun pohon itu. "Kalian sedikit menjauh dari pohon ini, aku akan memanjat"


"Jangan kalian sentuh pedangku." Xernathan mulai memanjat pohon.


"Hei Xernathan kau awas jatuh." Sanji melihat ke arah atas berteriak memperingati temannya itu yang sudah memanjat pohon kelapa di depannya yang mempunyai tinggi kurang lebih tiga puluh meter.


"Heii kalian berdua menjauh dari sana.." Xernathan berteriak dan mulai menjatuhkan beberapa buah ke tanah.


Dengan kekuatan tulang dan organ dalamnya Xernathan mudah saja naik dan turun pohon kelapa yang memiliki tinggi seribu meter sekalipun.

__ADS_1


Xernathan tidak merasakan lelah ataupun terlihat kesusahan naik pohon tanpa injakan yang batangnya seperti tiang yang tinggi itu.


Sesampainya di bawah, Xernathan menebas ujung buah berwarna hijau itu dengan pedang Charybdisnya.


"Whaa air buah ini sangat manis.." Theodorus memasang ekspresi wajah yang sama ketika meminum buah kelapa yang ke tiga ini.


"Woii Theo kau tidak takut terkena kutukan hah ketika meminum air buah dari pohon terkutuk cakar iblis ini?" Sanji memasang wajah kesal menatap Theodorus.


"Sanji kan sudah aku bilang aku hanya bercanda." Anak bernama Theodorus itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Niat dia baik untuk membuat suasana perjalanan mereka menyenangkan. Tapi karena sudah di tipu berulang kali Sanji jadi merasa kesal.


Xernathan tertawa lebar saat ini. Bahkan sepenjang perjalanan karena ada saja tingkah Theodorus yang membuatnya tertawa.


"Memangnya tidak ada pohon seperti ini di tempat kalian berasal?" Xernathan bertanya.


Theodorus dan Sanji berasal dari tempat yang berbeda tapi menjawab pertanyaan Xernathan mereka sama-sama menggeleng.


"Kami semua berkebun dan makanan pokok kami adalah kentang. Kalau gagal panen kami biasanya mengharapkan bantuan dari pemerintah pusat negara Centuri. Jarang sekali aku merasakan makanan ataupun minuman enak dari alam seperti di tempat ini." Theodorus menjelaskan sambil mencongkel bagian berwarna putih di dalam batok kelapa.


"Wah kalau begitu tunggu sepuluh tahun lagi maka wajahmu akan di penuhi dengan janggut." Xernathan tertawa lebar mengatakan itu.


Sanji tidak mengerti kenapa Xernathan berkata wajah Theodorus akan seperti yang Ia katakan. Tapi Sanji tertawa membayangkan wajah anak di hadapannya beberapa tahun kemudian dengan janggut penuh di wajahnya.


"Xernathan kau jangan mengejekku" Wajah Theodorus memerah. Tapi dia tidak menyangkal pernyataan Xernathan.


"Laki-laki dewasa di wilayah asalku memang semuanya memiliki janggut yang lebat. Mata biru ini juga adalah keturunan penduduk wilayah kami yang sudah jadi ciri khas." Theodorus dengan ketus menjelaskan.


Xernathan tidak tau seperti apa wajah Theodorus saat Ia dewasa. Karena anak kecil ini dulu di kehidupan pertama Xernathan lebih dulu mati tanpa merasakan tumbuh dewasa.

__ADS_1


Tapi Xernathan mengatakan pernyataan itu bukan tanpa alasan. Dia tau karena jika seseorang tinggal di suatu tempat yang sangat panas maupun dingin bersalju, maka tubuhnya akan berevolusi membentuk sesuai kebutuhan di tempat mereka berasal. Janggut sangat di butuhkan pada wilayah dingin maupun padang pasir yang tandus untuk membantu mempertahankan suhu tubuh serta melindungi kulit.


"Kalau kau sendiri? Sanji." Theodorus tidak tahan terus ditertawakan seperti ini. Jadi dia melempar pertanyaan ke Sanji agar dua anak di hadapannya tidak membayangkan wajahnya akan seperti apa suatu saat nanti.


Senyum menghilang dari wajah Sanji. Berganti dengan gelagapan. "Aku.. Aku tinggal di arah barat daya pulau Centuri. Wilayah yang aku tempati adalah pedesaan biasa yang mayoritas penduduknya adalah seorang petani."


Xernathan menghela nafas panjang melihat kondisi Sanji sekarang, melihat ekspresi wajah anak itu saat kesusahan menjawab pertanyaan Theodorus.


"Kenapa wajahmu jadi seperti itu apa yang salah dari pertanyaanku?" Theodorus dengan sifat polosnya terus bertanya mendesak jawaban karena dia tidak pandai dalam memahami situasi.


Sanji terlihat menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya. "Entahlah Theo, aku masih bisa menyebutnya sebagai tempat untuk aku pulang atau tidak.."


"Tapi pedesaan yang aku maksut berada di wilayah daratan yang sangat kecil. Kami saling mengenal dekat sesama penduduk tempat itu bahkan mayoritas penduduknya adalah suku Nayara. Sekarang hanya tersisa aku." Sanji mengepal tinjunya. Pikiran seakan membawa luka yang baru terjadi tiga tahun lalu, saat umur Sanji masih empat tahun.


Sanji menangis di tempat itu. Xernathan dan Theodorus saling tatap dan menepuk-nepuk pundak Sanji. Sore itu adalah pertama kali mereka saling mengetahui beberapa hal tentang kehidupan mereka masing-masing.


-


Ketika hari semakin sore mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit yang memiliki pohon cemara raksasa di atasnya.


"Heii Xernathan kau ini tidak salah jalan kan? kita terus menyusuri hutan seharian tapi kenapa kita tidak kunjung sampai." Theodorus memaki Xernathan geram, karena hari semakin gelap menuju tengah malam tapi tidak ada petanda apapun yang mengatakan mereka menuju arah yang benar.


"Kau simpan saja tenagamu dan teruslah berjalan. Aku tidak bisa lagi melihat pohon cemara raksasa itu karena pohon-pohon di sekeliling kita ini, tapi ini adalah jalan yang benar." Xernathan menjawab santai sambil berjalan dan memainkan ayunan pedang. Tenaga Xernathan tidak terkuras sama sekali. Sedangkan dua anak di sebelahnya sudah kelelahan seperti mau mati.


"APA KAU BILANG KAU TIDAK BISA MELIHAT DIMANA POHON CEMARA ITU.." Theodorus menghentikan langkahnya berteriak ke arah Xernathan yang terlihat seperti sedang bermain-main.


Amarah Theodorus memuncak di ikuti wajah tidak menyenangkan dari Sanji. Keduanya memasang wajah marah tertuju pada Xernathan hingga mata mereka melotot seperti mau keluar dan alis mereka berdua tertekuk hingga hampir bertemu.

__ADS_1


__ADS_2