Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.21 Seorang Materialistis


__ADS_3

Hanya butuh waktu beberapa menit untuk Xernathan kembali menuju rumah kayu di bawah pohon cemara rasaksa itu. Padahal mobil offroad sebelumnya membutuhkan waktu lebih dari satu jam lamanya ke tempat mereka berhenti sebelumnya.


Kondisi medan yang berlumpur menjadi hambatan bagi mobil offroad sekalipun. Berbeda dengan Xernathan yang bergelantungan dan melompat di antara cabang pepohonan hutan.


Xernathan menggosok hidung untuk menetralisirkan penciuman hidungnya lalu menghirup udara masuk. Tidak adalagi bau amis darah yang tersebar di hutan, Xernathan bisa dengan mudah mengikuti arah bau busuk menuju tempat pertarungan pertamanya dengan monster beruang.


"Wah permata ini besar sekali." Xernathan mengambil satu permata monster beruang berusia lima ratus tahun berukuran sebesar kepala anak kecil itu.


Sebelumnya Xernathan mengusir beberapa serigala menjauh dari bangkai monster beruang ini dengan pedangnya. Tapi Xernathan terlambat, sebagian besar organ dalam monster beruang sudah di makan dan sebagiannya lagi sudah membusuk.


Setidaknya bagi Xernathan satu permata monster ini sudah sangat bernilai.


"Rasakan kematian mu dasar monster beruang jelek." Xernathan mengumpat pada monster yang sudah mulai membusuk itu. Dia merasa kesal saat melihat mayat monster yang telah menjadi bangkai ini karena mengingat kejadian saat malam sebelumnya monster di hadapannya ini membuatnya menangis ketakutan.


Xernathan berlari sejauh belasan meter menuju ke lokasi pertarungan Sanji dengan monster beruang lawannya.


Xernathaan terperanjat tidak percaya melihat kondisi monster beruang di hadapannya. Semua luka tembak yang di terima monster ini tertuju pada titik vital di area dada dan kepala monster.


Xernathan mencoba kembali mengingat kemampuan bertarung Sanji yang sempat dia lihat sebelumnya. Xernathan membayangkan jika Sanji ini punya Qi yang setara dengannya maka bukan tidak mungkin dia bisa jadi jauh lebih hebat dari Xernathan sekalipun.


Melihat semua peluru yang bersarang di tubuh monster beruang ini semuanya tertuju dan mengenai organ vital monster beruang.


Keakuratan Sanji dalam membidik pistolnya sangat akurat. Xernathan sendiri tidak menyangka bahkan setelah bertarung dengan monster beruang ini Sanji masih kuat menyeret dua orang sekaligus kembali ke rumah kayu di bawah pohon cemara raksasa.


Xernathan tidak bisa membayangkan seperti apa latihan keras yang di lakukan Sanji demi membalaskan dendam kematian suku Nayara.


-


Di dalam mobil pasangan navigator itu berbicara banyak tentang yang mereka alami selama tinggal di hutan ini.


Ternyata bukan ini pertama kali mereka mengalami serangan di hutan itu, sialnya peluru senapan mereka habis untuk melawan.


Saat seperti itu malah mereka mendapatkan serangan dari dua monster beruang berumur lima abad, untung saja tiga orang anak ini menyelamatkan mereka tepat waktu.


Setelah satu jam berlalu, Raka mengarahkan sebuah lampu sorot mobil ke arah langit.

__ADS_1


Xernathan kembali masuk ke dalam mobil terlihat tanpa ada keringat sedikitpun yang keluar darinya, seakan jarak yang di tempuhnya hanya beberapa langkah saja.


"Ini dia permata monster.." Xernathan menunjukkan dua buah bola permata di genggaman tangannya yang memiliki ukuran lebih besar dari kepalanya.


"Permata ini bisa untuk meningkatkan kemampuan penggunaan Qi di tubuh seseorang. Permata berusia lima ratus tahun ini kalau di jual akan laku lebih dari lima ratus keping emas.." Xernathan menjelaskan.


"Benarkah?" Mata Theodorus melebar dia bahkan tidak pernah melihat uang sebanyak itu.


"Jual saja, berikan uang itu untuk biaya berobat kak Riniin.." Sanji yang mengatakan.


"Eh tidak usah.." Riniin menolak. Sedangkan suaminya memiliki reaksi yang sama.


"Kami pasti akan mendapatkan kompensasi yang besar dari elite militer yang mempekerjakan kami jadi tidak perlu sungkan.." Raka menambahkan.


"Kalau begitu simpan saja permata ini untuk suatu saat kau gunakan Sanji." Theodorus menyarankan.


"Baiklah, bawa kemari permata punyaku.." Sanji merebut satu permata dari Xernathan.


"Kalau gitu punyaku juga akan ku simpan.." Menjelaskan itu Xernathan mengantungi satu permata sisanya ke dalam bajunya.


"Cih.. Sial sekali, aku tidak ikut melawan monster beruang itu.." Theodorus mendengus kesal.


Dari kehidupan pertama Xernathan tau bahwa Theodorus bukanlah orang yang begitu hebat dalam bertarung.


-


Pagi hari, sampailah mereka di salah satu kota setelah berada semalaman di tengah hutan. Cukup untuk membuat tubuh ketiga orang anak itu kembali segar karena mendapat waktu untuk tidur di dalam mobil.


"Apakah aku masih punya waktu? Aku mau menjual permata ini dulu." Xernathan melaporkan pada Raka, dia mau menjual batu permata monsternya di penampungan sumber daya monster.


"Sebenarnya kalian masih punya waktu beberapa menit, tapi cepatlah" Raka menjelaskan.


"Kalian adalah peserta ujian seleksi terakhir yang di tunggu." Raka mendapatkan kabar itu dari orang yang Ia temui di salah satu restoran.


"Baiklah, tidak akan lama.." Xernathan tidak melambaikan tangan dan langsung pergi meninggalkan pasangan navigator di susul oleh Sanji dan Theodorus.

__ADS_1


"Kalian berdua kenapa mengikuti ku?"


"Apa yang akan kau lakukan, kami mau tau." Theodorus menjawab santai sambil terus mengikuti Xernathan.


Setelah mencari kesana kemari mereka akhirnya tiba di salah satu toko yang menjual segala jenis sumber daya monster.


Xernathan menerima harga lebih tinggi dari harga permata ini seharusnya. Permata monster berusia lima ratus tahun itu di hargai sebesar lima ratus lima puluh keping emas.


Xernathan tersenyum lebar menerima sekantung besar berisi kepingan emas itu dari tangan seorang nenek tua.


"Apakah kau juga mau menjual punyamu?" Xernathan bertanya kepada Sanji.


Sanji menggeleng. "Tapi kau tau cara agar aku bisa menyimpan dengan aman permata monster ini? akan sulit membawanya bersamaku." Sanji bertanya pada Xernathan, permata monster beruang itu lebih besar dari ukuran kepala Sanji, sulit menyembunyikannya di balik baju.


"Ikut lah denganku." Setelah menjual permata miliknya Xernathan menarik Sanji dan Theodorus untuk ikut bersamanya lagi.


Kota yang mereka singgahi lebih besar dari pusat kota Cyclops orang-orang di tempat ini juga lebih ramai. Tapi tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan bank di tempat itu setelah bertanya oleh satu orang saja.


Xernathan menyetorkan uangnya atas nama ibunya. Bank pemerintah di segala tempat di negara Centuri saling terhubung jadi Xernathan dengan mudah mengirim uang untuk ibunya yang berada di pulau Cyclops.


'Dengan uang sebanyak ini bunda dan adikku akan bisa membeli banyak hal yang mereka inginkan.' Xernathan tertawa dalam hatinya. Dia sangat senang membayangkan wajah ibunya ketika melihat isi rekeningnya bertambah banyak.


"Biaya transfer satu keping emas." Teller bank mengatakan itu dengan santainya.


Xernathan kagetnya bukan main, mendengar biaya transfer sebesar itu. Dia tidak menyadari bahwa pulau Cyclops tempat dia berasal seterpencil itu.


"Theo ini empat puluh sembilan keping emas untukmu." Xernathan memberikan sekantong berukuran sedang untuk Theodorus.


Theodorus merampas empat puluh sembilan keping emas itu tanpa sungkan. Wajahnya menunjukkan gigi dengan senyum lebar.


"Kau ini Theo sangat tergila-gila dengan harta ya.." Xernathan menggeleng, menyadari dari awal kenal Theodorus di kehidupan pertamanya bahkan saat bertemu lagi dengan anak ini di kehidupan keduanya. Anak yang memiliki badan yang lebih besar dan umur lebih tua dari Xernathan ini memang suka sekali dengan yang namanya harta.


"Xernathan itu berarti aku adalah seorang yang materialistis.." Theodorus tidak malu mengakui dirinya seperti itu.


"Xernathan kau tau kan dengan kepingan emas sebanyak ini kau bisa dapatkan apapun yang kau mau?" Theodorus menepuk-nepuk pundak Xernathan sambil tertawa.

__ADS_1


Empat puluh sembilan keping emas yang di berikan Xernathan pada anak ini memang bahkan tidak sampai seperdua dari jumlah yang Xernathan dapatkan. Tapi bagi Theodorus mungkin ini adalah kepingan emas terbanyak yang pernah dia dapatkan.


Theodorus menyimpan sembilan keping emas di pakaiannya. Empat puluh sisanya dia simpan di bank atas namanya. Ternyata sekecil ini Theodorus sudah punya tabungan atas namanya sendiri di bank.


__ADS_2