Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.26 Ayolah kau bisa


__ADS_3

"Oh kalung ini" Anak bermata sipit itu memutuskan dan membuang kalung yang di jadikannya gelang itu.


Sanji dan Theodorus menelan ludah mereka yang semakin mengering.


"Jangan sekalipun kalian menaruh simpati kepada orangtua jelek bernama Urino itu, kalung itu adalah racun. Aku tidak mati karena aku sudah terlatih sejak kecil." Anak bermata sipit itu menjelaskan.


Mereka berdua semakin terperanjat tidak habis pikir, bahkan ternyata anak bermata sipit ini menyadari bahwa kalung itu adalah racun.


"Namaku Mitsuya, umurku tujuh tahun." Anak bermata sipit itu memperkenalkan dirinya.


Mereka bertiga yang sudah memperkenalkan diri mengangguk, sambil terus berlari.


"Apa kalian haus?" Mitsuya melemparkan tiga kaleng minuman keluar dari cincin pusaka haumuru. Sanji dan Theodorus reflek menangkap lemparan Mitsuya.


Sanji dan Theodorus saling tatap berniat untuk menolak tawaran anak itu.


Glegg.. glegg.. glegg.. Xernathan tanpa pikir panjang menelan minuman itu habis dengan satu dua tiga tarikan-tarikan panjang.


Mulut Sanji dan Theodorus terbuka lebar biasanya Xernathan yang paling hati-hati.


"Woii Xernathan sialan.. kau yang selalu memperingatkan kami untuk berhati-hati pada oranglain tapi kenapa kau bersikap seperti ini." Theodorus tidak mengerti lagi dengan isi kepala anak bermata amethyst ini.


"Diamlah kau Theo, kau harus berhemat tenaga kita tidak tau harus sampai kapan berlari." Xernathan menjawab santai.


"Nathan sialan, kau jawab saja pertanyaan si Theo ini." Sanji ikut mendesak jawaban dari Xernathan.


Sambil berlari Xernathan menggaruk kepalanya yang tida gatal. "Aku hanya feeling Mitsuya adalah orang yang baik, feelingku sejauh ini belum pernah salah."


Mendengar penjelasan Xernathan Mitsuya ikut tersenyum. Di dalam hatinya dia takut untuk di jauhi oleh ke tiga orang teman barunya ini.


Tentu saja Xernathan kenal Mitsuya dari kehidupan pertamanya. Mitsuya sama pentingnya dengan Theodorus. Bagi Xernathan mereka berdua ini oranglain yang paling banyak berkorban untuk Xernathan.


Sejauh perjalanan ini Xernathan mulai kembali menemui orang-orang yang di kenalnya dulu. Perjalanan Xernathan pasti akan lebih mudah untuk mengejar mimpinya.


'Tidak aku sangka kembali ku temui orang-orang ini lagi. Aku berharap kebaikan hati mereka masih sama seperti dulu." Batin Xernathan tertawa lepas menatap wajah Theodorus dan Mitsuya bergantian.


-

__ADS_1


Berjam-jam waktu berlalu. Lorong yang terletak di bawah tanah itu seperti tidak ada ujungnya. Lebih dari empat ratus orang sudah menyerah. Menyisakan orang yang masih berlari berjumlah kurang dari setengah sewaktu mereka berada di garis awal.


"Be.. Berapa lama lagi kita akan sampai ke lokasi ujian tahap dua.." Seorang pria bergigi kuning mulai kehabisan nafasnya.


Mereka bahkan sudah berlari lebih dari tujuh puluh kilometer sangat jauh dari perkiraan awal pria bergigi kuning ini. Urino telah membohonginya.


Pandangan mata pria bergigi kuning mulai kabur dan dadanya terasa dingin. Keringat yang membasahi bajunya mengurangi banyak kadar air di dalam tubuh pria itu. Entah sudah berapa kilogram berat badan pria itu turun yang pasti dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


Jarak pria bergigi kuning dengan rombongan terdekat saja berbeda puluhan meter. Larinya semakin lama semakin melambat.


"Heii kau terlihat sangat berantakan yaa.."


"Sudahlah menyerah saja, jarak kita menuju lokasi ujian tahap ke dua masih ada puluhan kilometer lagi. Kau sudah membuang banyak tenagamu dengan berteriak dan melompat kegirangan tadi."


"Tidak.. Aak.. Aku tidak boleh menyerah karena sudah berlari sejauh ini"


"Kau simpan saja omong kosongmu itu.." Urino mendengus kesal melihat pria bergigi kuning ini tetap terus berjalan meski nafasnya sudah sesekali terhenti.


"Orang seperti kau ini emang sengaja di sisihkan lebih awal untuk menghadapi rintangan mengerikan di depan sana, kau berhenti saja, jangan pernah ikuti ujian elite militer tahun depan." Urino menyeringai melihat pria bergigi kuning yang termakan omongannya.


"Yeaah, aku berhasil." Urino seperti terpuaskan melihat orang-orang yang sudah berhenti berlari di belakangnya.


Urino langsung berlari kencang mengikuti rombongan yang ada di depan sana. Nyatanya kekuatan ketahanan fisik Urino lebih penuh dengan persiapan ketimbang orang biasa lainnya di tempat itu.


Pria berkulit gelap itu tidak berniat menjatuhkan mental peserta ujian lain hanya dengan kemampuan berbicaranya tetapi kualitas fisik Urino juga bisa di adu.


-


Brukk.. brukk.. brukk.. Lari orang-orang bergemuruh memecah keheningan lorong di depan mereka. Jumlah mereka lebih dari empat ratus orang saat ini.


'Sudah lebih dari delapan puluh kilometer kami berlari. Akan sejauh apa ujung lorong bawah tanah ini.' Batin Sanji terus bertanya-tanya melihat banyak orang yang berhenti dan di dahului oleh mereka.


Banyak pria yang lebih dewasa dari mereka terlihat berserakan di lantai. Kebanyakan dari mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Semakin jauh mereka berlari mengikuti lorong semakin banyak yang berguguran berhenti berjalan.


"Taa.. Tangga.." Mulut Sanji menganga, dengan cepat dia menatap ke arah Theodorus.

__ADS_1


Theodorus tersenyum kecut melihat tangga di hadapannya. Tangga itu bahkan sama seperti lorong panjang puluhan kilometer sebelumnya, gelap dengan penerangan api obor. Tidak tau sepanjang apa tangga ini.


"Aaa.. aku sudah tidak kuat.." Theodorus bahkan sudah tidak sanggup membuka lebar matanya. Nafasnya sudah lama menggunakan mulut.


"Hanya satu dari satu juta orang pemula yang berhasil menjadi elite militer"


"Beginikah nasib anak biasa seperti aku"


"Ujian elite militer ini memang sangat sulit"


"Aku menyesal sudah meremehkannya."


Xernathan berdiri mematung melihat Theodorus yang bertekuk lutut mengatur nafasnya. Xernathan sudah menaiki beberapa anak tangga.


"Mau aku gendong kau hah?" Mitsuya menawarkan diri. Bahkan dia terlihat masih kuat meski badannya juga basah di penuhi keringat.


"Cih kalian ini sombong sekali.." Theodorus memaksa berbicara.


Xernathan masih menatap Theodorus dengan penuh harap. Saat ini siapapun tidak bisa membantu Theodorus kecuali dirinya sendiri.


Dulu di kehidupan pertama, Xernathan pun sama pasrahnya pada keadaan saat menatap anak-anak tangga yang jumlahnya ratusan ribu dan terus naik ke atas.


Xernathan ingin menyerah, tapi begitu melihat ke arah belakang gelapnya lorong membuatnya merasakan takut. Pemikiran anak kecilnya saat itu, jika saja dia berhenti maka dia dan adiknya akan mati.


Padahal sejauh puluhan kilometer sebelumnya dia dan adiknya serta Theodorus di dorong dan bergantian menaiki skateboard milik Mitsuya tapi tetap saja, tubuh seorang anak kecil ini dulunya sangat lemah.


Bahkan sewaktu menaiki anak tangga di depan Theodorus dan Mitsuya ini rela-relaan bergantian dengannya menggendong Gavin.


Tapi di kehidupan saat ini Xernathan hanya bisa berharap Theodorus tidak menyerah.


Jika pun Theodorus mau menurunkan gengsi nya, Xernathan dengan senang hati untuk menggendongnya. Berkat kemampuan Qi miliknya Xernathan hanya sedikit merasa kelelahan saat ini.


'Ayolah Theo.. aku mohon..' Xernathan mengepal tangannya. Menatap Theodorus yang masih mengatur nafasnya. Xernathan tau kalau Theodorus pasti bisa, ada alasan kuat yang membuat Theodorus harus berhasil menjadi seorang elite militer.


Theodorus berjalan pelan menaiki satu dua anak tangga sambil membuka bajunya dan memberikan baju itu ke Mitsuya.


"Mitsuya tolong kau simpan bajuku ke dalam cincin haumuru." Theodorus sekarang bertelanjang dada. Mitsuya tanpa merasa keberatan langsung menghilangkan baju Theodorus bahkan saat masih di pegang oleh Theodorus.

__ADS_1


__ADS_2