Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.31 Dua pria nyentrik


__ADS_3

"Xernathan." Sanji datang setelah beberapa menit Levin meninggalkan Xernathan yang masih mematung mencerna situasinya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Maaf aku terlambat menemuimu aku kesusahan malah menemukan banyak monster di sepanjang perjalanan." Sanji tidak habis pikir di sepanjang jalan mencari Xernathan dan Theodorus, dia menemukan banyak sekali mayat manusia yang sedang di ***** oleh monster beragam jenis dan bermacam usianya.


"Dimana Theodorus?" Sanji berubah menjadi pucat mengira diamnya Xernathan berarti pertanda buruk bagi Theodorus.


Xernathan tidak menjawab, dia mengambil dan menyarungkan kembali pedang Charybdis lalu mengikat ke punggungnya.


Xernathan berdiri dan mulai berlari mengikuti arah Levin pergi mengandalkan penciumannya selagi kabut menghilang.


"Kau yakin bisa mengikuti bau mereka? aku menemukan banyak mayat tersebar yang mengeluarkan darah di segala penjuru hutan"


"Ya tapi sekarang aku hapal bau tubuh Theodorus, aku bisa membedakannya dengan bau amis darah." Xernathan tidak melihat ke arah Sanji dan terus berlari.


"Nathan kau tidak apa-apa?" Sanji melihat Xernathan yang terlihat seperti merenungi sesuatu dari kejadian sebelumnya. Xernathan sudah menceritakan yang terjadi pada Sanji.


"Sanji, menurutmu kenapa Levin menyuruh kita untuk menjadi elite militer yang hebat?"


"Sebelumnya aku tidak melihat cara dia membunuh belasan orang terlatih dalam hitungan sesaat.


Tapi mengingat kejadian di lorong dan mendengar cerita darimu aku bisa ambil satu garis kesimpulan bahwa Levin adalah orang yang sangat berbakat." Sanji menjelaskan.


"Lewat sini.." Xernathan mengikuti aroma tubuh Theodorus yang sangat khas.


"Mungkin, Levin menilai kita lulus seleksi pribadinya karena dia menyadari potensi kekuatan atau hal lain yang ada pada diri kita."


Mendengar penjelasan Sanji, Xernathan jadi lebih bisa mencerna situasi sekarang.


"Apa perasaan mu sekarang Nathan?" Sanji masih tidak bisa membaca ekspresi wajah Xernathan.


"Waktu dia mencekik leherku, aku merasakan ketakutan. Aku sangat sering merasakan takut tapi ketika di cekik orang itu aku merasakan sesuatu aneh dalam diriku.

__ADS_1


Ketika dia tersenyum aku merasa bahwa dia hanya memberiku waktu untuk tumbuh menjadi lawan yang seimbang untuknya." Xernathan menjelaskan perasaannya dengan ekspresi wajah datar.


"Apa kau takut?"


"Tentu tidak, justru aku semangat untuk menantang balik orang itu. Sepertinya dia memang pantas jadi elite militer. Mengingat elite militer adalah kumpulan orang-orang yang sangat aneh menurutku."


"Aku setuju, tambahan, menurutku elite militer bukan sekedar kumpulan orang-orang aneh melainkan orang penuh obsesi dan kerakteristik persona yang sangat kuat dari masing-masing mereka dan latar belakangnya." Sanji tersenyum membayangkan tidak satupun elite militer yang di temuinya adalah orang yang lemah dan tidak berkarakter.


"Ayo kesini, cepatlah aku terpaksa melambat demi mengimbangimu. Kalau tidak cepat kita bisa terlambat. Atau kau mau ku gendong saja?" Xernathan menggoda Sanji.


"Sialan kau sombong sekali sementang bisa menggunakan Qi." Sanji sambil terus berlari sambil memaki anak di sebelahnya itu yang malah tertawa di marahi.


-


"Sepertinya kita tidak terlambat." Sanji bisa melihat orang-orang yang berkumpul.


Xernathan tidak menjawab Sanji. Begitu sampai di kerumunan mata Xernathan mencari ke segala arah lalu anak itu menangkap ke satu arah.


Levin tersenyum di balik topeng kelincinya dan menunjuk ke satu arah.


"Apa aku pingsan? aku tidak ingat apapun hingga sampai ke tempat ini." Theodorus terlihat kebingungan.


"Sepertinya dia kehilangan ingatan apa yang terjadi sebelumnya, lebih baik kita tidak usah memberi tau dia apa yang terjadi." Sanji berbisik ke telinga Xernathan. Xernathan mengangguk setuju.


Theodorus kehilangan sedikit ingatannya entah karena apa. Sekarang ini dia tidak ingat dengan pembantaian belasan orang yang di lakukan Levin sebelumnya termasuk pertarungannya melawan Levin.


"Xernathan, Sanji, Theodorus aku pikir kalian tidak akan sampai ke tempat ini." Mitsuya tersenyum ke arah tiga orang itu.


"Mitsuya.." Sanji dan Xernathan serentak menyebutkan nama anak itu.


"Heii Theo ini pakai lagi bajumu" Mitsuya mencampakkan baju ke muka Theodorus yang di keluarkannya dari cincin haumuru.


"Kalian tau? Aku bahkan melihat Urino berhasil sampai ke tahap dua ini." Mitsuya menjelaskan.

__ADS_1


"Cih.. aku yakin dia mencurangi ujian agar bisa sampai sejauh ini." Sanji berdecak geram.


Mereka bertiga saling membagi cerita bagaimana mereka bisa sampai ke tempat ini.


"Di belakang aku ini adalah sanggar seni yang di buat darurat oleh komite untuk menjadi lokasi ujian tahap ke dua." Suara Gatlin terdengar keras memecah kebisingan dari orang-orang yang berbicara dan mereka yang kesusahan bernafas.


Semua orang menaruh muka mereka melihat ke arah Gatlin yang berbicara. Di belakang pria bertubuh atletis itu terdapat bangunan terbuat dari kayu dan kaca yang di dalamnya merupakan sanggar seni.


"Aku harap kalian tidak menaruh dendam padaku karena ujian yang kalian lewati maupun rekan kalian yang tewas selama di perjalanan" Gatlin meminta maaf kepada semua orang tapi ekspresi wajahnya datar.


"Tapi sebelumnya aku sudah memperingati kalian, luka serius yang kalian terima maupun rekan kalian yang tewas sudah menjadi resiko dan sepenuhnya di luar tanggung jawabku." Gatlin menatap semua orang yang ada di tempat ini.


"Kalau begitu aku ijin pergi"


"Semoga kalian beruntung." Gatlin menghilang di telan kabut sama seperti kelopak bunga sakura hitam Levin yang memuai. Orang-orang yang melihat itu terperanjat, mereka semua sudah pernah melihat orang menghilang memuai seperti itu yaitu saat Levin membunuh pria perompak.


Mereka tidak tau kalau trik seperti ini bisa di gunakan untuk pergi tanpa harus mati.


Kerumunan mulai mendapati lagi kesadaran mereka setelah kaget beberapa waktu.


Pintu bangunan besar, sanggar seni di hadapan mereka mulai terbuka dan satu persatu mereka masuk ke dalam ruangan.


-


"Wooii, kalian ini lama sekali." Seorang pria tua berjanggut hitam lebat duduk di sebuah singgasana. Pria itu terlihat lebih muda dari usia aslinya. Setelan rapih dan penampilan penuh gayanya mendukung menutupi usianya. Seorang pria tua yang bergaya nyentrik.


"Heii Sanji, apa kau mau jadi seperti orang ini kalau kau sudah tua?" Mitsuya berbisik menggoda Sanji. Xernathan dan Theodorus tertawa mendengar itu.


"Cihh kau ini mau aku pukul hah?" Sanji merasa geram. Meskipun gaya orangtua di hadapan mereka ini terlihat menawan dan cara bicara pria tua itu juga sangat dia jaga hingga membuat siapapun yang melihatnya merasa terpesona. Tapi Sanji tidak merasa ingin di sandingkan dengan siapapun.


"Namaku Hoshi aku adalah penguji ujian tahap ke dua." Pria tua itu memperkenalkan dirinya dengan meletakkan tangan di dagu dan siku tangan yang menempel di kakinya yang duduk bersila.


"Aku murid dari pak Hoshi, aku juga seorang elite militer namaku Angelo." Seorang pria yang memakai setelan jas lainnya memiliki umur yang jauh lebih muda dari pak Hoshi.

__ADS_1


Pria itu memberi tau ke semua orang yang ada di tempat ini bahwa dia adalah murid pria tua bernama Hoshi itu. Tidak heran kenapa dia punya gaya dan sikap sama seperti gurunya. Termasuk banyak kesamaan lainnya.


Orang-orang saling tatap. Peserta wanita yang tersisa sesekali mengedipkan mata mereka dan membuang pandang karena terlalu terpana melihat ke modisan dua orang pria di hadapan mereka.


__ADS_2