Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.36 Arti lukisan


__ADS_3

"Whoaww.. kalian mendapatkan bunga lavender, lilac, iris, orchid seingatku semua bunga ini dari lembah yang di jaga monster seribu tahun." Pak tua Hoshi tersenyum lebar saat melihat kedatangan beberapa peserta yang membawa bunga berwarnakan yang dia sebut.


Pak tua Hoshi menjelaskan perbedaan warna pada bunga-bunga ini sangat penting untuk membuat gradasi warna yang indah.


"Tapi tetap saja melukis pemandangan tidak akan membutuhkan warna ungu seperti ini." Seorang pria menggeleng, dia bahkan tidak bisa membedakan warna di depan matanya.


"Apa bedanya semua warna bunga ini?"


"Heii, aku bahkan tidak tau bedanya warna biru dan warna hijau." Seorang pria yang buta warna ikut mempermasalahkan.


Mereka semua bahkan merasa kalau warna yang paling di butuhkan adalah hijau, bukan ungu seperti semua ini.


Pak tua Hoshi tersenyum kecut. "Kalian semua akan aku persulit, ecamkan ini." Pak tua Hoshi bergumam geram, mengepal tangannya. Wajah pria tua itu tetap tampan meski sedang marah seperti ini, tapi kekesalan jelas telah bersarang di hatinya.


Angelo tidak ingin berlama-lama lagi, mengetahui apapun yang di lakukan peserta ujian saat ini tidak di sukai oleh gurunya.


Peserta ujian yang tersisa kurang dari seratus orang, beberapa mati di telan hutan magis dan sisanya di eliminasi karena kembali ke sanggar seni tanpa membawa bunga, darah atau daun untuk menjadi bahan dasar membuat warna cat.


Hutan magis yang mereka datangi benar-benar merupakan hutan kematian.


"Baiklah, ikuti aku." Angelo memperagakan cara mengekstrak warna dari bunga ataupun daun.


Peserta ujian mengikuti cara yang di lakukan Angelo, mencampur cairan transparan dengan hasil perasan air daun ataupun bunga. Hasilnya adalah warna yang indah.


"Whaaa.." Mata Theodorus berbinar membuat cat seperti ini menjadi pengalaman pertama di bidang kesenian setelah bertahun-tahun lamanya hanya belajar buku dan melatih kekuatan fisiknya. Bahkan di kampung halaman di wilayahnya yang dingin, jarang sekali bangunan yang berwarna lain selain warna es dan warna rumah kayu.

__ADS_1


Warna sudah tersedia. Kanvas di depan mata mereka harusnya sudah bisa di corat-coret tapi semua peserta ujian tidak memiliki banyak gambaran tentang lukisan pemandangan di kepala mereka.


Beberapa menit berlalu, lukisan-lukisan yang mereka tunjukkan kepada dua orang penguji ujian tahap dua ini adalah gambar gunung dan sawah.


"Bagaimana kau suka?" Seorang pria berbadan kekar bernama Taiho yang memiliki nomor dada lima sembilan delapan menunjukkan hasil lukisannya.


Angelo menggeleng. "Kau ini melukis pemandangan dari wilayah mana, di negara mana hah?" Angelo kesal, melihat pemandangan yang di lukis Taiho, gunung di berinya warna ungu dan langit hanya dengan warna putih.


Bahkan pak tua Hoshi tidak mau melirik ke arah lukisan orang itu. Taiho benar-benar membuat pria tua itu kesal.


Angelo melipat tangannya dan menyilakan kaki sambil menggeleng. "Tidak, ini terlihat seperti gambar yang di buat oleh anak-anak." Orang kedua mewarnai gunung dengan warna biru dan langit bercak warna putih yang terlihat seperti awan.


"Ini kalau gunung di lihat dari rumahku, warna gunung memang biru kalau di lihat dari kejauhan." Sanji menjelaskan dengan penuh kekesalan. Dia merasa tidak sama dengan oranglain yang tidak bisa membedakan warna. Sanji memang benar-benar melihat gunung berwarna biru dari rumahnya.


"Lah, kan memang dia masih anak kecil kenapa bang Angelo mengatakan itu, apa dia tidak bisa melihat?" Theodorus berbisik dengan Mitsuya dan Xernathan mengkomentari pria yang berada di depan mereka.


Sanji berjalan kembali menuju ke arah anak-anak yang melukis di kanvas. "Aneh sekali si Angelo itu. Gunung dan sawah kan memang gambaran sebuah pemandangan, memangnya apa yang dia anggap sebagai lukisan pemandangan?" Sanji memegang kuas setelah mengambil kanvas baru dan menatap dua orang penguji di depan sana dengan geram.


Xernathan kelihatan berpikir keras pada apa yang dia ingat dulu. Seingatnya pada saat ini dia dan adiknya hanya sibuk mencorat-coret kanvas hasil warna cat yang dia dapatkan dari pemberian Mitsuya dan Theodorus.


Ingatan Xernathan setidaknya sudah berusia lebih dari seratus tahun. Sangat sulit untuk mengingat setiap kejadian di dalam hidupnya.


Apalagi mengingat pada sesuatu yang menurutnya sangat menyakitkan.


Hanya dendam yang merupakan hal sangat menyakitkan tapi masih dia ingat sampai sekarang ini.

__ADS_1


Pak tua Hoshi semakin geram, setelah puluhan orang sudah maju ke depan menunjukkan hasil lukisan mereka, tapi tidak satupun dari mereka yang bisa membuat pria berjanggut hitam ini menaruh perhatian pada hasil lukisan mereka.


"Cihh bahkan pria tua itu tidak melirik ke arah lukisan yang kita perlihatkan padanya"


"Kalau semuanya terus begini, bisa jadi dua penguji ini memang bermaksud untuk tidak meloloskan semua peserta dari ujian tahap dua"


Mereka geram. Lukisan mereka di nilai hanya oleh Angelo. Pak tua Hoshi terus membuang wajahnya ke arah lain dan tidak memberikan penilaian apapun. Akibatnya tidak satupun dari peserta yang kurang dari seratus orang ini lulus mendapatkan penilaiannya.


"Aku tidak mau gagal menjadi elite militer hanya karena aku tidak bisa menggambar apa yang mereka pikirkan." Mitsuya ikut geram.


Bagi Mitsuya hal-hal sulit adalah yang dia senangi. Mengetahui dirinya gagal menjadi elite militer hanya karena tidak bisa melukis sudah keluar dari batas nalar.


Untuk pertama kalinya Xernathan maju ke depan. Berbeda dengan orang-orang yang menggulung kanvas ataupun memegang dengan sebelah tangan mereka saat maju ke depan sana, Xernathan membawa serta tripod kanvasnya kehadapan dua orang pria yang bergaya nyentrik ini.


Pak tua Hoshi menatap ke arah Xernathan, anak ini jadi peserta ujian pertama yang di berikan muka oleh penguji berjanggut hitam itu. "Apa maksudnya lukisan mu ini?" Pak tua Hoshi bertanya makna dan maksut dari lukisan yang Xernathan perlihatkan ke mereka.


Xernathan mengangkat alisnya sebelah merasa bingung. "Apa maksudnya? aku hanya melukis sedikit berbeda dari semua orang yang sudah maju untuk menunjukkan hasil lukisan mereka." Xernathan bahkan tidak tau apa yang di lukisnya, hanya lukisan pantai di tepi tebing curam yang terlihat ada orang menunjuk ke arah matahari yang terbenam.


Pak tua Hoshi merapatkan giginya. "Baiklah para sialan sekalian. Kalian semua gagal dan kembalilah ikuti ujian masuk elite militer tahun depan. Semoga kalian beruntung" Pak tua Hoshi memang tidak kehilangan kendali dirinya. Tapi mukanya menjadi merah padam karena berteriak dengan amarah yang meluap tertuju pada puluhan orang di hadapannya.


"Dan keluarlah kalian semua dari sanggar seni ini, wahai para SIALAN."


Xernathan terperanjat kaget mendengar teriakan itu dan langsung berjalan cepat menuju ke arah teman-temannya.


Angelo tersenyum masam. Menurutnya situasi ini sudah di luar kendalinya sebagai seorang murid terlepas dari dia juga adalah seorang penguji yang seharusnya pantas mengambil suatu tindakan di tempat ini.

__ADS_1


__ADS_2