Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.30 Seleksi khusus


__ADS_3

"Itu dia, Sanji itu adalah rombongan Gatlin"


"Sanji akhirnya kita berjumpa kembali dengan rombongan bang Gatlin." Mitsuya berkata itu dan menoleh ke arah belakang tapi tidak ada anak yang dia maksut di belakangnya.


Sebelumnya mereka terpencar oleh rombongan karena sempat bertemu oleh seekor monster berusia dua ratus tahun.


Mereka terus berlari mengejar rombongan Gatlin dan sekarang tanpa sadar saat ini Sanji sudah tidak ada lagi bersama Mitsuya.


-


Theodorus geram melihat mayat belasan orang yang tewas tergeletak di tanah.


Tapi melihat kemampuan bertarung Levin, Theodorus tidak memiliki semangat bertarung sekecil apapun saat ini.


Levin berjalan pelan mendekati kedua orang anak itu dan menebar sebuah ketakutan besar kepada mereka berdua. Levin tersenyum penuh arti semakin mendekat ke arah mereka.


'Najis, si Levin ini setelah aku mendapati dua kali kehidupan sekalipun dia tetap punya selera membunuh seperti ini' Xernathan berdecak geram.


Xernathan menggeleng. "Benar-benar kau ini perwujudan dari nafsu membunuh binatang."


Levin mengangkat alisnya sebelah. Berpikir bahwa Xernathan bisa membaca dirinya.


"Theo aku hitung satu dua tiga kita berlari menuju ke arah yang berlawanan" Xernathan berbisik langsung ke kuping Theodorus.


"Tidak perlu khawatir aku akan segera menemukanmu. Kau lari saja sejauh mungkin." Dari jarak sejauh ini suara Xernathan tidak mungkin bisa terdengar oleh kemampuan pengguna Qi sekalipun.


Theodorus berniat ingin melawan tapi akhirnya mengangguk setuju karena Xernathan mengatakan bahwa jumlah pertarungan yang di lewati menentukan kemampuan bertarung seseorang.


Bahkan selama ini total pertarungan yang di lalui Theodorus masih dapat di hitung jari itupun berantam dengan kawan kecilnya.


Tigaa.. Xernathan menyebutkan angka.


Mereka berdua berlari ke arah yang saling berlawanan begitu Levin terlihat membentuk kelopak bunga sakura hitam di ujung jarinya.


"Begitu yaa.." Levin tertawa kecil di balik topeng kelincinya.


"Pilihan yang tepat."


Mayat belasan orang yang terbujur kaku di datangi oleh monster-monster kecil seukuran unggas memakani mayat-mayat itu.


Bau darah sesekali tercium di hidung Levin karena banyak di lokasi hutan lainnya peserta ujian berguguran karena di serang monster, terkena perangkap maupun karena menghirup serbuk tanaman beracun.


Hmmh.. Levin bergumam saat ada aura bertarung terpancar dari satu arah.


Perlahan siluet di balik kabut itu menunjukkan sosok seseorang. "Aku tidak mungkin kabur."

__ADS_1


"Aku tau ini bukanlah urusanku, tapi melihat mayat-mayat yang kau bunuh dan kau menatap mereka dengan tatapan kosong mungkin ada yang salah denganmu"


"Banyak orang yang punya kekurangan anggota tubuh maupun tidak terlihat sempurna bentuk fisiknya. Tapi bagiku, satu-satunya disable dalam hidup ini adalah sifat yang buruk." Theodorus berteriak, terlihat memegang sebuah balok lebih besar dari tangannya. Memukul pohon dengan gaya lantang-lugasnya menantang Levin sendirian.


"Theo, SIALAN.." Xernathan berteriak melihat Theodorus yang sebelumnya kabur malah datang lagi ke tempat ini.


"Heii Nathan, kau juga tidak ingin kabur ternyata." Theodorus menyambut temannya yang sebelumnya menyuruhnya untuk kabur.


"Mundur bukanlah sebuah pilihan.." Xernathan menjawab singkat.


"Terus kenapa kau menyuruhku untuk kabur hah? sialan." Theodorus memaki temannya geram.


"Aku hanya tidak ingin kau membebani ku."


"Cih kau sialan sekali.." Theodorus meludah ke sembarang arah.


Levin menatap mereka bergantian. Levin menyadari kejadian ini merupakan murni kebodohan dari dua orang anak ini, bukan bagian dari suatu rencana.


Yaaaa.. Dengan semangat juangnya Theodorus berlari sambil memegang sebuah balok di genggaman tangannya memulai pertarungan lebih dulu.


Fussh.. Begitu Theodorus yakin balok kayu yang di pegangnya berhasil mengenai perut Levin pria bertopeng kelinci itu berubah menjadi kelopak bunga sakura hitam dan memuai sekejap berpindah di belakangnya.


Levin merapatkan jarinya membentuk seperti sebuah tombak.


"Kau lumayan juga, anak kecil." Levin tertawa geli di balik topengnya, mengakui Xernathan.


Shupp.. Theodorus mengayunkan balok kayunya.


Fussh.. Levin kembali menghilang dan kelopak bunga sakura berwarna hitam kembali memuai dalam sekejap. Sekarang pria bersetelan jas rapih itu berada di belakang Theodorus.


Levin menyentuh tengkuk leher bagian belakang Theodorus dengan ujung jari telunjuknya. Theodorus kehilangan kesadaran dirinya. Hilangnya kesadaran Theodorus bersamaan dengan menghilangnya seluruh kabut di sekitar mereka.


Shufft.. Angin terbelah karena ayunan pedang Charybdisnya Xernathan mengarah pada Levin.


Fussh.. Kelopak bunga sakura hitam memuai dan sekarang Levin menaruh mukanya berhadap-hadapan dengan Xernathan.


Shufft.. Xernathan menebas lagi dan Levin kembali menghilang dan berada di tempat lain.


"Kau mampu menggunakan Qi dalam jumlah besar untuk anak seusiamu. Aku akui kau ini membuatku bersemangat." Levin tersenyum, kemampuan bertarung Xernathan seperti membangkitkan gairah dalam dirinya.


Xernathan berkat banyaknya jumlah sumber daya monster yang dia dapatkan dari hutan kematian Syclla menjadikan dia yang baru berumur tujuh tahun memiliki jumlah Qi maksimum bagi pengguna Qi tingkat dasar.


Shufft..


Fussh..

__ADS_1


Xernathan menebas angin sambil terus berjalan mundur. Levin seperti tidak bisa di sentuh karena terus memuai menjadi bunga dan berpindah di tempat lain.


Fussh.. Kali ini Levin berpindah di sebelah Xernathan dan mencekik leher anak itu.


"Kau.. aku suka sekali melihat raut wajahmu.." Levin mengangkat tinggi tubuh anak kecil itu dan menikmati ekspresi wajah kesakitannya.


Xernathan membentuk jarinya seperti sebuah tombak dan mencoba untuk menusuk wajah di balik topeng itu. Tapi tangan pendek anak itu tidak bisa meraihnya.


Xernathan menusuk tangan yang mencekiknya. Tangan Levin berdarah dan dagingnya mengelupas serta memperlihatkan tulang kristal berwarna putih.


Anak kecil itu mulai kehilangan nafasnya masih dalam keadaan di cekik dan tubuhnya tertahan di udara.


Levin melepas tubuh anak itu, Xernathan bertekuk lutut terjatuh di tanah dan sesenggukan mengatur nafasnya.


"Jangan takut"


Levin ikut bertekuk lutut dan bertatap muka dengan anak itu. "Selamat kau lolos seleksi"


"Aku tidak akan membunuh temanmu karena dia juga lulus seleksiku"


"Kau punya dua teman lainnya kan? Mereka berdua juga lolos seleksiku." Levin tersenyum sambil mengusap kepala Xernathan.


Xernathan menatap pria ini heran. Xernathan sedikit banyaknya tau apa isi kepala Levin tapi dia tidak bisa menangkap maksut kata Levin saat ini.


Seleksi apa yang dia maksut. Untuk menjadi temannya atau menjadi lawan bertarungnya.


Xernathan hanya tau Levin tertarik pada dua hal, sesuatu yang menguntungkan baginya atau pertarungan yang berimbang.


Tringg.. tringg.. Sebuah ponsel genggam berbunyi di balik saku jas pria bertopeng kelinci itu.


"Levin cepatlah kemari, kami sudah hampir sampai di lokasi ujian tahap ke dua." Suara seorang pria terdengar di balik ponsel itu.


"Oke."


"Siapa namamu?" Levin kembali memasang senyumnya bertatap muka dengan Xernathan.


"Xernathan."


"Baiklah Nathan kabut di hutan ini sudah menghilang kau bisa mengikutiku kan?"


Xernathan menjawab hanya dengan sekali anggukan.


Levin berdiri, mengangkat tubuh Theodorus dan tersenyum ke arah Xernathan.


"Kau dan teman-temanmu berjanjilah akan menjadi elite militer yang hebat."

__ADS_1


__ADS_2