
"Heii Nathan bagaimana dengan ini." Sanji memukul-mukul permata seukuran kepala anak kecil di dalam bajunya.
"Kau mau menyewa sebuah loker?" Seorang teller bank yang melayani Xernathan sebelumnya bertanya itu pada Sanji.
"Loker apa itu?" Sanji menaikkan alisnya bingung.
"Iya dia akan menyimpan barang ini untuk waktu yang lama.." Xernathan merampas mengeluarkan permata dari balik baju Sanji.
"Hei kau mau meninggalkan permata seharga lima ratus keping emas di tempat ini, apa kau sudah gila hah?" Sanji tidak berusaha untuk merampas kembali permata yang sudah di berikan temannya ke teller bank tapi dia hanya bertanya.
"Apa kau terus mau membawa benda itu kemana-mana?" Xernathan mengibaskan tangannya.
"Lagipula ini adalah bank pemerintah, mereka menyimpan banyak harta hingga permata monster berumur ribuan tahun sekalipun.
Bahkan Tidak sedikit orang yang menyewa loker di bank pemerintah untuk menyimpan pedang dan senjata pusaka jenis lainnya yang memiliki nilai jauh, bahkan sangat jauh lebih tinggi nilainya dari satu permata beruang punyamu.
Mereka hanya akan mengutip biaya sewa ketika kau mengambilnya." Xernathan menjelaskan itu sambil keluar dari bank. Kembali menuju pasangan navigator yang menunggu mereka di depan sebuah restoran.
"Apa pedang hitam ini adalah pedang pusaka?" Theodorus menunjuk pedang di punggungnya Xernathan.
Xernathan mengangguk. "Ini pedang pemberian dari ayahku."
"Sanji, kau harus terus bertambah kuat dan belajar menggunakan Qi lalu segeralah ambil permata monstermu itu dari bank atau jika tidak harga sewa lokernya akan menjadi semakin mahal." Xernathan menyudahi penjelasan.
Sanji mengangguk setuju.
-
"Kalian lama sekali, ayo masuk.." Raka berkata ketika melihat anak-anak itu sudah berada dalam jarak beberapa meter di depannya.
Raka masuk lebih dulu ke dalam sebuah restoran bersama Riniin di ikuti oleh Xernathan, Sanji lalu Theodorus di belakangnya.
"Menu spesial untuk tiga orang anak ini.." Raka membuat jarinya berkata kepada seorang koki paruh baya yang sedang memasak.
Koki itu mengangguk. Tapi bukannya malah memasak sesuatu koki paruh baya itu malah mematikan api kompor dan berjalan ke arah pintu belakang dapur, meminta kelima orang itu untuk mengikutinya.
"Apa menu spesial juga butuh ruangan sepesial? aku tidak punya perak. Aku tidak mau menukar keping emasku untuk makan di tempat seperti ini pasti harga makannya akan menjadi sangat mahal." Theodorus memasang raut wajah cemberut tidak setuju dengan Raka.
__ADS_1
"Eh bodoh.. kita tidak mau makan, kita akan menuju lokasi ujian tersembunyi seleksi masuk elite militer.." Xernathan menjelaskan.
Mata Sanji membuka lebar saat mendengarkan penjelasan Xernathan. Dia juga tidak menyadari bahwa yang di katakan Raka pada koki itu adalah sebuah kode.
Xernathan lagi-lagi tau tempat ini dari kehidupan pertamanya. Ingatan dari kehidupan pertama Xernathan sangat membantu anak ini dalam hal apapun selama ini.
"Baiklah Theodorus, Xernathan dan Sanji aku sudah menyelesaikan tugasku mengantarkan kalian ke tempat ini." Raka menjabat tangan tiga orang anak itu satu per satu.
"Terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku sampai-sampai kalian juga terlibat dalam masalah." Riniin yang tidak banyak bicara, sepanjang mereka mendengar wanita itu bicara hanyalah kata terima kasih yang mereka dengar.
Theodorus, Sanji dan Xernathan itu menjawab dengan senyum di wajah mereka. Mereka sendiri hanya merasa senang ketika menolong oranglain. Apalagi mendapatkan sumber daya berharga berupa permata monster beruang berumur lima ratus tahun.
Xernathan dan ketiga orang temannya masuk ke dalam suatu ruangan. Sedangkan Raka, istrinya dan koki paruh baya itu berada di luar ruangan.
"Kalau kalian akan kembali lagi tahun depan aku akan sangat senang melayani kalian lagi." Raka tertawa pelan mengatakan itu.
"Terimakasih banyak bang Raka. Kami akan sangat terbantu oleh pertolonganmu." Theodorus dan Sanji menjawab serempak dan melambaikan tangan ke arah Raka dan Riniin yang di ikuti oleh pintu ruangan yang menutup.
Tass.. Xernathan memukul bagian belakang kepala Theodorus dan Sanji bergantian dengan tamparan tangannya.
"Kalian ini bodoh ya? Kalau bang Raka berkata akan senang membantu kita tahun depan itu sama saja dengan berarti kita akan gagal di tahun ini." Xernathan menggeleng tidak percaya melihat kebodohan dua orang temannya.
Cheenght.. Mereka merasakan ruangan itu seperti jatuh perlahan ke bawah.
"Ruangan ini adalah lift raksasa.." Xernathan menjelaskan kepada dua orang temannya.
Mereka berdua mengangguk mengerti.
"Kira-kira akan seperti apa ujian yang akan kita hadapi?" Sanji bertanya menatap mata Xernathan di sebelahnya.
"Untuk ujian ke satu dan ke dua mungkin adalah ujian yang sangat melelahkan." Xernathan menjelaskan, berpura-pura tidak tahu.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Theodorus mengangkat alis. Tapi Theodorus tidak sekalipun pernah menyalahkan perkataan Xernathan dari awal pertemuan mereka.
Dari awal pertemuan Xernathan adalah yang paling dapat menjawab banyak pertanyaan mereka sepanjang perjalanan dengan benar.
Berbeda dengan Theodorus yang terlalu banyak bermain-main dan Sanji yang terlalu naif pada hal apapun.
__ADS_1
Xernathan menelan ludah. "Iyaa.. Iyakan biasanya ujian apapun akan di mulai dengan tes kemampuan fisik seseorang."
"Aku setuju, itu masuk akal.." Sanji mengatakan itu sambil pemanasan ringan.
"Sembuh dari pertarungan kemarin malam membuat badanku pegal-pegal.." Sanji meregangkan seluruh persendiannya.
Theodorus memilih untuk mengikuti gaya pemanasan Sanji. Xernathan memilih untuk duduk menyila di ruangan itu. Ruangan yang terus bergerak turun jauh ke dasar tanah.
Beberapa jam berlalu, mereka bertiga yang berada di dalam lift itu merasakan seperti semakin terperosok jauh ke dalam dasar tanah.
"Hei Xernathan.." Theodorus membangunkan Xernathan yang sedang bersemedi dengan melakukan teknik pernafasan mengembalikan Qi yang hilang karena pertempuran semalam.
Xernathan mengangkat alisnya sebelah menjawab panggilan Theodorus.
"Sebentar lagi, kita bertiga akan menjalani ujian masuk elite militer yang sebenarnya"
Theodorus menyudahi pemanasannya dan ikut duduk di sebelah Xernathan.
"Kita tidak tau apakah kita bertiga akan bisa lulus menjadi elite militer atau mungkin kita semua akan gagal.."
"Atau mungkin cuma aku yang bisa lulus tahun ini.." Theodorus tersenyum lebar mengatakan itu.
"Cihh.. kau percaya diri sekali.." Sanji berhenti pemanasan dan ikut duduk bersama mereka.
"Sanji kau selalu saja menyikapi candaanku dengan serius.." Theodorus menatap Sanji tajam. Sanji yang mendengar itu tertawa canggung dan menggaruk kepalanya.
"Berbeda sekali dengan Xernathan.."
"Xernathan selalu saja tersenyum dan tertawa saat aku membohonginya sekalipun. Matanya selalu bersinar setiap aku bercerita" Anak bernama Theodorus itu menyandarkan tubuhnya ke dinding ruangan lift.
"Seakan-akan semua ceritaku sangat menarik baginya, aku sangat suka bercerita." Theodorus tersenyum tapi tidak ingin melihat ekspresi wajah Xernathan.
Xernathan hanya diam tidak menanggapi.
Tentu Xernathan punya alasan khusus kenapa dia mengambil sikap seperti itu. Di depan mereka nanti akan menjadi rintangan ujian yang sangat berat dan menyiksa.
Xernathan pernah merasakan kesulitan itu saat di kehidupan pertamanya melalui ujian masuk elite militer ini dan Theodorus ini lah salah satu orang yang menolonginya banyak hal dengan senang hati.
__ADS_1
Xernathan tidak mau kehilangan teman seperti Theodorus ini. Akan banyak keuntungan berteman dekat dengan orang sebaik dirinya. Lagipula Xernathan sudah berjanji untuk membalas kebaikan Theodorus di kehidupannya kali ini.
Hanya diam dan tertawa mendengarkan semua bualan Theodorus bukanlah hal yang sulit bagi Xernathan.