
Kelopak mata seorang anak kecil perlahan terbuka sambil memegangi dadanya yang terasa panas sesaat. Mulut anak itu ternganga dan terkatup merapatkan giginya. Ia mulai merasakan satu persatu anggota tubuh lain yang dia miliki selain kepala.
'Dimana aku?' Keheranan dan beberapa pertanyaan lain muncul di kepala anak itu saat Ia sudah sepenuhnya merasakan seluruh tubuhnya.
'Hah apa ini?' Anak itu terperanjat melihat jari-jari kecil dan anggota tubuh lain miliknya yang sekarang berukuran kecil. Sepengetahuan anak ini seharusnya ukuran tubuh asli yang dia punyai bukanlah seperti ini.
Dia begitu kaget saat menyadari sekarang dia bisa bangkit untuk berdiri dengan cepat tanpa merasakan kesulitan.
Anak kecil itu merasakan tenaga di sekujur tubuhnya. Ia dapat bergerak lincah sesuka hati. Anak itu melompat dan memutar-mutarkan tangannya, seakan pertama kali merasakan kelincahan seperti itu pada tubuhnya.
'Tidak mungkin..' Pikiran pria kecil itu terus meragukan saat sudah menyadari beberapa hal yang terjadi pada dirinya.
'Xernathan kecil?' Mulut Xernathan terbuka lebar seakan tidak percaya saat menatap keseluruhan tubuhnya melalui kaca besar yang menempel di lemari kamar itu.
Pria kecil itu menggeleng dengan cepat, menolak kenyataan. 'Aku pasti sudah gila..'
Tapi hal lain menjelaskan bahwa itu adalah nyata. Xernathan masih ingat keseluruhan isi kamar termasuk cermin besar di hadapannya.
Xernathan juga dapat merasakan tubuhnya dan benar benar yakin bahwa itu adalah nyata.
Hanya beberapa hal yang perlu di pastikan agar dia yakin sepenuhnya bahwa ini adalah kenyataan, bukannya mimpi.
Xernathan meraih gagang pintu dan mendorong pintu yang terasa agak macet. Butuh sedikit tenaga ekstra untuk membukanya dengan kondisi tubuhnya saat ini.
Kaki kecil itu berjalan setengah hati menuju ruang dapur yang dia tau arahnya berada.
Xernathan terbelalak, matanya terbuka lebar. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Bu.. Bundaa.." Bibir Xernathan bergetar saat berucap.
Seorang wanita yang terlihat berusia dua puluhan tahun akhir mengangkat alis menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Nathan? Uda bangun?"
Xernathan seakan semakin tidak percaya pada yang di lihat dan di dengarnya.
Suara yang telah lama tidak Ia dengar selama lebih dari puluhan tahun, tapi dia masih mengingat itu sebagai suara ibunya.
Wanita itu tidak menanggapi lebih jauh dan tidak sadar ekspresi wajah Xernathan yang tidak lagi dapat Ia kendalikan.
__ADS_1
'Apa yang terjadi padaku..'
'Hahh.. akuu.. aku pasti sedang bermimpi..'
'Aku pasti sudah gila..'
Lamunan Xernathan terpecah saat ada suara anak kecil lain yang memanggilnya.
"Abang lihat ini abang.." seorang anak kecil itu menunjukkan mainan yang dia pegang.
"Abang ayo main ini mobil-mobilan.."
"Ada dinosaurus juga.. kesini bang sini.."
Xernathan berdiri lemas saat melihat kearah kursi dan meja tempat anak kecil itu bermain. Kakinya berdiri lemas dan matanya berkaca-kaca. Hingga sesak memenuhi dadanya.
Pikirannya saat ini membawa dirinya kembali ke ingatan lamanya, saat Xernathan masih berumur tujuh tahun dan anak kecil di hadapannya berumur lima tahun, saat dia melihat orang yang sama di hadapannya ini mati dalam keadaan menangis kesakitan dan Xernathan pada saat itu tidak bisa melakukan apa-apa karena dia juga merasa sangat ketakutan saat itu.
Xernathan sampai kapanpun tidak melupakan kejadian itu yang merupakan penyesalan terbesar dalam hidupnya.
"Gavi-in.." Xernathan terbata mengucap nama itu.
Anak bernama Gavin itu terdiam dan menatap heran ekspresi wajah saudaranya.
"Heii.." Wanita itu memukul kepala Xernathan menggunakan panci yang baru di cuci.
Membuat kaget hingga jantung Xernathan terasa mau copot.
"Melamun terus.." Wanita itu menggeleng.
Gavin yang sebenarnya masih bertanya-tanya ada apa dengan ekspresi wajah saudaranya seperti itu sebelumnya, kini lebih memilih tertawa karena pukulan yang di terima dan melihat ekspresi wajah kaget Xernathan seperti itu.
Xernathan mendekat ke arah Gavin dan bermain bersama adik yang terpaut beda jarak umur dua tahun itu dengannya.
Tidak pernah muncul keinginan seperti ini di hati Xernathan pada kehidupan sebelumnya. Hingga saat ini terjadi yang dia rasakan adalah kesenangan dan kerinduan yang sangat terpuaskan.
"Gavin berapa umurnya sekarang?" Tanya Xernathan pelan berbisik di telinga adiknya.
Gavin menunjukkan tiga jarinya menjawab pertanyaan Xernathan.
Xernathan mengangguk lalu lanjut menciumi dan menggelitiki perut adiknya.
__ADS_1
Mereka berdua bermain sepuasnya, Xernathan terlihat yang paling senang. Sangat antusias bermain seakan itu adalah terakhir kalinya dia bisa bermain dan sesekali matanya terlihat berkaca-kaca.
Seharian itu Xernathan dan adiknya tidak keluar rumah, sampai keduanya di suruh ibu mereka untuk tidur ketika hari sudah malam.
Di kamarnya, Xernathan terus berkhayal pada kehidupannya saat ini. Dia juga bertekad untuk tidak lagi mengulangi kesalahan dan penyesalannya lalu berjanji untuk mencapai keinginannya yang tidak sempat dia dapat di kehidupan yang sebelumnya.
'Tidak di sangka, alat itu telah berhasil membawaku kembali pada masa sekarang ini..' Batin Xernathan berucap, menyadari bahwa dia punya dua ingatan saat ini, yaitu ingatan pada kehidupan yang sebelumnya dan kehidupannya saat ini.
Xernathan kembali menatap sosok dirinya yang berada di kaca lemari kamarnya.
'Pada kenyataannya, aku bereinkarnasi pada kehidupanku sendiri, mengulangi semuanya'
Xernathan menyeringai penuh arti, menatap sosok dirinya. "Kau harus bertemu ayahmu"
"Kau harus bahagia kali ini!" Ucap Xernathan sambil menunjuk diri sendiri ke arah cermin.
"Kau akan menghadapi banyak pertempuran di masa depan"
"Kau.. kau berhutang untuk melindungi banyak orang.. atas kesempatan kedua yang sekarang kau dapat." Xernathan tertawa lebar sangat mensyukuri fakta ini.
Saat ini menjadi awal mula petualangan Xernathan pada kehidupannya yang berulang.
***
Pulau Cyclops merupakan daratan di kelilingi danau sangat luas yang tercipta dari letusan gunung berapi super volcano jutaan tahun lalu.
Daratan cukup luas itu tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk pulau yang terbatas. Membuat Pulau Cyclops juga menjadi habitat alami para monster-monster berusia puluhan tahun hingga ratusan tahun.
"Aku dengar Nathan kembali ke rawa itu.."
Dua orang wanita berbicara dengan ibunya Xernathan saat berbelanja di pasar kota.
Pulau Cyclops hanya terdiri dari satu kota kecil dan beberapa desa yang terpencar ke beberapa penjuru pulau.
Tidak heran penduduk di pulau itu saling mengenal satu sama lain karena keterbatasan itu.
"Aku dengar dia berhasil mengangkat dua monster ikan berumur lima puluh tahun seukuran orang dewasa seminggu yang lalu?"
Ibu Xernathan menoleh ke suara itu dan menjawab dengan hanya sekali anggukan.
"Xania kau tidak perlu merasa cemas, Xernathan adalah anak yang cerdas.." Wanita yang lain ikut menanggapi. Dia menyadari reaksi Ibu Xernathan yang justru terlihat seperti tidak senang dengan perbuatan anaknya itu.
__ADS_1
Warga desa sangat senang dengan aksi Xernathan yang dapat mengurangi bahaya serangan monster di tempat mereka tinggal.
Sedangkan bagi Ibu Xernathan yang di lakukan anaknya itu dalam waktu lebih dari setahun terakhir ini, menjelajahi tiap tempat di banyak jenis hutan di segala penjuru pulau dan melakukan aksi memburu monsternya itu hanya akan mengantarkannya pada marabahaya.