Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.34 Kombinasi amarah


__ADS_3

"Kau lihat pria yang memegang pedang di samping Taiho itu?" Xernathan menunjuk seorang pria pengguna pedang kepada temannya.


"Orang itu bahkan mampu menggunakan Qi tingkat bawah, setidaknya Qi yang di milikinya berjumlah lima puluh sampai sembilan ratus lingkar Qi. Lebih besar dari keseluruhan lingkar Qi yang aku miliki saat ini."


Pada kehidupan pertamanya, Xernathan mencapai penggunaan Qi tingkat bawah yang merupakan tingkat penggunaan Qi terakhir yang dia capai. Setelahnya Xernathan hanya meningkatkan kemampuan bertarungnya.


Sebenarnya, memiliki Qi sampai tingkat puncak sekalipun tidaklah berguna jika tanpa kemampuan bertarung. Bahkan banyak orang yang terlahir dengan tulang kualitas spids ataupun menggunakan Qi tingkat puncak berakhir dengan kematian karena mereka tidak mampu menggunakan kekuatan itu dengan baik.


"Apa artinya itu, aku bahkan tidak melihat dia memberikan serangan berarti selain luka lebar yang ada di kaki belakang sebelah kiri monster rusa itu." Mitsuya mendengus kesal.


"Nah, itu yang aku maksut dasar bodoh, orang yang mampu menggunakan Qi tingkat bawah saja tidak bisa memberikan luka yang berarti pada monster rusa itu, apalagi kita." Xernathan geram karena terus di desak oleh Mitsuya.


Di hadapan mereka ada belasan orang pria dewasa yang melawan monster rusa seribu tahun itu. Mereka semua adalah orang terlatih dengan beberapa orang yang menguasai penggunaan Qi tingkat dasar bahkan satu orang lain mampu menggunakan Qi tingkat bawah.


Pedang pria yang di aliri Qi tersebut membuat tingkat ketajaman pedang miliknya naik menjadi berkali-kali lipat dan tenaga yang di keluarkan pria itu mencapai lima kali lipat batas kekuatan ayunan pedang orang sekuat Taiho.


Monster jika sudah berusia di atas seribu tahun mempunyai tingkat regenerasi yang setara dengan pengguna Qi tingkat dasar. Tapi bukan itu keunggulan seekor monster usia berapapun. Melainkan kulit mereka yang keras dan sangat sulit di tembus oleh senjata tajam.


Kemampuan beregenerasi dan kekuatan monster rusa berusia seribu tahun ini merupakan mimpi buruk bagi aliansi Taiho.


"Heii sialan, mereka bahkan sudah bertarung hampir satu jam, kau mau melihat mereka mati satu persatu dan monster rusa itu jadi kabur hah?" Mitsuya mengepal tangannya geram dengan Xernathan.


Theodorus dan Sanji malah berpihak ke Xernathan karena dari awal Xernathan lebih paham kondisinya di antara empat orang ini.


"Mitsuya kenapa emangnya kalau monster itu kabur? tujuan kita kan cuma mau mengambil bunga-bunga itu." Sanji memaksutkan bunga yang akan mereka gunakan untuk membuat warna pada cat.


"Aku tau sialan, aku tidak bodoh, aku cuma tidak mau melihat kekalahan salah satu pihak dengan menunggu terus di tempat ini.


Setidaknya kita harus mengambil bunga itu dari sekarang selagi pertarungan berlangsung. Aku tidak mau menjadi pengecut mengambil keuntungan dari pertarungan orang lain." Mitsuya akhirnya meluapkan maksut hatinya dari awal.

__ADS_1


Xernathan kelihatan berpikir. "Baiklah tapi harus di ingat, masing-masing dari kita harus melindungi diri sendiri dan saling membantu satu sama lain." Xernathan menyelesaikan perkataannya sambil menatap mata satu persatu ketiga orang temannya.


"Kau ini sombong sekali, kau pikir kami akan memintai pertolongan mu hah?" Mitsuya bertambah kesal.


Sanji tertawa. "Heii Mitsuya kau ini seperti orangtua yang suka marah-marah kau kan punya pilihan untuk tidak marah-marah. Kau pikir kami ini anakmu hah? bisa kau marah-marahi seperti ini." Sanji tertawa tetapi Mitsuya terlihat tersenyum kecut menyadari perkataan Sanji barusan.


Xernathan berdiri dan mengeluarkan pedang Charybdis dari sarungnya. "Mari kita turuti kemauan teman kita Mitsuya yang suka marah-marah."


Theodorus yang dari awal lebih sering diam mendengarkan perkataan Xernathan dia tertawa membuat Mitsuya jadi semakin geram tapi dia tidak berbuat apa-apa.


-


"Kalian sedang apa di tempat ini"


"Pergilah anak kecil"


Tapi empat orang anak keras kepala ini mana mau menuruti siapapun selagi bukan dari kemauan mereka sendiri.


Duarr.. duarr.. duarr.. Peluru melesat secara akurat ke arah mata monster rusa seribu tahun ini. Tapi sama seperti panah-panah sebelumnya, peluru pistol Sanji juga tidak banyak melukai monster seribu tahun ini.


Kaki anak umur tujuh tahun itu berlari lincah mendekat ke arah monster rusa yang mengejar seorang pria. Mitsuya kewalahan mengejar, nyatanya meskipun pergerakan Mitsuya sangat cepat tapi tidak cukup cepat untuk mengejar monster itu.


Mitsuya bahkan lebih sering terjatuh daripada serangannya yang mengenai tubuh monster rusa itu. Nyatanya, senjata jarak jauh jadi lebih efisien saat mereka tidak lagi dapat mengimbangi lari monster ini.


"Mitsuya, kau jangan terlalu dekat.." Xernathan memperingatkan.


Hyaaakk..


Bruakk.. Batu besar berkeping-keping hancur di lemparkan ke arah monster rusa itu. Taiho berhasil sekali lagi mengalihkan pandangan monster rusa dan bersembunyi di balik pohon.

__ADS_1


Mereka semua menangkap kesempatan, Xernathan mengaliri banyak tenaga Qi ke pedang Charybdisnya dan menyayatkan banyak luka di kaki monster rusa.


Mitsuya pun jadi lebih mudah memberikan luka untuk monster ini karena fokus monster rusa seribu tahun ini terpecah, tidak mengarah padanya.


Haaa... Salah satu wanita menjerit kesakitan separuh badannya habis di lahap monster rusa seribu tahun itu. Mata wanita itu sempat terlihat berair hingga beberapa waktu kemudian seluruh tubuhnya hancur lebur sampai tidak lagi mempunyai susunan tubuh manusia.


"Sialan.."


"Awas kau monster sialan"


"Ayo serang lagi dia bersamaan"


Orang-orang semakin geram tapi sejujurnya mereka sudah sangat kewalahan berlari, bersembunyi dan menyerang monster itu dari arah mereka masing-masing. Sedangkan makhluk yang mereka serang masih mempunyai banyak stamina meski kecepatan larinya sedikit berkurang karena banyaknya luka-luka besar sampai tak terhitung berapa jumlah luka kecil di tubuh monster rusa seribu tahun itu.


"Kasihan sekali makhluk itu, puluhan peluru dan ratusan anak panah bersarang di dalam tubuhnya." Levin mengatakan sesuatu yang baik, tapi melihat ekspresi wajah di balik topeng kelinci itu sepertinya dia tidak benar-benar merasa kasihan kepada monster itu.


"Sejak kapan kau mempunyai empati?" Pria bertopeng penuh jarum bertanya.


"Cihh.. bukan begitu maksutku." Levin dan teman bertopeng jarumnya masih melihat lokasi pertempuran dari jarak jauh di atas cabang pohon yang sama seperti sebelumnya.


Padahal kalau dua orang ini membantu sejak awal maka tidak akan ada korban yang jatuh dari pihak aliansi Taiho. Tapi percuma berandai-andai, orang seperti Levin dan temannya ini mempunyai pemahaman lain mengenai arti pertarungan sesungguhnya.


"Cihh.. mana dua pria bertopeng sialan itu"


"Mereka kabur setelah mengajak kita untuk melawan monster rusa ini"


Orang-orang sudah lama sadar dengan kepergian dua pria bertopeng tapi mereka semakin geram saat jumlah mereka tersisa tinggal lima orang dari pihak aliansi.


Jadi sekarang sisa jumlah mereka adalah sembilan termasuk empat orang anak kecil yang membantu mereka.

__ADS_1


__ADS_2