
Xernathan menyiapkan banyak jenis tanaman obat yang di temukan di gudang kapal untuk mengobati orang setelah melewati badai nanti malam.
"Heii dik jauhi lampu di atas kepalamu itu.."
"Kau yang berbaju hitam, berapa umurmu? Masuk sana ke dalam kabin." Xernathan yang paling terlihat sibuk sore itu. Mengalahkan abk kapal yang bersih-bersih dan juga yang menyiapkan makanan untuk nanti malam.
Kapten Morgan yang melihat perbuatan Xernathan membiarkan semua yang di kerjakan anak itu di atas kapalnya.
Hari sudah gelap menuju tengah malam tidak ada pertanda cuaca buruk akan datang ke arah mereka selain petir sesekali yang menyambar air danau.
Sebagian besar anak sudah tertidur dan sisanya menangis karena rindu rumah.
Xernathan masih terjaga di luar kapal sambil melatih ayunan pedangnya.
"Ini dia.." Gumam Xernathan pelan merasakan tetesan air jatuh di keningnya.
Hujan yang datang tidak bermula dari suatu gerimis kecil. Saat tetesan kesatu kedua jatuh mengenai kening Xernathan langsung di susul oleh tetesan-tetesan berjumlah miliaran atau bahkan lebih dari triliunan tetes lainnya.
Awan pekat menelan kapal dan angin kencang bertemu permukaan air membuat air danau yang semulanya tenang menjadi ombak setinggi lima sampai sepuluh meter.
"Kapten!" Salah seorang abk dengan panik masuk ke ruang nahkoda.
"Kalau badai datang sebesar ini kapal kita tidak akan bertahan, kita harus menurunkan jangkar."
"Heii sialan, disini kau apa aku kaptennya, jangan turunkan jangkar, kembangkan layar utama kapal."
"Si.. siap kapten.."
Abk kapal mendengar perintah itu merasa ada yang salah dengan kepala pria berjanggut di hadapannya, tapi tetap melakukan perintah kapten kapalnya itu karena pria di hadapannya ini bisa jadi lebih mematikan untuknya daripada badai sekalipun.
Glegg.. glegg.. Kapten kapal meneguk alkohol dengan dua kali tegukan panjang saat dia berada sendirian di ruang nahkoda kapal.
"Kesenangan akan di mulai.." Ucap pria itu dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Yaaaakkk.. Puluhan abk kapal berteriak serempak menarik tali yang menjadi penahan tiang utama layar paling besar di kapal.
Ombak setinggi lima belas meter melaju cepat ke arah kapal mereka. Kapal itu dan ombak di depannya akan laga kepala dalam hitungan kurang dari satu menit.
"INI DIAA.. KAPAL SIALAAN LIHAT OMBAK ITU DAN TERBANGLAAAHH.." Kapten Morgan berteriak sejadi-jadinya sudah seperti orang gila sambil memegang stir kemudi kapal dan sebuah tuas di tangannya.
Kapal yang bermuatan banyak orang di atasnya itu terbang sekitar sepuluh meter di udara dan terhempas di atas air membuat beberapa kali guncangan dahsyat.
__ADS_1
Orang-orang di dalamnya terbanting dan barang-barang berserakan dimana-mana.
Guncangan-guncangan kecil masih terasa saat guncangan sebelumnya sudah kapal itu lewati. Orang-orang di kapal terluka ringan karena benturan keras dan hampir semuanya memuntahkan isi perut hasil makan malam tadi.
"Aaakhh ombaknya masih kurang.." Ucap kapten kapal sambil meneguk alkohol.
"Heii kau gendut sini, pegang kemudi"
"Si.. Siap kapten.. Hueekk.." Wajah pria berbadan tambun itu pucat pasih memuntahkan isi perutnya.
Kapten kapal berjanggut lebat itu keluar dari ruang kemudi menuju kabin tempat hampir semua anak-anak berkumpul.
"Sialan lemah sekali, baru terkena guncangan kecil sudah babak belur seperti ini.." Ucap kapten kapal itu melangkahi tiap anak yang muntah-muntah dan lemas di lorong kapal.
"Ini kau kunyahlah.." Xernathan memberikan tanaman obat pada tiap anak yang merasakan mual-mual di perutnya.
"Ini minum ini.."
"Heii kau jangan muntah di lantai nanti orang di sampingmu ikut kembali muntah karena melihatmu." Xernathan mengatur tiap anak di kabin itu, jumlah mereka ratusan.
"Anak ini.." Kapten kapal melihat Xernathan.
Huaahh.. Seorang anak menguap dan terlihat seperti tidak terjadi apa-apa padanya sebelumnya.
Kapten Morgan memegang dagunya saat melihat ketiga orang itu. "Hanya tiga orang ya yang berhasil bertahan."
Di luar badai masih berkecamuk tapi tidak ada ombak besar separah sebelumnya. Xernathan dan dua anak lainnya di kumpulkan di ruang kemudi.
Xernathan merasa asing dengan satu anak selain Theodorus. Xernathan tidak ingat di kehidupan pertamanya dia pernah kenal anak ini. Mata hitam dan rambut lurus anak ini terasa asing baginya.
"Tatap mataku saat aku bicara" Ucap kapten Morgan ketika kepala seorang anak lain itu menunduk dan tidak ingin menatap wajah pria berjanggut lebat itu.
"Aku ingin menjelaskan suatu alasan kenapa kalian kami culik dari tempat , tapi sebelum itu aku ingin tau siapa nama kalian."
"Pak janggut lebat namaku Theodorus.." Ucap Theodorus dengan gaya bicara lantang lugasnya.
"Aku Xernathan.."
"Pria tampan ini Sanji.."
"Baiklah maka aku akan jelaskan" Kapten Morgan bersandar di kursi kemudi kapal. Membiarkan abk nya yang mengemudikan kapal dengan berdiri.
__ADS_1
"Namaku Morgan." Ucap kapten Morgan dengan jeda beberapa saat karena dia meneguk alkohol beberapa saat.
"Aku ini adalah anggota elite militer divisi angkatan laut yang di tugaskan untuk menculik anak-anak seperti kalian untuk ikut wajib militer."
Dari kehidupan pertamanya Xernathan belakangan baru tau yang menjadi dalang dari penculikan ini adalah seorang Jendral militer. Penculikan ini di lakukan berdasarkan kepentingan negara Centuri tapi banyak kematian anak di bawah umur terjadi karena ketidak siapan mental anak-anak ini.
"Memang yang kami lakukan adalah keputusan secara sepihak. Tapi banyaknya mafia dan komunitas-komunitas psikopat di negara Centuri ini tidak membuat pilihan lain bagi kami selain mencari bibit-bibit dan bakat-bakat hebat dari berbagai penjuru negara Centuri untuk di jadikan sebagai anggota elite militer." Morgan menceritakan sejelas mungkin agar tiga orang anak di hadapannya tidak merasa kebingungan.
"Najiss.. apa perdulinya kami pada negeri ini." Theodorus meludah ke sembarang arah saat mendengar penjelasan kapten kapal.
"Heii kau jangan menyela penjelasanku dulu kau dengarkan saja sampai aku selesai berbicara" Morgan tidak habis pikir dengan anak berbadan paling besar di antara dua anak lainnya itu.
"Kalian bisa saja mengatakan bahwa tidak perduli negara ini. Tapi kalian tidak mungkin bisa menolak pada apa yang bisa kalian dapatkan jika berhasil menjadi elite militer"
"Jika kalian lihat wujudku biasa saja seperti ini mungkin kalian tidak akan tertarik menjadi seorang elite militer.
Tapi kalau kalian tau aku memiliki simpanan kekayaan bersih sebanyak ratusan ribu keping emas apakah kalian masih bisa mengabaikannya?"
Mata Theodorus terlihat melebar beberapa saat ketika mendengar perkataan kapten Morgan. "Apakah jika menjadi seorang elite militer, aku bisa lebih kaya darimu?"
"Tentu, bahkan petinggi-petinggi di kemiliteran mempunyai harta hingga jutaan keping emas banyaknya.. Kau tau Theo? bahkan setiap tahun, setidaknya ada sepuluh anggota elite militer yang masuk ke dalam jajaran orang terkaya di negara Centuri ini."
Hukk.. Theodorus tersedak nafasnya sendiri saat mendengar perkataan kapten Morgan.
Melihat reaksi Xernathan dan Sanji yang tampak seperti biasa saja, kapten Morgan melanjutkan penjelasannya.
"Mungkin kalian berpikir jika menjadi seorang elite militer kalian hanya akan mendapatkan harta saja hah? Tentu tidak.
Lebih sekedar harta, kalian bisa mendapatkan jabatan hingga kekuatan bahkan kekuasaan tertinggi di negara Centuri ini."
Sanji mengepal tangannya. Mulai bereaksi dengan penjelasan dari kapten Morgan.
"Kau anak bermata amethyst.." Kapten Morgan menyebut Xernathan.
Haahhkk.. Kapten kapal berjanggut lebat itu bereaksi pada alkohol yang di minumnya. Tidak kuat menahan ekspresi wajah saat menahan sensasi terbakar di kerongkongannya.
"Apa yang kau inginkan sebutkan saja aku ingin tahu, jika ada keinginanmu dalam hidup ini yang tidak bisa di dapat sebagai seorang anggota elite militer aku akan memulangkanmu ke pulau Cyclops bersama anak-anak lainnya.." Ucap kapten Morgan sambil menyipitkan matanya.
"Apa kau bilang? Mereka semua akan di pulangkan ke tempat asal mereka?" Mata Xernathan terbelalak tidak percaya pada apa yang Ia dengar. Di kehidupan pertamanya Xernathan membawa adiknya Gavin itu untuk ikut lebih jauh bersamanya mengikuti ujian menjadi elite militer. Tanpa dia sadari jika menyerah seperti ini maka anak-anak itu akan di pulangkan ke tempat asal masing-masing.
Kalau saja Xernathan tau hal ini dia akan lebih memilih menyerah dan pulang tanpa harus ikuti ujian yang menyiksa dia dan adiknya.
__ADS_1
"Tentu saja.." Jawab kapten Morgan singkat.