
Daniel tidak menyangka anak kecil seperti Xernathan berani menolak penawarannya.
'Cihh.. aku bahkan tidak yakin anak sekecil ini mengerti berapa nilai kepingan emas yang aku sebutkan.' Daniel mendengus kesal mengumpat dalam hatinya.
Daniel terlihat mengelilingi potongan tubuh monster rusa sambil meletakkan tangan di dagu dan berpikir. Daniel tersentak dan memikirkan suatu ide licik saat melihat dada rusa yang bolong seperti terkena sebuah tusukan.
'Sepertinya rusa ini mati hanya dengan satu tusukan kecil..' Daniel berpikir licik dalam hatinya.
"Jika itu maumu aku akan beli keseluruhan monster ini dengan harga sembilan puluh keping emas, bagaimana?" Daniel menyeringai licik saat sudah mengecek keseluruhan tubuh monster rusa.
Orang-orang di tempat itu terperanjat.
"Aku menghargai sedikit lebih tinggi karena tau perjuanganmu untuk dapatkan rusa ini dengan susah payah, apalagi kau sendirian"
Daniel menunjukkan senyum terbaiknya.
"Di tempat asalku saja yang merupakan sebuah daratan sangat luas yang terdiri dari banyak kota-kota besar dan memiliki sumber daya yang bisa di beli dengan mudah,
jarang aku temui anak yang berbakat luar biasa seperti dirimu ini Xernathan.
Melihatmu melakukan ini sendirian aku jadi ingat dengan anakku. Aku sudah lama meninggalkannya, aku rasa perlu berbuat baik padamu, aku merasa kau seperti anakku."
Xernathan menangkap maksut lain dari wajah pria paruh baya yang terus membual di hadapannya. Xernathan menyeringai lebih licik dalam hatinya berniat untuk memberikan sebuah tipuan lebih dulu pada pria itu.
"Benarkah bapak mau membayar dengan harga setinggi itu? Apakah bapak sudah mengetahui umur dan keadaan monster ini?"
Daniel tertawa pelan sambil mengangguk.
"Di tempat asalku banyak orang yang belajar Qi dengan alasan untuk memperpanjang umur mereka" Pria itu menjelaskan.
"Apa kau tau apa itu Qi?" Bisik Daniel pelan.
Xernathan menjawab itu dengan mengangguk, sebenarnya dia heran, Daniel tidak mempertanyakan bagaimana anak sekecil Xernathan tau apa itu Qi. Dia hanya melanjutkan penjelasannya bagaimana cara mengetahui usia dan kualitas tulang dari seekor monster maupun seorang manusia.
"Dengan mengaliri tenaga dalam dan merasakan lingkar kehidupannya, kau bisa tau usia tulang dan kualitas tulang monster ataupun orang yang kau sentuh." Daniel menjelaskan dengan antusias. Tanpa dia sadari berkat dirinya Xernathan jadi memiliki sebuah pengetahuan baru.
'Sial kenapa aku baru tau fakta itu dari pria berbadan gendut ini..' Xernathan mengumpat dalam hatinya. Mengetahui cara yang di sebutkan Daniel tidak akan sulit ketika dia sudah bisa menggunakan Qi tapi cara seperti itu tidak terpikirkan olehnya sebelumnya.
__ADS_1
Xernathan merasa tidak asing dengan pernyataan pria itu sebelumnya. Dia tau memang ada tempat di luar sana yang memiliki kekayaan hingga memungkinkan penduduknya menguasai Qi demi kepentingan medis.
Belum cukup puas dengan rasa penasarannya Xernathan bertanya tentang asal kota pria tambun di hadapannya. Yang di jawab pria itu dengan menunjuk ke arah timur dan menyebutkan sebuah nama wilayah. "Aku tinggal jauh di arah timur sana.. tinggal di salah satu wilayah di daratan sangat luas di suatu tempat bernama wilayah Hydra."
Anak kecil itu menjadi yakin dengan perkiraan sebelumnya. Benar wilayah yang dia maksut.
Tapi ada pertanyaan baru muncul dalam benaknya.
Xernathan menekuk alis. "Tapi kenapa pak Daniel ini tidak memiliki mata sipit seperti orang yang berasal dari wilayah Hydra?"
Xernathan tau tempat itu. Di kehidupan pertamanya Xernathan miliki beberapa orang yang sangat penting bagi hidupnya yang berasal dari tempat yang pria itu sebutkan.
"Kau tau wilayah Hydra?" Daniel tersedak nafasnya saat Xernathan menanyakan itu.
"Kau punya wawasan yang luas ternyata"
Dia pikir anak kecil di hadapannya akan bertanya tentang dimana dan seperti apa wilayah Hydra, nyatanya Xernathan menanyakan hal yang sebenarnya jarang orang lain ketahui tentang daratan itu.
Wilayah Hydra berada sangat jauh di arah timur di negara tempat mereka berada yaitu negara Centuri. Pulau Cyclops sendiri adalah pulau terakhir yang berada di ujung paling selatan peta negara Centuri.
Tidak heran jika orang lain tau atau pernah mendengar nama wilayah Hydra tapi jarang sekali yang tahu bahwa penduduk asli pulau Hydra adalah orang-orang yang berkulit putih bermata sipit.
Daniel lanjut bertanya saat Xernathan tidak menjawab pertanyaan tentang darimana dia mengetahui tentang wilayah Hydra.
"Kau juga pasti bukan asli penduduk di pulau ini kan?" Daniel tersenyum saat bertanya itu.
Xernathan mengangguk, memang dia bukan penduduk asli pulau Cyclops. Dia memiliki darah campuran dari ayahnya.
"Aku juga bukan asli orang dari wilayah itu, tapi aku memang berasal dari wilayah Hydra."
-
Seorang wanita terlihat berusia dua puluhan tahun mendekat ke arah dua orang yang sedang berbincang.
Kedatangannya memecah keheningan sesaat di antara Xernathan dengan pria tambun di hadapannya. Wanita itu langsung mendapat perhatian dari keduanya.
"Kak Lexi.." Xernathan yang pertama kali menyapa wanita itu.
__ADS_1
"Tangkapan mu kali ini sungguh luar biasa Nathan." Wanita bernama Lexi itu membalas sapaan Xernathan dengan pernyataan penuh keterkejutan dan pujian.
Xernathan hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal mendengar reaksi kaget yang ke sekian kalinya dari orang-orang.
"Baiklah langsung saja kau sebut berapa angka yang kau inginkan untuk monster ini?"
"Ohya sebelumnya, sudah kau ketahui berapa umur dari monster di hadapanku ini?" Tanya Lexi sekali lagi sambil memegang pena dan terlihat mencoret sesuatu di kertas.
Lexi mengecek tubuh monster rusa itu dan mengambil sedikit serbuk hasil goresan tulang rusa dan dia masukkan itu ke dalam alat penghitung usia tulang.
"Senior Lexi.. huhh bagaimana aku menjelaskannya?" Xernathan sedikit kesusahan menjelaskan.
"Aku sudah menghitung dan aku sanggup membayar dengan harg-.." Lexi bicara saat telah mencorat-coret sesuatu di kertasnya tapi blum sempat dia mengucapkan angka, perkataannya di potong oleh suara Daniel.
"Hei.. kau jangan mendahuluiku aku sudah membeli monster ini dengan sembilan puluh keping emas." Belum sempat Xernathan berkata memberi jawaban, Daniel memotong lebih dulu dengan penjelasannya.
"Eeh.. Pak kau menghargai dua puluh lima keping lebih mahal dari harga yang seharusnya." Lexi menjelaskan dengan heran.
Daniel terlihat diam sejenak menyusun kalimat untuk memberikan jawaban paling masuk akal pada Lexi.
"Aku adalah seorang pedagang sekaligus pelaut, sebelum tiba di tempat ini aku singgah dan berada di beberapa kota yang menjual sumber daya monster seperti ini dengan harga tinggi.
Aku yakin jika kembali singgah ke kota-kota itu sepulang dari pulau ini aku akan bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi.
Dan juga aku tertarik melihat tanduk dan taring monster rusa ini, aku akan mengolah dan menjualnya sebagai mata tombak dan juga pedang." Daniel memutar otaknya untuk memberikan alasan yang masuk akal.
Xernathan yang sedari awal menangkap maksut lain dari Daniel semakin menyeringai lebar dalam hati. Anak itu menyadari niat busuk di balik wajah polos pria tambun di hadapannya.
'Teruslah berdrama pria gendut.. '
Lexi menghela nafas panjang, sebelumnya dia sedang bekerja dan buru-buru pulang karna mendengar anak kecil di hadapannya mendapatkan hasil buruan baru.
Tapi tidak dia sangka ini adalah kesekian kali dirinya telat mendapatkan sumber daya monster dari anak kecil itu.
"Maaf Kak.. aku menjual hasil buruanku dengan harga yang paling tinggi.." Xernathan menjelaskan.
Lexi mengangguk, sebagai seorang bankir yang mengelola keuangan. Wanita itu paham dengan selisih nilai dua puluh lima keping emas yang di tawarkan pria paruh baya itu pada Xernathan membuat selisih angka sangat jauh dari harga yang akan Lexi tawarkan.
__ADS_1
Meskipun Lexi adalah penadah langganan Xernathan selama lebih dari setahun ini, Lexi juga sadar bahwa bisnis adalah bisnis.
Dia hanya bisa berharap bahwa pria berbadan tambun di hadapannya tidak berada lama di pulau Cyclops. Atau dia akan kehilangan mata pencaharian sampingannya sebagai penadah sumber daya monster.