Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.25 Simpan tenagamu


__ADS_3

Kriiing.. kriing.. Dering alarm menarik perhatian seluruh peserta ujian ke arah pria berbadan atletis yang menggunakan baju kaos slim fit berwarna abu-abu.


"Aku peringatkan jika kalian hanya mempunyai sedikit keberuntungan maupun kemampuan yang melengkapi diri kalian maka lebih baik kalian menyerah" Dengan nada bicara yang tenang suara pria itu bisa di dengar oleh hampir seribu orang di tempat itu karena Qi yang mengaliri lehernya.


"Silahkan keluar melalui elevator yang ada di samping kanan kalian" Pria itu menunjuk arah yang di maksut.


"Jika kalian memaksa, bisa jadi kalian akan berakhir mengalami luka serius ataupun kematian sekalipun di tempat ini." Pria bertubuh atletis itu menatap peserta-peserta yang ada di tempat itu. Tidak ada yang ingin menyerah bagi mereka sudah terlalu jauh mereka hingga sampai ke tempat ini, mengingat asal mereka dari berbagai penjuru wilayah di negara Centuri. Saat ini bagi mereka menyerah bukanlah suatu pilihan.


"Ujian tahap pertama menjadi anggota elite militer akan di mulai.." Gelombang suara pria itu mulai mengeras terasa menyapu wajah para peserta.


Pria bertubuh atletis itu balik badan dan mulai berjalan mengikuti satu jalur lorong yang panjang. Di ikuti oleh hampir seribu peserta yang mengikuti di belakangnya.


"Huh.. Padahal aku berharap akan ada orang yang menyerah.." Theodorus melihat arah belakang dan tidak ada siapa-siapa untuk mundur.


Mereka semua berjalan semula pelan mengikuti iringan langkah kaki pria berbadan atletis itu. Langkah kaki mulai terasa cepat saat orang-orang di depan Xernathan, Sanji dan Theodorus itu mulai berlari.


"Cepatlah Theo orang di depan kita mulai berlari.." Sanji mendorong Theodorus yang terlihat masih ingin berbicara.


Ratusan orang membuat gema langkah kaki mereka bergetar memenuhi lorong yang sebelumnya hening. Pria bertubuh atletis mulai mengaliri kembali lehernya dengan Qi.


"Aku memperkenalkan diri, namaku Gatlin"


"Penguji ujian tahap pertama" Pria bertubuh atletis itu memperkenalkan diri.


"Jika kalian ingin menuju ke tahap ujian yang selanjutnya silahkan ikuti aku, aku akan menunjukkan pada kalian kemana arah jalannya.." Sambung pria itu pada seluruh peserta sambil berlari dan membiarkan orang-orang mengikutinya.


"Apa kami hanya perlu mengikutimu?"


"Menuju tahap ke dua?" Orang-orang saling tatap merasa heran.

__ADS_1


"Iyaa.. tapi aku tidak akan memberi tau kalian sejauh apa lokasi ujian tahap kedua berada.."


Pria bernama Gatlin itu melirik sebentar ke belakang. "Tahap pertama sedang di mulai."


Orang-orang mulai mengerti dan terus mengikuti lari pria bertubuh atletis itu.


"Benar perkataan kau sebelumnya di lift Nathan, ujian tahap pertama pasti tentang kekuatan fisik." Theodorus menepuk-nepuk pundak Xernathan seakan-akan menyemangati temannya itu.


"Simpan saja tenagamu Theo perjalanan kita masih sangat panjang." Xernathan seperti tidak suka melihat Theodorus yang bercanda di saat seperti ini.


"Tidak masalah, sejauh apapun akan aku ikuti pelarian pria yang sering berolahraga itu" Theodorus memandang sepele Gatlin yang menjadi seorang penguji ujian tahap pertama.


"Aku akan terus mengikuti sejauh apapun kakinya melangkaah.." Theodorus berteriak menguapkan semangat di dadanya. Tapi orang-orang terus berlari mengatur nafas mereka tanpa memperdulikan teriakan itu.


'Cih.. Theo selalu saja bodoh bukannya menghemat tenaga malah berteriak seperti itu. Yang jelas-jelas kuat saja tidak ada yang berani melakukan hal bodoh seperti dia.' Xernathan mengumpat dalam hatinya.


'Heei Theo bodoh bisa jadi ujian ketahanan ini tidak akan ada habisnya..'


Seakan satu pemikiran dua orang teman Theodorus itu memakinya dalam pikiran mereka masing-masing.


Sekarang ini jumlah peserta ujian yang tersisa adalah sembilan ratus empat orang dengan Sanji sebagai orang pemegang angka paling akhir yaitu angka sembilan ratus lima.


Satu orang bahkan sudah tereleminasi sebelum ujian tahap pertama di mulai.


Yaitu orang yang di bunuh oleh pria bersetelan jas rapih yang menggunakan topeng kepala kelinci.


-


Empat puluh kilometer jarak sudah mereka tempuh dari awal. Lebih dari seratus orang sudah menyerah dan berhenti berlari.

__ADS_1


"Ayolah kalian semua semangat.. kenapa kalian semua lama sekali.." Seorang pria bergigi kuning berlari bersebelahan dengan Gatlin, pria itu berlari sambil melompat kegirangan menyemangati orang-orang di belakangnya. Gatlin di sebelahnya hanya melirik sebentar ke arah pria itu.


'Urino bilang jarak yang akan kami tempuh hanya sekitar lima puluh kilometer aku tidak perlu lagi menghemat tenagaku.' Batin pria itu sambil mulutnya melebar menunjukkan gigi-giginya yang kuning itu.


Api obor yang terpasang di dinding lorong seperti terjatuh ketika orang-orang yang berlarian itu mengibaskan angin ke arahnya dan berdiri lagi ketika orang-orang itu sudah lewat.


Orang-orang yang semulanya berbaris rapih kini semua mereka terpencar. Ada yang tepat di belakang Gatlin. Ada yang di samping Gatlin ada juga yang jauh di belakang. Tentu saja ada yang berhenti berlari.


Shhrr.. Roda sebuah skateboard terdengar berdesir berputar di sebelah Theodorus.


"Woii kau siapa, curang sekali menjalani ujian fisik seperti ini menaiki skateboard.." Theodorus memaki anak bermata sipit yang menaiki skateboard di sebelahnya, nafas Theodorus sudah terputus-putus.


"Emangnya kenapa?" Dengan wajah datar datar anak itu bertanya balik ke Theodorus.


"Bukannya jelas sudah, kita sedang menjalani ujian ketahanan fisik. Kau naik skateboard itu artinya curang." Theodorus tidak sanggup lagi berteriak. Sambil terus berlari dia menunjuk-nunjuk wajah anak yang sedang naik skateboard di sampingnya itu.


"Kita salah mengartikan Theodorus, penguji tahap pertama tidak mengatakan ini adalah ujian fisik. Dia mengatakan bahwa kita hanya perlu mengikutinya sampai lokasi ujian tahap kedua." Xernathan dan Sanji berlari agak jauh dari Theodorus supaya sewaktu-waktu Theodorus pingsan mereka akan menggendongnya. Mereka memberikan jarak jauh supaya Theodorus tidak mengeluh dan tidak mengajak mereka mengobrol.


"Namaku Xernathan, pria yang memarahimu namanya Theodorus dan yang paling tampan ini namanya Sanji.." Xernathan dengan senyum sangat lebar memperkenalkan semua temannya.


"Sepertinya kami sama tampannya.." Sanji sebenarnya malas mengakui, tapi dia merasa anak bermata sipit ini memang pantas di puji.


"Whaa.. kalian semua sepertinya seumuran denganku.. Aku memang sudah seharusnya ikut berlari bersama kalian" Anak bermata sipit itu membalas senyum lebar Xernathan dan pujian Sanji.


Anak bermata sipit itu melompat dari skateboardnya dan sekejap skateboard itu menghilang ketika anak bermata sipit itu mengayunkan tangannya.


Anak bermata sipit menunjukkan jari manis di tangan kirinya. "Ini namanya cincin haumuru, benda pusaka brankas dimensi, aku bisa menyimpan semua yang tidak bernyawa masuk ke dalam cincin ini." Anak bermata sipit itu dengan senang menjelaskan. Sedangkan Theodorus dan Sanji langsung paham dengan penjelasan anak bermata sipit itu tapi mata mereka berdua menangkap sesuatu yang lain di tangan kiri anak bermata sipit itu.


"Kau memakai tiga kalung pemberian pak Urino sekaligus? Kau tidak apa-apa?" Dengan nafas terputus-putus Theodorus memaksa bertanya tetapi sambil terus berlari.

__ADS_1


__ADS_2