Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.27 Alasan kuat


__ADS_3

"Jangan meremehkan anak biasa seperti aku" Gigi Theodorus merapat. Menatap jutaan anak tangga di hadapannya.


"Aku mau menjadi seorang elite militer.." Theodorus berteriak lantang, mengepal tangannya dan berlari melewati satu dua dan puluhan anak tangga di hadapannya.


"Hyooo.." Sanji, Mitsuya dan Xernathan serempak kegirangan melihat Theodorus yang kembali mendapati semangatnya.


"Sanji, Xernathan ayo kita lomba siapa yang sampai lebih dulu keluar lorong ini.." Mitsuya menantang.


"Baiklah yang kalah harus menuruti satu permintaan orang yang menang." Sanji menerima tantangan.


Xernathan menggeleng. "Aku akan mengawal Theo dari belakang, kalian tanding berdua saja." Xernathan berlari meninggalkan kedua orang itu di belakang.


Sanji dan Mitsuya menganga melihat kecepatan lari Xernathan yang mengejar Theodorus yang sudah menaiki ribuan anak tangga dengan begitu mudahnya seperti tidak membutuhkan tenaga.


"Ba.. baiklah ayo kita mulai.." Mitsuya memberi aba-aba dan mengambil posisi lari menaiki anak tangga. Dia yang berlatih sejak kecil bahkan tidak bisa secepat Xernathan menaiki anak tangga ini.


"Siaap sediaaa.. Mulaaii"


-


Gatlin memutar kepalanya menatap ke arah belakang. 'Sepertinya ujian yang aku berikan sangat sulit bagi mereka. Padahal hanya menaiki tangga.' Pria bertubuh atletis itu tidak tau diri berkata seperti itu di dalam pikirannya. Melihat ke arah belakang semakin banyak anak tangga yang mereka lewati semakin banyak orang yang berhenti mengikutinya.


"Mereka ini lemah sekali, bahkan lebih dari setengah dari mereka menyerah padahal ini baru ujian tahap pertama." Gatlin malah merasa cemas karena ujian yang di berikannya ratusan orang sudah gugur sebagai peserta.


"Penguji bernama Gatlin ini seperti monster"


"Sudah berlari sejauh ini tapi nafasnya terlihat tidak kesusahan sedikitpun"


"Lihat bajunya, tidak basah sedikitpun karena berkeringat." Orang-orang yang di belakang Gatlin terus mengumpat. Melihat baju slim fit berwarna abu-abu Gatlin tidak basah karena keringat.


Mereka yang memilih diam dan terlihat biasa saja adalah orang yang sangat kuat, seperti Levin, Alfa, Mitozumi, Taiho dan yang lainnya mereka tidak terlihat kesulitan sama sekali.


Bahkan Levin, pria bertopeng kelinci itu santai mengobrol dengan temannya yang juga terlihat aneh. Teman Levin menggunakan topeng dengan jarum menutupi keseluruhan wajahnya, membuat oranglain bahkan tidak berani menatapnya lama-lama.


Hakk.. hakkk..haakk.. Theodorus merasa dengan bergumam seperti ini kelelahan di tubuhnya akan tidak terasa.

__ADS_1


"Theo kau baik-baik saja?" Xernathan bertanya di samping Theodorus.


"Aku jauh lebih baik dari yang kau lihat Nathan kau tenang saja." Theodorus bahkan tidak melirik ke arah Xernathan di sebelahnya sangkin fokusnya dia berlari menaiki anak tangga.


"Theo sebenarnya apa alasan anak kecil seperti dirimu mau menjadi seorang elite militer hah?" Xernathan bertanya.


"Aku kenal banyak orang yang hidup dengan ketergila-gilaannya mencari harta, tapi mereka tidak sama denganmu."


Tentu untuk berlari sampai sejauh ini butuh lebih dari satu alasan kuat agar mereka tetap bertahan. Kekuatan fisik anak biasa seperti Theodorus tidak akan kuat jika di cerna pakai logika berlari puluhan kilometer. Hanya alasan yang kuat yang membuat mereka mampu bertahan sejauh ini.


Namun hingga sampai di kehidupan ini pun Xernathan tidak tau alasan Theodorus bertahan apa. Makanya itu di saat seperti ini dia memaksa ingin bertanya.


"Nathan, kau yang katakan jangan banyak berbicara saat ini. Akan membuang banyak tenaga." Theodorus mengalihkan pembicaraan seperti dia tidak ingin di interogasi.


"Baiklah kalau gitu.." Xernathan mengabaikan.


"Nathan kau tau, alasanku memang karena harta aku mau menjadi kaya." Theodorus menjelaskan dengan sejujur-jujurnya.


'Cihh si Theodorus ini memang sangat suka berbicara..' Xernathan mengumpat sejenak lalu fokus mendengarkan.


"Dengan uang kita bisa beli apapun, termasuk membeli makanan.." Theodorus mengepal tinjunya.


"Dulu, terjadi gagal panen besar-besaran di kampung halamanku. Setahun penuh tempat itu di terjang musim salju" Theodorus kesusahan mengeluarkan kata-katanya tapi dia melanjutkan dengan setengah hati.


"Sebenarnya ada rombongan pedagang yang singgah di kampung kami, tapi karena menyadari gagal panen yang kami alami saat itu mereka menaikkan harga jual barang dagangan mereka dengan harga sangat tinggi."


"Theo kalau kau tidak ingin menyelesaikan ceritamu jangan kau paksakan."


"Beberapa hari setelah rombongan pedagang itu pergi, kampung halamanku di landa badai salju berkepanjangan, kami sangat kekurangan makanan dan pakaian kering karena itulah lebih dari separuh warga desa mati saat itu.." Theodorus menghapus air matanya.


"Termasuk ayah ibuku.." Theodorus menangis sambil berlari lebih kencang menaiki tangga.


Xernathan menyusulnya.


"Kau tidak apa-apa?" Xernathan memastikan.

__ADS_1


"Sialnya pemerintah baru datang berminggu-minggu setelah hal itu terjadi semakin banyak warga yang mati dan tersisa lah beberapa dari kami di desa itu." Theodorus mengakhiri ceritanya.


"Kau tau Xernathan? Rasa sakit dan penderitaan selalu membuat anak-anak seperti kita di paksa untuk dewasa lebih cepat."


"Hallo kalian berdua.." Sanji dan Mitsuya berjalan beriringan mulai bersebelahan dengan Xernathan dan Theodorus.


Menyadari kedatangan dua orang ini Theodorus membuang wajahnya ke arah lain.


"Kami luan yaa.." Mitsuya melambaikan tangan meninggalkan mereka berdua di ikuti oleh Sanji di sebelahnya.


"Orang-orang ini lambat sekali yaa.." Mitsuya merendahkan orang lain yang mulai melambat dan bahkan beberapa berhenti.


"Kau mau aku panggilkan Nathan untuk mengalahkan kesombonganmu hah?" Sanji menggeleng.


"Bukannya kita sudah sepakat jangan membahas anak itu, kau sendiri yang bilang dia mempelajari sesuatu untuk mendapatkan kekuatan seperti itu." Mitsuya geram, dia tidak terima ada oranglain yang mengalahkan kehebatan hasil latihannya selama ini.


"Baiklah.. Tapi aku mau tanya, kau kenapa mengikuti ujian menjadi elite militer ini?" Sanji mengangkat sebelah alisnya.


"Tentu saja aku mau bersenang-senang dan bertemu anak seperti kalian bertiga." Mitsuya memang punya alasan yang terdengar sepele.


"Kalau kau, apa yang di lakukan kelompok psikopat De Medusa pada tangan kiri orang-orang sukumu?" Mitsuya dengan enteng bertanya seakan itu pertanyaan yang biasa.


Sanji hanya bisa menahan diri. "Mungkin mereka menjadikan tulang suku Nayara sebagai pedang ataupun pusaka yang pasti mereka menjualnya dengan harga yang sangat-sangat mahal." Sanji memberikan penjelasan semudah yang ingin Mitsuya dengar.


"Heii lihat cahaya itu.." Mitsuya menunjuk arah ujung lorong yang bercahaya.


"Itu pasti pintu keluar lorong ini.." Sanji mulai meningkatkan kecepatan larinya. Di ikuti oleh Mitsuya yang tidak mau kalah.


Mereka berdua lari berimbang melewati banyak orang di belakang mereka.


Gatlin sudah sampai di ujung lorong dan berhenti di mulut lorong. "Baiklah aku akan hitung berapa orang yang sampai sejauh ini"


Gatlin perlahan berbalik ke arah belakang dan ingin menghitung peserta. "Ayo lihat sehebat apa orang-orang yang mampu berta-.."


"Goaaaall.." Sanji dan Mitsuya serempak mengangkat tangan keluar dari mulut lorong.

__ADS_1


"Aku menang.." Sanji mengklaim.


"Heii sialan aku yang menang.." Sanji merasa kalau dialah yang menang.


__ADS_2