
Pintu lift terbuka dengan perlahan. Ratusan pasang sorot mata langsung tertuju kepada tiga orang anak itu dengan tatapan sinis.
"Kenapa suasana langsung jadi menegangkan seperti ini.." Theodorus berbisik pelan ke arah Xernathan dan mulai merasakan gerah di sekujur tubuhnya.
"Sanji, Theodorus jangan sekalipun kalian percaya pada orang lain selama ujian ini dengan mudah, se-ramah apapun mereka pada kalian." Xernathan mengingatkan.
Sebelumnya kapten Morgan sudah memberi tau kepada tiga orang anak ini. Bahwa hanya ada satu dari satu juta pemula yang akan langsung berhasil menjadi elite militer setiap tahunnya.
Itu di sebabkan, mereka tidak mengerti dan terlalu naif karena akan selalu ada saja orang yang dengki mencurangi seleksi ini demi sekedar kesenangan mereka melihat semangat seorang pemula yang langsung gagal di percobaan pertama mereka.
Sayangnya penyiksaan, pembunuhan dan kecurangan seperti apapun di perbolehkan selama ujian ini berlangsung. Elite militer memang seyakin itu, mereka menganggap bahwa orang-orang yang sudah berhasil sampai ke tempat ini pastinya adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan tidak biasa.
Ketakutan yang tersebar akan menjadi seleksi tahap awal untuk menguji kesiapan mental dan pikiran tajam orang di tempat ini.
"Apa hanya ada kita yang masih anak-anak di tempat ini?" Sanji melihat ke segala arah. Orang-orang di tempat itu lebih banyak yang berada di usia dewasa ataupun remaja ketimbang seusia dengan mereka.
"Pasti ada anak-anak lain, tapi mungkin hanya sedikit yang seumuran dengan kita, Sanji." Xernathan mengepal tangannya melihat orang-orang di tempat ini semuanya memiliki perangai seram dengan kemampuan mereka yang pasti tidak kalah hebat dari kelihatannya.
'Bahkan adikku baru berumur lima tahun saat berada di tempat ini..' Xernathan mengingat dulu Gavin hanya bersembunyi dan menutup mata di baliknya saat melihat orang-orang ini.
Tempat yang menjadi lokasi pertama ujian masuk elite militer ini adalah sebuah lorong panjang jauh di bawah tanah yang mendapati penerangan dari obor di sepanjang lorong.
"Tampilan mereka tidak sama seperti orang biasa pada umumnya." Theodorus menatap ke segala arah.
Jika di lihat semua orang di tempat itu memiliki jenis senjatanya masing-masing. Ada yang berupa senapan, panah, pedang, tongkat atau mungkin senjata yang tidak biasa seperti gunting seukuran orang yang membawa senjata itu, kartu, jarum bahkan hewan-hewan yang bersama mereka seperti ular, monyet, serangga dan hewan beracun ataupun hal-hal berbahaya lainnya.
Belum lagi senjata-senjata rahasia yang belum di ketahui tersimpan di balik perangai mereka yang tidak biasa itu.
__ADS_1
Theodorus terlihat yang paling khawatir mendengar peringatan berhati-hati dari Xernathan. Katanya, pertempuran bisa saja sewaktu-waktu terjadi di tempat ini.
"Ini angka sembilan enol tiga untuk seorang anak bermata amethyst.." Seorang wanita dengan giok indah yang menempel di antara kedua alisnya memberikan tempelan angka kepada Xernathan.
"Angka sembilan enol empat untuk anak bermata biru.." Wanita itu memperingatkan Theodorus untuk tidak menghilangkan tempelan angka itu.
"Ini angka sembilan enol lima untuk anak bermata hitam.." Wanita itu memberikan tempelan angka terakhir yang dia punya kepada Sanji.
"Kalian bertiga adalah peserta ujian terakhir sebagai pemula kalian harus mengikuti ujian dengan sungguh-sungguh.." Wanita dengan batu giok di keningnya itu tersenyum lalu pergi meninggalkan ketiga orang anak itu.
"Aku belum pernah melihat kalian bertiga sebelumnya, kalian ini siapa?" Seorang pria berkulit gelap berteriak menyapa ketiga orang anak itu.
"Haii.. Namaku Urino.." Pria itu dari kejauhan mendekat ke arah tiga orang anak itu dengan angka enol dan angka dua yang tertempel di dada sebelah kanannya.
"Kenapa kau bisa tau kami ini adalah seorang pemula wahai pria berdagu lebar." Sanji dengan tidak sopannya menyapa orang yang terus memberikan senyum pada mereka.
"Aku baru pertama ini melihat kalian sebagai peserta ujian masuk elite militer.."
"Whaa.. Itu berarti kau sudah mengikuti ujian masuk elite militer ini selama puluhan tahun." Mata Theodorus melebar.
"Cihh.. apa bangganya dengan hal itu" Sanji berbisik pelan kepada Xernathan.
"Bukannya itu tanda kalau sebenarnya pria ini adalah orang yang sangat lemah."
Xernathan mengangguk setuju dengan Sanji.
"Pak Urino namaku Theodorus, anak bermata amethyst ini Xernathan dan pria tampan satunya adalah Sanji." Theodorus yang terlihat sibuk melayani pria berkulit gelap bernama Urino itu.
__ADS_1
"Begitu ya.." Urino menatap dua orang lainnya bergantian yang di balas kedua anak itu dengan hanya sekali anggukan.
"Tapi kau panggil saja aku Theo, aku akan sangat senang bisa berkenalan dengan seorang veteran ujian di tempat ini.." Theodorus lanjut menjelaskan.
"Si Theo ini bodoh atau apa, barusan beberapa menit lalu aku katakan padanya untuk tidak sembarangan percaya pada orang lain, malah dia yang lebih dulu bersikap seperti ini dengan orang yang bahkan barusan dia temui.." Xernathan menggeleng dan berbisik pelan pada Sanji. Sanji pun sama jengkelnya melihat tingkah Theodorus.
"Sangat senang rasanya bisa membantu kalian di tempat ini, aku akan memperkenalkan kalian dengan orang-orang lain di tempat ini.." Urino menunjuk ke salah satu arah.
"Pria dengan nomor dada lima sembilan delapan itu namanya Taiho, aku tidak yakin ada seorang yang bisa mengalahkan dia dalam bertarung jika hanya mengandalkan kekuatan fisik." Urino menunjuk seorang pria berbadan sangat besar. Pria itu setidaknya memiliki tinggi tiga meter dengan otot tubuhnya yang membuat orang yang melihatnya dengan mudah percaya perkataan Urino barusan.
"Nomor tiga satu tiga itu Alfa, seingatku umur anak itu sama dengan kalian."
"Akhirnya ada juga anak kecil di tempat ini selain kita.." Theodorus mencoba untuk menyapa anak itu tapi di hentikan Xernathan.
"Sepertinya dia tidak akan suka berteman dengan kita.." Xernathan melarang Theodorus karena mengingat Alfa ini adalah seorang master muaythai yang hebat. Tapi dia selalu terganggu saat ada orang lain yang mencoba untuk berkenalan dengannya. Lagipula itu adalah hal wajar di tempat seperti ini karena semua orang penuh rasa saling curiga.
Tapi bukan itu alasan utama Xernathan melarang Theodorus untuk berkenalan dengan Alfa. Ada alasan khusus yang membuat anak bermata amethyst itu sangat geram saat pertama kali melihat anak bernama Alfa itu di tempat ini.
Kejadian yang tidak akan dia lupakan berapa ribu tahun sekalipun. Meskipun pandangan Xernathan kabur setelah menjalani dua kehidupan, Xernathan tidak akan pernah melupakan anak bernama Alfa ini.
Si Theodorus ini saja yang sok akrab pada semua orang yang ada di tempat ini.
"Selain itu, ada pria bernama Mitozumi dia itu adalah seorang ahli racun. Kalian jangan sekalipun bermasalah dengannya, dia adalah orang yang pendendam." Urino menggeleng cepat mengingat pernah ada suatu kejadian saat pria tua bernama Mitozumi ini membuat ular-ular berbisanya mengejar seseorang sampai orang itu tewas tanpa di ketahui apa alasannya.
Tapi karena itu Mitozumi kehabisan waktu di ujian pertamanya tahun lalu dan terpaksa harus mengikuti kembali ujian tahun ini.
Xernathan dan kedua orang temannya mulai memberi jarak pada semua orang di tempat ini.
__ADS_1