Passion Of Soul

Passion Of Soul
Reflek...


__ADS_3

Passion of soul


Hal 10


"because your mine!"


"what?"


Adinda menghela nafas panjang setelah mendengar pernyataan konyol yang keluar dari mulut Jonathan,


konyol??


Iya! konyol!


adinda bukanlah gadis naif yang tidak tau apa itu cinta, apa itu kekasih, apa itu sebuah hubungan, meski dirinya belum pernah pacaran sebelumnya, tapi dia tidak sebodoh itu, munafik jika ia bilang ia tidak menyukai Jonathan! tentu saja adinda sedikit menyukainya, wanita mana yang tidak mengilai Jonathan yang ketampanan nya di luar batas kewajaran, ia juga paham dengan perhatian yang diberikan Jonatan padanya, ia pun tahu Jonathan tertarik padanya, adinda mengerti ,adinda paham sekali dengan semua kondisi saat ini,


tapi untuk menjalin hubungan dengan Jonatan, ia harus berfikir lebih dari 2kali!,


ia belum siap , ia belum yakin dengan perasaannya, dan juga perasaan Jonathan padanya, yang benar saja, Jonathan belum bilang suka, belum bilang cinta, tapi sudah mendeklarasikan Adinda sebagai miliknya, apa itu namanya kalau bukan Konyol?!!!


(untuk saat ini aku harus menurutinya, aku tidak ingin kekonyolan ini menganggu kuliah ku, batin adinda)


"baiklah , aku tidak akan mengikat rambutku, jadi tolong buka pintu mobilnya" jawab adinda dengan nada bicara dibuat setenang mungkin,


"bagus, baby" ucap Jonathan sambil mengacak lembut rambut adinda ,ia senang adinda menurutinya,


adinda pun keluar dari mobil Jonathan , dan masuk ke dalam kampus,


*******


dikantor, Jonathan terlihat sibuk menjamu tamu dari Jerman yang tidak lain adalah paman Sean Jane adik dari ibu kandungnya Jonatan, dan juga ayah dari Jenita, lelaki yang berumur lebih dari 50 tahunan itu terlihat begitu akrab berbincang dengan Jonathan,


"paman kesini hanya ingin melihat keadaan mu, apa kau sudah lebih baik sekarang?" tanya paman Sean cemas ,


"paman jangan khawatir , aku baik-baik saja" jawab jonathan,


Jonathan memang lebih akrab dengan paman dari ibunya ketimbang ayahnya sendiri, sebab sejak Jonathan kecil pamannya lah yang selalu mengerti dan melindungi Jonathan.


"ngomong-ngomong, tentang ayahmu.. kapan kau akan mengunjunginya? paman tidak bermaksud mencampuri urusan kalian, tapi bulan lalu saat kau pulang ke Jerman tanpa menengok nya hal itu membuat ayahmu merasa sedih",


Jonathan tidak segera menjawab, ia merasa malas jika membahas tentang ayahnya, "aku butuh waktu , paman" jawab Jonathan singkat,


"sampai kapan?" tanya nya lagi


Jonathan hanya menggeleng pelan dengan senyum getir diwajahnya,


paman Sean memilih untuk tidak memaksa Jonathan lagi, ia tidak ingin hubungannya dengan Jonatan renggang hanya karena memaksakan kehendaknya mengakurkan hubungan ayah dan anak yang kian lama kian renggang itu,

__ADS_1


"besok, paman akan kembali ke Jerman , Jenita akan ikut paman kembali ke Jerman"


"kak Jen?, ada urusan apa kak Jen kembali ke Jerman paman?" tanya Jonathan


"paman rasa Jenita sudah cukup tua , sudah seharusnya ia menikah, paman heran kenapa ia lebih suka menghabiskan waktu dengan pasien-pasiennya ketimbang memikirkan masa depannya" seloroh paman Sean sedikit kesal


"hahahaha, maksud paman, paman akan menjodohkan kak Jen?" tanya Jonathan di sela tawanya,


"mau bagaiman lagi?" tanya paman Sean


" hahahaha, siapa yang tau paman, jodoh kak Jen adalah salah satu pasiennya" ucap Jonatan sambil tertawa


"huh! sialan kau Joo, kalau Jenita dengar habis lah kau! hahahaha" ucap paman Sean, yang di sambut tawa semakin keras dari Jonathan.


*******


Sore itu, seperti biasa Adinda Sedang berada di perpustakaan, ia harus banyak menyiapkan materi kuliah, bagaiman tidak sebagai asisten dosen ia harus menggantikan peran Miss Jen , karena Miss Jen akan pergi ke Jerman selama sebulan.


saat ia sedang sibuk mengetik materi di Notebook nya seorang laki-laki tiba-tiba meletakan sebotol air mineral dia atas mejanya,


" minum, agar kau bisa lebih fokus" ucap laki-laki itu sambil duduk di hadapan adinda


Adinda menengok, ia tersenyum setelah melihat siapa yang meletakkan botol air di mejanya,


"thanks Rey!" ucap adinda pada laki-laki yang bernama Rey itu,


Rey terus memperhatikan adinda yang tengah sibuk Dengan buku-buku dan notebook yang ada di hadapannya, sudah lama Rey mengagumi adinda, baginya adinda adalah gadis yang cantik, cerdas, sederhana , baik , dan mandiri, tidak seperti cewek-cewek lain di kampus ini , yang bersikap centil dan manja , tapi ia tidak menyatakan perasaannya , bukan tidak akan menyatakan hanya saja belum menyatakan,


"dind.." panggil Rey


"hemm"


"kamu nanti pulang jam berapa?" tanya Rey


"sebentar lagi Rey, kenapa?" ucap adinda yang matanya masih fokus ke notebook nya,


"aku antar ya?" ucap Rey penuh harap


"makasih Rey, tapi nanti ada yang jemput aku" ucap adinda yang membuat Rey penasaran,


"siapa?" tanya Rey


belum adinda menjawab seseorang, sudah memanggilnya


"Adinda!!"


Adinda dan Rey menengok ke sumber suara itu, dilihat nya Jonathan sedang berjalan kearahnya , ya Jonatan sudah sejak tadi menjemput adinda dan menanyakan keberadaan adinda pada Jenita, karena telp adinda tidak aktif saat Jonatan menghubunginya ,

__ADS_1


Jonathan tidak terlihat marah, ia malah berjalan dengan wajah cool nya yang membuat semua mahasiswi yang ada di perpustakaan tak berkedip memandangnya,


"have you done, baby?" ucapnya sambil mengelus rambut adinda ,yang membuat mahasiswi di ruangan itu menatap iri pada Adinda, dan berhasil membuat Rey membelalakkan matanya,


belum adinda bicara, Jonathan sudah mengambil buku dan notebook adinda dan memasukan ke tas adinda ,


"ayo sayang kita pulang" ucap jonathan sambil menggenggam tangan adinda,


adinda yang masih sedikit bengong hanya menurut saat tangannya sudah di tarik Jonathan,


adinda tidak memberontak , ia mencoba bersikap tenang karna jika ia mencoba memberontak ia yakin Jonathan akan melakukan hal lebih gila dari ini, karena tinggal bersama beberapa hari dengan Jonathan sudah cukup membuat adinda mengerti sikap asli Jonathan,


Adinda menengok Rey, " sorry Rey, aku pulang duluan ya!" ucapnya


Rey hanya mengangguk dengan senyum getir,


mendengar adinda mengucapkan salam pada teman laki-lakinya itu Jonathan langsung melepas genggaman tangannya lalu merangkul pundak adinda dengan erat sambil terus berjalan,


pemandangan itu membuat para mahasiswi semakin iri dan membuat para mahasiswa patah hati, terutama Rey.


"lain kali aku tidak akan mengampuni mu, jika aku melihat pemandangan seperti itu lagi, sayang" bisik Jonathan tepat ditelinga adinda saat mereka berjalan meninggalkan ruang perpustakaan,


hal itu cukup membuat jantung adinda berdetak tak karuan karena deru nafas Jonatan yang terasa di telinganya saat mengatakan itu,


Setelah mobil Jonathan sampai di depan rumahnya ia tak langsung membuka pintu mobilnya yang terkunci,


"kanapa dari tadi kau diam saja? apa kau marah?" tanya Jonathan kepada adinda,


"apakah boleh aku marah?" adinda balik bertanya


"apa kau ada alasan untuk marah!?"


"tentu saja " jawab adinda datar


"baiklah, sebutkan alasan mu, aku akan megizinkan mu marah jika alasan mu tepat!" perintah Jonathan


"alasannya kau!!" jawab adinda mengemukakan alasannya,


Jonathan membelalakkan matanya menatap adinda, ia tidak mengira gadis ini berani bicara segamblang itu dihadapan seorang Jonathan, ia pun tersenyum mendengar jawaban adinda barusan , " baiklah, silahkan marah aku akan mendengarkan nya" ucap Jonathan,


melihat Jonathan tersenyum menatapnya dan mengizinkan nya marah, malah membuat adinda bingung ,ia jadi lupa apa yang akan ia katakan, (tunggu dulu, kenapa ia tersenyum?! ini curang namanya?! senyumnya begitu menawan bagaimana aku bisa marah?!) batin adinda ,


melihat adinda yang hanya bengong menatapnya dengan bibirnya yang sedikit terbuka tanpa mengatakan apapun, membuat Jonathan menjadi gemas , tanpa berpikir panjang...


"chup.."


~

__ADS_1


Jika akal sehat mu tidak bisa mengendalikan hatimu itu berarti ia menyetujui apa yang dirasakan oleh hatimu .


to be continue...


__ADS_2