
Passion Of Soul
Hal 32
"Arrghhh!!!" Teriak Jonatan sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Adinda meletakan sendoknya dan memegangi pundak Jonathan yang merintih kesakitan, "ada apa Joo?" tanyanya khawatir.
Tapi tak ada jawaban.
Adinda langsung berdiri, mendekatkan tubuhnya pada Jonathan yang masih duduk di kursi, ia meraih kepala Jonathan dibawa dalam dekapannya,
"Apa sangat sakit? tenanglah Joo, aku disini" ucapnya sambil mengelus kepala jonathan.
Jonathan masih merintih kesakitan dalam pelukan Adinda, sekelibat bayangan terlintas di ingatannya...
"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri" Adinda tetap menolak,
"Makan ini !, atau kau ingin aku menyuapi mu dengan mulutku?!" ancam Jonathan
"aaa" Adinda pun membuka mulutnya, dan menerima suapan dari Jonathan,
Seketika Jonathan melepas pelukannya Adinda, dilihatnya wajah Adinda.
"Kau.... siapa kau sebenarnya?" Tanya Jonathan sambil menahan sakit di kepalanya.
Adinda bingung dengan pertanyaan Jonathan, "ada apa Joo? kenapa kau tiba-tiba seperti ini? apa kau mengingat sesuatu?" ucap Adinda sambil memegang tangan Jonathan.
Jonathan melihat tangan Adinda yang menyentuh tangannya, matanya tiba-tiba terfokus pada cincin yang melingkar di jari manis Adinda, "ini...cincin.." ucap Jonathan terbata karena ia sedang mencoba mengingat sesuatu.....
Jonathan membuka sebuah kotak kecil berisikan cincin cantik peninggalan mommy nya, "*mom, izinkan aku memberikan ini padanya" batin Jonathan*
Jonathan memegang tangan Adinda dipakaikannya sebuah cincin cantik di jari manis Adinda, "pas dan cantik, dengan begini kita hanya tinggal menentukan tanggal pernikahan kita saja"
"Ada apa Joo? apa kau baik-baik saja" ucapan Adinda menyadarkan Jonathan.
"Aku ingin sendiri" ucapnya, Jonathan langsung bangkit, kepalanya semakin terasa sakit, ia mencoba berjalan menuju kamarnya, tapi saat baru sampai depan tangga tiba-tiba ia jatuh pingsan.
"Joo....!" teriak Adinda yang melihat itu, sesegera mungkin Adinda menghampiri tubuh Jonathan, mencoba menyadarkannya tapi Jonathan tidak bergeming, Adinda kemudian berteriak memanggil para pelayan.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Kini Jonathan sedang berbaring di kamarnya. Terlihat seorang dokter sedang memeriksa keadaannya. Adinda sedari tadi terlihat cemas melihat keadaan Jonathan yang tiba-tiba pingsan.
Dengan dibantu para pelayan di villa itu, Jonathan di bawa ke kamarnya dan salah seorang pelayan segera menghubungi dokter pribadi keluarga Jonathan.
__ADS_1
"Bagaiman keadaanya dok?" tanya Adinda cemas.
"Ia hanya pingsan, untuk selanjutnya kita tunggu ia sadarkan diri dulu, apa kau sudah menghubungi Jenita?" ucap sang dokter.
"Sudah dok, Miss Jenita sedang dalam perjalanan kesini" jawab Adinda,
"Kita tunggu Jenita saja untuk memeriksa Jonathan, karena kalau dari fisik Jonathan baik-baik saja, sepertinya ia pingsan karena keadaan psikologisnya, dan tentang itu Jenita yang lebih paham dari pada saya"
Adinda hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang dokter.
Tidak berselang lama Jenita pun datang,
"Apa yang terjadi Dind?" tanya Jenita
"Aku tidak tau miss, tadi Jonathan terlihat kesakitan memegangi kepalanya dan tiba-tiba pingsan" jelas Adinda.
Jenita melihat kondisi Jonathan "kita tunggu saja saat dia sadar?" ucap Jenita.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Ia mencoba untuk bangkit, membuat Adinda mengalihkan pandangannya dari Jenita "Joo..." ucap Adinda yang segera menghampiri Jonathan, begitu pun Jenita.
"Bagaiman keadaanmu? apa aku baik-baik saja?" rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Jenita.
Jonathan terdiam, ia mencoba menyenderkan tubuhnya di dashboard.
Dilihatnya Adinda dengan tatapan intens, lalu tatapannya beralih pada Jenita, "Kenapa kau kesini kak?" tanya Jonathan.
"Apa kau tidak ingat jika kau tadi pingsan?" tanya Jenita.
"Pingsan?"
"Emm" Jenita menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Jonathan terdiam sejenak "Keluarlah kak, aku ingin istirahat" ucapnya kemudian.
Adinda dan Jenita saling pandang, "baiklah aku dan Adinda akan keluar, kau istirahatlah"
Jonathan pun kembali berbaring sedang Adinda dan Jenita keluar dari kamarnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*
"Kenapa wajah Jonathan terlihat begitu datar miss? ia tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya?" tanya Adinda pada Jenita setelah mereka berdua sudah berada di ruang keluarga.
Jenita pun terdiam, ia juga merasa ada yang tidak beres, "kau jangan khawatir, Jonathan hanya sedikit shock, ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya" ucap Jenita menenagkan Adinda.
"Hari ini aku akan menginap di sini" ucap Jenita mengalihkan pembicaraan.
"Apakah kak Syasa dan tuan William sudah di beritahu keadaan Jonathan?" tanya Adinda.
"Aku sudah memberitahu Jenita dan paman William, tapi aku melarang mereka untuk datang karena akan lebih baik jika Jonathan menyendiri dulu" ucap Jenita.
"Oh..iya, untuk izin cuti kuliah mu, aku sudah menitipkan surat izinnya pada Zidan tiga hari yang lalu Zidan kembali ke Indonesia untuk menghandle perusahaan Jonathan yang ada di sana"
Adinda hanya mengangguk paham menanggapi ucapan Jenita.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Malam ini Adinda duduk di bangku taman belakang villa, matanya menatap langit malam dengan taburan bintang yang membuatnya semakin menampakan pesona keindahannya.
Wajahnya Adinda terlihat sedih, bagaiman tidak sejak sadar dari pingsannya Jonathan mengurung dirinya dikamar, ia bahkan melarang orang lain masuk ke kamarnya kecuali Jenita.
"Aku tidak mau melihat orang asing ada di kamarku" begitulah ucapan Jonatan saat melihat Adinda masuk ke dalam kamarnya.
"Kau benar-benar rasi bintang ke 13 Joo... ada tapi seperti tidak ada" gumam Adinda, ia memaksakan tersenyum tapi air matanya menetes, hingga akhirnya ia menangis sedu sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Aku merindukan mu Joo, aku ingin kau kembali seperti dulu" gumamnya disela Isak tangisnya.
Sedangkan dari sebuah jendela di lantai atas sepasang mata memperhatikan Adinda dengan tatapan nanar.
__ADS_1
To be continue...