
Passion of Soul
Hal 15
Jonathan mulai menghitung,
"Satu"
"Dua"
"Ti.... tiba-tiba ponsel Jonathan bergetar saat hitungan ke tiga , ia tidak melanjutkan hitungannya dan segera mengangkat telpon yang ternyata dari Zidan,
"Ada apa?" tanya Jonathan langsung setelah mengangkatnya,
"Kau dimana Joo?! rapat akan segera dimulai" ucap Zidan di sebrang telpon,
"Tunggu 15 menit lagi aku akan Samapi di sana!" ucap Jonathan lalu ia mematikan panggilan dari Zidan , Jonathan segera keluar rumah dan masuk kedalam mobilnya, ia melajukan mobilnya menuju ke perusahaannya,
Adinda yang masih di dalam kamar, menunggu apa yang akan dilakukan Jonathan, tapi sudah cukup lama tidak juga ada pergerakan Jonathan dari luar kamarnya,
karena penasaran akhirnya Adinda pun keluar dari kamarnya, ia lihat tidak ada Jonathan di depan pintunya " eh, kemana dia? apa dia marah, karena aku mengabaikan nya?" batin Adinda,
Adinda pun akhirnya memutuskan untuk bertanya pada bik Inah, "bik, apa bik Inah melihat Jonathan?" tanya Adinda
"Tuan muda sudah berangkat ke kantornya, nona" jawab bik Inah,
"oh, begitu ya... terimakasih ya bik"
"Iya non, kalau begitu bibik pamit dulu" jawab bik Inah sambil berlalu dari hadapan Adinda,
Adinda hanya mengangguk sambil tersenyum,
"Belum juga aku memaafkannya, dia malah pergi meninggalkan ku begitu saja" batin Adinda kesal.
__ADS_1
*******
Jonathan melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya, setelah acara meeting hari ini yang berlangsung begitu lama dan melelahkan, merasa tubuh dan pikirannya tidak dapat digunakan lagi untuk bekerja, Jonathan memutuskan untuk istirahat di atas sofa panjang yang ada di dalam ruangan nya, setelah sebelumnya ia memerintahkan Asistennya untuk menghandle pekerjaannya hari ini saat ia sedang beristirahat,
Jonathan sedari tadi berbaring di sofa , tapi matanya belum juga terpejam, ia merindukan gadis yang beberapa jam lalu ia cium lehernya, "sedang apa dia?, apa dia masih marah?" batin Jonathan, ia segera mengambil ponsel nya yang tergeletak di meja dekat sofa, ia mengscroll layar Handphone nya mencari nama yang akan dihubungi nya,
"what are you doing, baby?" ucap Jonathan setelah gadis yang di telpon nya mengangkat panggilan nya,
Adinda tidak menjawab, sejujurnya ia mengangkat panggilan Jonathan karena ia merindukan Jonathan, tapi ia enggan untuk mengakui Karena ia masih merasa kesal pada Jonathan,
"Apa kau marah?" Tanya Jonathan lagi,
"Tentu saja, bukankah aku punya alasan yang jelas untuk marah!" kali ini Adinda menjawab pertanyaan Jonathan dengan suara kesal, karena Jonathan seperti nya tidak mau menyadari bahwa ia telah membuat Adinda kesal,
"hahahaha" suara nyaring Jonathan menertawakan Adinda,
"kenapa kau tertawa, apakah marah ku ini lucu bagimu?!" teriak Adinda semakin kesal lalu ia memutuskan panggilan Jonathan, ia melempar ponselnya di atas tempat tidur, tanpa memperdulikannya lagi ia pun kembali membaca buku favoritnya,
Sedangkan disisi lain, seorang wanita paruh baya sedang berusaha menghubungi seseorang, tapi yang di dihubungi tak kunjung juga mengangkat panggilan nya, "Adinda, kamu dimana nak?, kenapa tidak mengangkat panggilan ibu?" ucap wanita itu cemas, karena pasalnya tidak biasanya Adinda tidak mengangkat panggilan ibunya di hari libur kuliahnya,
"Ibu Andini! " Panggil seseorang kepada ibunya Adinda ,
"Iya ,dok" ucap ibu Andini dan ia pun segera menghampiri dokter yang memanggilnya tadi,
"Bagaiman keadaan anak saya, dok?" tanya ibu Andini,
"Maaf Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Aldino sudah tidak dapat di selamatkan, kami harap ibu bisa mengikhlaskannya" ucap sang dokter yang seperti petir menyambar bagi ibu Andini,
"Tidak !!! Tolong anak saya dok, saya mohon!!" pinta ibu Andini disela Isak tangisnya, hatinya begitu terpukul mendengar buah hatinya meninggalkannya untuk selamanya.
******
Malam ini, Adinda berlari tergesa-gesa dengan air matanya yang mengalir deras di pipinya, setelah mendapat kabar dari ibunya bahwa adiknya Aldino telah meninggal, dengan membawa tas berisi beberapa pakaiannya, ia lari menuju taksi yang sebelumnya telah ia pesan,
__ADS_1
Di taksi Adinda mencoba menghubungi Jonathan tapi nihil, nomor Jonathan sedang tidak aktif, tanpa terasa Adinda sudah sampai di terminal bus , ia segera berlari mencari bus yang menuju ke kampung halamannya, ingin rasanya ia segera sampai, tapi tidak ada pesawat yang menuju daerah rumahnya mengudara malam ini , jadi mau tidak mau ia menggunakan jalan darat, saat akan naik bus, ada seseorang tidak sengaja menabraknya,
"Maaf" kata orang itu,
Adinda yang matanya sudah sembab tidak bisa fokus, ia tidak sadar ponselnya terjatuh saat bertabrakan dengan orang tadi , ia hanya mengangguk, dan segera naik ke bus, akhirnya bus itupun melaju ke kampung halaman Adinda,
Adinda pun hanya duduk dan terus menangis di dalam bus.
******
Jonathan yang baru pulang dari perusahaan nya, segera mencari Adinda di kamarnya, tapi Adinda tidak ada, ia mencari bik Inah di paviliun belakang untuk menanyakan keberadaan Adinda, tapi ternyata bik Inah pun tidak tahu pasalnya bik Inah dari tadi sedang menyetrika pakaian di dalam paviliun, terakhir bertemu siang tadi saat Adinda menanyakan keberadaan Jonathan,
"Kemana dia?" batin Jonathan, ia pun merogoh ponsel di sakunya ingin menghubungi Adinda , tapi ternyata Ponselnya mati karena kehabisan daya,
ia segera men charge ponselnya, dan melihat cctv di meja kerjanya yang ada di kamarnya, alangkah terkejutnya saat Jonathan melihat rekaman cctv, ia melihat Adinda menangis sambil membawa tas pergi dari rumahnya,
pikiran Jonathan gusar, ia segera memanggil satpam rumahnya,
"Maaf tuan, saya tadi lihat nona keluar rumah dengan tergesa-gesa, saat saya ingin bertanya tapi nona sudah masuk ke dalam taksi" ucap satpam tersebut menjawab pertanyaan Jonathan.
Jonathan marah, ia mengebrak meja kerjanya "Keluar!!!!" teriak Jonathan pada satpam yang ada di depannya, karena takut satpam itu pun langsung keluar dari kamar majikannya,
Jonathan segera mengambil ponsel nya yang sudah terisi daya, mencoba menghubungi Adinda tapi nomornya sudah tidak aktif, mengetahui hal itu Jonathan semakin marah , pikiran buruk menggelayuti nya, ia pikir Adinda meninggalkannya, matanya memerah menahan tangis, tiba-tiba ia mengamuk , ia membanting semua barang yang ada di meja kerjanya, " Adinda!!!!" teriaknya pilu.
******
Seminggu sudah Adinda berada di rumahnya, ia masih sangat bersedih dengan kepergian Adik sematawayangnya, di tambah lagi kesehatan ibunya yang drop karena duka ini, membuat Adinda mengurunkan niatnya untuk kembali secepatnya ke kota, karena ia ingin merawat ibunya, ia lupa untuk menghubungi Jonathan, bahkan ia pun lupa menghubungi kampus untuk meminta cuti, semenjak ponselnya hilang , ia tidak bisa menghubungi siapa-siapa karna memang tak satu nomor pun yang ada di ponselnya yang ia ingat,
Hari ini Adinda pergi ke apotek sebentar membeli obat untuk ibunya, setelah sampai dirumah, ia dikejutkan dengan keberadaan seseorang,
Kau..?
To be continue...
__ADS_1