
passion of soul
Aku tidak berencana jatuh cinta padamu
dan aku ragu jika kau pun berencana jatuh cinta padaku
Tapi setelah kita bertemu,
itu jelas bahwa tak seorang pun dari kita yang dapat mengontrol apa yang terjadi pada hati kita...
Hal 8
Langit terlihat cukup terang malam ini, setelah semua awan gelap di hempaskan oleh angin menjadi sebuah hujan siang tadi,
nampak bintang berkedip-kedip diatasi seperti mengajak manusia untuk bercakap-cakap dengan mereka,
Adinda duduk di bangku panjang taman dihalaman belakang rumah mewah Jonathan, seusai menyiapkan makan malam untuk Jonatan,
ia memandang langit , seperti sedang menyampaikan harapan kepada sang penciptanya,
wajahnya terlihat sedikit murung setelah mendapat telepon dari ibunya, benar saja adik satu-satunya yang mengidap sakit jantung harus dirawat lagi dirumah sakit, meski sudah di operasi tapi adiknya masih sering keluar masuk rumah sakit, hal yang membuatnya sangat cemas, meski ibunya mengatakan untuk tidak usah khawatir dan fokuslah pada kuliahnya tetap saja sebagai seorang kakak ia merasa cemas, ia ingin pulang tapi ibunya melarang nya mengingat jarak rumah nya dengan tempat tinggalnya sekarang sangatlah jauh butuh waktu 1 hari 1 malam lewat jalan darat, Adinda hanya bisa mentransfer semua uang yang ada di rekening nya untuk membantu biaya perawatan adiknya,
tidak jauh dari tempat adinda duduk seorang laki-laki sedang menatapnya dengan tatapan kekaguman karena wajah adinda begitu cantik di bawah tameram lampu taman ,
Siapa lagi kalau bukan Jonathan yang baru saja pulang dari kantor nya , ia mencari-cari dimana keberadaan adinda , karena ia melihat makanan yang sudah tersedia di atas meja, tapi ia tidak menemukan si pembuat masakan, akhirnya ia pun memutuskan untuk mencarinya dengan bertanya pada bik Inah yang kebetulan berada di dapur,
"ehm.. ehm " sebuah daheman membuyarkan lamunan adinda,
"sedang apa kau disini?" pertanyaan yang sama seperti di halte bus tadi dan dari laki-laki yang sama pula,
" duduk" jawab adinda datar
"aku tau" ucap jonathan kesal
"kenapa bertanya kalau tau?" seloroh adinda,
"kau pikir kau sedang dimana? ini rumah ku aku bisa saja mengusir mu dari sini jika kau bersikap seperti itu padaku" ucap Jonathan panjang lebar
adinda yang benar-benar lelah dengan masalah nya sendiri enggan untuk berdebat dengan Jonathan
"baiklah, maaf tuan muda , silahkan duduk saya undur diri dulu" ucapnya sambil hendak berdiri
"duduk!" perintah Jonathan
adinda yang sebenarnya masih ingin mencari udara segar pun tak membantah ucapan jonathan ia pun duduk kembali di samping Jonathan ,
__ADS_1
"apa kau suka melihat bintang?" tanya jonathan tiba-tiba
" Anda bertanya padaku?" tanya adinda balik,
"kau pikir ada siapa disini selain dirimu?!" ucap Jonathan,
adinda hanya tersenyum,
ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri Jonathan, jiwa ahli psikologi nya yang mengatakan itu
"jawab pertanyaan ku, kenapa kau malah tersenyum?" tanya Jonathan lagi
"iya, aku dari kecil memang suka melihat bintang-bintang, aku dulu sering menyelinap naik keatas atap rumah hanya karena ingin melihat bintang lebih dekat " adinda pun tersenyum lagi setelah mengatakan itu,
("cantik", batin Jonathan yang melihat senyuman adinda)
"apa anda percaya ramalan bintang, tuan?" tanya adinda
"bicaralah dengan bahasa santai , dan panggil aku Jonathan" perintah nya
"baiklah, apa kau percaya ramalan bintang ?" tanya adinda lagi
"aku tidak pernah mempercayai hal seperti itu" jawabnya cepat
"dan aku harap kau juga jangan mempercayai ramalan bintang" lanjutnya
"karena rasi bintang sekarang jumlahnya bukan dua belas tapi tiga belas" ucap Jonathan yang membuat adinda mengernyitkan dahinya,
" benarkah?? kau jangan bicara sembarangan , coba jelaskan padaku"
Jonathan menengok Adinda, "kalau aku jelaskan padamu itu butuh waktu yang lama dan belum tentu otakmu itu bisa memahaminya" ucapnya
" yang jelas sekarang kau tidak usah menggantungkan nasib mu pada sesuatu yang tidak pasti seperti ramalan bintang" lanjut Jonathan
melihat ekspresi wajah penasarn adinda, Jonatan akhirnya angkat bicara,
"Rasi bintang ke tiga belas bernama ophiuchus terletak diantara Scorpio dan Sagitarius, rasi bintang ini juga termasuk dalam 48 rasi bintang yang didaftarkan oleh astronom dunia, kau tau apa itu zodiak?" tanya nya pada adinda,
adinda menggeleng "tidak"
Jonathan meneruskan penjelasannya,
"awalnya dari semua rasi bintang hanya 12 rasi bintang yang mengelilingi tata Surya dan itu dinamakan zodiak, dulu ophiuchus tidak termasuk dalam zodiak namun karena penggeseran sistem tata surya keberadaannya pun terdeteksi, kemungkinan dari awal ophiuchus sudah ada hanya saja karena tertutup sesuatu yang terdeteksi hanya 12 rasi bintang dan karena pergeseran itu munculah ophiuchus yang termasuk sebagai zodiak jadi zodiak sekarang ada 13,
ophiuchus itu berada pada tanggal 29 November - 18 Desember dan itu artinya seluruh tanggal dalam sistem 12 zodiak itu bergeser".
__ADS_1
"huftt..."Jonathan menghembuskan nafasnya kasar, sebelum melanjutkan kata-katanya,
"Rasi bintang ke 13 itu ada tapi orang-orang Engan memasukkan nya, jadi meski namanya tertulis di jurnal ilmiah dunia banyak orang tetap tidak akan mengenalinya.... ia ada tapi seperti tidak ada" kalimat terakhir yang diucapkan Jonathan terasa berat, wajahnya murung saat mengucapkannya,
Adinda tak berhenti menatap wajah Jonatan saat ia menjelaskan tentang perbintangan, adinda tidak menyangka bahwa orang seperti Jonathan mengerti banyak soal bintang,
"ophiuchus ia ada tapi seperti tidak ada... apa kau merasa dirimu seperti ophiuchus Joo?" tanya adinda pelan,
Jonathan melihat adinda lalu tersenyum "kenapa kau berfikir aku seperti itu?"
(" entahlah, aku merasa seperti ada sesuatu dalam dirimu, tapi tidak kau tampakkan " ) batin Adinda
"tidak apa-apa , anggap aku asal bicara" jawab adinda ,
"baiklah, mana bayaran untuk ku?" ucap jonathan sambil menengadahkan salah satu telapak tangannya,
"eh, bayaran apa?" tanya Adinda bingung
" bayaran untuk penjelasan bintang barusan " ucap Jonatan santai,
"apa?, kau tau, aku tidak punya cukup uang untuk membayar orang kaya seperti mu" seloroh adinda,
"bayar aku dengan yang lain" ucap jonathan yang membuat adinda semakin bingung,
"hal lain seperti apa?"
"seperti sebuah ciuman" jawabnya santai
kedua bola mata adinda membulat dengan sempurna, ia shock dengan apa yang ia dengar barusan,
"hahahaha" Jonathan tertawa melihat ekspresi wajah adinda , "just kidding baby!" ucapnya di sela tawanya.
"hufftt" adinda menghembuskan nafas lega,
"bagaiman kalau kita berteman?" tawar Adinda
"aku tidak berteman dengan seorang wanita" jawabnya tegas
" bagaimana kalau kita berpacaran saja!" sungguh kata-kata yang tidak akan keluar dari mulut Jonathan mengingat ia sangat benci sekali membuat komitmen dengan seorang wanita, tapi tidak saat ia bertemu adinda ,
kata-kata Jonatan kembali membuat adinda terkejut " maaf , aku lupa masih ada tugas kuliah yang belum aku kerjakan , aku permisi, selamat malam"
adinda pun segera berlari masuk kedalam rumah,
Jonatan tidak mencegahnya, ia hanya menikmati wajah kikuk adinda yang menggemaskan,
__ADS_1
"aku tidak memerlukan izin mu untuk memiliki mu , adinda" gumamnya
to be continue...