
Passion of soul
Hal 17
"Sebenarnya Jonathan...
Jenita sedikit ragu mengatakannya, kemudian Natasya ikut angkat bicara " lebih baik kita bicarakan Maslah ini di ruangan lain saja" pinta Natasya, akhirnya mereka memutuskan membawa Adinda ke ruangan Jenita, karena rumah sakit tempat Jonathan dirawat adalah milik keluarga Jenita,
"Katakanlah Miss, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Adinda yang sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya,
"Tiga hari yang lalu, aku dan para dokter ahli lainnya melakukan pemeriksaan terhadap Jonathan, kami melakukan scan Magnetic Resonance Imaging atau yang biasa disebut MRI, yaitu prosedur diagnostik untuk memeriksa dan mendeteksi kelainan otak dengan menggunakan Medan magnet dan gelombang frekuensi tanpa radiasi sinar x, kami melakukan itu guna memperkuat apa yang selama ini menjadi dugaan ku, mungkin terapi yang dilakukan Jonathan dulu mampu menyembuhkan trauma nya dimasa lalu, tapi aku takut apa yang dialami Jonathan saat ini membuat ia kembali seperti dulu" ucap Jenita,
Adinda mendengarkan dengan serius apa yang di sampaikan oleh Jenita,
"Aku telah memperhatikan aktivitas otak Jonathan saat melakukan pemeriksaan MRI, dan aku menemukan minimnya aktivitas pada bagian utama otak Jonathan, termasuk amigdala yaitu sekumpulan saraf yang berperan penting dalam pengelolaan emosi,
tapi sebaliknya aktivitas otak Jonathan lebih banyak di bagian striatum dan area insula,
itulah yang membuat ku sangat terkejut, karena bagian itu adalah bagian yang tercatat sebagai bagian pusat emosi, dan itu sangat buruk jika terus dibiarkan" Jenita mengakhiri penjelasannya dan melihat wajah Adinda, ia tau Adinda pasti paham dengan apa yang ia terangkan karena Adinda adalah mahasiswi psikologi yang cerdas,
" Jadi maksud Miss Jen, Jonathan memiliki gejala seorang Psikopat?" suara Adinda tercekat di akhir kalimatnya, ia meneteskan air mata mengetahui apa yang dialami Jonathan,
"Emm.." jawab Jenita sambil menganggukkan kepalanya,
"Sejujurnya aku tidak suka mengatakan hal itu, karena dari awal aku masih berharap ia hanyalah seorang sosiopat ",
" Sekarang aku sedang mencari tahu, apa yang membuat Jonathan kembali ketitik awal seperti ini, karena kemungkinan besar itulah yang dapat menyembuhkan Jonathan, meskipun aku belum terlalu yakin dengan hipotesis ku itu" ucap Jenita,
__ADS_1
Adinda mencoba menata perasaannya,ia menghapus air matanya yang sedari tadi keluar, lalu ia berfikir sejenak, "apa yang membuat Jonathan dulu mengalami hal seperti ini?" tanya Adinda
Jenita menengok ke arah Natasya, isyarat agar Natasya menceritakan yang sebenarnya,
dan Natasya pun mulai bercerita,
"Sebenarnya aku mempunyai seorang adik laki-laki selain Jonathan, ia lahir lima menit lebih dulu dibanding Jonathan" ucapnya
"Maksud kak syasa, Jonathan memiliki saudara kembar?" tanya Adinda,
"Iya " jawab Natasya, kemudian ia melanjutkan ceritanya,
"Jimmy namanya, dulu menurut aunty Merry ibunya Jenita yang juga seorang psikiater, Jimmy lah yang seorang Psikopat,
aku dan Jenita saat itu masih menempuh pendidikan menengah pertama, dan kami tinggal di asrama, aku bahkan tidak tau jika ayahku memperlakukan Jimmy berbeda dengan ia memperlakukan Jonathan, jika saja pelayan dirumah ku yang mengasuh mereka tidak menceritakan apa yang terjadi, katanya ayah ku sering menyiksa dan memukul Jimmy , itu pun sering ia lakukan di hadapan Jonathan, ibuku mengalami koma selama 5 tahun setelah melahirkan mereka, Setelah Ibu ku siuman dan sehat, beliaulah yang merawat mereka, meskipun secara fisik Jonathan dan Jimmy berbeda ibu ku menyayangi keduanya dengan adil, Jonathan pun sangat menyukai Jimmy , ia menjadikan Jimmy sebagai panutannya.
Hingga suatu malam saat hujan deras diiringi suara Guntur di Jerman peristiwa itu pun terjadi, ibuku dan Jimmy ditemukan tewas di sebuah kamar, tidak ada saksi mata selain Jonathan yang saat itu berusia 11 tahun, Jonathan sendiri tidak mau mengatakan apa yang terjadi, ia selalu histeris saat mengingat kejadian itu , dan pada akhirnya ayahku menghilangkan semua yang berhubungan dengan Jimmy, dan ayahku mengganggap hanya punya dua anak yaitu aku dan Jonathan" Natasya menghapus air matanya saat selesai menceritakan kisah kelam keluarganya,
"Jonathan saat itu ditangani oleh ibu ku , hingga usia 14 tahun ia mulai hidup normal kembali dengan sikapnya yang sepertinya kau pun tahu sendiri" Jawab Jenita, ia lalu melihat lekat wajah Adinda, "bagaiman dengan perasaan mu pada Jonathan, setelah mendengar ini?"
Adinda diam sejenak, ia mencoba menelisik isi hatinya terlebih dahulu sebelum ia menjawab pertanyaan Jenita,
"Miss Jen tidak tau, bahkan dari awal aku bertemu dengan Jonathan aku sudah menganggap dia gila, dan anehnya justru dialah satu-satunya laki-laki yang membuat ku jatuh cinta, sampai saat ini pun perasaanku masih sama" Adinda mengatakan itu dengan air mata menetes diiringi senyuman bahagia di bibirnya, dan mendengar jawaban Adinda, Jenita dan Natasya tersenyum lega,
******
Setelah selesai mendengarkan arahan dari Jenita masalah penanganan Jonathan, Mereka pun hendak pergi ke ruangan Jonathan, tiba-tiba di koridor ada seorang perawat lari kearah mereka,
__ADS_1
"dokter Jen!! "teriak perawat itu,
"Ada apa ini?" tanya Jenita,
"Itu... itu Jonathan mengamuk, tadi kami mengantarkan makan siang, ia meminta melepaskan ikatannya, karena ia bilang ia akan ke kamar mandi, tapi ternyata.." ucapan perawat itu terhenti karena Jenita,Adinda dan Natasya langsung berlari ke kamar Jonathan.
"Pergi kalian!!! atau aku akan melukai pria ini!!" teriak Jonathan yang sekarang sedang membekap tubuh salah satu perawat dari belakang, dan menodongkan garpu ke arah leher perawat tersebut, suasananya sedikit tegang terlihat dua orang perawat lainnya mencoba menenangkan Jonathan, tapi kemarahan Jonathan tak kunjung reda,
hingga panggilan seseorang mengalihkan perhatian Jonathan,
"Joo... " teriak Adinda,
"Adinda.. " Jonathan tertegun, ia berharap ini bukan halusinasi seperti yang beberapa hari ini ia alami,
Adind pun mendekati Jonathan, salah satu perawat di sana mencegah Adinda , ia takut Adinda akan terluka, perawat itu menarik lengan Adinda, "jangan nona" ucapnya,
Jonathan yang melihat lengan Adinda disentuh oleh pria lain merasa geram, ia melepaskan garpu yang ada di tangannya, dan menghempaskan tubuh pria yang disandra nya, lalu dengan cepat ia mendatangi perawat yang menyentuh lengan Adinda, dan... Bukkkk!! "JANGAN SENTUH KEKASIH KU!!!! teriak Jonathan setelah melayangkan pukulan tepat di wajah si perawat itu, perawat itu pun jatuh tersungkur, merasa belum puas Jonathan menghampiri tubuh yang tersungkur itu, berniat memukuli wajahnya bertubi-tubi,
Adinda dan yang lainnya tak tinggal diam melihat itu , mereka mencoba melerai, Adinda memegang lengan Jonathan,
"Joo tenanglah, ini aku , Adinda " ucap Adinda, Jonathan menoleh ke arah Adinda, dilihatnya Adinda sedang memegang lengannya yang hendak memukul perawat itu lagi, Jonatan menatap mata Adinda, melihat sorot matanya yang begitu teduh saat menatapnya, ia pun segera bangun dan memeluk Adinda,
"Kau dari mana saja?! kenapa kau meninggal kan ku?! " ucapan Jonathan membuat hati Adinda sedikit teriris, "apakah ia seperti ini karena berfikir aku pergi meninggalkan nya " batin Adinda,
Adinda mengurai pelukan Jonathan, lalu menagkup wajah Jonathan dengan kedua tangannya,
"Maaf, maaf kan aku..." Ucap Adinda lembut,
__ADS_1
Jenita yang melihat perubahan emosi Jonathan saat sedang bersama Adinda segera paham, ia pun mengisyaratkan kepada Natasya dan para perawat untuk meninggalkan mereka berdua.
To be continue...