Passion Of Soul

Passion Of Soul
Tersulut emosi..


__ADS_3

Passion of soul


Hal 26


"Seperti yang anda minta siang ini saya sudah menjadwalkan rapat pemegang saham, dan juga sore nanti ada meeting dengan perwakilan dari Altomex company mengenai proyek pembangunan hotel yang ada di Itali, saya sudah menyiapkan semua berkas mengenai meeting sore nanti, dan untuk rapat pemegang saham? apa yang akan tuan lakukan?" ucap Ricky yang kini tengah berada di ruang kerja tuan William dan menjelaskan schedule tuan William hari ini,


"Untuk rapat pemegang saham, aku akan mengumumkan Jonathan sebagai penerus ku, kau hubungi pengacaraku, aku akan segera meresmikannya setelah mengumumkannya" ucap tuan William


Ricky hanya mematung mendengarkan ucapan tuan William, ia tahu bahwa Jonathan lah satu-satunya ahli waris keluarga William tapi ia tidak menyangka akan secepat ini tuan William mengumumkan hal ini, padahal selama ini ia senang karena hubungan ayah dan anak itu rengang setelah kematian Jimmy dan ibunya, lalu Jonathan pergi jauh dari rumah karena membenci ayahnya, melihat Jonathan berpisah dari semua yang ia cintai dan terus merasa depresi serta tersiksa itulah tujuan utamanya, ia harus memikirkan cara agar Jonathan tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaannya.


"Apa kau dengar apa yang aku katakan?" tanya tuan William saat melihat Ricky yang hanya berdiri mematung,


"Baik tuan, saya akan segera melaksanakan perintah anda" ucap Ricky setenang mungkin sambil membungkukkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan ruangan tuan William, ia harus bersikap tenang agar tuan William tidak mencurigainya.


Ricky yang hendak turun ke lantai bawah berpapasan dengan Jonathan yang baru keluar dari kamarnya, ia berhenti sejenak menunggu Jonathan mendekat ke arahnya, Jonathan yang melihat Ricky hanya mengabaikannya dan melewatinya,


"Apa kau sudah memaafkan Ayahmu?!" tanya Ricky tiba-tiba membuat Jonathan menghentikan langkahnya, "bukan urusan mu!" jawabnya tanpa berbalik , ia hendak melanjutkan langkahnya


Tapi lagi-lagi Ricky menghentikan langkah Jonathan dengan kata-katanya


"Aku harap kau tidak akan melupakan, apa yang ayahmu lakukan pada Jimmy?"


Jonathan langsung berbalik menatap Ricky, "Apa yang kau katakan!" suara Jonathan sedikit meninggi


Ricky menarik sebelah bibirnya membentuk sebuah senyuman, ia tahu betul emosi Jonathan mudah sekali terpancing saat ada orang yang mengungkit tentang saudara kembarnya itu,


" Aku kira kau telah melupakan Jimmy dan melupakan bagaiman ayah mu menyiksa Jimmy di hadapan mu, bahkan aku yang bukan saudaranya saja masih ingat bagaimana ayah mu menyiksanya" ucap Ricky memancing emosi Jonathan,


Ricky dulu memang sering melihat tuan William menyiksa Jimmy karena dari kecil Ricky ikut ayahnya tinggal di paviliun rumah keluarga William,


"Tutup mulut mu! atau aku akan merobeknya!" teriak Jonathan,


"Baiklah aku tidak akan mengatakan apapun lagi, termasuk alasan mengapa ayahmu menyiksa Jimmy" ucap Ricky sambil berjalan melewati Jonathan yang masih terpaku dengan kata-katanya,


Tiba-tiba Jonathan menarik lengan Ricky, "katakan apa yang membuat ayahku tega menyiksa Jimmy!"

__ADS_1


"Kau bilang aku harus menutup mulutku, jadi aku tidak akan mengatakan nya" jawab Ricky


"Kau!" Jonathan menarik kerah baju Ricky, tatapan matanya tajam seperti ingin menguliti laki-laki yang sedang ia cengkram itu, tapi laki-laki yang dicengkeramnya malah menunjukan senyum mengejeknya,


"Bersikap baiklah pada ku, maka aku akan memberitahu mu semuanya, termasuk dimana ayahmu memakamkan Jimmy, bukankan itu yang kau cari selama ini?" ucap Ricky


Mendengar itu Jonathan langsung melepaskan cengkraman nya dari kerah baju Ricky "katakan!" perintahnya,


"Tidak akan semudah itu, sebelum kau memohon pada ku" ucap Ricky dengan santainya sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena cengkraman Jonatan tadi,


Jonathan mendengus kesal kemudian ia tertawa "kau pikir kau siapa bisa membuatku memohon?!, jika kau tidak ingin memberitahuku itu tidak masalah, aku akan mencari tahunya sendiri! berani sekali seorang anak pelayan sepertimu bicara seperti itu padaku!" ucap Jonathan lalu pergi meninggalkan Ricky,


Ricky hanya tersenyum melihat kepergian Jonathan, ia senang bisa membuat Jonathan tersulut emosinya.


********


Di meja makan suasana sarapan terasa lebih hening dari saat makan malam kemarin, biasanya terdengar celotehan dari bibir lucu Celine tapi sekarang ia sudah berangkat sekolah, suami Natasya pun sudah berangkat ke perusahaannya sendiri bersamaan dengan mengantar putrinya ke sekolah, Ricky sudah berangkat ke perusahaan lebih dulu karena tuan William akan berangkat siang bersama Jonathan, itu pikirnya tuan William,


Adinda sedari tadi memperhatikan raut wajah kekasihnya, setelah turun dari kamarnya tadi wajah Jonathan terlihat dingin tanpa ekspresi, ia ingin sekali bertanya, tapi sepertinya ia harus menahannya sampai acara sarapan usai,


Jonathan menghentikan gerak tangannya yang sedang menyendok makanannya, " tidak mau!" ucapnya singkat dan ketus,


"Joo, bicaralah yang sopan pada ayah!" ucap Natasya, ia tidak suka cara adiknya bicara pada ayahnhya,


Jonathan meletakan sendok yang ia pegang ke meja maka dengan kasar, membuat semua yang ada di meja makan terkejut,


"Ada apa dengan mu Joo?! kenapa kau tiba-tiba seperti itu?!" tanya Natasya dengan nada yang sedikit meninggi,


Sedangkan Adinda memilih untuk diam, ia terus memperhatikan ekspresi wajah Jonathan kemudian ia memberikan isyarat pada Natasya dengan menggelengkan kepalanya, seperti memberitahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat bicara dengan Jonathan menggunakan emosi, Natasya mengerti maksud Adinda, ia pun menghela nafasnya pelan untuk meredakan emosinya,


"Ayah hanya ingin mengenalkan mu pada para pemegang saham perusahaan bahwa kau adalah putra ayah satu-satunya dan penerus keluarga William" ucap tuan William


Jonathan tersenyum getir mendengar ucapan ayahnya, ia menatap ayahnya dengan tatapan tidak suka, "putra ayah satu-satunya?, bagaimana dengan Jimmy, apa ayah lupa dia juga putra ayah?!"


"Jangan pernah kau sebut nama bocah sialan itu di depan ayah!!" teriak tuan William, ia menjadi sangat marah ketika mendengar nama Jimmy,

__ADS_1


Jonathan semakin marah mendengar apa yang dikatakan ayahnya, ia bangkit dari duduknya sambil membanting piring yang ada di hadapannya ke lantai, "Jangan pernah sebut kakak ku seperti itu!, apa kau tidak menyesal telah menyiksanya selama ia masih hidup! bahkan sekarang saat ia sudah meninggal pun kau masih menyebutnya seperti itu!"


Tuan William, tidak menanggapi ucapan Jonathan, ia menahan emosinya lalu bangkit dari duduknya, "Ayah lelah, ayah ingin istirahat" ucapnya sambil berjalan hendak meninggalkan ruang makan,


"Katakan padaku dimana makam kakak ku!"


teriak Jonathan pada ayahnya yang sedang berjalan meninggalkan ruang makan, tapi tuan William tidak bergeming, ia terus berjalan menuju ruang kerjanya,


"Arrghhh!!!! teriak Jonathan frustasi tidak mendapat jawaban dari ayahnya, ia lalu pergi dari sana menuju kamarnya, Adinda dan Zidan yang melihat Jonathan pergi langsung mengikutinya, sedangkan Natasya mencoba menemui ayahnya, ia takut tekanan darah ayahnya naik lagi karena pertengkaran ini,


Sesampai dikamar Jonathan langsung menutup pintu dengan keras dan menguncinya, "ARRGHH!!!" ia berteriak keras mengamuk di dalam kamar, ia membanting semua yang ada di kamarnya


Adinda dan Zidan yang berada di depan pintu kamar Jonathan sangat Khawatir saat mendengar suara pecahan kaca dan suara barang-barang yang di banting,


"Kau tunggu di sini aku akan minta kunci serep pada kepala pelayan di rumah ini" ucap Zidan yang hanya di balas dengan anggukan kepala Adinda,


Adinda mencoba memanggil Jonathan,


"Joo, buka pintunya!, aku mohon Joo!" pinta Adinda, tapi tak ada sahutan dari Jonathan, bahkan tak terdengar suara apapun lagi dari kamar Jonathan membuat Adinda semakin cemas,


Zidan akhirnya datang membawa kunci serep, ia segera membuka pintu kamar Jonathan, Adinda dan Zidan melihat kondisi kamar Jonathan yang sudah seperti kapal pecah, terlihat beberapa pecahan kaca yang terdapat noda darah di atasnya, sepertinya Jonathan memecahkan kaca itu dengan tinjunya, Mata mereka terus menyisir ruangan itu, dilihatnya Jonathan sedang duduk di lantai tubuhnya bersandar pada kaki tempat tidur tangannya terluka dan kepalanya tertunduk,


"Joo..." panggil Zidan, ia ragu-ragu mendekati Jonathan


"Pergi!!" teriak Jonatan seketika membuat langkah Zidan dan Adinda terhenti, Adinda terus memandangi wajah Jonathan mencoba membaca ekspresi wajahnya tapi Zidan melangkah lagi mendekati Jonathan


"Joo, jangan sepert....." ucapan Zidan terhenti karena Jonathan sudah mencekam lehernya, ia bangkit dan mendorong tubuh Zidan ke dinding, seperti orang yang kalap ia mencekik Zidan dengan tatapan tajam ingin membunuh, "Joo tenanglah Joo!" teriak Zidan sambil menahan cengkraman tangan Jonathan di lehernya,


Adinda yang melihat itu langsung mencoba menghentikan Jonathan, ia menarik lengan Jonathan tapi Jonathan langsung menepisnya dengan keras membuat Adinda jatuh tersungkur tanpa ia sadari ada bingkai foto besar yang berserak dilantai dengan pecahan kacanya yang tajam menghadap ke atas, dan "cress" pecahan kaca besar itu mengenai perut Adinda,


"Ahhhh!" rintihan Adinda lirih, ia tidak bisa berteriak karena ia menahan rasa sakit yang teramat di perutnya, Adinda yang melihat pecahan kaca mencap di bagian pinggir perutnya langsung mencabut nya, dan seketika darah mengalir dari sana, ia menekan lukanya mencoba menahan rasa sakitnya, tapi karena sakitnya yang tak bisa ia tahan akhirnya ia pun pingsan,


Zidan yang melihat keadaan Adinda langsung berteriak


"ADINDA!!!!"

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2