Passion Of Soul

Passion Of Soul
Terjebak waktu...


__ADS_3

Passion of Soul


Hal 29


Seminggu sudah Adinda berada di rumah sakit dan selama itu pula ia tidak melihat sama sekali kehadiran Jonathan, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Jonathan tidak pernah menemuinya? kedua kalimat itulah yang selalu menjadi pertanyaan di hati Adinda,


Natasya pun enggan memberi tahu jika Adinda bertanya prihal Jonathan, katanya ia akan memberi tahu jika luka Adinda sudah sembuh benar, saat Adinda sakit Natasya lah yang merawat Adinda, tuan William dan Zidan sesekali menjenguk Adinda, dan mereka pun sama saja dengan Natasya, bungkam ketika Adinda bertanya tentang Jonathan.


Hari ini adalah waktunya Adinda keluar dari rumah sakit, di sana sudah Ada Natasya yang menjemput nya, "Kau sudah siap Dind? ayo kita pulang" ucap Natasya sambil mengandeng Adinda keluar dari kamar rawatnya,


"Apa kak Syasa masih tidak mau memberitahu ku tentang Jonathan?, bukankah kakak berjanji akan memberitahu ku saat aku sudah sembuh?" tanya Adinda, ia menghentikan langkahnya menatap Natasya dengan intens,


Natasya sedikit bingung menjawab pertanyaan Adinda, "Lebih baik kita bicarakan masalah ini dirumah" jawabnya, ia lalu melanjutkan langkahnya lagi sambil mengandeng Adinda keluar dari rumah sakit tersebut.


Sesampainya di rumah mewah kediaman keluarga William, Adinda langsung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah tapi ia tidak menemukan keberadaan pria yang sangat ia rindukan selama seminggu ini, di sana hanya ada beberapa pelayan dan Celine yang menyambutnya, maklum sekarang masih jam dua siang tuan William dan suami Natasya pasti masih ada di kantor mereka, apa Jonathan dan Zidan juga sedang berkerja? itu yang ada di pikiran Adinda,


"Aunty....!" panggil si cantik Celine pada Adinda sambil berlari memeluk Adinda


"Hey little girl, bagaiman kabarmu? tanya Adinda yang membalas pelukan Celine


"Fine.. Aunty" Jawab Celine dengan senyum cerianya,


"Adinda, kau langsung istirahat di kamar saja ya" Ucap Natasya yang baru saja menghampiri Adinda


"Dimana Jonathan? bukankah kakak sudah berjanji akan memberitahu ku?"


Natasya menghembuskan nafasnya yang terasa berat, ia sadar Adinda pasti tidak akan berhenti bertanya tentang Jonathan,


"Apa yang sebenarnya terjadi kak? apa yang coba kak Syasa tutupi dari ku?" tanya Adinda lagi karena melihat ekspresi wajah Natasya yang berubah sedih ketika ia menanyakan tentang Jonathan,

__ADS_1


"Duduklah dulu" Natasya mengajak Adinda duduk di kursi ruang tamu rumah mewah itu,


dan Adinda pun menurut,


Sebenarnya Jonathan....


******


Adinda sedang berjalan menaiki anak tangga sebuah villa dekat kebun anggur di daerah pinggiran Jerman, ia sampai di sana setelah selama 6 jam menempuh perjalanan ke villa itu,


Langkahnya terhenti ketika ia Samapi di depan sebuah kamar, ia membuka sedikit pintu kamar itu, matanya mengintip kedalam kamar, dilihatnya siluet pria yang sangat ia kenali sedang duduk di lantai membelakanginya, pria itu sedang fokus mengerjakan sesuatu,


Mata Adinda memerah, air mata jatuh membasahi pipinya, ia lalu menutup mulutnya mencoba menahan suara tangis keluar dari mulutnya tatkala melihat apa yang sedang di lakukan Laki-laki itu di dalam kamar


Jonathan tengah sibuk memainkan sebuah pisau kecil pada tubuh seekor kucing, terlihat darah sudah berceceran di lantai, dengan wajah datar dan tanpa rasa jijik Jonathan memotong kucing kecil itu menjadi beberapa bagian


Adinda menutup kembali pintu itu, dan seketika tubuhnya luruh di lantai, ia terduduk menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, ia mengingat kembali apa yang di katakan Natasya


"Semenjak melihat mu terbaring di rumah sakit Jonathan hanya terdiam wajahnya menjadi murung dan tatapannya kosong, ia kembali kerumah dan mengurung diri dikamar yang dulu di tempatinya dan Jimmy, di sana jugalah ibu ku di temukan tewas dengan darah mengalir dari kepalanya dan Jimmy tewas dengan luka tusuk di perutnya,


Zidan yang menunggu di luar kamar langsung mendobrak kamar itu, karena sudah lewat tengah hari Jonathan tidak kunjung keluar dari kamar itu, ia khawatir Jonathan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan nyawanya, saat pintu berhasil di buka oleh Zidan, ia menemukan Jonathan sudah terbaring di lantai tak sadarkan diri,


Kami memanggil Dokter pribadi keluarga kami untuk memeriksa keadaan Jonathan, tidak ada luka fisik atau apapun dari Jonathan ia hanya pingsan karena kelelahan dianogsa dari dokter itu, kami merasa sedikit lega saat mendengar itu,


Tapi saat Jonathan sadar, kami di kejutkan dengan tingkah Jonathan yang aneh, ia seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang meski ia sedang sendirian, ia terus merancu memangil Jimmy dan saat malam tiba ia menjadi histeris dan berteriak-teriak bahwa ia bukan pembunuh,


kami langsung menghubungi Jenita saat melihat Kondisi Jonathan yang seperti itu, Jenita langsung menyuntikan obat penenang untuk Jonathan, dan langsung membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan,


Dari hasil pemeriksaan Jenita menyimpulkan ingatan Jonathan saat Jimmy dan ibunya meninggal kembali terlintas jelas di benak Jonathan ia seperti mengalami Djavu saat melihat luka di perutmu sama dengan luka di perut Jimmy yang merenggut nyawanya, membuat Jonathan merasa bahwa kejadian naas 16 tahun yang lalu seperti baru ia alami kemarin, Jiwanya sangat terguncang, rasa bersalah pada ibu, Jimmy dan dirimu membuat dia semakin tertekan hingga ia kembali ke dirinya yang dulu saat ia masih berusia 11 tahun,

__ADS_1


Aku dan Jenita tidak langsung memberi tahu mu karena menurut Jenita tidak baik bagi Jonathan yang melihat mu dalam keadaan terluka, itu hanya akan menambah rasa bersalah pada diri Jonathan,


Ingatan Jonathan pun sepertinya hanya terpaku pada usia 11 tahun, Jadi Jenita pikir Jonathan pun tidak bisa mengingat semua tentang mu,


Jenita akhirnya memutuskan untuk merawat dan memindahkan Jonathan ke villa kami selain untuk menjauhkan Jonathan dari kenangan buruk di rumah itu, di sana juga suasananya lebih tenang dan itu baik untuk kesembuhan Jonathan"


Flashback off


Dada Adinda semakin terasa sesak mengingat semua penjelasan Natasya tadi, air matanya terus mengalir, Adinda merasa ia turut andil menjadikan kondisi Jonathan seperti sekarang, andai saja saat itu ia tidak terluka, andai saja saat itu ia lebih bisa membaca perasaan Jonathan dan andai saja....andai saja yang lainnya yang bisa adinda pikirkan hanyalah terus menerus merutuki dirinya sendiri,


Jenita yang melihat Adinda duduk menangis di lantai langsung memegang pundaknya, mencoba untuk menenangkannya,


"Maafkan aku karena telah membawa mu kedalam masalah ini" ucap Jenita


Adinda menatap wajah Jenita, ia bingung dengan apa yang baru saja Jenita katakan


"apa maksud Miss Jen?" tanya nya


Jenita menengok ke Natasya sekilas, dan kembali menatap Adinda "Sebenarnya dari awal aku sudah merencanakan menggunakan mu untuk menyembuhkan Jonathan, tanpa memikirkan perasaan dan keselamatan mu, maaf kan aku Adinda"


"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf, karena membuat keadaan Jonathan semakin parah" ucap Adinda tangisnya menjadi semakin keras, ia benar-benar merasa bersalah


"Tidak sayang, jangan bicara seperti itu" kali ini Natasya yang bicara, ia menghampiri Adinda, "Kau sudah banyak merubah Jonathan menjadi lebih baik, hanya saja kejadian yang menimpamu yang membuyarkan semuanya, kau tidak salah Adinda ini memang sudah takdir" lanjut Natasya, ia lalu memeluk Adinda


Air mata semakin mengalir deras, "izinkan aku merawatnya Miss?" pinta Adinda di sela tangisnya,


"Apa kau yakin?, Jonathan mungkin tidak mengenal mu sekarang, karena ingatannya terjebak di enam belas tahun yang lalu, saat kejadian itu terjadi" ucap Jenita


"Apapun yang terjadi biarkan aku disisinya, karena aku sudah berjanji tidak akan meninggalkannya apa pun yang terjadi" ucap Adinda di sela tangisnya,

__ADS_1


"Aku mencintaimu Joo, sangat..! aku berada di sisimu bukan karena kau yang membutuhkan ku, tapi karena aku yang membutuhkan mu, karena aku rasa kini aku tidak bisa hidup tanpamu" batin Adinda


To be continue....


__ADS_2