
Passion of soul
Hal 19
Semilir angin berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang, suhunya seperti percikan es yang menyentuh kulit karena musim dingin datang lebih awal di Jerman. Adinda menggunakan pakaian khusus musim dingin berupa sweater tebal berwarna cream dipadu dengan Coat panjang berwarna moca, ia kaget dengan perubahan cuaca yang cukup drastis maklum baru pertama kalinya ia menginjakkan kaki di salah satu negara yang memilik musim dingin.
Jonathan terus memeluk Adinda di perjalan menuju hotel setelah beberapa waktu yang lalu pesawat mereka mendarat di salah satu bandara yang ada di Jerman.
Dresden itu kata yang Adinda baca di papan petunjuk ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di Jerman. Tidak seperti Hamburg yang terkenal dengan tujuan wisatanya atau Munchen yang terkenal dengan sepak bolanya, Dresden adalah kota yang bergaya klasik di wilayah timur Jerman.
Hotel yang di tempati Jonatan dan Adinda terletak di pusat kota Dresden yang merupakan hotel dengan bangunan klasik lengkap dengan interior yang bernuansa abad pertengahan, Adinda terpesona dengan desain interiornya, furniture yang ada dikamar ini mengingatkan Adinda pada film-film Hollywood klasik seperti Les Mirables dan pemandangan indahnya yang dapat dilihat dari jendela besar kamar hotelnya.
"Kau sudah puas mengagumi kamar ini?" Jonathan yang tadi sedang meletakan koper di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Adinda, datang menghampiri Adinda dan memeluknya dari belakang
"Emm, di sini indah sekali" jawab Adinda
"Segala keindahan di tempat ini tidak ada apa-apanya untuk ku, dibandingkan dengan dirimu yang berada di pelukanku saat ini" ucap Jonathan
Adinda menunduk malu, ia bisa merasakan pipinya merona karena ucapan Jonathan
"Tapi Acara pernikahan Miss Jen kan diadakan di Berlin, dan rumah mu juga di Berlin kenapa kita ke kota ini" tanya Adinda
"Aku ingin membawa mu ke suatu tempat di kota ini, Lebih baik kau mandi dulu setelah itu kita akan launch dan langsung berangkat ke tempat yang ku maksud"
"Baiklah" ucap Adinda sambil melepaskan pelukan Jonathan dan berlalu ke kamar mandi
*******
"Bagaiman rasanya? bukankah enak? " tanya Jonathan saat mereka sedang menikmati makan siangnya
"Iya enak.. ada rasa asam lemon, dan manisnya cerry , apa nama roti ini?"
"Stollen bread, roti khas Jerman yang hanya ada setahun sekali, well.. biasanya orang Jerman memakannya saat Natal" ucap Jonathan sambil mengambil sepotong roti stollen
"Untuk Natal? tapi bukankah perayaan Natal masih lama? kenapa kita bisa memakan ini sekarang?" tanya Adinda tak mengerti
"Aku sengaja meminta koki membuatkan khusus untuk mu, karena aku ingin kau mencoba makanan Jerman yang paling aku sukai " Jawab Jonathan santai
"Apa bisa seperti itu?" tanya Adinda Polos
"Tentu saja, kau jangan lupa siapa aku, jangankan sebuah roti, bahkan restoran ini pun bisa aku beli" Jonathan menyombongkan dirinya
__ADS_1
"ck, ck,ck" Adinda hanya berdecak karena tak habis pikir dengan kesombongan Jonathan.
"Kenapa kau menyukai roti ini?"
Jonathan tak langsung menjawab, ia menatap roti itu, " ini adalah makanan yang sering ibu ku buatkan untuk kami, dan dulu Jim sangat menyukainya" Jawab Jonathan, tapi nadanya terdengar sedih
Belum juga Adinda ingin bertanya lagi, Jonathan sudah melanjutkan bicaranya,
"Cepatlah habiskan makanan ini, kita akan segera berangkat", Adinda hanya mengangguk mengiyakan ucapan Jonathan
******
Sebelum ke tempat tujuan yang di maksud Jonathan, ia mengajak Adinda pergi berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan mewah yang ada di sana, mengajak gadis seperti Adinda berbelanja ternyata gampang-gampang susah, Adinda menjadi wanita yang menyebalkan jika melihat lebel harga yang tertera pada barang yang akan Jonathan belikan,
"Ya.. Tuhan ini gaji ku 6 bulan?!"
"Hah, biaya kuliah ku 8 semester hanya untuk tas!?"
"Aku tidak mau, ini terlalu mahal!"
"Jangan membuang uang percuma!"
Begitu sekelumit ocehan Adinda jika Jonathan ingin membelikannya sesuatu, karena mengetahui sifat Adinda yang seperti itu maka Jonathan lebih memilih langsung membelikan saja semua barang yang menurutnya pantas untuk Adinda tanpa memberi kesempatan Adinda untuk melihat lebel harga ataupun menolaknya
Setelah selesai berbelanja Adinda menunggu Jonathan di mobil, karena Jonathan bilang ia ingin ke kamar mandi sebentar,
Adinda menggeleng "Tidak"
"Kita berangkat sekarang ya" ucap Jonathan sambil menghidupkan mesin Mobil BMW itu.
*******
Menikmati sore di 'Bruhlsche terasse' memang pilihan yang tepat, walau suhu yang kembali dingin setelah sempat menghangat di siang hari tadi membuat Adinda mengsedakepkan kedua tangannya. Ia sedang berdiri di balkon dengan ketinggian beberapa meter di atas sungai 'Elbe' dari situ ia dapat menikmati kokohnya gedung-gedung bersejarah dengan bebatuan khasnya yang berwarna gelap, ia juga bisa menikmati aliran sungai 'Elbe' dan juga jalan setapak menuju Frauenkirche diantara lampu-lampu restoran yang tertata rapi di sudut kota.
Melihat kekasihnya sedang berdiri sambil menahan dingin, Jonathan lantas meraup tubuh Adinda dari belakang lalu membungkusnya dengan pelukan hangat, Adinda tersenyum dengan perlakuan manis yang di lakukan Jonathan padanya.
"Aliran sungai 'Elbe' ini airnya mengalir sampai ke Hamburg, besok kita akan kesana sebelum kita ke Berlin" Jonathan berucap pelan di telinga Adinda
"Jadi apa kita akan naik perahu untuk sampai ke Hamburg?" tanya Adinda dengan polosnya
"Hahaha" Jonatan tergelak mendengar pertanyaan Adinda, ia sedikit menjauhkan kepalanya dari Adinda agar tawanya yang keras tidak menyakiti telinga Adinda, sementara Adinda hanya berdecih pelan melihat reaksi Jonathan yang menertawakannya seperti itu
"Ehemm.. ehemm.." Jonatan sedang berusaha menghilangkan sisa-sisa tawanya, "well..
__ADS_1
meski aliran sungai 'Elbe' sampai ke Hamburg kita tidak akan naik kapal apalagi perahu sampai kesana, ketahuilah itu akan menjadi perjalanan panjang dan melelahkan jika kita menggunakan kapal apalagi perahu, kita akan gunakan transportasi darat agar lebih cepat sampai" Jelas Jonathan yang semakin mengeratkan pelukannya pada Adinda.
Senja terlukis sangat menawan di atas langit sana cahayanya yang berwarna orange keemasan dengan merah di ujungnya menambah suasana eksotik di 'Bruhlsche terasse' ini, Adinda memejamkan matanya menikmati senja di Dresden meski sesekali angin berhembus membawa udara dingin namun dekapan Jonathan cukup ampuh melawan rasa dingin itu, sayup-sayup ia mendengar gumaman dari Jonathan, lebih tepatnya Jonathan sedang menyanyi dengan suara lirih, meski Adinda merasa asing dengan lagunya tapi hatinya berbunga-bunga mendengarkan lirik lagu bahasa Inggris yang dinyanyikan Jonathan itu
Suara Jonathan yang merdu, ditambah cakrawala yang hendak terbenam sepenuhnya belum lagi posisi Adinda yang nampak hangat dalam pelukan kekasihnya itu, sungguh itu terlihat begitu romantis, dan nampaknya mereka sangat menikmati momen Romantis itu ,
🎶From my youngest years
Sedari masa-masa mudaku
Till this moment here
Hingga saat ini
I've never seen
Tak pernah kulihat
Such a lovely queen
Ratu yang begitu cantik
From the skies above
Dari langit tertinggi
To the deepest love
Hingga cinta yang terdalam
I've never felt
Tak pernah kurasakan
Crazy like this before
Segila ini sebelumnya🎶
'Paint My Love' By Michael Learns To Rock
penggalan lagu yang dinyanyikan Jonathan
Adinda terhanyut dengan lagu yang dinyanyikan Jonathan, ia memejamkan matanya , ia bisa merasakan ada sesuatu yang di pakaikan Jonathan di lehernya, sebuah kalung cantik dengan liontin menyerupai bentuk bintang,
__ADS_1
"Ich liebe dich" bisik Jonathan ditelinga Adinda dalam bahasa Jerman.
To be continue....