
Passion of Soul
Hal 36
"Kruyykk..." suara yang berasal dari perut Adinda mengintupsi adegan romantis mereka berdua. Jonathan melepaskan pautan bibirnya dari bibir Adinda. Menatap Adinda sambil menahan tawa, sedang yang di tatap hanya menundukkan wajahnya malu karena ulah perutnya yang tidak tahu situasi.
"Hahahaha" suara tawa akhirnya pecah dari mulut Jonathan.
"Hentikan! jangan menertawakan ku!" pinta Adinda dengan wajah semu merahnya dan bibir yang sedikit mengerucut. Ia memukul sayang dada bidang Jonathan.
Reflek Jonatan mencubit pipi Adinda gemas. "Ayo kita makan, sebelum cacing diperut mu mengeluarkan suara yang lebih mengerikan lagi" ucap Jonathan masih dengan tawa renyahnya. Ia meraih tangan Adinda dan membawanya menuju garasi Villa.
Jonathan membukakan pintu mobilnya untuk Adinda. "Naiklah" ucapnya. Adinda pun menurut dan langsung masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang samping pengemudi. Jonathan berjalan mengitari body depan mobil dan membuka pintu mobil bagian pengemudi.
"Kita mau kemana?" tanya Adinda saat Jonathan sudah duduk di dalam mobil dan menyalakan mesinnya.
"Memberi cacing di perutmu makanan, agar tidak menggangu adegan romantis kita." Jawab Jonathan dengan senyum yang di tahan. Sedangkan Jarinya sibuk menekan tombol di ponselnya.
"Joo...." Rengek Adinda. Kesal karena Jonathan terus mengejeknya. "Seharusnya kau tidak membuat semua daging menjadi hangus. jadi aku tidak akan kelaparan seperti ini." Hardik Adinda membalas ejekan Jonathan.
"Suttt..." Jonathan meletakan Jari telunjuk kirinya di bibir Adinda, sedang tangan kanannya memegang ponsel dan mendekatkan pada telinganya. "Bereite das Abendessen vor, ich ging sofort dorthin"
(Siapkan makan malam, aku sedang menuju ke sana) Ucap Jonathan pada orang yang sedang di telponnya menggunakan bahasa Jerman.
"Tenang sayang, aku tidak akan membiarkan mu kelaparan lagi" ucap Jonathan sambil mengelus rambut Adinda, setelah mematikan panggilannya. Mobil Jonathan pun melaju membelah kesunyian jalan meninggalkan villa.
•
•
"Enak?" Tanya Jonathan pada Adinda, saat melihat Adinda begitu menikmati makanan yang tersedia di atas meja sebuah restoran ternama di pinggiran Berlin tak Jauh dari Villa Jonathan tadi.
Adinda hanya menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Jonathan karena mulutnya sedang mengunyah makanan.
__ADS_1
"Apa kau sering kesini?" tanya Adinda setelah menelan makanannya.
"Emm" Jawab Jonathan. "Aku sering makan di sini. karena jika pulang ke Jerman aku lebih suka tinggal di Villa dari pada di Rumah." Lanjutnya. Adinda mengangguk-anggukan kepalanya. Ialu lanjut menyantap makannya.
•
•
Sunyi. Hanya suara Jangkrik yang saling bersahutan mengisi malam di perkebunan Villa milik Jonathan. Kini Adinda dan Jonathan sedang berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri Jalan setapak. Diterangi sinar rembulan dan bintang-bintang yang bertaburan mereka menuju paviliun di atas bukit dekat villa milik Jonathan. Setelah pulang dari Restoran Adinda memutuskan jalan-jalan di perkebunan untuk melegakan perutnya yang terasa kenyang karena terlalu banyak menyantap makan malamnya tadi. Ia tidak bisa langsung tidur dengan perut yang kekenyangan. Dan akhirnya Jonathan mengajaknya menuju paviliun di atas bukit.
"Apa tidak apa-apa jika kita masuk ke paviliun itu" ucap Adinda sambil menunjuk paviliun yang berada 100 meter di depannya.
Jonathan menoleh ke arah Adinda, melepaskan genggaman tangannya lalu merangkul bahu Adinda. "Memangnya kenapa?" tanya Jonathan.
"Apa pemiliknya tidak akan marah? jika kita masuk kesana?" tanya Adinda lagi.
Jonathan terkekeh. "Tidak akan ada yang marah. karena paviliun itu milik ku." ucap Jonathan tenang.
"Benarkah?" tanya Adinda kurang yakin.
Adinda membelalakkan matanya tak menyangka. Jonathan yang melihat ekspresi Adinda hanya tersenyum gemas. "Kenapa? apa kau tidak menyangka kalau calon suamimu ini sangat kaya?"
"Iya" Jawab Adinda jujur. Jonathan terkekeh dengan Jawaban spontan Adinda. Tak terasa mereka sudah berada di depan paviliun. Ia pun segera membuka pintu dan mempersilahkan Adinda masuk ke dalam.
"Woahh..!!!" Adinda ternganga melihat ruangan di dalam paviliun tersebut. Bagaiman tidak. Ruang paviliun ini lebih mirip seperti Observatorium. Tempat dengan berbagai macam perlengkapan untuk melihat bintang-bintang atau melihat langit dan peristiwa yang berhubungan dengan luar angkasa. Di sisi ujung paviliun terdapat Jendela besar dan balkon lebar yang menjorok keluar paviliun dengan tiga buah teleskop yang terpasang secara permanen di atasnya. Di sudut dinding paviliun di penuhi dengan rak-rak buku tentang astronomi dan beberapa foto-foto langit malam lengkap dengan bintang-bintangnya menempel pada dinding-dinding paviliun itu. Ada sofa lengkap dengan mejanya di tengah ruangan itu yang cukup nyaman untuk berbaring sambil membaca buku.
"Kau suka tempat ini?" tanya Jonathan sambil memeluk Adinda dari belakang.
"Sangat suka!" ucap Adinda semangat. "Apa kau yang membuat tempat ini?" tanya Adinda.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Tentu saja arsitek dan tukangnya yang membuat ini. Aku hanya mengeluarkan uang untuk membayar mereka!" Jawab Jonathan sambil tertawa.
"Ish.. kau ini! itu maksudku. Apa kau sengaja membayar orang untuk membuat tempat ini!"
__ADS_1
"Of course... sejak kecil aku sudah tertarik dengan astronomi." Jawab Jonathan.
"Pantas saja.. kau begitu paham mengenai perbintangan." Ucap Adinda. Ia ingat Jonathan pernah menjelaskan tentang rasi bintang ke tiga belas saat mereka sedang duduk di taman rumah Jonathan waktu itu.
"Kemarilah" ucap Jonatan sambil mengandeng tangan Adinda menuju ke salah satu teleskop yang ada di sana. Dengan bimbingan Jonathan, Adinda mendekatkan matanya ke ujung teleskop, meneropong langit malam.
"Woahhhh" ucapan kekaguman terus terlontar dari bibir manis Adinda. "Indah sekali!! apakah itu nyata!! woahh!! apakah itu bintang juga! woahh!!" Adinda yang juga menyukai bintang-bintang benar-benar terhipnotis dengan apa yang kini ia lihat.
Jonathan hanya menggelengkan kepala sambil menahan senyum mendengar ucapan kekaguman Adinda.
"Woah!! aku bisa lihat bintang paling terang di langit malam. Apa itu namanya.. emm.. sir...sir... sirus..." ucap Adinda terbata karena sambil mengingat-ingat nama bintang yang di maksud.
"Sirius" sahut Jonathan membenarkan ucapan Adinda.
Adinda mengalihkan pandangannya dari teleskop dan menatap Jonathan. "Iya itu maksudku, Sirius. Bukankah itu nama bintang yang paling terang di langit?" tanya Adinda lagi memastikan perkiraannya.
"Emm.. Sirius adalah bintang yang terletak di Rasi Bintang Canis Major, Sirius dua kali lebih terang dari Canopus bintang paling terang ke dua di langit malam." Jawab Jonathan yang membuat mata Adinda berbinar kagum karena Jonathan benar-benar paham mengenai bintang.
"Sirius salah satu tetangga terdekat Bumi. Dan secara bertahap bergerak mendekat ke arah Tata Surya, sehingga kecerahannya akan meningkat dalam 60.000 tahun ke depan. Setelah itu, Sirius akan mulai menjauh, dan Sirius akan menjadi lebih redup, tetapi akan terus menjadi bintang paling terang di langit. Dan...." Penjelasan Jonathan terhenti karena ia menyadari Adinda yang menatapnya dengan wajah yang begitu mengemaskan. matanya yang berbinar, bibirnya yang berwarna pink alami sedikit ternganga. Membuat Jonathan menelan silvah nya kasar. Ingin rasanya meraup wajah itu dan ******* habis bibir Adinda yang begitu menggoda.
"Dan..? apa?" Tanya Adinda tak sabar karena Jonathan tidak melanjutkan ucapannya.
"Dan berhentilah menatap ku seperti itu!" ucap Jonathan sambil berlalu meninggalkan Adinda menuju sofa lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Mencoba menghalau perasaan yang menggebu dalam dirinya. Sebenarnya bukan hal yang sulit bagi Jonathan untuk langsung mencium bibir Adinda. Adinda pasti tidak akan menolaknya. Tapi bukan itu yang jadi masalahnya sekarang. Selama ini Jonathan selalu menahan dirinya untuk tidak melakukan hal lebih dari sekedar mencium bibir Adinda. Bahkan saat berciuman dengan Adinda pun Ia harus dengan sekuat tenaga menahan hasratnya pada Adinda. Ayolah... Jonathan adalah laki-laki normal wajar jika ia merasa tegang saat melakukan hal yang intens dengan wanita. Apalagi wanita itu adalah wanita yang sangat ia cintai dan ia gilai.
"Kenapa? apa ada yang salah dengan tatapan ku?" tanya Adinda bingung sambil menghampiri Jonathan dan duduk di sampingnya. Jonathan hanya terdiam.
"Joo.. ada apa? apa kau sakit?" Tanya Adinda tiba-tiba sambil menyentuhkan punggung tangannya di dahi Jonathan. Sontak membuat Jonathan bertambah risau.
"Sebaiknya kita melangsungkan pernikahan besok!" ucap Jonathan tiba-tiba membuat Adinda terkejut.
"Hah???! Jangan bercanda!" ucap Adinda.
"Siapa yang bercanda?!" ucap Jonathan.
__ADS_1
"Sirius?!"
To be continue...