
Passion of Soul
Hal 35
Adinda menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sambil perlahan membuka kelopak matanya yang indah. Bingung, saat melihat ia sudah tidur di atas ranjang dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya, seingatnya ia tertidur di sofa ruang tengah dengan kepala Jonatan yang berada dipangkuannya.
Adinda mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, saat menengok kesamping, ia melihat Jonathan yang duduk di pinggir ranjang dan sedang memandangnya dengan senyuman. Ia pun segera bangkit, menggeser tubuhnya perlahan, duduk di samping Jonathan dan langsung memeluknya.
"Apa kau yang membaringkan ku disini?"
tanya Adinda setelah melepaskan pelukannya.
"Eemm" Jawab Jonathan, ia pun mengecup sekilas bibir Adinda. "Apa tidurmu nyenyak?"
"Sangat..., kau tahu aku sangat lelah hari ini, jawab Adinda
Jonathan mengelus pipi Adinda, "tentu saja kau kelelahan, karena terlalu banyak memaki ku hari ini." Ucapan Jonathan seketika membuat Adinda menundukan kepalanya karena malu. Bisa-bisanya dijalan tadi ia memaki Jonatan brengs*k dan bodoh. Padahal seumur hidup ia tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar pada orang lain.
"Maaf... apa kau marah?" tanya Adinda dengan matanya yang berbinar dan bibirnya yang sedikit manyun, sungguh menggemaskan.
Melihat tingkah Adinda seperti itu sontak membuat Jonathan ternganga, sebab kekasihnya itu sebelumnya tidak pernah seperti itu. Dan sialnya Jonathan sangat menyukai itu. Apalagi melihat bibirnya itu, ingin sekali rasanya ia melahapnya.
"Ehem.." Jonathan berdahem untuk menyadarkan pikirannya. "Tentu saja aku marah! kau bilang aku brengsek dan bodoh" ucap Jonathan pura-pura marah.
Adinda semakin menundukan wajahnya mendengar ucapan Jonathan, ingin rasanya ia menenggelamkan wajahnya ke dasar lautan paling dalam karena malu.
"Kenapa kau menunduk? tanya Jonathan sambil mengangkat dagu Adinda.
"Aku malu sudah bicara kasar" ucap Adinda lirih. Jonathan tersenyum mendengar ucapan Adinda, kemudian "Chup" sebuah ciuman mendarat di bibir Adinda. "ini hukuman" ucap Jonathan sesaat setelah melepaskan ciumannya.
"Hukuman apa yang terasa begitu nikmat seperti ini" gumam Adinda lirih, tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh Jonathan sebab jarak wajah mereka yang memang hanya sejengkal.
Sontak Jonathan tertawa, ia tak menyangka kekasihnya ini begitu mengemaskan. Jonathan mengacak lembut rambut Adinda. "Ayo kita keluar, makan malam. Sebelum aku hilang kendali dan melahap bibirmu itu" ucapnya sambil meraih tangan Adinda dan mengandengnya keluar kamar.
__ADS_1
"Kau mau makan apa?, biar aku buatkan" tanya Adinda saat mereka menuruni anak tangga menuju dapur.
Jonathan tidak menjawab, ia terus berjalan mengandeng Adinda, melewati dapur dan menuju pintu samping villa.
Adinda yang melihat jonathan mengandengnya melewati dapur begitu saja, bingung. "Kita mau kemana? dapurnya di sana, kenapa kearah sini?
Jonathan berhenti, melepas genggamannya lalu merangkul Adinda, "Diamlah, dan ikut dengan ku sayang." Mereka pun lanjut berjalan menuju taman di samping villa.
"Woahh!" ucap Adinda saat melihat, sudah terdapat sebuah meja dengan dua kursi di taman tersebut dan tidak jauh dari meja Ada perlengkapan barbeque. Ada pula api unggun yang sudah menyala guna menghangatkan suasana malam ini. "Kita akan membuat pesta barbeque?" tanya Adinda sambil mendekat ke meja panggangan daging.
Jonathan menarik tangan Adinda. mengajaknya untuk duduk di kursi. " Kau duduklah disini, aku akan menyiapkan makanan untukmu" ucap Jonathan.
"Hah..! kau yang akan menyiapkan makan malamnya?" tanya Adinda heran.
"Emm" Jonathan menganggukkan kepalanya.
"Kau yakin?" tanya Adinda lagi.
Adinda menganggukkan kepalanya paham "baiklah" Adinda pun menyandarkan punggungnya di kursi, mendongakkan kepalanya keatas dan menikmati langit malam yang bertabur bintang indah.
•
•
"Ini yang kau maksud makan malam?" Tanya Adinda pada Jonathan, tanpa mengalihkan pandangannya pada dua piring daging hangus yang ada di atas meja.
Jonathan mengelus tengkuknya "Aku kira sangat mudah memanggang daging, tapi sepertinya aku salah" ucap Jonatan kikuk. "Aku ingin kau terkesan dengan makan malam yang ku buat sendiri tapi ternyata ekspetasi tak sesuai dengan kenyataannya"
Adinda menatap Jonathan, sebutir air mata menetes ke pipi Adinda. Ia terharu setidaknya Jonathan sudah berusaha menyiapkan makan malam ini sendiri. Yah meskipun pada akhirnya tidak ada yang bisa dimakan.
"Kau menangis?" Tanya Jonathan saat melihat air mata menetes di wajah Adinda.
"Eh.. tidak... mata ku hanya sedikit pedih terkena asap" Adinda mengalihkan pandangannya ke arah api unggun sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. Mencoba untuk mengontrol perasaanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Adinda. Jonathan langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri Adinda. "Coba ku lihat" ucapnya yang kini sudah meraup wajah Adinda. Melihat mata Adinda dengan sangat hati-hati.
"Sudah tidak apa-apa" ucap Adinda.
"Tidak apa-apa, apanya! lihat matamu merah, ayo kita masuk sepertinya ide makan malam romantis ku di sini, sangat buruk" ucap Jonathan sambil meraih tangan Adinda bermaksud menggandengnya masuk ke villa.
Tapi tiba-tiba Adinda langsung memeluk Jonathan. "Tapi aku suka" ucap Adinda.
Jonathan mematung mendapat pelukan tiba-tiba dari Adinda. Heran, meski sudah sering berpelukan dengan Adinda tapi tetap saja jantung Jonathan selalu berdebar merasakan pelukan Adinda. "Suka apanya?"
"Semuanya" Jawab Adinda yang masih dalam pelukan Jonathan.
"Kau suka daging hangus?" tanya Jonathan pura-pura bodoh.
"Emm" Jawab Adinda asal.
"Wah selera mu sangat aneh nona" Jonatan tersenyum saat mengatakannya. "Kau bahkan bisa mencintai pria seperti ku. Kau bahkan tidak meninggalkan ku saat mengetahui aku yang sebenarnya. Kau juga tidak membenci ku saat aku melukai mu. Bukankah itu sangat aneh" ucap Jonathan masih dalam mode memeluk Adinda.
Adinda tersenyum, "benar, aku tidak tahu mengapa aku menjadi aneh begini, aku juga tidak tau sejak kapan aku menjadi seperti ini." Ia lalu mengurai pelukannya pada Jonathan. Menatapnya dengan sangat intens. "Satu-satunya hal yang aku tahu, aku sangat mencintai pria yang ada di hadapanku ini."
Deg!
Kata-kata Adinda membuat Jonathan sangat terenyuh. Percayalah tidak Ada hal yang lebih membahagiakan bagi Jonathan selain mendapatkan cinta tulus dari seorang Adinda. Wanita yang telah meluluhkan hatinya saat pertama kali Jonathan menatap matanya. Wanita yang mampu memberikan ketenangan lewat pelukannya. Wanita yang memberikan kekuatan dari sentuhannya.
"Terimakasih karena telah mencintaiku." Dan secara perlahan-lahan Jonathan mendekatkan wajahnya, membuat jantung Adinda berdebar tidak karuan ,tangan kanannya membelai lembut wajah Adinda, membuat Adinda secara reflek menutup matanya seolah-olah mengatakan ia siap menerima apapun ,ia tidak menolak atau menghindar saat ia merasakan bibir mungilnya tersentuh oleh bibir nya Jonathan, lalu ia membuka matanya, terlihat olehnya Jonathan sedang mencium bibirnya dan melu*atnya dengan sangat lembut, Adinda mengalungkan kedua tangannya ke leher Jonathan. Ia pun membalas ciuman itu dengan lembut pula. Ciuman yang sangat mesra dibawah langit bertaburan bintang dihangatkan api unggun yang berkobar. Sama seperti hati dan perasaan pasangan itu saat ini.
To be continue...
Maaf ya readers.. up nya agak telat-telat soalnya Author lagi banyak kerjaan 🙏🙏 tapi di usahakan akan rutin lagi up nya...
Siapa yg dari kemarin nungguin kelanjutan Jonathan & Adinda??🥰
Jangan lupa like, komentar ya... vote nya juga..😘
__ADS_1