Passion Of Soul

Passion Of Soul
Ich Liebe Dich Auch (Aku juga mencintaimu)


__ADS_3

Passion of Soul


Hal 23


Adinda memberikan tangannya dan Jonathan langsung menariknya, dipakaikannya sebuah cincin cantik di jari manis Adinda, "pas dan cantik, dengan begini kita hanya tinggal menentukan tanggal pernikahan kita saja" ucap Jonathan setelah memakaikannya,


Adinda terkejut mendengar ucapan Jonathan,


"Apa?! Apa yang kau lakukan?!! teriak Adinda, ia lalu mencoba menarik tangannya yang di pegang Jonathan, tapi Jonathan tak membiarkannya, Jonathan langsung menautkan jari-jarinya pada jari-jari Adinda,


"Sudah ku bilang dari awal bahwa kau adalah milikku jadi selamanya kau akan menjadi milikku" ucap Jonathan dengan santainya,


Adinda hanya terbengong melihat kelakuan Jonathan, "hey tuan, apakah saat ini kau sedang melamar ku?" tanya Adinda


"Tentu saja, kau pikir apa?"


"Seperti ini kah cara mu melamar kekasihmu?!" tanya Adinda lagi


"Memang harus bagaimana lagi?, tempat sudah romantis, dinner sudah, ada kau dan aku, dan ada cincin, bagian mana yang kurang sayang?" tanya Jonathan polos


Adinda mbelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar, " Apa kau tidak pernah melihat drama Joo?" tanya Adinda lagi


"Tidak" Jawab Jonathan cepat


"Hufftt" Adinda menghela nafasnya kasar, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena Jonathan punya caranya sendiri untuk melamar kekasihnya.


"Kenapa ekspresi mu seperti itu? apa kau tidak mau menjadi istri ku? tanya Jonathan sedikit gusar karena Adinda tidak terlihat senang


"Apa aku ada pilihan untuk menolak?"


"Jangan Harap!!!" Jawab Jonatan dengan tegasnya


Adinda hanya menelan ludahnya sendiri, dia hanya terdiam, terserahlah pikirnya, ia juga tidak ada niat untuk menolak lamaran Jonathan hanya saja realita tak seindah ekspektasi nya.


"Apa kau tidak bahagia bersama ku?" tanya Jonathan tiba-tiba, ekspresi wajahnya terlihat dingin saat mengatakan itu ,


Adinda tersentak saat melihat ekspresi wajah Jonathan, "Bukan begitu, hanya saja..." Adinda menggantung kata-katanya, ia ragu harus mengungkapkan nya atau tidak


"Hanya saja apa..?!" tanya Jonathan dengan intonasi yang agak meninggi

__ADS_1


"Hanya saja , kau tidak menanyakan maukah kau menikah dengan ku! atau Will you marry me! atau apalah! aku juga mau seperti itu ! aku mau merasakan bagaimana kekasih ku melamar ku dengan romantis!!! tapi kau langsung memakaikan cincin di jariku dan menentukan tanggal pernikahan tanpa bertanya padaku!! bahkan kau tidak menyatakan cinta mu pada ku!!! walaupun aku pasti akan menerima lamaran mu bagaimana pun kau melamar ku, tapi tetap saja aku ingin merasakan di lamar seperti itu!" rentetan keluhan Adinda yang akhirnya keluar dari mulutnya karena ia merasa kesal,


"Hahahaha" Jonathan tertawa terbahak-bahak mendengar Adinda mengatakan itu semua..


Melihat Jonathan tertawa Adinda semakin kesal, ia melepas genggaman tangan Jonathan lalu berjalan menuju pinggir kapal, ia melihat pemandangan sekitar dan membelakangi Jonathan untuk menghilangkan kekesalannya,


Jonathan mencoba menghentikan tawanya, ia segera bangkit dari duduknya, menghampiri Adinda dan memeluknya dari belakang,


"Apa kau marah?" tanyanya


"Menurutmu?!" jawab Adinda ketus


Jonathan semakin mengeratkan pelukannya, "Aku tidak bertanya padamu, karena aku tidak suka membuat mu dalam kesulitan" ucapnya serius,


Adinda terdiam, ia memikirkan ucapan Jonathan, " Kesulitan apa?" tanya Adinda kemudian


"Kesulitan, menggunakan otak mu untuk berfikir, padahal aku sudah tau jawabannya, hahaha" lagi-lagi Jonathan membuat Adinda kesal dengan jawabannya, Adinda menyikut perut Jonathan dan melepaskan pelukan Jonathan,


"Auw...hahaha maaf sayang, just kidding" Jonathan memeluk kembali Adinda,


"ich liebe dich" ucapnya sambil mengecup kepala Adinda,


Adinda tersenyum mendengar kata-kata itu,


Jonathan mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Adinda, ia lalu menghadapkan tubuh Adinda ke arahnya, "sejak kapan kau tahu arti dari kata yang aku ucapkan?"


"Zaman sudah canggih sayang, tentu saja dari google translate, hehehe" ucap Adinda dengan senyumannya yang paling manis


Jonathan gemas melihat senyum Adinda, dan akhirnya, "Chup!" ia mengecup bibir yang tersenyum itu, sedetik kemudian "Chup!" ia mengecupnya lagi berturut-turut hingga tiga kali


Dan yang seterusnya Adinda tidak menolak saat ciuman ke empat Jonathan lebih mendalam, ia melu*at bibir Adinda dengan rakusnya, membuat Adinda sedikit sulit untuk bernafas, tapi Adinda berusaha untuk terus mengimbangi ciuman Jonathan, Samapi Jonathan merasa puas dan melepas ciumannya, Jonathan menautkan kening mereka setelah melepas ciumannya, "sepertinya kita harus secepatnya menikah, aku tidak akan sanggup jika terus menahannya" ucap Jonathan dengan nafas yang tersengal,


Adinda yang mendengar itu langsung mencubit perut Jonathan,


"Auww..! sakit sayang" teriak Jonathan, ia lalu membawa Adinda kedalam pelukannya, "I love you more than anything"


*******


Pagi ini di halaman belakang sebuah rumah mewah, terlihat sedikit lain dari biasanya karena hamparan halaman biasa di sulap menjadi tempat yang indah dengan banyak bunga yang menghiasi tempat itu, para pelayan sedang mengatur beberapa makanan di atas meja panjang yang dibungkus dengan kain putih yang merumbai-rumbai dan yang lainnya mengatur letak bunga dan wine di atas meja-meja tamu yang tersusun rapi, di tengah-tengah antara meja tamu terdapat sebuah karpet berwarna merah panjang dengan penuh hiasan bunga disisi kanan dan kirinya terbentang menuju sebuah altar yang sengaja di dibuat untuk memenuhi acara inti pesta ini.

__ADS_1


Di dalam kamar ada seorang wanita cantik mengenakan gaun putih bak seorang putri sedang duduk di depan cermin, terlihat sekali ia sangat gugup,


"Miss Jen..!" panggil Adinda kepada wanita yang sedang duduk di depan cermin itu


Jenita melihat bayangan Adinda dari cermin di hadapannya " bagaimana, apa aku cantik?" tanyanya pada Adinda


"Tentu saja, Miss Jen sangat cantik" puji Adinda tulus


"Aku gugup" ucap Jenita


"bagaiman bisa seorang Jenita gugup? ayo sudahi sandiwara mu dan turunlah! acara akan segera dimulai" ucap Natasya yang baru saja datang


"Sialan! kau Sya, aku sedang tidak bersandiwara!" ucap Jenita ketus


"Diam kau! pengantin tidak boleh bicara kasar!" Natasya tetap tidak mau mengalah dan akhirnya perang mulut pun terjadi,


Adinda yang melihat pertengkaran antara saudara itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum,


Jonathan yang baru datang bukannya melerai pertengkaran kakak dan sepupunya itu malah langsung merangkul Adinda, "sayang, kau apa tidak lelah melihat mereka bertengkar?, ayo kita pergi dari sini", ucap jonathan ia mengandeng tangan Adinda hendak mengajaknya pergi dari tempat itu,


Tapi dengan sigap Natasya menarik tangan Adinda, " hyaa, mau kau bawa kabur kemana lagi Adinda?!, Apa belum puas kau membawanya kabur seharian kemarin?!" hardik Natasya pada Adiknya itu,


"Dan kau Adinda, hari ini kau milikku! ayo ikut aku!" Natasya membawa pergi Adinda, Jenita menyusul berjalan di belakang mereka,


"Syasa!! mau kau bawa kemana kekasihku?!" kembalikan?!" teriak Jonathan


"Tidak akan! sampai kau mau memanggil ku kakak!" teriak Natasya tanpa menoleh ke belakang dan terus menarik Adinda menjauh dari Jonathan


"Bagaimana penyihir seperti mu menjadi kakak ku!" teriak Jonatan lagi, tapi diabaikann oleh Natasya.


********


Acara pernikahan pun berlangsung dengan khidmat, Pasangan pengantin terlihat begitu bahagia begitu pula para tamu undangan,


Di meja paling depan terlihat tuan William, paman Sean dan besannya sedang berbincang,


Jonathan sedari tadi hanya berbincang dengan Zidan di meja yang bersebrangan dengan meja Adinda dan Natasya beserta anak suaminya,


Jonathan hanya bisa puas melihat Adinda dari kejauhan, karena Natasya yang sedari tadi menjadi bayang-bayang Adinda, ia selalu menghalangi Jonathan untuk berdekatan dengan Adinda, kalau tidak mengingat ini hari penting paman Sean dan Jenita, sudah pasti Jonathan akan mengamuk pada Natasya,

__ADS_1


Di sudut tempat pesta tersebut, ada seorang pria yang sedari tadi memperhatikan Adinda dari mejanya, mata yang terus memandang kearah Adinda itu sesekali melirik ke arah Jonathan, terlukis seringaian dari bibirnya, seringaian seorang predator yang seperti sedang menemukan mangsanya.


To be continue....


__ADS_2