
Passion of soul
Hal 28
Ruangan yang di dominasi cat warna putih itu tampak lenggang hanya beberapa orang yaitu para suster atau dokter yg masih berjalan di lorong-loronh rumah sakit, di depan salah satu ruangan nampak tiga orang yang sedang menunggu dengan gelisah, akan nasib seseorang yang berada di dalam ruangan itu, Jonathan yang matanya masih memerah karena sisa tangis tertunduk lesu di lantai rumah sakit, sesekali ia menutup wajahnya tampak rasa bersalah yg amat sangat tersirat di wajanya yang tampan,
Natasya dan Zidan juga tak kalah khawatirnya dengan keadaan Adinda sedang tuan William sudah kembali ke kantor nya untuk meeting dengan perusahaan Altomex yang sudah tidak bisa di rubah lagi jadwalnya, setelah sebelumnya ia pun menunggu di rumah sakit.
Sudah hampir satu jam Adinda mendapatkan penanganan tapi sang dokter tak kunjung keluar juga, dan selang beberapa waktu akhirnya sang dokter keluar dari ruangan itu
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Natasya yang sudah berdiri di hadapan dokter itu, sedangkan Jonathan masih terduduk dilantai, kakinya seperti tidak kuat untuk ditegakkan, ia hanya mendengarkan penjelasan dokter dengan mata nanar tanpa melihat ke arah sang dokter
"Pasien sudah baik-baik saja, lukanya sudah kami tangani dengan baik, hanya saja ia belum sadarkan diri karena sedikit shock, kita tunggu saja perkembangannya, sementara ini ia akan di pindahkan ke ruang rawat inap"
Bersamaan setelah dokter selesai menjelaskan keadaan Adinda saat itu pula tubuh Adinda yang sedang terbaring di atas tempat tidur pasien dipindahkan ke ruang inap, seketika Jonathan langsung bangkit, dilihatnya wajah cantik Adinda yang sedikit pucat dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya, Jonathan menatap nanar wajah itu, lidahnya terasa kelu ia tidak bisa mengatakan apapun, bukannya mendekat ia malah mundur satu langkah saat tubuh Adinda tepat ada dihadapannya, seketika rasa bersalah terus menghantuinya, Samapi para tim medis mendorong tempat tidur yang membawa Adinda menjauh dari hadapannya pun ia tetap mematung ditempat dan air matanya kembali menetes,
Natasya yang melihat tingkah Jonathan menjadi khawatir, ia ingat saat Jimmy dan ibunya meninggal Jonathan pun hanya diam tidak mau bicara pada siapapun, "Joo, jangan khawatir Adinda sudah tidak apa-apa" ucap Natasya sambil memegang pundak Jonathan berusaha menenangkan Adiknya,
Tapi Jonathan masih tak bergeming, tanpa sepatah katapun ia pergi dari tempat itu membuat Natasya dan Zidan bingung,
"Joo, kau mau kemana?" tanya Zidan
tapi Jonathan tak menjawab ia terus berjalan dengan tatapan kosongnya,
"Joo!" panggil Zidan lagi sambil memegang tangan Jonathan, "baiklah, kau mau kemana akan aku antar" tanya Zidan ia takut Jonathan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya sendiri,
Jonathan tetap berjalan meninggalkan Zidan, sedang Zidan terus membuntuti nya, sebelumnya Zidan menengok ke Natasya, Natasya pun mengerti, ia mengangguk memberi tanda untuk Zidan menyuruhnya mengikuti Jonathan, sedang ia akan menemani Adinda di rumah sakit,
Jonathan berjalan menuju mobil, setelah sampai di depan mobilnya ia membuka pintu kemudi, tapi Zidan langsung mencegahnya, ia menggiring Jonatan ke pintu belakang dan membukakan pintu menyuruh Jonathan masuk ke kursi penumpang, setelah itu Zidan masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya,
"Kau ingin kemana?" tanyanya pada Jonatan, karena tidak ada jawaban dari Jonathan akhirnya Zidan membawanya pulang ke rumah keluarga William,
Di perjalanan Zidan selalu memperhatikan Jonathan dari kaca spion mobilnya, wajah Jonathan masih sama terlihat murung dengan tatapan mata yang kosong, beberapa kali Zidan mencoba mengajaknya bicara tetap tidak ada tanggapan dari Jonathan,
__ADS_1
Sesampainya dirumah Jonathan langsung turun, ia langsung masuk kedalam rumah tapi ia tidak menuju kamarnya melainkan menuju kamar dimana dulu ia dan Jimmy tinggal di kamar itu jugalah Jimmy dan Ibunya meninggal,
Zidan yang membuntuti Jonathan sedikit heran kenapa Jonathan masuk ke kamar itu, kamar yang tidak pernah ia masuki lagi setelah kejadian naas 16 tahun yang lalu,
Jonathan membuka pintu kamar itu, meski awalnya ia agak ragu-ragu, saat ia akan masuk tiba-tiba Zidan memegang lengan Jonathan, " Joo, apa kau tidak akan apa-apa jika masuk kamar ini?" tanyanya
"Tinggalkan aku sendiri!" pinta Jonathan
Zidan menghembuskan nafas, sebelum mengucapkan sesuatu "Jangan melakukan hal bodoh Joo, ingatlah Adinda jika kau mulai merasa gelisah, ingatlah kau begitu mencintainya dan Adinda pun mencintaimu"
ucap Zidan sebelum melepaskan pegangan tangannya pada lengan Jonathan,
Jonathan hanya terdiam, ia menghembuskan nafas mencoba menenangkan diri dan masuk ke kamar itu, lalu ia menutup pintunya,
Zidan masih menunggu di luar kamar, ia berjaga-jaga takut terjadi sesuatu pada Jonathan, ingin sekali ia menghubungi Jenita untuk datang tapi ia tidak enak karena Jenita sedang bulan madu,
********
Di rumah sakit, mata cantik milik seseorang yang sedang terbaring di tempat tidur mulai mengerjap perlahan-lahan hingga akhirnya terbuka sempurna, langit-langit ruangan itulah hal pertama yang dilihat mata cantik itu, ia terlihat bingung, dimana ia sedang berada pikirnya, hingga sebuah suara menyadarkannya "Adinda, kamu sudah sadar?"
"Kamu dirumah sakit sayang" jawab Natasya
"Rumah sakit?" Adinda sedikit bingung, ia berfikir mencoba mengingat apa yang terjadi padanya sebelumnya, "Jonathan....., dimana Jonathan kak?" tanyanya setelah mengingat apa yang terjadi
Natasya menghembuskan nafasnya yang terasa berat, dalam kondisi seperti ini pun Adinda masih memikirkan Jonathan pikirnya,
"Kau tidak usah mengkhawatirkan Joo, lebih baik kau istirahat agar luka mu cepat pulih"
Adinda hanya mengangguk mendengar ucapan Natasya, tapi hati dan pikirannya merasa tidak nyaman ia ingin tahu bagaimana keadaan Jonathan.
*********
Di dalam kamar itu Jonathan masih terduduk di balik pintu, pandangannya menyusuri seluruh ruangan itu, banyak kenangan bersama Jimmy yang tersimpan di kamar ini,
__ADS_1
Flashback on
"Jimmy, permainan ini sudah mengerikan, aku sudah tidak mau main lagi" Jonathan meletakan tubuh kelinci yang sudah terpotong-potong menjadi beberapa bagian, ia dan Jimmy sedang ada dikamar mereka bermain dengan kelinci yang tadinya masih bergerak bebas kini menjadi kaku tak bernyawa akibat pisau tajam milik sang kakak yang sudah lebih dulu mengoyak tepat di jantung kelinci kecil itu,
"Ayolah Joo... kau jangan jadi penakut seperti itu, aku hanya ingin tahu bagaimana bentuk jantung kelinci ini, apa bentukannya sama dengan jantung manusia yang ada di buku sains"
"Tapi mommy akan takut dan sedih jika kita main-main seperti ini lagi, lagi pula aku merasa kasihan dengan kelinci itu" Jonathan berusaha untuk jujur pada Jimmy
Jimmy mendengus kesal, ia tidak suka jika saudara kembarnya itu membawa-bawa ibu mereka " mommy mu itu mommy ku juga, jadi kau jangan bersikap seperti aku tidak tau mengenai mommy!"
Jimmy masih memainkan pisau kecil tajam sejenis cutter itu, tangannya mulai mencongkel mata hitam milik kelinci itu, "ukurannya seperti bola kelereng tapi lebih besar, em... kira-kira ini seukuran apa ya Joo?" Jimmy bertanya pada Jonathan sambil memperlihatkan mata kelinci yang sudah ada di tangannya
"Em... mungkin seperti boklam lampu yang ada di pohon natal" jawab Jonathan pelan, ia merasa sedikit jijik dan takut melihat itu,
Jonathan terkadang benci pada dirinya sendiri karena tidak bisa lepas dari Jimmy yang sangat dominan padanya, maklum meski Jimmy sering bertindak diluar akal sehat tapi ia sosok kakak yang baik bagi Jonathan, bukan hanya sekali dua kali Jimmy selalu melindungi Jonathan dari gangguan teman-teman mereka, bahkan Jimmy pun rela di hukum oleh guru dan ayah mereka hanya untuk melindungi Jonathan,
"Apa si Ben itu masih menganggu mu Joo?" tanya Jimmy tanpa menengok pada Adiknya,
Jonathan menggeleng "Sejak kau memukulinya sampai ia harus di bawa kerumah sakit ia tidak berani menganggu ku lagi, Jim"
Jimmy tersenyum, ia melihat ke arah sang adik "bagus, jika ia berani mengganggu mu lagi katakan saja padaku, aku sudah tidak sabar ingin mencoba setajam apa pisau ini jika digunakan pada kulit manusia" sahut Jimmy dengan ketenangan yang berlebihan
Sementara Jonathan hanya menelan ludah, ia merasa ngeri dengan kakaknya yang semakin hari tingkah anehnya semakin menjadi
Flashback off
Mata Jonathan memerah dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya setelah ia mengenang tentang Jimmy,
"Jim pergilah Jim...! aku tidak ingin seperti ini lagi! tolong tinggalkan aku! aku tidak mau menjadi moster seperti mu!" gumam Jonathan.
Batinnya Jonathan begitu tersiksa, ia sangat menyayangi Jimmy, bahkan sampai sekarang pun bayangan Jimmy masih ada dalam dirinya, tapi ia juga tidak mau menjadi penyebab orang yang dicintainya menderita, setelah melihat Adinda terluka karena dirinya, ia menjadi takut, takut jikalau tiba-tiba bayangan Jimmy merasukinya dan menyakiti Adinda lagi, Jonathan meringkuk di lantai dengan air mata yang terus mengalir,
Jika ia tidak bisa lepas dari Jimmy, haruskah ia meninggalkan Adinda demi kebaikannya pikiran bodoh itu yang sedari tadi menggelayuti nya.
__ADS_1
To be continue...