
Passion of Soul
Hal 24
Pria dengan setelan jas yang duduk tidak jauh dari Jonathan terus saja memperhatikan Adinda, sesekali ia melirik ke arah Jonathan, dilihatnya Jonathan yang tidak pernah mengalihkan pandangannya pada Adinda,
"Apakah gadis itu berarti untuk mu Joo?" gumam pria itu, hingga sebuah tepukan di pundaknya mengalihkan pandangannya dari Adinda,
"Ricky! Kenapa kau hanya duduk diam disini?"
ucap seseorang yang baru saja menepuk pundak Ricky Fernando, Pria blesteran Jerman-Indo namun lebih dominan ke Jerman dengan mata berwarna biru dan rambut pirangnya, pria yang saat itu berpapasan dengan Jonathan dan Adinda di depan pintu utama Kediaman keluarga William,
"Ayah?, ada apa yah?" ucap Ricky pada orang yang sedang berbicara padanya,
"Tuan William mencari mu sedari tadi, kau sebagai asisten barunya harusnya terus berada di dekat nya" ucap ayah Ricky,
"Iya ayah aku akan segera menemui beliau" Ricky pun berlalu dari sana, ia segera menemui tuan William,
Ricky Fernando adalan anak dari Franz Fernando orang kepercayaan tuan William, karena Franz Fernando sudah cukup tua untuk terus melayani Tuannya, ia akhirnya merekomendasikan putranya untuk menggantikannya, Ricky Fernando seumuran dengan Jonathan, ia dulu bahkan satu sekolah dengan Jonathan dan Jimmy, karena Ricky anak dari orang kepercayaan tuan William dan ia juga termasuk anak yang cukup cerdas akhirnya ia dipercaya menggantikan ayahnya menjadi asisten tuan William.
********
Jonathan kini bisa duduk tenang di samping Adinda sambil menggenggam tangan kekasihnya itu, ia bisa bebas karena kakaknya sedang sibuk berfoto-foto dengan kedua pengantin beserta keluarga kecilnya.
"Berhentilah menatapku seperti itu Joo, banyak orang disini" ucap Adinda saat melihat Jonathan yang terus menatapnya tanpa henti,
"whatever, mata ini milik ku , yang ku pandang pun milikku, apa urusannya dengan orang lain" ucap Jonathan yang tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya,
Adinda hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya, sebenarnya ia risih tapi ia juga merasa bahagia karena kekasihnya terlihat begitu mencintainya, "apa kau sudah makan?"
"Belum, aku ingin memakan mu" Jawab Jonathan tanpa sadar, spontan membuat Adinda menatapnya bingung "apa?"
"Eh, maksudnya aku ingin makan dengan mu" Jonathan meluruskan perkataannya,
__ADS_1
Adinda tersenyum ia mengajak Jonathan ke meja prasmanan untuk mengambil makanan, tapi saat hendak bangkit dari kursi, Natasya memanggil Jonathan dan Adinda untuk berfoto, "Hey, kalian kesini!"
Adinda melihat satu keluarga besar termasuk ayah Jonathan dan paman Sean hendak mengambil foto keluarga, Jonathan mengandeng tangan Adinda untuk ikut berfoto, tapi karena ada ayahnya Jonathan, Adinda merasa sedikit canggung kalau harus ikut berfoto apa lagi ia belum resmi menjadi bagian dari keluarga William meskipun Jonathan sudah melamarnya, tapi tetap saja ia merasa belum pantas untuk berfoto keluarga, "Kau saja, aku akan tunggu disini" ucap Adinda
"Kenapa? Ayolah aku ingin berfoto bersama mu" ucap Jonathan
"Tapi Joo, aku sudah lapar sekali, kau berfotolah aku akan mengambil makanan" ucap Adinda beralasan sambil mendorong tubuh Jonathan untuk maju ke depan,
"Aku akan mengambilkan makanan mu sekalian" ucap Adinda sambil berlalu menuju meja prasmanan,
Jonathan yang melihat Adinda sudah berlalu kearah meja prasmanan pun hanya mendengus kesal "Perutmu lebih penting dari pada berfoto dengan ku!" celoteh Jonathan merajuk seperti anak kecil,
Ia lalu menghampiri keluarganya untuk ikut berfoto bersama, tuan William yang melihat perubahan sikap Jonathan sedikit tersenyum, hal yang langka melihat Jonathan mau berkumpul ataupun berfoto bersama keluarganya, apa lagi jika ada ayahnya, biasanya Jonathan akan langsung menghindar.
Adinda sedang fokus memilah-milah makanan di meja prasmanan sambil membawa piring ditangannya , tiba-tiba ada
seseorang menyenggolnya dan membuat makanan sedikit tumpah ke gaun yang ia gunakan, "Maaf, aku tidak sengaja nona" ucap orang itu yang tidak lain adalah Ricky,
"Oh, Tidak apa-apa " jawab Adinda tanpa melihat orang yang menyenggolnya ia hanya fokus membersihkan gaunnya dengan tissue yang tersedia di atas meja prasmanan,
Adinda langsung menengok ke arah pria itu, ia sedang berfikir dimana ia bertemu dengannya hingga sebuah ingatan terlintas di pikirannya "Anda... yang waktu itu di depan rumah Jonathan?" tanya Adinda memastikan
"Iya, benar sekali nona, perkenalkan nama saya Ricky, saya asisten tuan William, waktu itu saya kerumah tuan William karena hendak mengambil berkas yang tertinggal" Ricky mengulurkan tangannya
"Adinda" jawab Adinda singkat sambil menjabat uluran tangan Ricky,
Ricky melihat cincin yang melingkar di jari manis Adinda, dapat menebak bahwa cincin itu Adalah pemberian dari Jonathan, senyum tergambar di wajah Ricky tapi bukan senyum bahagia, melainkan senyum ketidak sukaannya melihat cincin itu.
"Maaf, saya harus mengambil makanan dan kembali ke meja" ucap Adinda membuayarkan pikiran Ricky,
"Apa Anda akan mengambilkan untuk Jonathan juga?, boleh saya bantu?" tanya Ricky melihat Adinda mengambil nampan dan meletakan dua piring di atasnya
"Tidak, tidak perlu terimakasih" Adinda menolaknya dengan sopan
__ADS_1
"Tidak apa-apa nona, saya hanya ingin membantu , saya akan bawakan nampannya, nona bisa memilih makanya nya" ucap Ricky mencoba mengambil nampan yang ada di tangan Adinda,
"Tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan" ucap Adinda, ia lalu melanjutkan mengambil makanan setelah selesai ia kembali menuju ke mejanya "Maaf saya permisi dulu" Adinda berpamitan dengan Ricky
Ricky hanya tersenyum getir melihat Gadisnya Jonathan yang Enggan menerima bantuannya.
Adinda duduk di mejanya tadi, ia melihat Jonathan yang di paksa tersenyum oleh Natasya dan Jenita saat mengambil foto mereka bertiga, "eihh, bagaiman ada orang sekaku itu saat berfoto" gumam Adinda ia tersenyum menatap Jonathan, Jonathan yang melihat Adinda tersenyum kepadanya ikut tersenyum dan "cekrek" foto Jonathan yang tersenyum pun berhasil di abadikan oleh sang fotografer.
Selesai dengan itu semua, Jonathan segera menghampiri Adinda, "Ahh... dasar penyihir Berlin, selalu senang menyiksaku" keluh Jonathan sambil merebahkan tubuhnya di sandaran kursi,
"Kau Kenapa?, apa selelah itukah berfoto?" tanya Adinda
"Bukan berfotonya yang melelahkan tapi Syasa yang membuat ku lelah" sanggah Jonathan
Adinda tertawa mendengar ucapan Jonathan, "Kak Syasa itu sangat menyayangi mu Joo, aku bisa melihat itu" ucap Adinda
"Aku tau" ucapnya
"Lalu kenapa kau bertingkah seperti itu pada kak Syasa" tanya Adinda lagi
"Jika aku bertingkah menjadi adik yang baik, aku takut dia tidak akan memperhatikan ku lagi" celoteh Jonathan
Sungguh jawaban yang membuat hati Adinda terenyuh, Jonathan terlihat seperti pria dewasa yang mandiri dan kuat, tapi ternyata hatinya begitu rapuh, ia mencoba mencari perhatian dari orang-orang terdekatnya, kenyataan bahwa Jonathan mengatakan apa yang ia rasakan pada Adinda tanpa beban sedikit pun membuat Adinda bahagia, ia merasa Jonathan benar-benar mempercayainya, Jonathan benar-benar membutuhkannya, dan Jonathan benar-benar mencintainya, Adinda pun berjanji pada dirinya sendiri akan selalu berada disisi Jonathan dan akan selalu mencintainya.
To be continue...
Mencintai bukanlah hanya sekedar sebuah perasaan...
Tapi juga sebuah komitmen...
Dan juga sebuah janji...
Karena perasaan saja tidak cukup kuat untuk menunjukan cintanya,
__ADS_1
Tanpa Adanya komitmen dan janji...