
Passion of Soul
Ku buang hati agar tak tersakiti
Ku hapus rasa agar tak ada lara dan luka
ku semai hati kecil ku
Bukan untuk yang lalu tapi untuk yang baru
Hal 30
Adinda memutuskan untuk tinggal di villa itu dengan Jonathan, ada beberapa pelayan juga yang mengurus keperluan Adinda dan Jonathan selama di sana,
Natasya kembali ke Berlin, karena ia tidak bisa meninggalkan suami dan anaknya mengurus Jonathan, meski ia sangat menyayangi adiknya tapi ia pun harus memperhatikan putri sematawayangnya,
Sedangkan Jenita juga kembali ke Berlin setelah Adinda memaksanya, Adinda meyakinkan Jenita bahwa ia dan Jonathan akan baik-baik saja, dan jika ada sesuatu yang terjadi Adinda pasti akan langsung menghubungi Jenita,
Jenita pun menuruti permintaan Adinda, ia juga tidak mungkin terus-menerus tinggal di villa itu dan meninggalkan suaminya sendirian padahal mereka berdua adalah pengantin baru.
Setelah mengantar kepergian Jenita dan Natasya, Adinda masuk ke dalam villa, ia menuju ke kamar Jonathan, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum membuka pintu kamar Jonathan,
"ceklek" suara pintu di buka, dilihatnya Jonathan masih sibuk dengan mainannya tadi,
"Hai Joo..." sapa Adinda pelan, merasa namanya di sebut Jonathan pun langsung menengok, ia melihat gadis cantik dengan mata yang indah tengah tersenyum sambil menatapnya, tapi ia tak memperdulikannya, ia kembali fokus pada tubuh kucing yang sudah ia koyak-koyak itu,
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya lagi dengan nada yang sangat lembut
Jonathan tetap tak menjawab
Adinda duduk di samping Jonathan, meski ia merasa agak jijik melihat tubuh kucing yang di koyak oleh Jonathan, ia tetap berada di sana cukup lama memperhatikan wajah Jonathan hingga akhirnya Jonathan angkat suara,
"Jimmy bilang, ia ingin melihat ukuran jantung kucing ini" ucapnya dengan wajah yang sangat datar, ia mengucapkannya tanpa menengok ke Adinda,
"Apa Jimmy suka melakukan ini?" tanya Adinda lagi
"Emm" Jawabnya singkat
"Kalau kau?, apa kau suka melakukan ini?" Adinda bertanya wajahnya sedikit menyelidik ekspresi Jonathan saat mengatakannya,
Jonathan terdiam, ia terlihat sedikit berfikir,
"Tidak.... tapi aku harus melakukannya agar Jim tidak marah" ucapnya dengan nada polos
__ADS_1
"Memang apa yang di lakukan Jimmy jika ia marah?" tanya Adinda lagi
"Dia akan menyakiti orang-orang di sekitar ku" Jawab Jonathan, wajahnya murung saat mengatakan itu,
Adinda hanya ber oh ria menanggapi ucapan Jonathan barusan,
Jonathan lalu menghentikan aktivitasnya, ia menengok kearah Adinda, dilihatnya Adinda masih tersenyum memperhatikannya,
"Kau siapa?, kenapa kau bertanya terus padaku?"
"Aku?" tanya Adinda memastikan
"Iya, siapa lagi?" ucap Jonathan
"Aku Adinda"
Ekspresi wajah Jonathan sedikit berubah, ia seperti tidak asing dengan nama itu, "mau apa kau kesini?" tanyanya pada Adinda,
"Aku ingin berteman dengan mu" ucap Adinda sambil mengulurkan tangannya,
"Aku tidak berteman dengan wanita" ucap Jonathan sambil pergi meninggalkan Adinda sendiri,
Adinda tersenyum mendengar jawaban Jonathan, "kau Jonathan, kau masih sama dengan Jonathan yang ku kenal" gumamnya, ia lalu bangkit mengikuti Jonathan,
"kenapa kau tidak mau berteman dengan ku?" tanya Adinda yang baru saja tiba di dapur,
Jonathan diam sebentar, ia seperti memikirkan sesuatu yang pelik, "Bukan urusan mu, dan menjauhlah dari ku" ia lalu pergi ke arah balkon belakang, duduk di kursi yang ada di balkon, memandang hamparan kebun anggur yang sangat luas dengan tatapan kosongnya,
Adinda masih terus mengikutinya, ia duduk di kursi satunya yang berjarak dua meter dari kursi yang diduduki Jonathan, Adinda diam ia tidak mengatakan apa pun, ia memberi waktu dan ruang untuk Jonathan,
satu jam,
dua jam,
Adinda dan Jonathan masih duduk diam di tempat itu hingga suara perut Adinda membuyarkan lamunan Jonathan, ia menengok kearah Adinda,
Adinda hanya nyengir menunjukan giginya yang putih rapi sambil memegangi perutnya, "aku lapar, apa kau juga lapar?" tanya Adinda
"Emm"
"Apa ada yang sesuatu yang ingin kau makan? aku akan membuatkannya untuk mu" ucap Adinda
"Stollen, aku ingin makan stollen bread" ucap Jonathan
__ADS_1
Stollen bread adalah roti kesukaan Jonathan, saat di Dresden Jonathan pernah mengajak Adinda makan roti itu, Adinda sedikit bingung, ia pernah mencari resepnya di google tapi belum sempat praktek membuat roti itu,
"Emm... baiklah akan aku coba buatkan"
Jonathan tersenyum senang mendengar jawaban Adinda, senyumnya seperti anak-anak yang bahagia mendapatkan apa yang ia inginkan,
"Kau tunggu di sini, aku akan coba buatkan stollen untuk mu" ucap Adinda sambil bangkit meninggalkan Jonathan menuju ke dapur,
Sesampai di dapur ia membuka ponselnya, mencari resep stollen bread, saat Adinda sedang berkutat di dapur tiba-tiba seseorang menyapanya, " Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya seorang wanita paruh baya, wajahnya asli indo dengan pakaian pelayan, ia baru saja selesai membersihkan kamar Jonathan,
"Em... aku ingin membuat stollen, apa kau bisa membantu ku membuatnya" tanya Adinda, pikirnya lebih baik ia meminta bantuan agar hasilnya lebih baik,
"Tunggu sebentar nona, aku akan panggilkan koki rumah ini, dia orang Jerman asli pasti dia pandai membuat roti khas Jerman" ucap pelayan tadi sambil berlalu meninggalkan Adinda,
Akhirnya koki Jerman itu mengajarkan Adinda cara membuat stollen dan dengan bantuan pelayan tadi yang menterjemahkan ucapan koki itu kepada Adinda, maklum karena koki itu menggunakan bahasa Jerman sedangkan Adinda tidak bisa bahasa Jerman, hanya 'aku cinta kamu' dalam bahasa Jerman saja yang ia tahu,
Setelah rotinya matang, Adinda memanggil Jonathan untuk makan di meja makan,
"Joo, aku sudah buatkan rotinya, ayo kita makan" ucap Adinda ceria sambil menggandeng tangan Jonathan menuju ruang makan,
Jonathan hanya menurut, ia mengikuti Adinda ke meja makan, matanya berbinar saat melihat stollen bread di atas meja makan, ia pun langsung mengambilnya sepotong dan memakannya,
"Apa rasanya enak?" tanya Adinda,
Jonathan mengangguk, ia tidak menjawab karena mulutnya sedang mengunyah,
"Apa kau mau lagi?" tanya Adinda lagi dan dijawab dengan anggukan kepala Jonatan,
Adinda tersenyum, ia senang melihat Jonathan makan dengan lahap roti buatannya.
*******
Malam tiba, dan hujan mengguyur villa mewah tempat Jonathan dan Adinda tinggal, Adinda sedari tadi duduk di tepi ranjang milik Jonathan, ia sengaja menunggui Jonathan yang sedang tertidur karena malam ini hujan tiba-tiba turun, ia khawatir Jonathan akan mendapat mimpi buruk lagi jadi tadi ia mengendap-endap masuk kamar Jonathan dan duduk di tepi ranjang Jonathan, di pandanginya wajah tenang Jonathan saat ia tidur, bagaimana wajah setampan dan setenang ini bisa memiliki trauma yang begitu besar pikir Adinda,
Tak lama kemudian Suara guntur menggelegar, seperti dugaan Adinda wajah tenang Jonathan berubah menjadi risau, keringat dingin terlihat di dahi Jonathan, bibirnya menguman dalam tidurnya, melihat itu Adinda langsung mengenggam tangan Jonathan dan mengelus lembut kepala Jonathan,
Jonathan terus merancu dalam tidurnya
"Tidak Jim, bukan, bukan, aku bukan pembunuh, Jim... Jim... Jimmy...!!" dan seketika Jonathan terbangun, ia terduduk dengan nafas yang tersengal dan tangan yang gemetar, dilihatnya ada yang mengenggam tangannya kuat, ia pun menoleh melihat siapa pemilik tangan itu,
"Kau baik-baik saja?" tanya wanita yang sedang duduk disampingnya dengan tatapan Khawatir, Jonathan hanya diam, matanya nanar memandang Adinda, air matanya lolos begitu saja, dan sedetik kemudian ia berteriak,
"Pergi!!!!!"
__ADS_1
To be continue...