
Passion of soul
Aku mencintaimu
Bukan karena apa yang kau miliki,
Tetapi karena apa yang ku rasa..
Hal 18
Adinda mengurai pelukan Jonathan, lalu menagkup wajah Jonathan dengan kedua tangannya. Ia begitu terluka melihat keadaan Jonathan yang seperti ini,
"Maaf, maaf kan aku..." Ucap Adinda lembut
Mendengar kata maaf dari Adinda membuat mata Jonathan berkabut karena Air mata yang sudah ada di pelupuk matanya, "berjanjilah, kau tidak akan pernah meninggalkan ku!" permohonan Jonathan yang lebih terdengar seperti perintah,
"Emm, aku berjanji, aku akan selalu bersama mu dan tidak akan meninggalkanmu" ucap Adinda tulus dari dalam lubuk hatinya,
Adinda lalu mendekatkan wajahnya pada Jonathan mengecup bibir Jonathan, kecupan yang singkat namun mampu membuat jantung Jonathan berdetak dengan kencangnya, perasaan bahagia menggelayuti hatinya, bagaiman tidak ini adalah kali pertama Adinda mengambil inisiatif untuk mencium Jonathan lebih dulu, tidak ingin kehilangan apa yang ia rasakan, Jonathan pun balas mencium bibir manis milik Adinda, ia menciumnya dengan sangat lembut dan ruangan itu pun menjadi saksi bisu dua insan yang saling mencintai tengah berciuman mesra.
Matahari sudah mulai terbenam, semburat awan berwarna jingga terlihat begitu indahnya menghiasai langit sore ini. Adinda memutuskan untuk membawa Jonathan pulang ke rumah sore ini, ia ingin merawat Jonathan di rumah karena menurutnya suasana rumah akan lebih baik untuk psikisnya Jonathan ketimbang terus berada di rumah sakit. Setelah mendapatkan izin dari Jenita mereka akhirnya pulang.
Zidan yang menjemput mereka dari rumah sakit, dan mengantarkan mereka pulang,
__ADS_1
"Cepatlah sehat Joo, aku lelah jika harus terus mengambil alih tugas mu di perusahaan" ocehan Zidan saat sedang mengemudikan mobilnya sambil melirik Jonathan dan Adinda yang duduk di kursi belakang lewat spion mobilnya,
"Kau lelah mengurus perusahaan, tapi masih sempat bermain-main dengan wanita!" ucap Jonathan asal hanya ingin menggoda sahabatnya itu,
"Hey!! kau pikir siapa yang selama ini menemani mu di rumah sakit jika malam!!" seloroh Zidan tidak terima dengan tuduhan sahabatnya itu, " aku tidak mau tau, cepatlah sembuh!, dan uruslah perusahaan mu, aku sudah rindu ingin bermain dengan wanita-wanita ku" lanjut Zidan
"Ehemm!" suara daheman Adinda yang merasa tidak nyaman dengan kalimat akhir Zidan,
Jonathan yang melihat ekspresi tidak senang di wajah Adinda hanya mengulum senyum, ia lalu menyenderkan kepalanya di bahu Adinda, "Apa ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Jonathan
Adinda terdiam sebentar, "apa kalian biasa bermain dengan para wanita-wanita?" tanya Adinda tanpa ada rasa canggung. ya, Adinda memang tipe orang yang suka terang-terangan, itulah salah satu dari sekian banyak pesonanya
"Jawablah Zidan! Adinda sedang bertanya pada mu!" ucap Jonathan tanpa dosa
"Hahahaha! sepertinya berada di rumah sakit membuat kecerdasan mu berkurang, kau tidak paham kalau pertanyaan Adinda lebih ditujukan padamu!" ucap Zidan mengejek Jonathan
"Apa??! kau sudah gila!" jawab Zidan
"Iya!!"
Dan bla.. bla.. bla.. pertengkaran tak bermakna antara dua sahabat pun terus berlangsung, Adinda hanya menghela nafas lelah mendengar dua sahabat itu saling beradu argument.
******
__ADS_1
Waktu begitu cepat berlalu, sudah 1 bulan sejak Jonathan Kemabli dari rumah sakit, Adinda begitu sabar meghadapi sikap Jonathan, ia menjadi lebih teliti dengan ekspresi dan emosi yang di tunjukan oleh Jonathan.
Jonathan pun sedikit menunjukan perubahan akan sikapnya, ia menjadi lebih pengertian, dan jarang sekali marah, hanya saja sikap pemaksa nya yang sedikit pun belum berubah. ia juga masih sering bermimpi saat hujan deras diiringi suara Guntur, beberapa kali Adinda mengajaknya membahas masalah mimpinya tapi setiap Adinda membahasnya raut wajahnya langsung berubah dingin dan tatapannya kosong, "baiklah jika kau belum ingin bercerita, aku akan menunggumu sampai kau siap untuk menceritakan semuanya" ucap Adinda yang sedang duduk di sofa ruang tengah, ia meraih tangan Jonathan yang duduk disampingnya, mengenggam hangat tangan kekar itu,
Jonathan tidak berkata apa-apa, ia hanya menatap mata Adinda, tatapan Adinda yang selalu membuat Jonathan merasa tenang,
"Kemarilah" ucap Adinda sambil menepuk pahanya, ia menyuruh Jonathan tidur di pangkuannya, Jonathan hanya menurut, ia pun membaringkan tubuhnya di sofa dan meletakan kepalanya di pangkuan Adinda, sesaat setelah Adinda membelai rambutnya, Jonathan bergumam, "aku bukan pembunuh" gumaman nya begitu lirih, tapi Adinda masih bisa mendengarnya, ia tak mempertanyakan ucapan Jonathan, ia tahu Jonathan masih belum siap menceritakannya, lalu Adinda menepuk lembut punggung Jonathan memberi dukungan dari setiap sentuhannya. Begitulah malam yang mereka lewati setiap hujan deras mengguyur rumah mewah itu.
Pagi ini cuaca terlihat cerah, sepertinya tadi malam angin sudah merasa puas menghempaskan awan-awan mendung menjadi hujan deras, hanya tersisa tetesan-tetesan air dari ranting dan dedaunan yang menjadi korban hantaman hujan deras semalam. Di sebuah kamar mewah nan luas itu terlihat Adinda yang tengah sibuk di depan lemari baju, ada sebuah koper besar terbuka di samping kakinya, ia sedang memilah-milah pakaian yang akan ia masukkan kedalam koper, "Kenapa kita berangkat malam ini Joo? bukankah acaranya masih lima hari lagi? dan berapa lama kita di sana?" tanyanya pada laki-laki yang tengah duduk di tempat tidurnya , mata dan tangannya terlihat fokus pada iPad yang ia pegang , hingga ia tak mendengar ucapan Adinda
Adinda yang tak mendengar tanggapan dari Jonathan pun langsung menengok ke arah laki-laki itu, "sepertinya benda itu lebih menarik dari pada aku?" ucap Adinda pura-pura merajuk
Jonathan yang mendengar ucapan Adinda langsung melempar iPad nya di tempat tidur dan segera menghampiri Adinda " Kenapa kau bicara seperti itu?" ia mengelus pipi Adinda, " benda seperti itu bahkan tidak bisa di bandingkan dengan kuku di jari mu" ucapnya lagi.
Pipi Adinda merona mendengar kalimat Jonathan, "Jadi berapa lama kita di Jerman?" Adinda mengulangi salah satu pertanyaan nya
"emm... sekitar satu Minggu kita di sana" jawab Jonathan
"Kenapa lama sekali, bukankan kita hanya akan menghadiri pernikahan Miss Jen?"
"Iya , tapi aku ada beberapa urusan lain sebelumnya , jadi kita akan berangkat lebih awal"
Malam ini Jonathan dan Adinda akan terbang ke Jerman untuk menghadiri acara pernikahan Jenita dengan pria pilihan paman Sean, dengan kata lain mereka menikah karena perjodohan yang di atur ayahnya Jenita, Meski acara pernikahannya di adakan lima hari lagi tapi Jonathan mengajak Adinda untuk berangkat hari ini karena ada urusan lain di sana sebelum acara pernikahan Jenita.
__ADS_1
Next, welcome to Jerman!!!
To be continue....