Passion Of Soul

Passion Of Soul
Menantu Idaman?


__ADS_3

Passion of Soul


Hal 37


"Sirius?!" ucap Adinda menyebut nama bintang paling terang itu. Sungguh Adinda terkejut hingga ia salah berucap.


"Serius sayang, bukan Sirius!" ucap Jonathan sambil mengacak rambut Adinda. Hasratnya sedikit meredup karena menahan tawa melihat ekspresi terkejut Adinda.


"Eh.. iya itu maksudku!" ucap Adinda kikuk.


"Kenapa? apa kau tidak ingin menikah dengan ku?" tanya Jonathan dengan nada serius. Padahal ia hanya ingin menggoda Adinda.


Adinda menghela nafas. "Bukan begitu, kau bahkan belum melamar ku di...." ucap Adinda terpotong karena Jonathan langsung menyelanya.


"Bukankah waktu itu aku sudah melamarmu di atas kapal? apa kau lupa nona?!" tanya Jonathan.


"Hei tuan! apa kau lupa aku masih punya ibu, kau harus minta restunya! kau harus melamar ku di depan ibu ku" ucap Adinda geram.


"Begitukah?" tanya Jonathan bingung. "Ini pertama kalinya bagi ku, jadi aku tidak tau apa yang harus aku ucapkan dan lakukan di depan orang tua wanita yang aku cintai"


"Kenapa tidak kau tanya internet saja. Bagaiman cara melamar yang baik dan benar dihadapan orang tua wanita yang dicintai" ucap Adinda asal.


"Kau benar, akan ku coba mencarinya" ucap Jonathan sambil mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan mengetikan ucapan Adinda tadi.


Sontak Adinda tertawa terbahak-bahak. "Ya Tuhan Joo... benarkah kau si jenius Jonathan yang aku kenal?" ucap Adinda di sela tawanya. Tidak menyangka Jonathan akan menanggapi saran konyol darinya.


"Ish.. Kau mengejek ku?! tanya Jonathan geram melihat Adinda yang menertawakannya. Sedang Adinda tidak menjawab karena terus menertawakan Jonathan.


Jonathan menaruh ponselnya di meja. Mendekati Adinda dan langsung menggelitik pinggang Adinda. membuat Adinda geli dan tawanya semakin menjadi. "Ampun Joo!" ucap Adinda di sela tawanya.


"Jangan harap" ucap Jonathan dengan tawa puas sambil terus mengelitik tubuh Adinda.


Dan akhirnya kegiatan saling mengelitik itu pun terus berlangsung. Memecah keheningan malam yang mengcegkram.



__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Adinda yang melihat Jonathan terus saja merenggangkan otot-otot tubuhnya sambil berjalan menuju villa pagi ini.


"Tubuh ku sedikit pegal. mungkin karena semalaman aku tidur dengan posisi duduk" Jawab Jonathan. Ia lalu meraih jemari Adinda mengandengnya berjalan menuju Villa.


Benar saja. Tadi malam mereka tidur di paviliun. Adinda tidur berbaring di sofa dengan kepalanya yang berada di pangkuan Jonathan sedang Jonathan tidur dengan posisi duduk sambil bersender di sofa.


"Udara pagi di sini sangat segar" ucap Adinda sambil menghirup udara dalam-dalam.


"Apa kau suka tinggal di sini?" tanya Jonathan sambil terus berjalan, tanpa mengalihkan pandangannya pada Adinda.


"Aku suka" jawab Adinda


"Apa kau ingin tinggal di sini lebih lama?" tanya Jonathan lagi.


Adinda menggeleng. "Aku harus masuk kuliah lagi. izin cuti ku segera berakhir"


"Baguslah kalau begitu. Aku juga harus secepatnya kembali ke Indonesia. Aku ingin segera menemui ibumu dan menikahi mu" ucap Jonathan dengan senyum mengembang diwajahnya. Adinda pun ikut tersenyum melihat senyuman Jonathan. Ia sepertinya merasa sudah siap menikah dengan Jonathan. Tidak ada sedikitpun keraguan yang ada dalam hati Adinda saat Jonathan membahas pernikahan mereka.


"Apa ada sesuatu yang di sukai ibu? atau apa kah ada kriteria menantu idaman ibu? tanya Jonathan serius pada Adinda.


"Emmm...." Adinda berfikir sejenak mengingat-ingat apa yang menjadi kesukaan Ibunya. ia lalu menatap wajah Jonathan "ibu pasti akan menyukaimu" ucapnya mantap.


Adinda tertawa mendengar ucapan Jonathan. "Serius sayang bukan Sirius" ucap Adinda di sela tawanya. "aku yakin, ibu pasti akan sangat menyukaimu"


"Kenapa?" tanya Jonathan yang masih kurang yakin.


"Karena kau tampan" canda Adinda. Sontak membuat Jonathan tertawa terbahak-bahak. Sambil berjalan bergandengan mereka terus membahas hal-hal yang membuat keduanya tertawa lepas tanpa ada beban sedikit pun yang terpendam.


Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan villa. Jonathan berhenti dan membalikan tubuhnya menghadap Adinda, perlahan memeluk tubuh Adinda dengan sangat erat.


"Terimakasih... karena sudah memilih berada di sisiku" ucap Jonathan dengan suara yang sangat lembut.


Adinda tersenyum mendengarnya, ia membalas pelukan Jonathan sama eratnya.


"Aku lapar, sebelum perut ku mengeluarkan suara aneh dan mengganggu momen romantis kita. Sebaiknya kita masuk lalu sarapan" ucap Adinda sedikit merajuk. Dan sekali lagi mengundang gelak tawa dari Jonathan. Akhirnya mereka memutuskan masuk ke dalam villa.


__ADS_1



"Bagaiman kabarmu?" ucap Jonathan yang kini sedang bicara pada seseorang di telpon. Sesaat setelah menyelesaikan sarapannya.


"Ya Tuhan Joo! apa kau sudah ingat padaku?!" ucap Zidan.


Ya, kini Jonathan sedang menghubungi satu-satunya sahabat dalam hidupnya.


"Sial kau Zidan! kau pikir aku amnesia?! sanggah Jonathan. yang mengundang gelak tawa Zidan di seberang telepon.


"Wah.. jika kau sudah bisa mengumpat, itu artinya kau sudah sembuh. Kapan kau pulang ke Indonesia? aku sangat merindukanmu kawan!"


"Sejak kapan kau pandai bicara menjijikkan seperti itu?!" canda Jonathan mendengar kata rindu dari sahabatnya itu.


"Sial kau Joo!"


"Hahahaha! nah lebih baik mendengar kau mengumpat dari pada mendengar kau bicara romantis!" ucap Jonathan di sela tawanya.


Adinda yang duduk di samping Jonathan, mendengar obrolan Jonathan dengan Zidan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Hari ini aku akan Kemabli ke Indonesia, jangan lupa menjemput ku di bandara!" perintah Jonathan.


"Baiklah tuan! Aku akan menjemputmu! karena aku sangat merindukanmu!" ucap Zidan lalu memutuskan sambungan telepon sepihak.


"Sial..." Umpatan Jonathan terputus karena Zidan sudah mematikan telpon nya.


"Berani sekali dia mematikan telpon dari ku" gumam Jonathan.


"Sepertinya kau sangat merindukannya" ejek Adinda.


"Hei, siapa yang merindukannya!" sanggah Jonathan.


"Buktinya kau marah, karena tidak bisa bicara lebih lama dengannya di telpon" ejek Adinda lagi.


"Ish.. kau ini! aku tidak merindukannya!"


"Iya.. iya tuan, kau tidak merindukannya. tapi mencintainya! Seru Adinda sambil menjulurkan lidahnya mengejek Jonathan dan beranjak meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"Hei!! mau kemana kau!" teriak Jonathan. ia pun mengejar Adinda ingin mengelitik tubuh Adinda. Dan dengan penuh gelak tawa Adinda pun menghindari kejaran Jonathan.


To be continue....


__ADS_2