Passion Of Soul

Passion Of Soul
Dia siapa??!


__ADS_3

passion of soul


Hal 5


Jonathan turun kelantai bawah menuju ruang makan, ia duduk di kursi yang biasa ia pakai untuk menyantap makanannya,


dengan dibantu bik Inah , adinda menghidangkan makanan di hadapan Jonathan, adinda hanya diam tanpa suara ia fokus melakukan tugasnya,


setelah selesai ia undur diri, tapi suara Jonathan menghentikan langkahnya,


"duduklah, tamani aku makan !" perintahnya,


"maaf, tapi saya sudah makan" ucap adinda beralasan karena iya benar-benar tidak ingin duduk satu meja dengan Jonathan,


"aku hanya menyuruhmu menemani , bukan ikut makan!" seloroh Jonathan ,


"hufftt" dengan menahan kekesalannya, adinda duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi tempat Jonathan duduk,


"bukan disitu, tapi disini!" ucap Jonathan sambil menepuk kursi di sebelahnya,


("kamu itu maunya apa sih, tadi pagi bikin ulah aja belum minta maaf, sekarang bikin aku kesel lagi", batin adinda)


adinda pun menuruti perintah Jonathan dan duduk disampingnya,


selama Jonathan makan, hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang digunakan Jonathan , Jonathan sibuk menghabiskan makanannya, adinda pun enggan untuk bicara, ia memalingkan wajahnya tidak mau menatap Jonathan yang sedang makan ,


setelah Jonathan selesai mengabiskan maknanya, ia mulai bicara,


"apa kau tidak punya mulut?" kenapa kau tidak bicara?" tanya Jonathan santai


"Anda juga dari tadi tidak bicara", jawab adinda cepat,


"apa kau tidak lihat, aku sedang menggunakan mulut ku untuk makan" ucap Jonathan tidak mau kalah,


"hufftt," adinda mendengus kesal ia sedang tidak ingin berdebat, ia pun memalingkan pandangannya enggan melihat Jonatan yang sedang menatapnya,


jonathan yang melihat itu, seketika ia memegang dagu adinda dengan tangannya, membuat wajah adinda menghadap ke arah Jonathan, " aku tidak suka kau memalingkan wajahmu saat aku sedang bicara!! " ucap Jonathan tegas,


adinda menepis tangan jonathan, ia pun bangkit dari kursinya, " maaf , saya di bayar hanya untuk memasak disini, bukan untuk anda perlakukan seperti ini!" ucap adinda


lalu ia membalikan tubuhnya hendak pergi dari tempat itu , tapi terlambat, tangan adinda sudah di cengkram oleh Jonathan,


" baik aku akan membayar mu, sebutkan berapa aku harus membayarmu?! , bukan untuk menemani ku makan, tapi untuk menemani ku tidur" ucap Jonatan dengan senyum di bibirnya, senyum mengejek pastinya,


adinda geram mendengar ucapan jonathan, ingin sekali rasanya ia menampar wajah laki-laki biadab di hadapannya, tapi ia tahan mengingat apa posisinya di rumah ini, kekerasan bukan jalan yang baik salah-salah ia yang akan mendapat kerugian karena menampar Jonathan,


"maaf, saya sama sekali tidak tertarik dengan tawaran anda, silahkan anda cari wanita lain yang mau manerima tawaran ada" ucap adinda dengan senyum yang di paksakan,


ucapan adinda memancing amarah Jonathan, pasalnya Jonathan adalah orang yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, tidak pernah ada satu wanita pun yang mampu menolaknya, "kau..!!," ucapan jonathan terpotong saat ada suara yang manggilnya,


"Joo..!!, apa yang sedang kau lakukan?" ucap wanita yang tidak lain adalah Natasya, kakak kandung Jonathan,


(hufftt,, akhirnya ada penyelamat datang, batin adinda, ia merasa lega)


adinda bukannya tidak takut terhadap Jonathan, ia takut, sangat takut malahan, benar saja ini baru pertama kalinya ia mengalami kejadian seperti ini, tapi ia berusaha untuk menutupi perasaan takutnya, ia tidak mau semakin di injak-injak nantinya, benar-benar, pelajaran tentang psikolog yg ia dapat di kampus, membantunya dalam hal ini.


"memang kau fikir apa? aku hanya bersenang-senang dengan wanita yang kau kirim kerumah ku" jawab Jonathan dengan santainya,

__ADS_1


"Joo!!" Natasya geram


"cukup!!, tidak perlu meneriaki ku, aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu"


Jonathan melepaskan cengkraman nya pada tangan adinda, lalu ia mengacak rambut adinda gemas, " kita lanjutkan lain kali nya" ucapnya seraya tersenyum manis,


Adinda terkejut, ia bingung dengan apa yang barusan Jonathan lakukan padanya , (apa yang dia lakukan???)batin adinda,


"kenapa kau suka sekali menggangu ku, sya?, apa kau tidak punya pekerjaan lain?!" tanya Jonathan yang kini sudah berada dihadapan Natasya,


" bisakah kau menambahkan kata 'kak' di depannya saat memanggil namaku?" seloroh Natasya yang tidak terima di panggil namanya saja oleh adiknya,


"baiklah, kalau sudah saatnya aku akan memanggil mu dengan benar , penyihir Berlin..." ucap Jonathan sambil berlalu meninggalkan adinda dan Natasya..


*penyihir Berlin adalah panggilan Jonathan kepada kakaknya jika ia sedang kesal padanya,


"JONATHAN!!!!" Natasya berteriak, tapi orang yang di teriaki nya tak menghiraukannya,


"aku belum selesai bicara , mau kemana kau?!" lanjutnya


"bersenang-senang!!!" jawabnya tanpa membalikan tubuhnya,


ia pun pergi dengan mobil sport kesayangannya.


"cih..! sulit sekali menghadapi bocah itu" gumam Natasya.


Natasya pun mengalihkan pandangannya kepada adinda,


dilihatnya Dinda sedang terdiam dengan tatapan kosongnya,


"Dinda, kamu tidak apa-apa?" tanyanya khawatir,


Natasya pun mendekati adinda,


"Dinda..." panggilnya lagi sambil menepuk bahu adinda,


" eh, iya kak?"


Dinda yang baru saja tersadar dari lamunan nya merasa kikuk,


"apa yang sedang kamu fikirkan ?" tanya nya lagi,


"tidak ada kak" jawab Adinda


Adinda pun segera membereskan piring sisa makan Jonathan tadi,


"Dind, sebenarnya aku kesini mau bicara sama kamu", ucap Natasya sambil duduk di kursi meja makan,


Adinda menghentikan aktivitasnya sejenak,


"masalah apa kak?" tanya nya,


"masalah Jonathan" jawab Natasya,


"eh..maksudnya?" Adinda bingung


(apa hubungannya jonathan dengan ku, kenapa kak syasa harus membahas orang itu dengan ku, batin Adinda)

__ADS_1


"sebenarnya, aku cuma berharap kamu bertahan di rumah ini , walaupun nantinya Jonathan akan merepotkan mu" ucap Natasya


(bukan merepotkan lagi, tapi sangat merepotkan, lagi pula memangnya aku bisa berhenti bekerja disini sedangkan aku sudah mengtandatangani kontrak kerjanya!?, batin adinda)


"iya kak, saya usahakan akan bertahan disini sampai kontrak kerjanya selesai" jawab adinda biasa.


*******


Suara musik berdentum dengan kerasnya di sebuah club' malam ternama di pusat kota, suara riuh orang-orang yang sedang berpesta di lantai club' itu menambah suasana panas Disana,


di depan meja bar terlihat seorang laki-laki tampan dengan pakaian casual bermerek terkenal dengan harga fantastis, sedang duduk sendiri menikmati minumannya, banyak wanita berlalu lalang Menggoda nya tapi tak ia hiraukan,ia hanya fokus memandangi gelas yang ada di depannya, hingga seseorang datang menepuk punggungnya,


"Joo..!!, ada apa? aku perhatikan kau tidak seperti biasanya?" tanya laki-laki itu yang ternyata adalah Zidan ,


"memang biasanya aku seperti apa?" Jonathan bertanya balik,


"apa ada sesuatu terjadi padamu tanpa aku ketahui?" Zidan tak putus asa bertanya, karena ia benar-benar penasaran apa yang sedang terjadi dengan sahabat nya yang tak terlihat seperti biasanya itu,


"berhentilah bersikap terus mencampuri urusanku!!" teriak Jonathan yang jengah dengan pertanyaan sahabatnya.


"woww... tidak perlu berteriak brother, aku tidak tuli, lagi pula bagaimana aku tidak mencampuri urusan mu, sedangkan kau yang selalu menarik ku kedalam urusan mu, dan aku yang selalu menyelesaikan masalah-masalah mu" ucap Zidan yang tidak mau disalahkan,


"bukankah itu tugas mu sebagai pengacara ku!?" hardik Jonathan tidak mau tau,


"oh.. tuhan!!, baiklah... aku tidak akan menang jika bicara dengan mu, meskipun aku adalah pengacara terbaik di negeri ini"


ya ,meski Zidan pengacara terbaik di negeri ini, iya tidak akan mampu mengalahkan jonathan,


selain memiliki tubuh tinggi proposional dan ketampanan luar biasa yang berasal dari blasteran jerman,Korea ,indo Jonathan juga terkenal dengan kejeniusannya, sepak terjangnya yang luar biasa di dunia bisnis menjadikannya seseorang CEO diusianya yang terbilang muda (27th) , ia berhasil mengakuisisi perusahaan-perusaha lain dibawah perusahaan yang didirikannya hingga perusahannya menjadi salah satu perusahaan raksasa di negeri ini,


keluarganya sangat kaya raya, ya.. siapa yang tak kenal keluarga William yang memiliki perusahaan Daimler company yang berada di Jerman yang menduduki peringkat ketujuh daftar perusahaan raksasa di dunia, dalam Global tahun 2020 Pendapatan keseluruhan dan keuntungan penjualan (profit) yang dimiliki perusahaan ayahnya masing-masing sebesar 282,7 miliar dolar AS dan 15,5 miliar dolar AS, jika dirupiahkan tidak terhingga jumlahnya, tapi anehnya Jonathan sebagai pewaris keluarga malah mendirikan perusahaan sendiri, bahkan ia enggan menyandang nama William di belakang namanya, hingga saat ini hanya keluarganya dan Zidan sahabatnya yang tau status Jonathan, hal itu yang membuat Zidan semakin menghormati Jonathan sebagai teman nya, walau Zidan dari keluarga kurang berada, tapi Jonathan tidak pernah merendahkan nya, yah.. meski kadang tempramen Jonathan membuat Zidan kalang kabut .


*****


sudah lewat tengah malam saat Zidan memapah tubuh Jonathan yang mabuk pulang ke rumahnya ,


Zidan membaringkan tubuh Jonathan yang setengah sadar di tempat tidur mewah milik Jonathan,


"ada apa dengan mu Joo? tidak biasanya kau minum sampai mabuk seperti ini?" gumam Zidan heran


"hahahaha!! kenapa tatapannya sama indahnya" Jonathan merancu lagi


"siapa yang kau maksud Joo?" Zidan bingung


"sejak tadi kau hanya bilang, matanya cantik, matanya indah, senyumnya indah, siapa? siapa yang kau maksud?! "


tak ada jawaban , karena Jonathan sudah larut dalam alam mimpinya,


"hufftt" Zidan menghela nafas, rasanya ia lebih suka menghadapi Jonathan yang pemarah ketimbang yang seperti ini,


Zidan pun akhirnya melepaskan sepatu Jonathan dan menyelimuti tubuhnya lalu ia keluar dari kamar Jonathan,


saat Zidan hendak pulang , saat ia tengah melewati ruang tengah ia mendengar sesuatu dari arah dapur, " aneh, bukanlah jam segini seharusnya tidak ada siapapun di rumah Jonathan" gumam Zidan mengingat bahwa Jonathan tidak suka ada orang lain di rumahnya,


Zidan pun mengendap-endap memeriksa siapa yang berada di dapur, ia mengintip dari balik dinding, sebuah senyuman mengembang dari wajahnya saat melihat seseorang yang sedang berada di dapur,


"jadi... dia yang kau maksud Joo" batin Zidan

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2