
Passion of soul
Hal 14
Siang itu, saat Jonatan dan Adinda sedang makan di sebuah restoran, Seorang wanita cantik bertubuh seksi dengan gaun pendek berwarna merah , menghampiri mereka,
"Hai Joo?, sedang apa kau disini?"
"Kau pikir aku sedang apa berada di restoran?!" Jawab Jonathan tanpa melirik wanita yang menyapanya,
Adinda hanya memilih diam, karena toh ia juga tidak mengenal wanita itu,
Mendengar jawaban ketus Jonathan tak membuat wanita itu pergi, ia menggeser kursi mendekatkan pada Jonathan, " boleh aku duduk disini" tanyanya
"Silahkan, kebetulan kami sudah selesai , jadi kau bisa menggunakan meja ini" lagi-lagi jawaban kasar yang keluar dari mulut Jonathan, membuat gadis itu terdiam karena malu, dan hanya memandang dengan heran kepergian Jonathan yang mengandeng Adinda, "siapa gadis itu? apa dia mainan baru mu Joo?" batin wanita seksi itu penasaran,
Jonathan dan Adinda keluar dari restoran itu setelah sebelumnya Jonathan membayar makanannya,
"Kenapa kau bersikap seperti itu padanya? " tanya Adinda sesaat setelah mereka berdua masuk kedalam mobil sport milik Jonathan,
"Kenapa aku harus bersikap ramah pada wanita yang bahkan aku sendiri lupa namanya" jawab Jonathan santai,
"hah???? tapi sepertinya dia sangat mengenal mu", ucap adinda
"Siapa wanita yang tak mengenal seorang Jonathan?!" ucap Jonathan mencoba menyombongkan diri,
"aku.." jawab adinda menanggapi kesombongan Jonathan,
Jonathan terkekeh mendengar jawaban Adinda, "hahahaha, kenapa kau sangat menggemaskan " ucap jonathan sambil mencubit lembut pipi Adinda ,
"Aaww, sakit!" teriak Adinda sambil melepas cubitan Jonathan,
"Aku merasa belum sepenuhnya mengenalmu, apalagi dengan sikap mu yang mudah sekali berubah-ubah, dan yang aku takutkan kini adalah perasaan mu padaku yang akan berubah seperti sikapmu yang mudah sekali berubah," batin Adinda,
Entah mengapa justru kepada orang seperti Jonathan, Adinda mau mulai membuka hatinya untuk laki-laki, dulu ia sering menolak laki-laki yang mencoba mendekatinya, dengan cara menghindari mereka, tapi sekarang kenapa ia tidak bisa menghindari Jonatan,
"Apakah aku mulai menyukainya??" tanya Adinda pada hatinya sendiri.
******
Dua bulan sudah, Adinda menjalani hidupnya dengan Jonathan yang tidak pernah bosan mengganggunya, ada saja tingkah Jonathan yang membuat Adinda merasakan asam manis nya memiliki seorang "kekasih" , ya.. kekasih, meski Jonathan belum pernah menyatakan "I love you" tapi sikap Jonathan terhadap Adinda dapat menjelaskan hubungan antara mereka ,
__ADS_1
"kau adalah milikku" itulah kata yang selalu keluar dari mulut Jonathan, hal itulah yang terkadang membuat Adinda bersedih dan meragukan perasaan Jonathan terhadapnya, padahal Adinda sudah membuka hatinya lebar-lebar untuk Jonathan,
Sekarang Adinda pun lebih mengerti sikap Jonathan, Jonathan selalu bersikap semaunya , tidak suka dibantah , pemarah, tapi kadang perhatian dan romantis
meskipun tak urung sikap Protektifnya yang lebih dominan , seperti yang terjadi hari ini...
Adinda harus mengurunkan niatnya untuk pergi ke undangan pesta pertunangan sahabatnya si Mirna, ya Mirna mengadakan pesta pertunangan dengan kekasihnya, mereka sudah empat tahun menjalin hubungan,
Adinda sedang kesal melihat bayangan dirinya di cermin yang ada di kamarnya, ia sedang menggunakan gaun berwarna pastel, gaun yang masih terbilang sopan, panjang rok nya sampai ke betis dengan lengan yang menutup Samapi ke siku , hanya saja model atasnya memperlihatkan leher putih jenjang dan bahu mulus Adinda, Adinda kesal bukan karena ada masalah pada gaunnya tapi karena bercak merah yang ada di tengkuk leher Adinda yang terasa sedikit nyeri jika ia sentuh,
Flashback on
Malam itu Hujan lebat disertai suara Guntur menggelar kediaman Jonathan, dan lagi-lagi seperti biasanya setiap hujan lebat disertai suara Guntur Jonatan selalu meminta untuk tidur di pangkuan Adinda karena katanya ia takut mimpi buruk, tentunya itu dilakukan di sofa ruang tengah bukan di kamar Jonathan ataupun kamar Adinda , sebenarnya Adinda juga heran kenapa Jonathan bersikap seperti itu, Jonathan pun enggan untuk menceritakan prihal mimpinya, tapi dari pada melihat Jonathan mengkonsumsi obat tidur lebih baik Adinda menuruti keinginan Jonathan,
(baiklah, kita kembali ke masalah bercak merah di leher Adinda...)
"Besok kau tidak usah berangkat ke acara teman mu itu" ucap Jonathan tiba-tiba saat sedang menidurkan kepalanya di pangkuan Adinda
"Kenapa? , bukankah kau sudah mengizinkan kemarin " tanya Adinda
"Itukan karena aku akan menemanimu, tapi masalahnya besok pukul 10 pagi aku ada rapat penting di kantor Jadi aku tidak bisa menemanimu, maka dari itu kau tidak usah pergi juga! " ucap Jonathan membuat keputusan secara sepihak lagi,
"Mana bisa seperti itu, dia sahabat ku Joo.." rengek Adinda,
"Ayolah Joo, kenapa kau berfikiran seperti itu, di sana kan juga ada Miss Jen , jadi tidak akan ada teman kampusku yang mengganggu ku jika aku sedang bersama Miss Jen" ucap Adinda dengan nada dibuat semanis mungkin, ia tau sikap Jonathan saat ini tidak bisa dilawan menggunakan emosi,
Jonathan berfikir sebentar, "baiklah, kau boleh pergi tapi ingat kau harus terus bersama dengan kak Jen" ucap Jonathan mengizinkan sambil membaringkan kepalanya lagi di pangkuan Adinda.
*****
Keesokan paginya, pukul 9 pagi Adinda sudah siap menggunakan gaun cantik tanpa lengan berwarna hitam dengan panjang gaun sedikit diatas lutut pun keluar dari kamarnya lalu menghampiri Jonathan yang sedang menunggu Adinda untuk mengantarnya sebelum ia berangkat rapat,
Jonathan mendengus kesal melihat penampilan Adinda, bukan karena Adinda tampak jelek, tapi karena Adinda tampak begitu cantik, " Ganti baju mu! mau kau pamerkan ke siapa paha dan lengan putihmu itu!" ucap Jonathan ketus,
Adinda yang tidak mau membuat Jonathan berubah pikiran nantinya , untuk tidak membiarkan nya pergi pun hanya menuruti ucapan Jonathan,
Lebih dari tiga kali Adinda sudah berganti pakaian tapi selalu saja Jonathan menyuruhnya mengganti pakaiannya lagi,
Adinda merasa kesal karena menurutnya gaun warna pastel yang ia kenakan kini sudah terlihat sopan, " Joo.. dari semua gaun yang kau belikan kemarin , gaun ini yang paling tertutup " ucap Adinda yang tak mau menuruti perintah Jonathan lagi,
"Lihat bahu dan lehermu!, cepat ganti , pakai gaun yang menutupi bahu dan leher mu juga" perintah Jonathan,
__ADS_1
Adinda yang geram enggan menuruti perintah Jonathan, Adinda tetap berjalan melewati Jonathan menuju pintu depan, ia nekat akan berangkat naik taksi jika Jonathan terus saja bersikap seperti itu, belum juga Adinda sampai pintu depan, tiba-tiba...
"Greppp" tubuhnya di peluk Oleh Jonathan dari belakang, Adinda berhenti, ia tidak bisa bergerak, Jonathan kemudian menjatuhkan dagunya di tengkuk putih mulus milik Adinda,
"Kenapa kau tidak mau mendengarkan ku?" desis Jonathan tepat dileher Adinda,
"Lepaskan, aku sudah terlambat" ucap Adinda sambil memegang tangan Jonathan hendak melepaskan nya , tapi Jonathan malah mempererat pelukannya, lalu secara cepat ia mencium leher Adinda, menyesapnya hingga meniggalkan tanda kepemilikan di leher putih Adinda,
"Auww!" pekik Adinda, ia menggelinjang merasakan ciuman dan hisapan Jonathan di lehernya, " apa yang kau lakukan Joo?!" ucap Adinda marah, dan melepaskan tangan Jonathan dari tubuhnya, lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Jonathan,
Adinda memegang lehernya yang terasa nyeri, "Apa yang kau perbuat pada ku?!" tanya Adinda lagi
Jonathan menarik sudut bibirnya , ia puas dengan hasil karyanya di leher putih milik Adinda "aku memberikan hukuman padamu , karena tidak mau menuruti ku" ucap Jonathan dengan senyum kemenangan di bibirnya
Adinda yang mendengar ucapan Jonatan semakin merasa kesal, ia kembali lagi ke kamarnya dan melihat dirinya dari cermin , alangkah terkejutnya Adinda melihat bercak merah yang ada dileher nya,
"JONATHAN!!!!" teriaknya geram..
sedangkan orang yang di teriaki malah duduk santai di sofa ruang tengah,
Flashback off
"Mirna maafkan aku, aku ingin pergi tapi aku sedang tidak enak badan" ucap Adinda berbohong pada sahabatnya itu lewat telepon,
"emm... sekali lagi aku minta maaf, selamat atas pertunangan mu" ucap Adinda tulus
"emm.. bye!" ucap nya lagi lalu mengakhiri telepon nya,
"sayang..! ayolah keluar !" teriak Jonathan dari balik pintu luar kamar Adinda,
Adinda tidak menjawab , ia masih kesal dengan perbuatan Jonathan,
"Ayolah.. keluar, aku perlu melihat wajahmu agar aku bisa fokus saat rapat nanti" rayu Jonathan,
Adinda masih tidak mau menjawab,
"aku hitung sampai tiga, jika kau tidak membuka pintunya, kau akan tau akibatnya!" ancam Jonatan pada Adinda,
"Satu"
"Dua"
__ADS_1
"Ti.....
To be continue...