
Passion of Soul
Hal 34
"Dasar brengs*k!" teriak Adinda. Ia menagis tersedu sambil memeluk Jonathan. Sedang Jonathan hanya diam terpaku. matanya memerah menahan tangis.
"Dasar brengs*k! beraninya kau meninggalkanku, apa kau ingin membuat ku gila!" maki Adinda di sela Isak tangisnya.
Seketika air mata Jonathan menetes. Hatinya terasa ngilu mendengar ucapan Adinda. Ia pun membalas pelukan Adinda. Ia memeluk Adinda dengan erat. Dari awal pun ia sudah berat untuk melepaskan Adinda apalagi melihat tingkah Adinda yang sekarang, semakin membuat ia mengurunkan tekadnya untuk menjauh dari Adinda. Ia tahu benar Adinda adalah wanita yang dewasa, mandiri, dan punya harga diri tinggi. Tapi kini apa yang dilakukan Adinda sontak membuat ia semakin sulit melepaskannya.
Jonathan mengurai pelukannya pada Adinda. di hapusnya air mata yang mengalir di pipi mulus Adinda. "Kenapa kau seperti ini?" tanya Jonathan.
"Seharusnya aku yang bertanya! kenapa kau seperti ini?! ucap Adinda dengan mata nanar menatap Jonathan.
"Aku harus melepaskan mu, aku takut kau akan terluka jika terus bersama ku" Kata-kata Jonathan tercekat di akhir kalimatnya. Seperti enggan mengatakan kalimat itu. ia pun memalingkan wajahnya, enggan menatap Adinda saat mengatakannya.
"Omong kosong!!" teriak Adinda membuat Jonathan langsung menatap Adinda. Tidak percaya wanitanya ternyata bisa bicara seperti itu, bahkan ia tadi juga mengumpat.
"Apa kau tidak mencintaiku?!" tanya Adinda
"Aku.... aku sangat mencintaimu, tapi..." belum juga Jonathan meneruskan kata-katanya Adinda sudah memotongnya.
"Kalau begitu jangan tinggalkan aku, bodoh!" ucap Adinda.
"Kau..." ucapan Jonathan lagi-lagi di potong oleh Adinda.
"Aku tidak mau terima alasan macam apapun, selama kau masih mencintai ku, kau tidak boleh meninggalkan ku!" ucap Adinda lagi.
__ADS_1
"Tapi aku..." ucapannya terpotong lagi, bukan dengan kata-kata Adinda, tapi dengan ciuman dari Adinda yang sudah mendarat di bibir Jonathan. dengan Air mata yang masih mengalir di pipinya, dan mengabaikan rasa malunya, Adinda mencium Jonathan di tengah jalan, Jenita yang melihat tindakan Adinda pun sedikit terkejut. untung jalanan menuju Villa memang sepi seperti biasanya.
Adinda melepas ciumannya, "Apa perlu aku berlutut dan memohon padamu untuk tidak meninggalkan ku" ucap Adinda lirih dengan tatapan penuh harap sedang air matanya terus mengalir.
Hati Jonathan benar-benar terenyuh mendengar ucapan Adinda. ia lantas membawa Adinda dalam pelukannya. "Maaf... maaf... maafkan aku" ucap Jonathan dengan suara yang sangat parau, hanya kata itu yang keluar dari mulut Jonathan.
"Benar... seperti ini lah seharusnya Joo... katakan maaf jika kau salah, katakan menyesal jika kau menyesal, jangan hanya memendamnya sendiri dan membuat mu semakin terluka. Katakan... keluarkan saja semua isi hatimu. aku akan mendengarkannya. aku akan selalu di sisih mu" ucap Adinda di dalam pelukan Jonathan, membuat Jonathan semakin mempererat pelukannya. Dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, Ia mengangguk paham.
Jenita pun terlihat menghapus air matanya yang mengalir. Ia begitu senang sekaligus terharu melihat saudara sepupunya menemukan orang yang tepat yang bisa membantu mengobati luka hatinya sekaligus mencintainya dengan tulus.
*********
Mereka akhirnya kembali ke villa, tak sedetikpun Jonathan melepaskan genggaman tangannya pada Adinda. Adinda lalu mengajak Jonathan duduk di ruang tengah villa tersebut disusul dengan Jenita yang ikut duduk di hadapan Jonathan.
"Kau sudah merasa lebih baik Joo?" tanya Jenita. Jonathan mengangguk.
Jonathan menarik nafasnya dalam, tangannya sedikit gemetar. Adinda yang melihat itu langsung mengenggam tangan Jonathan dengan kedua tangannya, mencoba memberikan ketengan pada pria yang ada di sampingnya ini.
Dan akhirnya Jonathan menceritakan rahasia yang selama ini ia simpan sendiri, hal yang membuat ia begitu tersiksa setiap harinya......
•
•
"Aku... aku benar-benar tidak sengaja, mommy dan Jimmy... ini semua salah ku... aku takut... Ayah, Syasa dan kalian akan membenci ku karena menjadi penyebab kematian mommy dan Jimmy" ucap Jonathan dengan Isak tangisnya mengakhirinya ceritanya.
Air mata Adinda menetes begitu saja mendengar penuturan pria yang ia cintai itu, ia tak menyangka kekasihnya itu telah menanggung beban yang begitu beras di usiannya yang masih terbilang anak-anak. Adinda mengelus punggung tangan Jonathan, mencoba memberi kekuatan dari sentuhannya. sedang Jonatan terisak saat menceritakan masa lalunya yang kelam.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Joo, kau tidak bersalah... " ucap Adinda mencoba menenagkan.
Mata Jenita pun berkaca-kaca, meski ia berusaha tegar mendengar cerita saudaranya itu, tapi ia tidak bisa membohongi perasaan sedihnya ketika mengetahui alasan kematian bibi yang sangat ia kagumi, dan juga Jimmy saudara sepupunya. Ia mengangguk paham kenapa Jonathan bisa menjadi seperti ini, Kematian kedua orang yang begitu ia sayangi di depan mata kepalanya sendiri dan juga rasa bersalah karena mengira semua itu terjadi karena dirinya. Wajar jika membuat Jonathan Depresi berat.
Jonathan terus terisak. Tiba-tiba ia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, "Arrghhh!" teriaknya.
Adinda yang melihat itu tidak tinggal diam, ia langsung menarik Jonathan membawanya ke dalam dekapannya. "Tenanglah Joo, tidak apa-apa semuanya telah berlalu, tenanglah"
Perlahan Jonathan mencoba mengatur nafasnya. berusaha menetralkan sakit yang ia rasakan. Saat ini ia bersyukur ada sosok Adinda yang berada di sisinya. Ia tidak tahu sampai kapan ia harus menyimpan beban itu sendiri jika Adinda tidak hadir di hidupnya.
*********
Setelah semuanya yang terjadi hari ini, Jenita kembali ke kediaman keluarga Jonathan. Ia menceritakan semuanya pada Natasya dan tuan William, Natasya terlihat menangis terisak, tapi ia juga lega mendengar keadaan adiknya yang sudah membaik sekarang.
Lain dengan Natasya, tuan William hanya terdiam mendengarkan cerita dari Jenita. ia seperti memikirkan sesuatu. Bagaimanapun juga semua ini terjadi karena kelalaiannya menjaga keluarganya, andai saja saat itu ia bisa bersikap lebih bijaksana, semua ini tidak akan terjadi, tapi nasi sudah menjadi bubur, kaca yang pecah tidak bisa kembali utuh, ia hanya bisa menyesali perbuatannya dulu. Kini yang ia pikirkan hanyalah bagaiman caranya ia memperbaiki hubungan dengan putra sematawayangnya itu.
"Lalu sekarang apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Natasya pada Jenita yang seketika membuyarkan lamunan tuan William.
"Sebaiknya kita biarkan saja dulu Jonathan menata perasaannya lagi. kita percayakan semuanya pada Adinda" ucap Jenita yang menerima anggukan dari Natasya dan tuan William.
*********
Sedang di villa siang ini, mata Jonatan mengerjap, mencoba mencari kesadarannya. Sisa-sisa kantuk masih terlihat jelas di wajahnya, saat kedua matanya sudah terbuka sempurna, ia menyadari dirinya sedang tidur berbaring disofa dengan kepalanya yang berada di pangkuannya Adinda.
Ia pun segera mengubah posisinya menghadap ke Adinda yang kini sedang tertidur bersandar di sofa. Dipandanginya wajah Adinda, seutas senyum terlukis di wajah Jonathan tatkala ia mengingat apa yang terjadi di jalan tadi. "Aku tidak menyangka wanitaku yang lembut ini berani memaki" gumam Jonathan.
To be continue...
__ADS_1