Passion Of Soul

Passion Of Soul
Melihatnya di mimpi


__ADS_3

Passion of soul


Hal 2


Rumah itu terlihat begitu megah dibandingkan dengan rumah-rumah disekitar nya, halaman yang luas dengan taman yg sengaja dibentuk begitu indahnya, rumah berlantai 3 itu di desain modern dengan warna-warna alami dari kayu dan batu alam,


"woaah..!!"


Hanya kata itu yang mampu terlontar dari mulut manis Adinda, tatkala memandang hunian di depan matanya,


Adinda pun langsung ,menekan bel yang ada di dinding gerbang rumah itu,


"Maaf , nona mau mencari siapa?" tanya seorang satpam seusai membuka pintu gerbang,


"Saya Adinda pak, saya diberi tahu Miss Jenita untuk menemui Bu Natasya di rumah ini"


jelas Adinda.


"Baiklah, tunggu sebentar , saya tanyakan dulu pada nyonya " sahutnya sambil beranjak pergi ke dalam rumah.


Adinda menunggu di luar, ia mengingat kembali percakapan nya dengan Miss Jen di telpon tadi pagi,


Flashback on


"Masalah tawaran pekerjaan kemarin, saya mau Miss" ucap adinda kepada Miss Jen di telpon


"Ok, din karna hari ini hari Minggu kita langsung kerumah nya saja ya, agar bisa langsung ketemu dengan tuan rumahnya"


Jawab Miss Jen


"Baik miss.."


"Tapi Dinda duluan aja ya kesana, nanti saya nyusul saya masih ada urusan penting, nanti saya kirim alamatnya, ok" ucap Miss Jen


"ok, Miss" jawab Adinda singkat


dan panggilan telepon pun berakhir,


flashback off


"Nona...!"


Panggilan seseorang menyadarkan lamunan Adinda, ternyata satpam tadi yang memanggil menyuruh Adinda untuk masuk kedalam rumah mewah itu, dan lagi-lagi adinda hanya bisa dibuat terkagum-kagum dengan interior di dalam rumah itu,


Tiba-tiba terlihat seorang menuruni anak tangga dengan begitu elegannya, wanita cantik, tubuh langsing tinggi , dengan rambut drakbrown sebahu nya,


"Adinda.??" tanyanya ramah pada Adinda yang sedang terpesona dengan penampilan wanita yang ada di hadapannya,


"ya tuhan ada Barbie hidup ",batin adinda

__ADS_1


"eh, iya Bu , nama saya adinda.." jawab adinda


"Jangan panggil saya Bu, panggil saya kak syasa"


"Baik, kak syasa" jawabnya dengan senyum yang manis, cantik dan ramah adalah kesan pertama Adinda pada wanita yang ada di hadapannya,


"Duduk din," pinta nya sambil menunjuk sofa yang ada di ruang tamu, sesuai dengan perintah Natasya, Adinda pun duduk .


"Saya sudah mendengar tentangmu dari Jen, jadi saya putuskan untuk memintamu bekerja disini", ucap Natasya memulai percakapan


"Kau kuliah jurusan psikologi?" tanya Natasya


"Iya kak" jawab Dinda singkat


"Baguslah, Kau juga cantik , dan aku dengar dari Jen kau juga baik" ucap Natasya


Yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Adinda, "eh, apa hubungannya kuliah psikologi, cantik ,baik dengan jadi tukang masak disini??" batin Adinda


Saat Natasya sedang menjelaskan perihal pekerjaan Adinda dirumah itu, terdengar suara langkah seseorang menuruni anak tangga,


"kau mau kemana Joo?"


Ucapan Natasya membuat Adinda mengalihkan pandangannya ke arah tangga , dilihatnya pria berwajah tampan dengan celana jeans dipadu dengan kaos berwarna putih lengkap dengan sepatu berwarna senada dengan kaos yang dikenakan dan di pastikan semua yang digunakan adalah barang bermerek standar internasional.


"Ya tuhan , keluarga ini keturunan bibit premium pilihan mungkin ya? tampan sekali pria itu" batin adinda


Jonathan hanya melirik sekilas, tanpa menjawab ia terus berlalu dari sana,


tapi tak dihiraukan oleh Jonathan ia tetap berjalan keluar rumah,


"oh, namanya Jonatan , tampan tapi kelakuannya ck,ck,ck" )batin Adinda


"Yaa..! kalo bukan adik ku sudah ku cincang kau..! teriak Natasya geram


"maaf ya , itu tadi adik saya namanya Jonatan , semoga saja Dinda bisa mengatasinya selama disini," ucapan Natasya


"eh..? iya " jawab adinda bingung


"Tugaskukan hanya memasak disini kenapa aku harus mengatasi orang itu"


"syaa!!!, teriak orang dari arah pintu yang tidak lain adalah miss Jen,


"eemm.." kau kemana aja sih, katanya pagi mau kesini? tanya Natasya kepada Jenita


"sorry, sorry , aku tadi ada urusan sebentar, ada pasien dadakan hehehe" jawab Jenita


"Dinda sudah dari tadi disini?" lanjutnya bertanya pada Adinda..


"baru saja ,Miss" jawab Adinda

__ADS_1


"Jangan memikirkan pasien lain, pikirkan sepupumu saja", ucap Natasya kesal


"Eh , iya kemana itu bocah? , dia tidak berulah lagi kan?"


"Dia tidak berulah, tapi selalu saja membuatku kesal"


"Sabar dong sya... namanya juga...emm, ucapan Jenita menggantung tidak diteruskan ,ia melirik adinda yang ada di sebelahnya ,


Adinda yang sedari tadi tidak mengerti arah percakapan mereka berdua pun hanya terdiam,


"Dinda, yuk aku anterin ke kamarmu, sekalian aku jelasin pekerjaan yang akan kau lakukan disini", Jenita menggandeng tangan Adinda,


"Jen, aku pulang ke rumah ku dulu ya, anak sama suami ku pasti sudah menungguku untuk makan siang" ucap Natasya sambil berjalan kearah pintu utama


"Eem, hati-hati dijalan sya"


" kak syasa tidak tinggal disini Miss?"tanya Adinda heran melihat kepergian Natasya


"Tidak, yang tinggal disini hanya adiknya Jonathan, kau sudah bertemu dengan dia?" ucap Jenita santai


"What??! tunggu, tunggu "hanya"? berarti aku tinggal disini hanya dengan pria itu ?" batin Adinda


"hanya sendiri Miss? lalu orang tuanya? " tanya Adinda gugup,


"Tidak perlu Gugup begitu dind, ada pak Asep dan bik inah yang tinggal disini juga, di paviliun belakang," jawab Jenita dengan senyum yang sulit diartikan ,


"Ayo , aku antar ke kamarmu" lanjutnya sambil menarik Adinda dan berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan.


*******


Mobil sport drak gray itu berhenti di sebuah apartemen mewah, dengan langkahnya yang santai ia memasuki salah satu kamar di apartemen itu,


Ia masuk ke sebuah kamar, tatapan nya yang tajam menelusuri seluruh sudut ruangan itu hingga matanya menemukan sosok yang ia cari. ia mendekati sosok yang sedang tidur tenlungkup dengan pulas ya , diambilnya gelas di atas meja samping tempat tidur , dibantingnya dengan sekuat tenaga.


Pyarrrrr!!!!!


Seketika sosok itu bangun dari tidurnya, ia terduduk, ia membuka matanya melihat siapa orang yang sedang ada dihadapannya, dan orang yang ada dihadapannya lebih membuatnya terkejut dibanding suara pecahan gelas tadi,


"Joo?!" ucapnya setelah melihat orang dihadapannya


"Beraninya kau mengabaikan telpon ku, apa kau sudah bosan hidup!!" ucap Jonathan dingin dengan tatapan mata yang seakan ingin membunuh.


"He..he..maaf Joo, tadi malam aku mengerjakan apa yang kamu suruh, bahkan aku baru pulang subuh tadi, sumpah aku ketiduran jadi tidak dengar kau menelpon, ucapnya sambil menagkupkan kedua tangannya di depan dada,


Pria yang sedang memohon pada Jonathan itu adalah Zidan seorang pengacara berbakat, ia juga satu satunya sahabat dekat Jonatan sekaligus konsultan di perusahaan yang didirikan Jonathan. ia tau bahwa Jonathan memiliki sikap yang tempramen, dan kadang sulit untuk dikendalikan , tapi itu semua tak membuat Zidan menjauh dari Jonathan mengingat Jonathan adalah orang yang menyelamatkan nyawanya saat remaja membuat Zidan berjanji akan selalu berada di sisih Jonathan apapun yang terjadi,


Jonatan hanya mendengus kesal, mendengar ucapan sahabatnya itu, ia pun duduk di sofa dekat tempat tidur Zidan, "jadi bagaimana?, apa kau sudah menemukannya?" tanya Jonathan


"Sulit Joo, kejadian itu sudah 16 tahun yang lalu, aku sedang berusaha mencari orang-orang yang dulu pernah berkerja di rumah keluarga mu" jawab Zidan

__ADS_1


"Cepat temukan, jangan terlalu lama, aku tidak tahan , jika harus selalu melihatnya di mimpiku" Jonathan mengatakannya dengan tatapan kosong,


To be continue....


__ADS_2