Passion Of Soul

Passion Of Soul
Kematian menyakitkan...


__ADS_3

Passion of Soul


Hal 31


Enam belas tahun yang lalu hujan menguyur kota Berlin, langit terlihat menggelap karena mengandung curah hujan yang sangat deras, Jonathan memilih menghabiskan waktunya berbaring sambil membaca buku di kamar sedangkan Jimmy saudara kembarnya telah menghilang entah kemana,


"Ceklek" pintu kamar terbuka dan menampilkan seorang bocah berumur sebelas tahun masuk ke dalam kamar, Jonathan yang melihat kedatangan saudara kembarnya bergegas meninggalkan ranjangnya yang hangat dan menghampiri saudara kembarnya,


"Kau dari mana saja Jimmy? tanya Jonathan khawatir namun tidak ada sahutan dari saudara kembarnya, ia berjalan dengan tenang menuju ke kamar mandi di dalam kamar mereka, Jonathan yang membuntuti Jimmy di belakangnya kaget melihat noda darah di tangan dan pisau kecil yang di bawa Jimmy,


Belum juga Jonathan bertanya kepada sang kakak, pintu kamar kembali terbuka dan kali ini ibu mereka yang masuk, Soraya Jene langsung berlari menghampiri Jimmy yang sudah masuk kedalam kamar mandi,


Jonathan lalu mengikuti keduanya, tapi ia tidak masuk ke dalam kamar mandi, dari luar ia bisa mendengar ibu mereka sedang menasehati sang kakak seperti biasanya, dan karena pintu kamar mandi yang terbuka Jonathan pun bisa melihat semuanya, bagaimana kerasnya Jimmy yang tidak mau melepas pisau tajam yang ia pegang,


Hingga semuanya yang terjadi begitu cepat, Soraya Jene menginjak sesuatu yang membuatnya terpeleset saat sedang berusaha mengejar Jimmy yang hendak keluar kamar mandi, kepalanya dengan keras menghantam ujung bathtub dan dalam sekejap darah segar mengalir dari kepala wanita yang terlihat masih cantik meski bias pucat mendominasi wajahnya,


"Jimmy...." Suara rintihan lemah yang terakhir di ucapkan oleh ibunya, membuat Jimmy tersadar, ia terkejut mendapati sang ibu sedang sekarat tidak jauh darinya,


"Ibu...ibu...! kau tidak apa-apa?" Jimmy menghampiri sosok ibu yang sudah tidak bernyawa itu, matanya menyusuri sekitar ibunya, dan ia melihat sebuah benda yang menjadi penyebab kematian ibunya, benda itu adalah sebuah mainan berbentuk pistol yang masih berlumuran sabun, dan pemilik benda itu adalah Jonathan sang adik yang seusai mandi tidak membereskannya dengan benar,


Jimmy melesatkan tatapan membunuhnya pada Jonathan "Kau pembunuh!" tunjuknya tepat pada Jonathan yang sedari tadi hanya berdiri mematung karena shock melihat apa yang terjadi di hadapannya, "kau membunuh ibu ku!!" teriak Jimmy, ia lalu bangkit dan menyerang Jonathan dengan pisau yang sedang ia pegang,


Mendapati serangan tiba-tiba dari sang kakak membuat Jonathan sulit untuk menghindar, ia berkelahi dengan kakaknya diiringi dengan suara derasnya hujan yang turun serta suara badai yang menggelegar, kedua bocah berusia sebelas tahun itu saling tumpang tindih berguling kesana kemari hingga,


"Cress" pisau itu tanpa ampun menusuk perut bocah tepat di uluh hatinya yang sedang berusaha menyerang saudaranya, Jonathan tertegun melihat saudara kembarnya meringis kesakitan karena pisau yang tertancap di perutnya, sepertinya pisau yang sedari tadi digunakan untuk menyerang Jonathan justru malah berbalik mengenai dirinya,


"Jimmy..." Jonathan perlahan menghampiri sang kakak yang sedang kesakitan, "Jimmy bertahanlah, aku akan segera memanggil ayah" ucapnya sambil hendak bangkit tapi tangannya langsung di cegah oleh Jimmy, bocah umur sebelas tahun itu rupanya tau kondisi tubuhnya yang tidak akan bertahan lebih lama lagi, namun yang mengherankan tidak ada raut wajah kesakitan berlebihan seperti umumnya bocah umur sebelas tahun yang terkena luka parah, ekspresinya malah terlihat senang seperti ia sengaja melakukan ini pada dirinya sendiri,


"Maafkan aku Joo, aku akan tetap menyayangimu meski kau bukan....." kata-katanya tertahan karena saudara kembarnya itu telah menghembuskan nafas terakhirnya,


Mendapati kematian secara beruntun kedua orang yang sangat di sayanginya dengan mata kepalanya sendiri membuat Jonathan shock dan depresi berat, ia mundur memegangi kepalanya dan berteriak,


"Jim... Jim... tidak Jim... bukan... aku bukan pembunuh... Jim... Jimmy!!!!!!


Dan seketika Jonathan terbangun, ia terduduk dengan nafas yang tersengal dan tangan yang gemetar, dilihatnya ada yang mengenggam tangannya kuat, ia pun menoleh melihat siapa pemilik tangan itu, dilihatnya wanita itu sedang bicara padanya tapi ia yang sedang kalut tidak bisa mendengar dengan jelas, hingga ia pun berteriak,


"Pergi!!!"

__ADS_1


"tinggalkan aku! aku mohon pergi!"


"Pergi!!!"


Jonathan terus saja berteriak seperti itu, bibirnya menyuruh Adinda untuk pergi, tapi tatapan matanya menyiratkan meminta Adinda untuk tetap di sampingnya


Adinda yang hanya melihat ekspresi wajah Jonathan tanpa menghiraukan ucapannya langsung memeluk Jonathan dengan erat


"Pergi! aku tidak ingin kau terluka! pergilah!" ucap Jonathan di sela tangisnya dalam pelukan Adinda


"Tidak, aku tidak akan meninggalkan mu, aku sudah berjanji akan selalu di sampingmu, tenanglah Joo" ucap Adinda, ia tetap memeluk Jonathan sambil mengelus lembut kepala Jonathan, Jonathan terus merancu dalam pelukan Adinda menyuruhnya untuk pergi, lama mereka berpelukan sampai akhirnya Jonathan sedikit tenang dan berhenti merancu


Adinda melepaskan pelukannya, ia mengambil segala air untuk Jonathan,


"minumlah agar kau lebih tenang" ucap Adinda sambil memberikan gelas itu pada Jonathan, Jonathan pun meminumnya hingga tandas dan memberikan kembali gelas itu pada Adinda


"Apa kau merasa lebih baik sekarang?" tanyanya lagi


"Emm" jawab Jonathan


"Apa kau bermimpi buruk?" tanya Adinda dan dijawab dengan anggukan kepala Jonathan


Jonathan hanya diam,


"Baiklah jika kau belum mau bercerita padaku, aku tidak akan memaksa mu, sekarang kau istirahat lah" ucap Adinda sambil membantu Jonathan untuk berbaring, ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Jonathan


Ketika Adinda ingin pergi, Jonathan langsung memegang tangan Adinda, "Bisakah kau temani aku?" tanyanya dengan tatapan penuh harap,


Adinda mengangguk, ia lalu duduk kembali di pinggir ranjang "Tidurlah, aku akan menemani mu disini" ucapnya sambil memegang tangan Jonathan


Dan malam itupun Adinda menemani Jonathan sampai terlelap,


Pagi ini Adinda terbangun saat waktu menunjukan pukul tujuh pagi, dilihatnya wajah Jonathan disampingnya saat ia membuka mata, ia teringat tadi malam ia memutuskan untuk tidur di samping Jonathan karena tidak tega meninggalkan Jonathan sendirian,


Adinda menyentuh wajah Jonathan yang masih terlelap, "Aku harap saat kau terbangun kau akan mengingat ku" gumam Adinda


Ia lalu bangkit dan mencium kening Jonathan, setelah itu ia menyibak selimut yang menutupinya dan turun dari tempat tidur,

__ADS_1


Dengan dibantu Koki di villa itu, Adinda menyiapkan sarapan untuknya dan Jonathan, setelah semuanya selesai ia naik ke kamar Jonathan untuk membangunkannya, di bukanya tirai gorden kamar itu, lalu menghampiri Jonathan yang masih terlelap "Joo bangunlah, sudah waktunya untuk sarapan" ucap Adinda sambil menggoyang-goyangkan lengan Jonathan,


Jonathan yang merasa tidurnya diusik mengerjapkan matanya, saat matanya terbuka sempurna ia langsung terperanjat melihat Adinda di hadapannya, "siapa yang mengizinkan mu masuk kamarku!!" teriaknya sambil bangkit dan duduk di tempat tidurnya,


Adinda yang mendapatkan reaksi Jonathan yang seperti itu hanya tersenyum "apa kau lupa, tadi malam kau memintaku untuk menemani mu?" ucap Adinda


"Aku?" tanya Jonathan heran


"Emm" Adinda mengangguk kan kepalannya, "ayo bangunlah lalu kita sarapan" lanjutnya sambil beranjak meninggal Jonathan,


Jonathan hanya menatap heran Adinda, ia pun segera bangun dan keluar dari kamarnya,


Di meja makan Jonathan hanya diam menatap makannya, Adinda yang melihat itu tidak tinggal diam, ia menghampiri Jonathan dan duduk disampingnya,


"Kenapa kau tidak makan?" tanya Adinda


"Aku sedang tidak berselera" jawab Jonathan


"Jangan seperti itu, kau harus makan supaya ada tenaga" ucap Adinda sambil mengangkat sendok berisi makanan ke depan mulut Jonathan,


"Buka mulutmu, aku suapi" tapi Jonatan menggeleng,


Adinda sadar Sekarang Jonathan bertingkah seperti anak usia 11 tahun jadi ia harus sabar menghadapi Jonathan, "ayo a...." ucap Adinda namun Jonathan tetap menggeleng,


"Kau mau makan atau aku akan menyuapi mu dengan mulut ku" ucap Adinda asal


Jonathan yang mendengar kata-kata itu, merasa aneh, ia seperti pernah mendengarnya tapi entah dimana, ia terus mencoba mengingat tapi kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit, ia lalu memegang kepalanya karena sakitnya yang tak tertahan ia pun berteriak,


"Arrghhh!!!!"


To be continue..


Mohon maaf atas keterlambatan up, karena author sedang sibuk... 🙏🙏


semoga kalian tidak kecewa,


dan di mohon ritual seperti biasanya , like ,coment , vote🥰🥰🥰

__ADS_1


terimakasih....


__ADS_2