
Passion of soul
Hal 16
Sudah seharian Zidan mencari alamat rumah Adinda, setelah ia bertanya pada salah seorang penghuni daerah tersebut akhirnya ia menemukan rumahnya Adinda,
"Tok..tok!" Zidan mengetuk pintu rumah Adinda,
"Permisi" ucapnya lagi dengan suara lantang
Dari dalam rumah terdengar suara seseorang sedang berusaha membukakan pintu,
"Iya , adek sedang mencari siapa" ucap seseorang yang tak lain adalah ibunya Adinda,
"Apa benar ini rumahnya Adinda, Bu?" tanya Zidan sopan
"Benar, adik ini siapa nya Adinda?" tanya ibunya lagi
"Saya Zidan , temannya Adinda" jawab Zidan
"Oh, temannya Adinda, silahkan masuk " ucap ibunya Adinda, beliau pun mempersilahkan Zidan untuk duduk, "Tunggu sebentar ya , Adinda sedang ke apotek, sebentar lagi mungkin pulang" ucap ibu Adinda sambil menyuguhkan minuman di meja,
"Iya, Bu terimakasih"
Zidan terpaksa mencari Adinda karena sudah tiga hari ini keadaan Jonathan down, setelah mengetahui alamat Adinda dari Jenita yang mendapatkannya dari dokumen di kampus, Zidan pun segera mencari Adinda kesini, Zidan mengingat kembali apa yang dialami Jonatan setelah kepergian Adinda,
Flashback on
Pagi itu di perusahaan, Zidan melihat Jonathan tidak seperti biasanya, tatapan mata Jonathan begitu dingin dan kosong, wajahnya begitu murung dan pucat seperti orang kekurangan tidur, setahu Zidan setelah mengenal Adinda Jonathan menjadi lebih hangat dan ceria, ia pun sangat senang dengan perubahan positif sahabat nya itu, tapi kenapa hari ini ia seperti ini? karena penasaran Zidan pun menanyakannya langsung pada yang bersangkutan,
"Kau kenapa Joo?" tanya Zidan
tapi tak ada jawaban dari mulut Jonathan, matanya terlihat fokus pada laptop dihadapannya tapi pikirannya entah kemana,
"Joo?!" panggil Zidan dengan suara yang lebih keras, tapi Jonathan tetap tidak memperdulikannya , " Apa kau sedang ada masalah dengan Adinda?" tanyanya lagi
Mendengar nama Adinda mata Jonathan memerah, ia melihat kearah Zidan, "berhentilah mencampuri urusanku!" lagi-lagi itulah kata-kata yang keluar dari mulut Jonathan, ia pun segera Keluar dari ruangannya dan meninggalkan Zidan dengan tatapan penasaran,
Dan malam itu...
__ADS_1
Keremangan cahaya lampu yang berwarna kuning menerangi ruangan yang cukup luas, meski ditengah-tengah nya ada ranjang berukuran king size, lemari baju dan satu set sofa namun ruangan itu masih terlihat luas jika disebut sebuah kamar, di salah sudut kamar itu terdapat sebuah pantry yang di rak depannya terdapat berbagai macam minuman dengan merek terkenal,
Minuman stimulan berwarna keemasan sudah tinggal separuh gelas, namun orang yang memeganginya masih enggan untuk menghabiskannya, sudah banyak minuman yang ia habiskan tapi sepertinya percuma, buktinya ia masih merasakan sakit di hatinya, rasanya begitu sakit, sakit yang sama yang ia rasakan saat ibunya dan Jimmy meninggalkannya,
Ia menatap layar di laptopnya, dilihat Adinda sedang menangis sambil pergi dari rumahnya, ia merasa tersiksa melihat air mata Adinda, apa lagi melihat Adinda pergi begitu saja meninggalkannya , ingin sekali rasanya ia mencari Adinda, tapi ia takut, ia takut apa yang akan ia lakukan pada Adinda setelah menemukannya, ia takut kehilangan kendali dan menyakiti Adinda nantinya,
Jonathan mengambil sebuah botol obat yang tergeletak di sampingnya, sebuah obat penenang yang mampu membuatnya melupakan sejenak rasa sakitnya, ia meminumnya dengan sekali teguk, dan perlahan lahan kehilangan kesadaran,
"Aku mencintainya Jimmy, aku tidak ingin menyakitinya, aku tidak ingin menjadi monster seperti mu lagi Jimmy, jadi aku mohon jangan paksa aku" guman Jonathan yang kesadarannya mulai menghilang,
Dan saat itu lah Zidan datang, ia melihat Jonathan tergeletak di lantai,
"Joo!!!" teriak Zidan dan langsung memegang wajah Jonathan berusaha menyadarkannya,
dilihatnya botol obat berserta butir-butir obat berceceran di sekitar Jonathan,
"Sial!!! sejak kapan kau mengkonsumsi obat sialan ini?!!" teriaknya lagi..
Zidan pun segera memanggil satpam rumah Jonathan, untuk membantunya membawa Jonathan ke rumah sakit,
Di rumah sakit Jonathan segera mendapatkan penanganan, untung saja Zidan datang tepat waktu jika tidak akan sangat berbahaya bagi nyawa Jonathan pasalnya ia meminum obat penenang setelah mengkonsumsi banyak alkohol,
sekarang Jonathan sedang berbaring tak sadarkan diri dengan selang infus ditangannya, Zidan menatap lekat wajah Jonathan "ada apa sebenarnya dengan mu Joo?" tanyanya dalam hati
Zidan pun akhirnya menceritakan semua kejadian yang baru saja ia lihat dirumah Jonathan,
Jenita menghela nafas panjang, setelah mendengar cerita Zidan barusan, "apakah trauma masa lalunya kembali lagi?, atau ini berhubungan dengan Adinda?"batin Jenita, karena sudah dua hari ini ia tidak melihat Adinda di kampus, ia juga tidak dapat dihubungi, "Zidan, bisakah aku meminta bantuan?" tanya Jenita pada Zidan,
"tentu saja kak, apa yang bisa aku bantu?" jawab Zidan,
"Tolong kau cari Adinda, aku akan memberikan Alamat Adinda dikampung halamannya" ucap Jenita
"baiklah, kak" jawab Zidan
Flashback off
Suara seseorang menyadarkan Zidan dari lamunannya,
"Ibu, aku pulang" ucap Adinda saat tiba di depan rumah, Adinda terkejut melihat Zidan sudah ada di dalam rumahnya,
__ADS_1
"Kau..?" ucap Adinda heran,
" Bagaiman kau bisa sampai disini?" lanjutnya bertanya pada Zidan,
"Panjang ceritanya, sekarang lebih baik kau ikut aku pulang ke kota ,aku akan menceritakan nya di jalan" ucap Zidan
Adinda yang di buat penasaran oleh Zidan pun mengiyakan perkataan Zidan, lalu mengemasi barangnya dan meminta izin pada ibunya, tidak apa jika meninggalkan ibunya sekarang karena ibunya sudah sehat seperti biasanya,
"Ibu, Adinda pamit dulu ya, Adinda sudah cukup lama meninggalkan kampus" ucap Adinda meyakinkan ibunya,
"Iya nak, kamu hati-hati ya di sana, jaga kesehatan, jangan menghawatirkan ibu, ibu baik-baik saja disini , kan ada paman dan bibi mu yang menemani ibu"
"kalau begitu Adinda pamit ya bu" ucap nya sambil memeluk erat ibunya,
********
Di sebuah ruangan yang dominan dengan cat warna putih itu berbaring seorang laki-laki tampan sedang tertidur pulas nya karena pengaruh obat bius, terlihat kedua tangannya yang terikat di kedua sisi samping tempat tidur pasien itu,
Adinda yang baru tiba di rumah sakit langsung masuk keruangan Jonathan, Air matanya sudah mengalir deras sejak mendengar cerita Zidan di perjalanan tadi,
"Joo..." panggil Adinda lirih, di dekat tubuh Jonathan, ia lalu duduk di kursi samping tempat tidur Jonatan dan mengenggam tangan Jonathan yang terikat itu , dipandangi wajah yang sedang berbaring itu, ia bingung apa yang sebenarnya terjadi saat ia tak ada,
Sebuah suara mengalihkan pandangan matanya Adinda pada Jonathan,
"Kamu sudah datang Din?" tanya Jenita
dilihatnya Jenita dan Natasya sudah berdiri di belakangnya Adinda,
"Miss Jen ,kak syasa apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Adinda pada kedua orang yang sangat ia kenal itu,
Jenita dan Natasya saling pandang, mereka bingung akan memulai cerita dari mana,
"Adinda, sebaiknya kamu tenangkan diri kamu dulu ya" ucap Jenita sambil mengelus rambut Adinda,
"Ada apa sebenarnya?, tolong jelaskan padaku?, kenapa Jonathan di ikat seperti ini?, padahal kata Zidan , Jonathan hanya sedang sakit" tanya Dinda bertubi-tubi,
Jenita mulai sedikit ragu-ragu untuk bicara ,
" Sebenarnya Jonathan....
__ADS_1
To be continue....
Hai...!!! penasaran kan sama kelanjutan nya, please like , koment dan jangan lupa kasih vote ya...🙏🙏 terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini... 🥰🥰🥰