
Passion of Soul
Hal 38
"Apa tidak sebaiknya kita berpamitan dulu pada ayahmu dan kak Syasa?" Tanya Adinda pada Jonathan. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju ke bandara.
Jonathan hanya terdiam. Enggan menanggapi pertanyaan Adinda.
"Joo..." panggil Adinda dengan nada sedikit manja.
"Jangan merengek seperti itu, kau mengganggu konsentrasi ku menyetir" ucap Jonathan tanpa mengalihkan pandangannya. Ia fokus menatap jalan di depannya.
Adinda yang kesal pada respon Jonathan pun memilih diam dan mengalihkan pandangan ke samping. Menatap ke luar jendela mobil.
Merasa tidak ada suara atau pergerakan lagi dari Adinda. Jonathan pun akhirnya melirik ke arah Adinda. "Kau kenapa?" tanyanya.
"Aku hanya ingin berpamitan dengan ayahmu dan kak Syasa. Aku tidak mau di cap sebagai wanita tidak tau sopan santun" ucap Adinda dengan tatapan memelas pada Jonathan. Dan sungguh itu benar-benar menjadi mantra yang ampuh untuk menggerakkan hati Jonathan. Ia tidak akan sanggup menolak permintaan kekasihnya itu jika sudah seperti ini.
"Ya Tuhan... Baiklah kita akan mampir ke rumah ku dulu!" ucap Jonatan kesal karena egonya kalah dengan sikap memelas Adinda.
Senyum langsung merekah di wajah Adinda. dengan cepat ia mengecup pipi Jonathan yang kembali fokus menyetir. "Emuah!"
"Aku mencintaimu Joo!" Ucap Adinda sesaat setelah mengecup pipi Jonathan. Sedang Jonathan hanya tersenyum melihat tingkah kekasih yang telah menggemparkan hatinya itu.
•
•
"Aku pasti akan sangat merindukanmu" ucap Natasya yang kini sedang memeluk Adinda. Kini mereka sedang berada di ruang tengah rumah keluarga William.
"Aku juga kak" Jawab Adinda.
"Aku titip Jonathan ya, tolong jaga dia" pinta Natasya pada Adinda.
"Memang kau pikir aku anak kecil!" ucap Jonathan kesal mendengar kata-kata Natasya.
"Kau itu lebih merepotkan dari pada anak kecil!" ejek Natasya pada adik laki-laki sematawayangnya.
"Apa ayah ada kak?" tanya Adinda.
__ADS_1
"Ayah sedang berada di ruang kerjanya. Apa kau ingin berpamitan? ayo kakak antar." Natasya berjalan mendahului Adinda menuju ruang kerja tuan William.
Adinda mengangguk. Ia meraih jemari Jonathan hendak mengajaknya berjalan menuju ruang kerja ayahnya Jonatan.
"Kau saja, aku tunggu di sini" ucap Jonathan malas. Ia enggan menemui ayahnya dan berpamitan.
"Ayolah... Aku takut jika kau tidak menemaniku" rengek Adinda. Dan lagi-lagi jurus rengekan Adinda begitu ampuh untuk meruntuhkan ego Jonathan.
"Kau pikir ayahku monster yang akan menggigit mu! kenapa kau takut?!" gumam Jonathan sambil mengandeng tangan Adinda menuju ruang kerja ayahnya. Adinda menahan senyum mendengar gumaman Jonathan. Darah lebih kental dari pada air, pepatah itu benar adanya. Sekesal dan sebenci apa pun Jonathan pada ayahnya. Adinda yakin Jonathan masih sangat menghormati dan menyayangi ayahnhya itu.
Ruang kerja ayahnya tidak banyak berubah, masih sama persis seperti 16 tahun lalu terakhir kali Jonathan menginjakan kakinya di ruangan itu beberapa hari sebelum tragedi itu terjadi. Hanya cat di dindingnya saja yang berganti warna, dari warna hijau tua menjadi warna abu-abu.
"Ayah.." Panggil Natasya saat membuka pintu ruang kerja tuan William. Membuat tuan William mengalihkan pandangannya dari berkas yang ia baca beralih ke sumber suara yang memanggilnya tadi.
Dilihatnya putri satu-satunya sedang berdiri di ambang pintu dan disusul dua orang yang sedang berjalan bergandengan di belakang Natasya.
Seketika senyum mengembang di wajah tuan William. Melihat putra kesayangannya dalam keadaan baik-baik saja menghampirinya di ruang kerjanya. Sudah lama sekali Jonathan tidak menghapirinya seperti ini, pikirnya.
"Ada apa?" Tanya tuan William datar. mencoba menutupi kebahagiaan yang sedang menghangatkan hatinya.
"Joo dan Adinda ingin pamit pulang ke Indonesia" Jawab Natasya sambil menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Sedang Jonathan dan Adinda berdiri di seberang meja tuan William. Adinda menatap tuan William dengan senyum yang terus mengembang. Sedang Jonathan menghindari kontak mata dengan ayahnya itu.
"Izin cuti kuliahku sudah hampir habis, Jadi aku harus segera pulang dan masuk kuliah seperti biasanya, ayah" Jawab Adinda dengan senyum tulus yang terus mengembang. Tanpa rasa canggung ia memanggil tuan William dengan sebutan ayah karena ia tahu, tuan William pun tulus saat menyuruh Adinda memanggilnya dengan sebutan ayah.
Tuan William tersenyum. " Baiklah, hati-hati dijalan. dan main lah kesini jika ada waktu luang"
Adinda menganguk. "Iya yah, Ayah juga jaga kesehatan." Adinda menyikut lengan Jonathan berharap kekasihnya itu mengatakan sesuatu pada ayahnya.
"Apa yang kau lakukan" gumam Jonathan sambil melirik kekasihnya yang terus menyikut lengannya itu. Adinda hanya bungkam tapi matanya memberi kode pada Jonathan agar mengatakan sesuatu pada ayahnya.
"Ehem!!" Suara daheman Natasya menyadarkan kelakuan mereka berdua.
"Kami harus pergi sekarang. takut tertinggal pesawat" ucap Jonathan kikuk sambil berlalu meninggalkan ruangan ayahnhya. Adinda dan Natasya menghela nafas kesal melihat tingkah Jonathan. Sedangkan garis bibir tuan William melengkung membentuk senyuman tipis. Baginya ini sudah kemajuan bagus melihat Jonathan mau masuk ke ruangannya.
"Aku pamit ayah" ucap Adinda sambil membungkukkan tubuhnya. Tuan William hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ayo kakak antar kedepan" ucap Natasya.
Mereka berdua pun keluar ruang kerja tuan William. meninggalkan orang tua itu sendirian menikmati momen menggelikan antara ia dan anak laki-laki sematawayangnya tadi. Bagaimana bisa ayah dan anak bersikap sekaku tadi, pikir tuan William.
__ADS_1
•
•
"Welcome to Indonesian!" teriak Adinda saat pesawat hendak landing di Bandar Udara internasional Soekarno-Hatta. Setelah menempuh waktu sekitar 18 jam di pesawat akhirnya mereka sampai juga di Indonesia.
"Berisik!" ucap Jonathan setelah mengecup bibir Adinda.
"Kenapa kau mencium ku!" teriak Adinda sambil menengok ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang di dalam pesawat saat ini.
"Memang kenapa?" Jonatan balik bertanya.
"Kalau ada orang lihat bagaiman? aku malu! ini di indo bukan di Jerman yang bisa bebas ciuman di jalan!" ucap Adinda sambil memukul lengan Jonathan.
"Aww!" Jonathan pura-pura mengaduh kesakitan mendapat pukulan lemah dari Adinda.
"Jangan pura-pura!" ucap Adinda geram.
Seketika wajah Jonathan kembali normal mendengar ucapan Adinda, setelah sebelumnya ia pura-pura meringis kesakitan. "Kita ada di first class! lihat tidak ada orang selain kita di sini!" ucap Jonathan mengingatkan Adinda.
Adinda tersipu malu "aku lupa"
"Bahkan tidak akan ada yang tau jika kita begituan di sini" bisik Jonathan dengan nada seduktif.
"Kau ini!" sebuah pukulan lebih keras mengarah ke lengan Jonathan, dan yang ini benar-benar sakit.
"Aww!" Kenapa kau memukulku! sakit!" Teriak Jonathan spontan. "Belum saja menikah kau sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga!" lanjutnya.
"Makanya berhentilah berbicara kotor!" ucap Adinda geram melihat tingkah Jonathan.
" Siapa yang bicara kotor?! pikiran mu yang kotor!" sanggah Jonathan.
"Tadi kau bilang begituan! begituan apa maksudnya! dasar mesum!" ucap Adinda dengan wajah merona karena malu membahas hal seperti itu.
"Kau yang mesum!" Jonathan mendorong jidad Adinda dengan jari telunjuknya. "Begituan apa yang kau pikirkan?" tanya Jonathan dengan mata sedikit disipitkan dan senyum yang tertahan. Mengerti maksud Adinda.
"Sudahlah diam!" Adinda tidak mau terus membahas sesuatu yang membuat wajahnya semakin merah seperti udang rebus.
"Ahahahah" Jonathan tergelak melihat wajah kekasihnya itu. Sungguh sadar atau tidak kini hari-hari Jonathan di penuhi dengan gelak tawa dan kegembiraan setelah bertemu dengan Adinda.
__ADS_1
To be continue...