
Passion of soul
Hal 4
Di salah satu gedung pencakar langit di kota ini, terdapat sebuah ruang kerja yang di disain begitu mewah. Seorang pria sedang duduk di kursi kebesarannya, ia duduk menghadap jendela besar dihadapannya, telunjuk kiri nya ia ketuk-ketukan dimeja sedang tangan kanannya menyanggah kepalannya, matanya terpejam tapi ia tidak tidur, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Flashback on
"Serendah itukah harga dirimu?!" hardik Jonathan.
"Maaf, apa maksud anda?" tanya Adinda tidak mengerti, bukan pura-pura, ia benar-benar tidak mengerti.
Jonathan melihat Adinda dengan tatapan seduktif, matanya seperti mengabsen seluruh tubuh wanita yang ada dihadapannya, ia mengangkat sebelah sudut bibirnya menciptakan serigaian "dengar nona, dengan wajah dan tubuh mu ini, kau bisa mendapatkan uang lebih banyak dari itu. Aku tau, pasti syasa membayar mu untuk merayuku"
Bak di sambar petir, mendengar kata kata yang dilontarkan pria yang baru ia kenal begitu menohok di hatinya, marah? pasti! ingin memaki pria di hadapannya? tentu saja! tapi Adinda bukanlah orang yang mudah tersulut emosinya. Ya! ia adalah gadis berpendidikan yang mampu mengendalikan emosinya, tak percuma ia mengambil pendidikan di jurusan psikologi.
"Sabar Adinda, nanti saat kamu sudah bekerja di rumah sakit jiwa pasti akan bertemu dengan orang yang lebih gila dari pada dia" batin Adinda.
"Maaf seperti nya anda salah paham, karena tugas saya menyiapkan sarapan sudah selesai, saya permisi" ucap Adinda sambil membungkukkan sedikit tubuhnya dan hendak berlalu dari sana.
Belum Adinda beranjak dari tempat itu, tangannya sudah dicengkeram oleh Jonathan. Ditariknya Adinda hingga pinggangnya membentur meja makan. Jonathan lekas berdiri dan di himpitnya Adinda dengan tubuhnya, kedua tangan Jonatan berada dia atas meja diantara dua sisi pinggang Adinda, Adinda terperangkap, ia tidak bisa bergerak, wajah Jonathan begitu dekat dengannya , bahkan deru nafasnya terasa jelas menerpa wajah Adinda.
"Beraninya kau pergi saat aku belum selesai bicara" desisnya, tatapannya tajam memerangkap mata Adinda , benar-benar membuat Adinda tak berkutik.
Tapi diperlakukan seperti itu, tak membuat Adinda gentar, ia menatap balik mata laki-laki yang ada di hadapannya, "apa anda sudah selesai bicara? jika belum aku akan mendengarkannya" ucap Adinda tegas tanpa keraguan.
Jonathan mengernyitkan dahinya, matanya menelisik, ia mundur selangkah, ia ingin bicara tapi tiba-tiba lidah nya kelu, "ada apa dengan wanita ini? tatapannya? kenapa tatapannya seperti.... ?" pikir Jonathan saat menatap bola mata hazel milik Adinda.
Hal itu dimanfaatkan oleh Adinda untuk lolos dari perangkap laki-laki dihadapannya,
"baik jika tidak ada yang ingin anda bicarakan, saya permisi" ucap Adinda dan dengan cepat ia berlalu dari sana.
Jonathan yang baru saja tersadar dari pikirannya, hanya memandang punggung gadis itu dengan sebelah sudut bibirnya yg terangkat, " beraninya dia?!" guman Jonathan dengan senyum dingin diwajahnya.
flashback off
"Tok..tok!!"
__ADS_1
suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Jonathan.
"Masuk" jawabnya singkat.
Terlihat Zidan yang muncul dari balik pintu yang tadi diketuk, ia pun segera menghampiri Jonathan,
"Joo, lihat ini " ucap Zidan sambil menunjukan gambar di layar ponselnya, Jonathan hanya meliriknya sekilas.
"Uuuh, seksinya Joo, aku bertemu dengannya di club semalam, apa kau ingin mencicipi nya?" tanya Zidan dengan ekspresi menaik turunkan kedua alisnya.
Jonatan tak menanggapi omongan sahabatnya, ia beranjak dari kursi kebesarannya mengambil jasnya yang tergantung di sandaran kursi, "aku mau pergi" ucapnya sambil berlalu.
"Ehh, ada apa dengan mu, Joo? kau yakin tidak mau? jika tidak mau aku yang maju? tanya Zidan, tapi Jonathan tetap tidak menghiraukan.
"Hyaaa!! Joo kau mau kemana? aku sedang bicara!" teriak Zidan.
"Bukan urusan mu!" jawab Jonathan yang terus berjalan tanpa menoleh kebelakang, ia pun keluar dari ruangan itu.
"Huh! sejak kapan urusan mu bukan urusanku, sedangkan kau selalu membuat ku repot dengan semua urusan mu" seloroh Zidan yang masih di dalam ruangan.
******
"Lost connections" oleh Johann Hari tulisan yang terlihat di sampul buku yg ia pegang, ia begitu antusias, sesekali ia mencatat apa yang ia baca kedalam notebooknya. Sungguh pemandangan yang memperlihatkan bahwa gadis cantik itu giat sekali dalam belajar. Hingga suara dering Ponsel mengalihkan perhatiannya. Ia pun mengangkat panggilan di ponselnya.
"Halo Miss Jen" ucap gadis cantik itu yang ternyata adalah Adinda.
"Iya miss, saya kesana sekarang" ucapnya lagi.
Adinda pun menutup buku yang ia baca, memasukkan nya kedalam tas dan berlalu dari sana.
•
•
"Bagaimana Din, apa ada masalah dirumah itu" tanya Jenita sesaat setelah Adinda masuk keruangannya.
"Rumahnya tidak ada masalah miss tapi penghuninya yang bermasalah" jawab Adinda cepat
__ADS_1
"hahaha ! " Jenita tertawa mendengar jawaban Adinda.
"ehh? kok malah ketawa miss?" tanya Adinda heran.
"sorry, sorry Dind, habisnya kau lucu sekali blak-blakkan, kau tidak ingat Jonathan itu sepupuku?" ucap Jenita.
"sudah ya Dind, kau tidak perlu memikirkan Jonathan, yang penting kau di sana fokus bekerja saja" lanjut Jenita.
"miss Jen tidak tahu saja kejadian tadi pagi!" batin Adinda.
"iya miss..." jawab Adinda lemas
"Jangan lemas begitu dong Din, aku janji setelah kontrakmu selesai, aku sendiri yang akan membawamu keluar dari rumah itu. sabar ya hanya setahun kok" ucap Jenita.
"Iya miss Jen, kalau begitu, aku masuk kelas dulu ya Miss Jen, masih ada kelas nya pak Bahtiar siang ini" pamit Adinda.
Sebenarnya masih banyak yang ingin Adinda tanyakan mengenai kontrak kerja di rumah Jonathan, pasalnya Adinda merasa ada yang janggal, tapi Adinda sungkan mengingat Jenita sudah banyak membantu Adinda, bahkan ia bersedia meminjamkan uang untuk operasi jantung Aldino dengan syarat nanti Adinda akan membayarnya dengan bekerja dirumah sakit milik Jenita, dari awal bertemu Jenita memang sangat baik pada Adinda , mungkin karna Jenita ahli psikologi yang hebat, ia seperti memahami karakter dan kepribadian Adinda, dan itulah yang membuat Jenita sangat menyukai Adinda, ia menganggap Adinda seperti adiknya sendiri.
********
Jonathan terlihat sedang mengusap keringat yang mengalir di wajahnya, dengan deru nafas yang tersengal ia mengambil botol air yang ada di sampingnya lalu meminumnya,
lelah yang ia rasakan setelah seharian ini hingga menjelang senja ia bergelut dengan alat-alat di gym.
Ya, Jonathan pergi ke gym untuk menjernihkan pikirannya, hal yang sering ia lakukan setiap ada masalah pelik. Ia akan berolahraga hingga ia tidak ada tenaga lagi dan pada akhirnya ia bisa tertidur pulas tanpa mimpi buruk, mimpi yang selama ini menghantui Jonathan, hingga ia mengidap insomnia, dulu ia selalu mengkonsumsi obat tidur tapi sekarang jarang , karena Jenita menolak meresepkan obat tidur untuk Jonathan dan menyuruh Jonathan untuk berolahraga saat menjelang malam,
ya... walau terkadang Jonathan diam-diam masih mengkonsumsi obat tidur yang ia dapat dari dokter di rumah sakit yang berbeda tanpa sepengetahuan Jenita.
Pukul 7 malam ia kembali kerumahnya, ia langsung masuk kekamar mandi di kamarnya untuk membersihkan dirinya. Seusai mandi ia pergi keruang kerjanya yang berada diseberang pintu kamarnya.
Ia menghidupkan laptop yang ada dimeja ruang kerjanya, lalu membuka rekaman cctv yang terhubung di seluruh sudut rumahnya.
Matanya fokus menatap ke arah layar laptop, seperti mencari-cari sesuatu, hingga akhirnya ia tersenyum dengan sebelah sudut bibirnya karena telah menemukan apa yang ia cari,
ia meng zoom satu rekaman yang ternyata di dalamnya nampak seorang gadis cantik yang sedang sibuk memasak di dapur rumahnya. Ia terus memperhatikan gerak gerik gadis itu dari layar laptopnya,
sesekali ia tersenyum tatkala melihat gadis itu tertawa karena obrolannya dengan bik Inah, meski rekaman cctv itu tidak ada suaranya. Ia menyentuhkan tangannya ke layar laptopnya, diusapnkan telunjuk tangannya di bagian yg mempertontonkan wajah gadis itu.
__ADS_1
"Menarik... ," gumamnya sambil tersenyum.
To be continue...