
Passion of Soul
Hal 33
Jonathan sedang duduk termenung di tempat tidurnya, dengan punggung dan kepalanya yang bersandar di dashboard. "Apa aku membuatmu terluka?" gumamnya.
Ia menyaksikan, bagaimana Adinda tadi menangis di taman belakang villa dari jendela kamarnya. dan itu benar-benar membuatnya merasa terluka. rasanya ingin sekali ia berlari memeluk Adinda saat itu juga.
Tapi ia mengurunkan niat ketika ia mengingat kembali wajah Adinda yang terkulai lemah di rumah sakit saat itu. Ya... Jonathan sudah bisa mengingat semuanya setelah ia tersadar dari pingsannya.
Rasa bersalah yang amat sangat kini ia rasakan. Kenapa ia harus seperti itu? kenapa ia selalu berada di bawah bayang-bayang Jimmy? sungguh ia membenci dirinya sendiri. Ia begitu mencintai Adinda tapi bagaimana jika ia kembali lagi menjadi sosok yang akan membahayakan Adinda? semua kata-kata itu yang sejak tadi berputar di pikiran Jonathan.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam, merasa penat dengan apa yang ia pikirkan, ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Langkah kakinya berhenti di depan pintu kamar Adinda. Ia berdiri menatap pintu kamar Adinda cukup lama, hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamar Adinda.
Pelan ia menekan handel pintu kamar itu, agar tak membangunkan si pemilik kamar.
Ia melangkah menuju tempat tidur dimana Adinda sedang berbaring menikmati mimpi indahnya atau mimpi buruknya, (entahlah Author kurang tau, yang jelas mimpi hehehe)
Ia masih berdiri di sisi kanan tempat tidur, dengan kedua tangannya yang ia masukkan dalam saku celananya, menatap Adinda dengan intens. "maaf" gumamnya.
Lalu.....
**********
Pagi ini Adinda bangun lebih awal karena mendengar suara mobil yang baru saja keluar dari halaman villa. Tiba-tiba entah mengapa ia ingin sekali melihat wajah Jonathan. Tadi malam ia bermimpi Jonathan ada di kamarnya. mungkin karena ia terlalu lelah menangis dan memikirkan Jonathan hingga mimpi itu terasa nyata, pikir Adinda.
__ADS_1
Ia pun bergegas kekamar Jonathan, sampai di depan pintu ia mulai ragu-ragu, bagaiman jika Jonathan marah atau mengusirnya dari kamarnya.
Setelah beberapa menit ia bersitegang dengan pemikirannya sendiri akhirnya ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar itu,
"Tok...tok..!"
Tak ada sahutan. Akhirnya ia pun memberanikan diri membuka pintu kamar Jonathan. Mata Adinda langsung tertuju pada tempat tidur Jonathan tapi ia tidak melihat Jonathan di sana. Ia pun segera berlari ke arah kamar mandi, tapi juga kosong.
Adinda mulai cemas. Tadi malam ia bermimpi tapi terasa sangat nyata. Atau jangan-jangan itu adalah nyata?, pikir Adinda.
Ia segera berlari ke kamar Jenita,
"Miss Jen!" teriak Adinda sambil mengetuk kamar Jenita.
Dari dalam terdengar suara Jenita memutar kunci pintu dan tak lama pintu di buka olehnya. "Ada apa Din?" tanya Jenita dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Jenita terkejut, "apa maksudmu Jonathan tidak ada?"
"Jonathan tidak ada di kamarnya. aku sudah mencarinya tapi tidak ada, tapi tadi aku dengar suara mobil keluar villa" Jelas Adinda
"Maksudmu Jonathan pergi dari villa?" tanya Jenita di sela keterkejutannya.
Segera saja Jenita berlari kearah garasi mobil. Benar saja, mobil yang biasa di pakai Jonathan tidak ada. Jenita langsung kembali ke atas mengambil kunci mobilnya. "Adinda masuk mobil!" perintah Jenita pada Adinda. Ia pun menurut.
Jenita melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mencoba mengejar mobil Jonathan. Jalanan menuju Villa ini hanya satu. Jenita sudah pasti tau ke arah mana Jonathan melajukan mobilnya.
__ADS_1
Di dalam mobil Adinda mencoba mengingat kembali mimpi yang terasa nyata baginya.
Flashback on
Adinda merasa lelah setelah beberapa jam menangis di taman belakang villa. ia masuk kedalam kamarnya sekitar pukul 11 malam. Ia mencoba memejamkan matanya tapi tidak bisa. ia terjaga hingga pukul 1 malam barulah ia bisa terpejam.
Samar-samar ia mendengar seseorang sedang berbicara padanya. Ia benar-benar kelelahan hingga tidak bisa membedakan mimpi atau nyata.
"Maaf" kata pertama yang ia dengar begitu samar. Lalu...
Terasa seperti ada yang duduk di sampingnya. "Maafkan aku, karena aku telah menyakitimu. Maaf karena telah membawa mu dalam hidupku. Kau adalah wanita pertama yang membuat ku jatuh cinta Adinda. Aku bahagia saat bersamamu. Tapi setelah kejadian itu, aku benar-benar takut, aku takut jika aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi dan menyakiti mu. sama seperti ibu dan saudara ku, mereka juga terluka karena aku. Maaf sepertinya aku harus melepaskan mu agar kau bisa hidup bahagia" dan terasa sebuah ciuman mendarat di kening Adinda.
Flashback off
Adinda yakin itu bukan mimpi. Itu nyata, Jonathan yang mengatakannya. Air mata Adinda menetes seketika. Merutuki dirinya sendiri, kenapa ia tidak bangun saat itu juga.
Jenita sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tapi tak juga melihat mobil Jonathan. "Sial..! pergi kemana kau Joo! umpat Jenita.
Hingga akhirnya ia melihat mobil Jonathan berjarak tidak jauh dari depannya, Jenita semakin menginjak gas, menyalip mobil itu agak jauh dan menghentikan mobilnya tiba-tiba dalam posisi memalang.
Jonathan yang tidak menyadari ada mobil yang mengikutinya. bahkan mobil itu sekarang sudah berhenti mendadak di depannya menutupi badan jalan. Jonathan langsung menginjak rem mobil dan menghentikan laju mobilnya. "Shittt!!" maki Jonathan yang masih belum menyadari jika itu mobil Jenita. Ia pun segera keluar dari dalam mobil hendak menghajar orang yang menghalangi jalannya. Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat melihat Adinda yang keluar dari mobil itu.
Adinda berlari ke arah Jonathan. Tanpa berfikir panjang ia langsung memeluk Jonathan. Memeluk dengan sangat erat.
"Dasar Brengs*k!!!" Teriak Adinda
__ADS_1
To be continue...