
Malam itu juga Kenzo langsung pulang, ia tidak bisa tenang saat mendengar kalau Ningrum masuk rumah sakit. Di hatinya terus mencaci maki Dara yang tidak mengabarinya sejak tadi.
Jika saja Dara memberi kabar siang tadi, mungkin saat ini Kenzo sudah menemani sang Mama di rumah sakit.
"Bisa ngebut lagi gak Gio ?" tanya Kenzo begitu panik.
"Ini sudah ngebut tuan, kalau saya tamba lagi takutnya kita kecelakaan"
Kenzo mendesah berat, entah kenapa perjalanan kali ini terasa begitu lambat. Jika ia memiliki sayap sudah pasti ia akan terbang supaya lekas sampai.
Dua jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit terbesar dimana Ningrum di rawat.
"Kau langsung pulang saja ! besok pagi saya kabarin" kata Kenzo pada sekretaris nya Gio.
"Baik tuan" balas Gio "Salam untuk nyonya Ningrum, semoga beliau lekas sembuh"
"Terima kasih, nanti akan saya sampaikan"
Kenzo keluar dari mobil, dengan langkah cepat ia mencari kamar rawat sang Mama. Tadi Dara sudah memberi tahu nomor kamar Ningrum jadi dirinya tidak perlu bertanya lagi.
"Ini dia" gumam Kenzo setelah mendapatkan nomor kamar sang Mama.
Perlahan namun pasti Kenzo mendorong pintu kamar tersebut, dan benar saja hal pertama yang ia lihat adalah sang Mama yang terlelap di atas ranjang pasien. Selang infus menggantung di sisi tempat tidurnya, membuat Kenzo merasakan khawatir yang teramat dalam.
Tatapan mata Kenzo teralih kearah lain, dimana Dara dan Neysa sedang tertidur pulas di atas kasur busa yang tadi di antarkan oleh Bi Rus.
"Dara bangun !" Kenzo menggoyang kan bahu Data dengan pelan, membangunkan wanita itu sebentar.
"Heeeemmmm" mata Dara perlahan terbuka, ia terkejut saat melihat Kenzo sudah berada di ruangan itu.
"Mas Kenzo kapan datang ?" tanya Dara dengan suara pelan.
"Barusan !" jawab Kenzo. "Bangun dulu saya mau bicara sama kamu"
"Baik mas"
Dara menurut, ia bangun dan mengikuti langka kaki Kenzo keluar dari ruangan Ningrum. Di depan ruangan itu ada kursi panjang untuk mereka berdua bicara.
__ADS_1
Perasaan Dara tidak enak, ia takut Kenzo akan marah-marah karena tidak mengabari tentang keadaan Ningrum.
"Kamu tau apa kesalahan mu ?" tanya Kenzo, sorot matanya yang tajam berhasil membuat Dara gugup.
"T-a-u mas" jawab Dara terbata-bata.
"Bagus kalau kamu tau, sekarang saya tanya sama kamu, kenapa kamu tidak mengabari saya tentang keadaan Mama, bahkan sampai Mama dibawah kerumah sakit"
"Maaf mas, tadi memang saya mau mengabari mas Kenzo, tapi Tante Ningrum melarang katanya takut mengganggu pekerjaan mas di luar kota"
"Ini alasan yang klise Dara, saya tidak percaya hal itu. Ok jika memang Mama meminta kamu seperti itu, tapi tolong jangan di turuti, jika terjadi apa-apa sama Mama apa kamu mau bertanggung jawab ?" kali ini suara Kenzo meninggi bahkan terkesan membentak.
Dara tidak terbiasa di bentak hanya bisa menunduk, menyembunyikan air mata yang sebentar lagi akan menetes dengan deras.
"Kamu sudah melakukan kesalahan dua kali Ra, jadi saya harus berpikir ulang untuk terus memperkerjakan kamu"
Dara mengangkat kepalanya, air mata yang sedari tadi ia tahan menetes begitu saja.
"Apa mas Kenzo akan memecat saya ?" tanya Dara dengan suara serak.
"Tanpa di jelaskan kamu pasti sudah mengerti"
"Ken" tiba-tiba pintu ruangan terbuka, di susul Ningrum yang keluar.
"Mama" ucap Kenzo kaget.
"Kenapa Tante bangun ? apa Tante membutuhkan sesuatu ?" tanya Dara, berusaha menyembunyikan air mata yang terlanjur menetes.
"Ini bukan salah Dara, Mama yang menyuruh Data untuk tidak menghubungi kamu, lagian kata dokter Mama hanya kecapekan, besok pagi Mama sudah boleh pulang" Ningrum tak menjawab pertanyaan Dara, melainkan langsung menjelaskan semuanya pada Kenzo.
"Lagian kamu seharusnya berterima kasih sama Dara, dia yang bawa Mama kerumah sakit, kalau tidak ada Dara mungkin Mama masih di kamar dan anak kamu tidak akan ada yang menjaga" sambung Ningrum lagi.
"Tapi dia salah Ma, dia tidak mengabari Kenzo kalau Mama masuk rumah sakit" Kenzo tetap kekeuh menyalah kan Dara.
"Sudah Mama bilang ini bukan salah Dara, ini salah Mama jadi stop menyalahkan Dara karena hal ini"
Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak suka jika Ningrum terlalu membela Dara, walau bagaimana pun Dara hanyalah orang asing yang baru beberapa hari mereka kenal.
__ADS_1
"Lagian kalau kamu pecah Dara, bagaimana dengan anak kamu, dia pasti akan nangis karena Neysa sudah sayang banget sama Dara"
Mendengar hal itu ego Kenzo langsung menurun, benar kata Ningrum jika dirinya memecat Dara bagaimana dengan Neysa. Bahkan Kenzo masih ingat Neysa menangis saat Dara pergi waktu itu.
"Ok baiklah, aku gak jadi memecat Dara, tapi ingat jangan ulangi semua ini lagi" kata Kenzo akhirnya mengalah dan tetap membiarkan Dara bekerja di rumahnya.
"Terima kasih mas, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi"
"Salah itu adalah hal yang wajar Dara, jadi jangan pernah mengucapkan janji kalau kamu tidak akan melakukan kesalahan lagi" sahut Ningrum memberi nasehat.
"Maaf Tante"
Setelah permasalahan selesai mereka kembali masuk ruangan, Dara membantu Ningrum naik keatas ranjang tempat tidurnya, barulah ia menuju dimana Neysa berada.
"Kalau mas mau tidur di samping Neysa silahkan ! biar saya yang tidur di sofa" ucap Dara
"Kamu aja yang tidur disana, saya tidur di sofa. Lagian takutnya nanti Neysa nyariin kamu"
Akhirnya Dara kembali ke tempat tidurnya semula, dimana berada di samping Neysa. Ia benarkan selimut Neysa yang melorot tak lupa sebuah ciuman penuh kasih sayang ia berikan di kening Neysa.
Diam-diam Kenzo memperhatikan semua itu, ia bisa merasakan betapa sayangnya Dara pada putri semata wayang nya itu. Di luar sana belum tentu ada wanita yang seperti Dara, menyayangi Neysa padahal bukan anak kandungnya.
Karena sudah mengantuk Dara langsung tertidur kembali, sementara Kenzo duduk di sofa sembari mengecek email yang ia terima. Pekerjaan nya di kantor semakin banyak, wajar karena perusahaan yang Kenzo bangun semakin berkembang pesat.
"Ken" tiba-tiba Ningrum memanggil.
Kenzo menoleh sambil berkata "Iya ma"
"Kenapa belum tidur ?"
"Belum mengantuk, mama sendiri kenapa bangun ?"
Kenzo mendekat, menarik sebuah kursi lalu duduk di samping ranjang milik Mama nya. Ia genggam tangan Ningrum dengan erat.
"Mama sudah tua nak, entah berapa lama lagi umur Mama"..
"Jangan bicara sembarangan Ma ! Kenzo tak suka mendengarnya" balas Kenzo.
__ADS_1
"Tapi ini kenyataan nya, umur Mama semakin berkurang setiap hari, dan di sisa umur Mama ini, Mama ingin kamu menikah lagi"