Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Ponsel baru


__ADS_3

Saat memasuki rumah Kenzo perasaan Dara menjadi tidak enak. Apalagi saat melihat mobil Kenzo sudah terparkir di garasi.


Dengan langkah pelan Dara memberanikan masuk, suasana tampak mencekam. Detak jantungnya berdetak begitu cepat.


"Saya kira kamu tidak akan balik lagi kerumah ini ?" suara barinton Kenzo membuah langka kaki Dara berhenti.


"Ma-maaf mas saya pulang telat" ucap Dara sungguh-sungguh.


Kenzo diam, ia duduk di sofa dengan kaki kanannya bertumpu kaki kiri, tatapannya masih lurus menatap layar televisi.


"Aduh apa mas Kenzo melihat berita itu ya ? mati aku kalau dia tau semuanya" batin Dara.


"Kata Mama kamu izin sebentar karena ada barang yang ingin kamu ambil, tapi saya lihat kamu tidak bawa apa-apa"


Dara lupa, harusnya ia membawa satu barang untuk ia jadikan alasan. Karena ia izin dengan Ningrum ingin mengambil barang yang tertinggal.


"Anu mas, ibu kos nya sedang pergi, katanya sore pulang tapi saya tungguin ternyata gak pulang-pulang" entah kenapa alasan itu yang ada di pikiran Dara.


Kali ini Kenzo menatap wajah Dara, ia tahu betul kalau wanita itu sedikit ketakutan padanya.


"Kerja disini bukan untuk main-main, kalau kamu tidak mau bekerja disini dan mengurus putri saya, silahkan angkat kaki !" kata Kenzo cukup tegas.


"Maafkan saya mas ! saya mohon jangan pecat saya ! karena pekerjaan ini sangat saya butuhkan, saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini"


Kenzo menarik napas panjang, ia teringat tangisan Neysa tadi saat ia pulang bekerja. Dan saat di tanya Neysa mengatakan ingin ikut Dara.


Disana Kenzo ingin marah, tangisan Neysa membuat emosinya memuncak.


"Beri aku kesempatan sekali lagi mas !" Dara memohon, berharap Kenzo akan memaafkan kesalahan nya.


"Baiklah, karena anak saya begitu menyayangi kamu, akan saya maafkan ! tapi sekali lagi kamu melakukan kesalahan, detik itu juga kamu angkat kaki di rumah ini"


"Makasih mas, saya janji tidak akan melakukan kesalahan lagi"


Kenzo tak lagi menjawab, karena beberapa menit kemudian terdengar suara Neysa yang memanggil nama Dara. Wanita itu langsung tersenyum kemudian merentang kedua tangannya untuk menyambut Data kedalam pelukan.


"Kenapa kakak lama sekali perginya ? tadi katanya cuman sebentar" tanya Neysa.

__ADS_1


Dara mencium pipi Neysa dengan penuh kasih sayang "Maafkan kakak ya sayang, tadi ada kendala sedikit, tapi kakak janji tidak akan meninggalkan Ney lagi"


"Benarkah ?"


"Iya"


Neysa membalas mencium pipi Dara, dan semua itu di lihat oleh Kenzo. Dalam hati laki-laki itu tersenyum senang karena anaknya kembali ceria.


"Tadi Ney nangis ya ?"


Neysa mengangguk kepalanya, kemudian berkata "Ney rindu kakak"


"Kakak juga merindukan Ney" balas Dara "Ya sudah yuk ke kamar, sebentar lagi Adzan Maghrib kita sholat magrib bareng yuk, kita doakan Mama nya Ney supaya bahagia di Surga"


Dengan semangat Ney menyetujui, ia bahkan mengatakan akan meminta sang Mama untuk pulang sebentar. Dara terkekeh sembari menggendong Neysa menuju kamarnya.


Sementara Kenzo masih duduk di sofa, selama ini karena terlalu sibuk bekerja ia tidak pernah mengajari putrinya untuk sholat, ia bahkan tidak pernah mengajari Neysa mendoakan Almarhum Allisya.


"Sungguh aku bukanlah ayah dan suami yang baik, seharusnya selama ini aku mengajari anak ku Sholat supaya dia bisa mendoakan Mama nya" batin Kenzo lirih.


Malam harinya, setelah melaksanakan sholat isya dan menidurkan Neysa. _ Dara menemui Kenzo yang berada didalam ruang kerjanya. Tak lupa sebelum kesana ia membuatkan Kenzo kopi.


"Masuk !" perintah itu yang membuat Dara berani membuka pintu dengan pelan


Kendo mendongak menatap Dara dengan seksama, ia heran untuk apa Dara menemuinya seperti ini, padahal ia tak meminta sedikitpun.


"Maaf kalau saya mengganggu pekerjaan mas Kenzo" ucap Dara, secangkir kopi yang ia bikin di letakkan di atas meja.


"Ada apa ? katakan saja ! jangan bertele-tele" balas Kenzo cepat, karena ia tahu kalau Dara pasti ada maunya sehingga menemui nya seperti ini.


"Emmm, begini kak. Bisakah saya meminta gaji saya di awal untuk bulan ini ?" dengan keraguan Dara mengungkapkan keinginannya.


"Untuk apa ?" Kenzo balik bertanya


"Saya ingin membeli ponsel, untuk menghubungi keluarga saya di kampung, mereka pasti khawatir kalau saya tidak mengabari mereka"


"Kamu mau ponsel apa ?"

__ADS_1


"Yang biasa saja pak, yang penting saya bisa menghubungi kedua orang tua saya"


Kenzo mengangguk paham, kemudian ia membuka salah satu laci mejanya. Lalu mengeluarkan kotak ponsel disana.


"Ambil ini ! kebetulan waktu saya ulang tahun ada yang memberi kado ponsel dan saya tidak membutuhkan nya.. Jadi kamu ambil saja" ucap Kenzo.


Dara menatap kotak ponsel itu, ia tahu betul kalau harga ponsel itu sangat mahal, sebagai orang kaya Dara sangat mengetahui harga barang-barang mewah.


"Tapi berapa bulan saya harus mencicilnya mas ?"


"Pakailah dulu ! masalah harga jangan kamu pikirkan. Asal kamu selalu bisa membuat anak saya tersenyum maka ponsel ini saya berikan secara cuma-cuma"


"Benar begitu pak ?"


Kenzo mengangguk, ia tersenyum saat melihat Dara begitu senang menerima ponsel pemberiannya.


"Dan ini kartu nya ! nanti pulsa akan saya isi" ucap Kenzo lagi, ia memberikan sebuah kartu perdana kepada Dara


Sikap Dara benar-benar menampakkan seseorang yang berasal dari kampung. Padahal dari kecil ia sudah di kelilingi harta berlimpah.


"Kalau begitu saya permisi mas, terima kasih semuanya"


"Sama-sama. Dan saya lupa mau bilang.. Besok dan lusa saya ada urusan kerja di luar kota, jadi tolong jaga Neysa dan Mama dengan baik"


"Iya mas, saya akan menjaga mereka dengan baik"


Setelah itu Dara pergi, dan menuju kamarnya. Disana ia membuka ponsel yang barusan di berikan oleh Kenzo. Ponsel yang biasa anak-anak konglomerat pakai.


"Tadi kata mas Kenzo ini kado saat dia ulang tahun, pasti yang membelikannya cewek, dia pasti suka sama mas Kenzo" gumam Dara sambil membolak-balikkan ponsel tersebut.


"Ah masa bodoh, aku tidak peduli hal itu. Yang penting sekarang aku bisa menghubungi Mama dan Papa supaya mereka tidak khawatir"


Dara memasang kartu perdana nya, dan sebuah SMS masuk dimana pulsa senilai ratusan ribu sudah masuk ke nomornya. Segera saja Dara mengetik SMS untuk ia kirim kan ke sang Mama.


"Assalamualaikum Ma, ini aku Dara, ini nomor baruku. Dara di sini sehat dan baik-baik saja. Jadi Mama tidak usah khawatir ! dan jangan telepon Dara, biar Dara saja yang menghubungi Mama duluan"


Pesan singkat itu langsung terkirim ke nomor sang Mama, Dara lega karena dengan begini ia nyaman bekerja dan kedua orang tuanya akan selalu mendapat kabar darinya.

__ADS_1


__ADS_2