Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Restu dari Papa


__ADS_3

"Ma-af kan saya Om !" ucap Kenzo terbata-bata.


Papa Mario masih terdiam, menatap wajah Kenzo dalam-dalam. Sekarang ia sudah bertemu dengan pria yang membuat putrinya nangis-nangis tak karuan waktu itu. Bahkan sampai melibatkan Tama untuk mencari seseorang.


Tatapan Papa Mario teralihkan, dengan kemunculan Dara yang membawa dua cangkir teh hangat. Wanita itu mengernyit saat melihat semua orang terdiam.


"Mau kemana kamu ?" tanya Papa Mario saat melihat Dara hendak pergi.


"Ke kamar Pa" jawab Dara, dan entah kenapa ia pun merasa takut dengan nada bicara sang Papa.


"Duduk !" pinta Papa Mario.


Tanpa bertanya lagi, Dara langsung duduk di atas sofa. Ia menatap sang Mama, seolah bertanya ada apa sebenarnya. Namun Mama Syerli hanya menggelengkan kepala.


Untuk beberapa menit suasana menjadi hening, Kenzo semakin takut saja. Ia tahu betul bagaimana kekuasaan Papa Mario, bisa saja pria itu akan menghancurkan perusahaan nya karena telah menyakiti Dara selama.


"Apa kamu masih mencintai laki-laki ini Ra ?" pertanyaan Papa Mario tertuju pada Dara, membuat wanita itu terlonjak kaget.


Bagaimana bisa Papa nya menanyakan hal itu tepat di hadapan Kenzo ?.


"Kenapa Papa nanya ini ?" Dara pun balik bertanya.


"Ya kalau kamu tidak mencintai dia lagi, Papa akan memberi dia pelajaran karena sudah membuat mu menangis waktu itu"


Dara ketakutan, tentu ia tidak ingin terjadi apa-apa pada Kenzo. Tapi untuk menjawab pertanyaan sang Papa tadi, masih begitu berat untuk Dara.


"Memangnya apa yang akan Papa lakukan ?"


"Itu urusan Papa, kamu tau kan kalau Papa tidak akan menerima begitu saja, jika ada yang menyakiti kamu"

__ADS_1


Kenzo semakin ketakutan, tapi ia pasrah kalau memang Dara akan menjawab tidak mencintai dirinya lagi. Kenzo sadar kesalahannya pada Dara begitu besar, sudah banyak rasa sakit yang Dara terima.


"Ok, Papa beri waktu untuk berpikir" Papa Mario menjeda ucapan nya "Dan sekarang Papa akan bertanya pada Kenzo" sambungnya lagi.


Kenzo mendongak, menatap wajah Papa Mario.


"Apa kamu mencintai putriku ?"


"Iya Om, saya sangat mencintai Dara" jawab Kenzo cukup yakin.


"Lalu kenapa kau memutuskan hubungan dengannya dan lebih memilih wanita lain ?, apa jangan-jangan kamu mengaku seperti ini karena tau kalau Dara anak saya ?"


"Bukan Om, saya tidak memikirkan masalah Dara anak siapa. Waktu itu saya memutuskan hubungan dengan Dara, karena saya terlalu kecewa akibat kebohongan Dara"


"Tapi kan aku berbohong karena ada alasannya" sahut Dara cepat.


"Lanjutkan Ken !" sambung Papa Mario lagi.


"Saat itu aku sedang bingung, Vio dan Mama Wilda terus mendesakku dan memberiku ancaman dengan menggunakan Neysa. Sebagai seorang Ayah tentu aku tidak ingin Neysa kenapa-napa, apalagi mereka akan memisahkan aku dengan Neysa jika aku menolak menikahi Vio"


"Aku tau, aku terlalu cepat mengambil keputusan, tapi aku tidak tau harus mencari jalan apalagi, waktu itu aku pernah meminta dukungan dari Dara dan memintanya untuk memperjuangkan hubungan kami, tapi Dara menolak dan dia ingin aku segera menikah dengan Vio"


Dara terdiam, ia ingat kejadian waktu itu. Harusnya memang dulu ia memberi dukungan pada Kenzo.


"Di tambah lagi, dengan kedatangan Rendi dan mengatakan kalau Dara anaknya Om Mario dan bukan gadis desa yang selama ini aku kenal. Aku kaget tapi jujur di hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin mengusir Dara waktu itu"


Papa Mario menganggukkan kepalanya, ia mengerti kondisi Kenzo waktu itu. Sebagai sesama pria dan seorang Ayah, menurut Papa Mario tindakan Kenzo benar, karena dia berjuang untuk putrinya.


Mungkin Papa Mario akan melakukan hal yang sama, tanpa memperdulikan hal lain, asal ia akan bersama putrinya selalu.

__ADS_1


"Om salut sama kamu, tapi Om tetap tidak suka saat kamu memutuskan putriku dan mengusirnya dari rumahmu" balas Papa Mario.


"Maafkan saya Om ! saya mengaku salah, tapi setelah kejadian itu saya menyesal Om"


Kemarahan di hati Dara mulai mereda, jika tadi ia ingin membuat Kenzo berjuang dulu, namun saat mendengar penjelasan pria itu entah kenapa Dara menjadi luluh.


"Dara, Papa hanya akan menyampaikan sekali ini saja. Jika memang kamu masih mencintai Kenzo silahkan kalian lanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius." ucap Papa Mario dengan tegas.


"Apa menurut Papa, Dara dan Kenzo harus cepat menikah begitu ?" tanya Mama Syerli yang sejak tadi menyimak obrolan .


"Iya, umur Dara sudah matang, untuk apa pacaran lama-lama. Nambah-nambah dosa saja"


"Tapi bagaimana dengan Abang ?, Dara sudah berjanji akan menyusul kesana jika Abang bersedia bantuin Dara waktu itu ?" sahut Dara yang mengingat perjanjian nya dengan Tama waktu itu.


"Itu bukan ide Tama, tapi ide Papa."


"Jadi aku tidak perlu ke luar negeri ?"


"Mana mungkin Papa akan mengizinkan kamu ke luar negeri, kamu putriku satu-satunya"


Dara tersenyum, dari dulu dia memang takut jika harus tinggal dengan Tama. Abang nya itu begitu galak melebihi Papa mario. Walau Dara tahu sikap Tama adalah bentuk kasih sayang nya pada Dara.


"Jadi sekarang bicaralah berdua ! putuskan semuanya dengan baik-baik !, kalau memang tidak bisa bersama lagi, lebih baik kalian bicara baik-baik" ucap Papa Mario.


"Terima kasih Om"


Papa Mario mengangguk, kemudian pria itu berdiri di ikuti oleh Mama Syerli..Keduanya pergi meninggalkan dua insan yang masih saja terdiam.


"Bagaimana Ra ? apa kamu benar-benar tidak mencintai aku lagi ?" tanya Kenzo serius

__ADS_1


__ADS_2