
Pagi itu saat jam menunjukan pukul 05 pagi, Kenzo sudah terbangun. Tenggorokan nya terasa sangat haus.
"Kenapa bibi tidak mengisi air di sini" kata Kenzo dengan suara serak.
Ia akhirnya bangkit, lalu keluar kamar dan menuju dapur. Saat melewati kamar yang di tempati oleh Dara, langka kaki pria itu terhenti, ia menempelkan telinga nya di pintu yang tertutup, suara seorang perempuan yang sedang mengaji begitu terdengar jelas.
"Dia pintar juga mengaji" gumam Kenzo.
"Kau sedang apa disana ?"
Tiba-tiba suara sang Mama membuat Kenzo kaget, ia bahkan sampai mengelus dadanya karena begitu terkejut.
"Mama ini, bikin kaget aja"
"Lagian kamu ngapain disana ? nguping lagi"
"Siapa yang nguping ma, aku tadi dengar sesuatu makanya aku mendekat"
Mendengar hal itu Ningrum panik, ia lantas mendekati dan juga menempelkan daun g
telinganya.
"Itu kan suara Dara yang sedang mengaji Ken, kau ini ada-ada saja"
"Iya Kenzo paham Ma"
Ningrum menggeleng, lalu tersenyum sembari menatap punggung Kenzo.
*****
Dari dalam kamar Dara langsung menghentikan mengaji nya, karena mendengar suara ribut dari luar kamar. Tanpa melepas mukena nya Dara langsung keluar.
Ia heran saat melihat Ningrum berdiri tepat di depan kamarnya.
"Tante ada apa ? tadi saya dengar seperti ada keributan?" tanya Dara.
"Tidak ada nak, Sudah kamu selesaikan saja mengajinya. Neysa juga belum bangun kok, maaf kalau suara kami mengganggu"
"Dara sudah selesai Tante, ini Dara mau ke kamar Neysa"
Ningrum tersenyum manis, wajah Dara memakai mukena terlihat sangat cantik.
"Dara ganti dulu ya Tante" ucap Dara
"Iya nak"
Dara kembali memasuki kamar, ia melepas mukenanya lalu menyimpan nya di tempat semula. Walau dirinya anak orang kaya tapi Dara selalu rajin menjalankan ibadah sholat, sang Mama selalu mengajarkan kebaikan untuknya.
Usai berganti pakaian, Dara menuju kamar Neysa. Perlahan namun pasti pintu kamar Neysa ia buka dengan pelan, ia tersenyum saat melihat Neysa masih tertidur sangat lelap.
__ADS_1
"Hei cantik, ayo bangun ! ini sudah pagi" kata Dara dengan suara lembut.
Neysa mengucek kedua matanya, lalu membuka nya secara perlahan.
"Apa ini sudah siang Kakak ?"
"Iya sayang, tapi kalau Ney mau sholat subuh masih punya waktu kok".
"Ney belum bisa sholat Kak"
"Nanti kakak ajarin, sekarang Ney bangun dulu terus baca doa"
Neysa menurut, ia duduk di atas kasur. Neysa mengikuti Dara yang menengadakan kedua tangannya untuk berdoa. Secara perlahan Neysa mengikuti doa yang di ajarkan Dara.
Tanpa keduanya ketahui kalau Kenzo mendengar semuanya, perasaanya begitu bahagia. Putrinya sekarang tidak terlalu kesepian.
"Sudah kakak, sekarang Ney pengin mandi" ucap Neysa selesai berdoa.
"Yuk mandi sama Kakak"
Dara menggendong Neysa ke kamar mandi, mengisi tempat mandi itu dengan air hangat. Dengan telaten Dara memandikan Neysa, ia begitu lembut melakukannya seolah Neysa adalah anak kandungnya sendiri.
Bagi Dara. Neysa pantas mendapatkan kasih sayang lebih, sejak bayi Neysa tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari sang Mama, jadi Dara ingin Neysa mendapatkan kasih sayang darinya.
Selesai memandikan Neysa, Dara langsung membawanya keluar.
"Papa" teriak Neysa.
"Pagi kesayangan Papa ! kamu cantik sekali hari ini nak" puji Kenzo, ia tak henti-hentinya mencium pipi Neysa.
"Iya dong Pa, kan ada kakak cantik, tadi aku di mandiin, di pakein sampo dan pakai parfum juga"
Kenzo melirik kearah Dara yang saat itu sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Neysa, seketika Kenzo sedikit tertarik dengan Dara tapi buru-buru Kenzo menepis perasaannya.
"Aku mau punya Mama kaya Kakak cantik Pa"
Uhuhuuuuuk.
Kenzo yang sedang meminum kopinya langsung terbatuk, begitupun dengan Dara. Sementara Ningrum tersenyum senang.
"Sudah ya papa berangkat ! kamu baik-baik di rumah, jangan nakal" pesan Kenzo pada putrinya.
"Siap Papa"
*******
Siang harinya Dara dan Neysa sedang bermain di depan televisi, tiba-tiba saja layar televisi memperlihatkan berita yang mana membuat Dara kaget.
"Dara sayang, pulanglah nak ! Mama dan Papa rindu sama kamu, Papa minta maaf karena Papa memaksa kamu, papa janji tidak akan menjodohkan kamu lagi"
__ADS_1
Juga ada sang Papa disana, membuat Dara sedih dan merasakan rindu yang amat dalam. Tapi ada hal yang harus di selesaikan, ia harus menemui kedua orang tuanya segera dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Tidak mungkin Dara akan langsung berhenti begitu saja.
"Aku harus pulang hari ini" gumam Dara.
"Tapi bagaimana caranya aku meminta izin sama Tante Ningrum dan mas Kenzo ya"
Lama Dara berpikir, ia harus benar-benar mencari cara supaya bisa pulang ke rumah. Dan tentu saja alasan yang harus ia buat masuk akal, karena kalau tidak Kenzo tidak akan mengizinkan dirinya pergi.
Dan berita ini, kalau Ningrum dan juga Kenzo melihat otomatis jati dirinya akan terbongkar saat ini, kalau dirinya bukan berasal dari kampung.
"Kakak" Neysa menggoyang lengan Dara membuat wanita itu terkejut.
"Ada apa sayang ?"
"Kenapa kakak melamun ?"
"Hehe, maaf tadi ada yang sedang Kakak pikirkan"
"Kau sedang memikirkan apa nak ?" tiba-tiba suara Ningrum terdengar, membuat Dara dengan cepat mematikan televisi.
"Loh kenapa di matikan kak ?" tanya Neysa.
"Kan kita lagi main boneka, biar fokus saja, lagian tidak ada acara yang baik untuk di tonton" jawab Dara berbohong, padahal ia tidak ingin Ningrum melihat berita yang sedang beredar.
"Kamu belum jawab pertanyaan Tante tadi, kamu sedang mikirin apa ?" tanya Ningrum lagi.
"Hemm, anu Tante, aku merasa ada barang ku yang tertinggal di kosan, makanya aku berencana mau kesana dulu"
"Waktu itu katanya gak ada yang tertinggal"
"Iya aku baru ingat sekarang Tan, kira-kira kalau aku kesana sebentar boleh gak Tante ?"
Ningrum berpikir sejenak, lalu kemudian menjawab "Boleh tapi jangan lama-lama!"
"Makasih Tante, aku janji gak bakalan lama"
"Ya sudah mending kamu berangkat sekarang, biar gak kesorean pulangnya"
Dara langsung bahagia mendengarnya, ia akan memanfaatkan waktunya walau sedikit untuk menjelaskan kepada kedua orang tuanya.
Tapi belum juga Dara pergi, Neysa merengek minta ikut, ia tidak ingin di tinggalkan oleh Dara.
"Kakak hanya sebentar sayang, setelah urusan kakak selesai kakak akan segera kembali" ucap Dara dengan lembut, ia membelai pipi Neysa dan menghapus buliran air mata yang sudah menetes.
"Aku ikut kak"
"Ney, kalau kamu ikut nanti kakak gak bisa cepat, Ney di rumah aja sama nenek, kan kakaknya juga tidak bakalan lama" sahut Ningrum.
"Janji kakak gak lama" Neysa memberikan jari kelingkingnya dan di balas oleh Dara.
__ADS_1
"Janji"