Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Ada apa dengan Kenzo


__ADS_3

Sebelum berangkat bekerja, Kenzo memasuki kamar Dara. Mungkin saat menghirup aroma kamar Dara rasa rindunya akan berkurang.


Perlahan namun pasti pintu kamar Kenzo buka secara perlahan, hidungnya langsung mencium aroma parfum yang sering Dara gunakan.


"Malah jadi tambah kangen" gumam Kenzo.


Kenzo berjalan menuju ranjang tempat tidur, ia mendudukkan diri disana, telapak tangannya mengelus seprai yang baru semalam tidak di tempati.


"kapan kamu kembali Ra ?"


Tatapan mata Kenzo teralih pada laci meja yang sedikit terbuka, Kenzo berdiri berniat untuk menutup nya kembali. Namun karena penasaran akan isinya Kenzo pun membuka laci tersebut.


Empat buah amplop coklat yang Kenzo sangat tau dari mana itu berasal. Ia ambil empat amplop itu dengan kening mengkerut.


"Ini kan gaji yang tiap bulan aku berikan pada Dara ? Kenapa tidak di bawah sama dia ?" Batin Kenzo heran.


Ia pun membuka isi amplop itu dan isinya masih sama, tidak berkurang walau seribu rupiah pun. Kenzo benar-benar bingung kenapa uang itu tidak Dara kirim ke keluarganya.


Tok--Tok--Tok.


Suara pintu di ketok, membuat Kenzo dengan cepat mengembalikan amplop coklat itu. Ia menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka.


"Ken, ngapain di kamar Dara ?" Tanya Ningrum bingung.


Kenzo tersenyum kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Emmm, anu Ma"


"Anu apa nak ?"


"Tadi ada kecoa makanya aku masuk, tapi pas di cariin malah gak ada"


Jawaban Kenzo tentu saja semakin membuat Ningrum bertambah bingung, sejak kapan rumahnya ada kecoa. Karena setiap hari Ningrum akan menyuruh Art menyapu dan mengepel rumahnya agar selalu bersih.


Ningrum berjalan mendekat, ia tatap wajah putranya dengan seksama.


"Ada apa ? Katakan sama Mama ! Jujur saja tidak mengapa" ucap Ningrum yang tau kalau putranya sedang berbohong.


Kenzo diam, ia bingung harus menjawab apa ?. Haruskah ia mengatakan kalau dia dan Dara sudah jadian. Dan saat ini ia sedang merindukan Dara.


"Kalian punya hubungan kan ?" Tebak Ningrum membuat bola mata Kenzo membulat sempurna.


"Apa boleh Ma ? Kenzo tidak bisa menahan perasaan Kenzo sendiri"


"Tentu saja boleh sayang, Mama bakal dukung malah. Memang dari dulu Mama setuju kalau kamu sama Dara jadian"

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan Allisya ? Aku sebenarnya takut jika Allisya marah karena Kenzo mencintai wanita lain lagi"


"Dia tidak akan marah sayang, Allisya pasti mengerti kalau kamu berhak melanjutkan hidup kamu dan bahagia"


Kenzo menatap manik mata sang Mama. Ia memang berharap almarhum istrinya akan merestui hubungannya dengan Dara.


Dulu memang Kenzo berjanji tidak akan menikah lagi, tapi harus ingat Kenzo hanyalah manusia biasa, ia tidak bisa menahan rasa cinta itu saat menatap wajah Dara. Apalagi Neysa begitu menyayangi Dara.


"Mama dukung hubungan kalian nak, kalau bisa kamu lamar aja Dara supaya jadi ibu sambung Neysa" kata Ningrum


"Jalani dulu Ma, Kenzo tidak ingin gegabah "


"Terserah kamu kalau gitu, tapi mama yakin Dara adalah wanita yang baik dan sangat pas menjadi mamanya Neysa"


Setelah mengatakan itu Ningrum berlalu dari hadapan Kenzo, wanita paruh baya itu keluar kamar meninggalkan Kenzo sendiri.


********


Hari itu juga, setelah di perbolehkan oleh kedua orang tuanya. Dara langsung pulang kerumah Kenzo. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Neysa dan terutama Kenzo.


Dara yakin pasti akan ada banyak pertanyaan yang di ajukan oleh Kenzo untuknya. Tapi Dara tidak peduli yang terpenting adalah ia bertemu dengan Kenzo dan juga Neysa.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Kenzo, perasaan Dara begitu deg-degan. Hingga akhirnya mobil yang Dara tumpangi tepat di depan pagar besi yang menjulang tinggi.


"Nih ongkosnya pak" ucap Dara memberikan uang kepada sang sopir taksi.


"Sama-sama pak"


Dara turun, ia tersenyum menatap gerbang itu. Sekarang ia sudah kembali dan akan bisa bermain bersama Neysa lagi.


"Permisi" teriak Dara dengan suara lantang.


Seorang pria paruh baya yang bekerja di sana langsung mendekat, melihat kedatangan Dara, laki-laki itu langsung membukakan gerbang.


"Udah pulang mbak ? Cepat amat ?"


"Hehe iya pak, Alhamdulillah ibu saya sudah sehat"


"Wah syukurlah kalau begitu, non Neysa pasti senang banget kalau tahu Mbak Dara udah pulang"


Dara pun membalas dengan senyuman, ia berjalan menuju rumah. Matanya melirik ke arah garasi dimana mobil yang sering Kenzo pakai masih terparkir disana.


"Apa mas Kenzo tidak kerja ya ?" Gumam Dara penuh tanda tanya.


"Assalamualaikum " seru Dara di ambang pintu.

__ADS_1


Neysa dan Kenzo yang sedang bermain di ruang tamu langsung terkejut mendengar suara yang cukup familiar.


"Kakak cantik" pekik Neysa, bocah perempuan itu langsung berdiri dan berlari ke arah pintu. Ia tersenyum melihat sosok Dara sudah berdiri di ambang pintu sembari merentangkan kedua tangannya.


"Halo sayang nya kakak" kata Dara mengangkat tubuh Neysa kedalam gendongan.


"Ney rindu kakak" ucap Neysa.


"Kakak juga rindu sama Ney"


Tidak berapa lama Kenzo mendekat, membuat detak jantung Dara berdegup kencang.


"Kenapa udah balik" tanya Kenzo membuat Dara langsung terdiam.


Ada apa dengan laki-laki itu ?, Apa dia tidak suka melihat Dara yang kembali lebih cepat.


"Ibu kamu udah sembuh ? Bukannya semalam kamu bilang kalau ibu kamu terkena lumpuh sebagian?" Tanya Kenzo beruntun.


"U-dah mas, Alhamdulillah ibu udah sadar dan keadaan nya sudah membaik, ini memang Ibu yang nyuruh aku cepat balik katanya gak enak kalau lama-lama izin"


"Oh"


Hanya itu jawaban Kenzo, membuat Dara kembali tercengang. Tidak kah laki-laki itu bertanya apakah Dara rindu dengannya.


"Ya sudah ayo masuk"


Kenzo berjalan duluan, sementara Dara mengikuti dari belakang sembari menggendong Neysa. Mereka bertiga menuju ruang tamu dimana tadi tempat Kenzo dan Neysa bermain.


"Tante Ningrum mana ya mas ?" Tanya Dara, karena tidak melihat Ningrum sejak tadi .


"Arisan" jawab Kenzo singkat.


Setelah itu Dara tidak bertanya lagi, karena menurutnya sikap Kenzo sangat dingin, apa karena malam itu ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Nanti aku pengin bicara berdua sama kamu, ada hal penting yang harus kita bahas" ucap Kenzo.


"Iya mas"


Detak jantung Dara semakin kuat, ia bertanya-tanya dan mulai menebak apa yang akan Kenzo bicarakan. Jangan bilang kalau laki-laki itu sudah tau tentang siapa dirinya.


"Saya tunggu di ruang kerja" ucap Kenzo lagi, kemudian berdiri dan meninggalkan ruang tamu.


Dara hanya menatap kepergian Kenzo dengan tatapan nanar, ada rasa sesak di hatinya saat pria itu bersikap dingin padanya.


"Mas Kenzo kenapa ya ? Kok sikapnya dingin banget ?" Batin Dara.

__ADS_1


Dara benar-benar takut kalau Kenzo sudah tau tentang jati diri aslinya.


__ADS_2