
Keesokan paginya, seperti yang sudah Kenzo katakan kalau hari ini dan besok ia akan keluar kota. Pagi-pagi sekali Kenzo sudah berangkat, ia bahkan tidak berpamitan kepada sang Mama dan Neysa.
Menurut Kenzo, semalam ia sudah bilang ke Dara, jadi wanita itu bisa saja menjelaskan kepada Ningrum dan juga Neysa kalau hari ini ia sedang ada pekerjaan di luar kota.
Sementara itu, sekitar jam 06 pagi Dara baru membangunkan Neysa. Saat melaksanakan sholat subuh tadi dirinya ingin membangunkan Neysa tapi karena tidur Neysa terlalu nyenyak membuat Dara kasihan.
"Mimpi apa semalam sayang ?" begitu pertanyaan yang Dara lontarkan saat mata Neysa sudah terbuka sempura.
Neysa menggeleng pelan "Tidak mimpi apa-apa kak, padahal Ney pengin mimpi ketemu Mama. Kata kakak kalau sebelum tidul Ney doakan Mama pasti Ney mimpiin Mama"
Hati Dara seakan tertusuk duri mendengar ucapan Neysa, ia tidak bisa membayangkan jika berada di posisi Neysa. Di umur yang masih begitu kecil Neysa sudah kehilangan sosok sang Mama.
Bersyukur jika Dara masih memiliki Mama. Bahkan ia tidak kekurangan sedikitpun kasih sayang Syerli selama ini.
"Nanti malam kita berdoa lagi ! Mungkin saja Allah ingin Ney bersabar dulu" ucap Dara, ia elus kepala Neysa dengan lembut lalu meletakkan nya di dada.
"Tapi Ney tidak sedih kok, kan ada kakak cantik"
Dara tersenyum, ia cium puncak kepala Neysa berulang kali, rambut Neysa begitu wangi membuat Dara ingin dan ingin terus menciumnya.
"Sekarang kita mandi yuk ! terus sarapan" ajak Dara.
"Baik kakak" balas Neysa dengan semangat "Nanti kita main boneka lagi ya kak !"
"Iya sayang, apapun yang pengin Neysa mainkan akan Kakak temenin"
"Yeyyyy" Neysa kegirangan, tawanya pecah memenuhi seisi ruangan.
*******
Selesai mandi kini Dara dan Neysa sudah duduk di meja makan, hanya ada mereka berdua sementara Ningrum belum menampakkan diri. Dara tidak khawatir menurutnya mungkin saja wanita paruh baya itu sedang ada urusan di kamar.
"Papa mana ya Kak ?" tanya Neysa saat tak menjumpai Kenzo di sana.
"Semalam Papa bilang katanya hari ini ada pekerjaan di luar kota, besok baru pulang"
"Oh"
Biasanya Neysa akan menangis jika di tinggal oleh Kenzo keluar kota, tapi sekarang anak itu terlihat biasa saja membuat Bibi Rus yang sudah lama bekerja di rumah Kenzo heran.
"Biasanya non Ney nangis kalau di tinggal Papa" seloroh Bibi Rus sembari menatap Neysa yang sedang makan dengan lahap.
"Sekarang ada Kakak cantik, jadi Ney tidak nangis lagi" jawab Neysa.
"Ibu pinter banget cariin Ney pengasuh, dia langsung lengket tanpa di paksa" ujar Bibi Rus.
__ADS_1
Dara tidak menimpali, ia sedang sibuk menyuapi Neysa makan. Hingga akhirnya makanan yang ada di piring Neysa habis tak tersisa.
"Alhamdulillah habis, Ney pinter deh makannya, tidak bersisa sedikitpun" puji Dara
"Iya dong kak, kan kakak cantik yang supain Ney makan. Makanya habis"
Dara mengacak rambut panjang Neysa dengan gemas.
"Sekarang Mbak Dara yang sarapan, Ney nya biar saya dulu yang jagain" kata Bibi Rus.
"Nanti saja Bi, saya masih kenyang"
"Kenyang gimana mbak, kan mbak belum sarapan"
"Nanti kalau saya lapar saya ambil sendiri ke dapur bi, yang penting Neysa sudah sarapan" balas Dara begitu tulus. Bahkan Bibi Rus saja bisa merasakan ketulusan Dara.
*********
Hari sudah beranjak siang, tapi Ningrum belum juga menampakan batang hidungnya. Membuat Dara heran, ia bertanya-tanya pada diri sendiri kemana perginya Ningrum.
"Apa Tante Ningrum ikut mas Kenzo keluar kota ya ?" batin Dara penuh tanda tanya.
"Tapi gak mungkin lah, kan mas Kenzo keluar kota kerja bukannya jalan-jalan"
Karena penasaran Dara memutuskan untuk mengecek kamar Ningrum, tapi sebelum itu Dara berpamitan pada Neysa dulu.
"Iya kak, jangan lama-lama"
Dara mengangguk, ia berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kamar Ningrum. Tapi sebelum memasuki kamar itu Dara bertemu dengan Bibi Rus yang sedang mengepel lantai.
"Aduh maaf Bi aku lewatin gitu aja, soalnya mau ngecek kamarnya Tante Ningrum" ucap Dara tidak enak hati.
"Tidak apa-apa mbak, lah memangnya kenapa dengan kamarnya Bu Ningrum ?"
"Cuman mau lihat Tante Ningrum saja Bi, soalnya sudah sesiang ini beliau tidak kelihatan"
"Ya Allah iya mbak, saya juga belum melihat Bu Ningrum keluar kamar"
"Makanya itu saya mau cek Bi, yuk sama-sama"
"Iya mbak"
Perlahan pintu kamar itu di buka secara perlahan.
"Assalamualaikum Tante, Dara izin masuk ya" ucap Dara
__ADS_1
Tidak ada jawaban, hingga akhirnya pintu terbuka lebar. Dara melihat Ningrum masih bergelung di dalam selimut tebal membuat nya sedikit khawatir.
"Tante" panggil Dara.
Ningrum membuka matanya perlahan, bibirnya begitu pucat.
"D-a-r-a" ucap Ningrum pelan dan terbata-bata.
"Ya Allah Tante kenapa ? apa yang terjadi ?" Dara panik ia bergegas mendekati dan mengecek suhu tubuh Ningrum.
"Tante demam, ini badannya panas sekali" pekik Dara.
"Pantas Ibu tidak keluar kamar, kenapa ibu tidak memanggil saya kalau demam begini Bu ?" Bibi Rus merasa bersalah karena tidak terlalu memperhatikan majikannya itu.
"Tidak apa-apa, saya pikir ini karena masuk angin biasa, tapi makin kesini rasanya ibu tidak punya tenaga lagi untuk berdiri makanya ibu gak keluar kamar" jelas Ningrum.
"Kita kerumah sakit ya Bu, takutnya Ibu kena demam berdarah" usul Dara.
"Kenzo mana Ra ?" tanya Ningrum terlebih dahulu
"Mas Kenzo keluar kota Bu, katanya ada pekerjaan disana, besok baru pulang"
Ningrum mengangguk kan kepalanya, beruntung sekali sekarang ada Dara yang menjaga Neysa, kalau tidak ada Dara entah apa jadinya anak itu jika situasi nya seperti ini.
"Bawa kerumah sakit saja mbak !" ucap Bibi Rus
"Iya Bi, tolong Bilang sama sopir siapkan mobil ya bi ! saya bawa Tante ke depan"
"Apa mbak bisa sendiri melakukannya?"
"Insya Allah bisa Bi"
Segera Bibi Rus berlari kedepan untuk mengatakan pada sopir agar segera bersiap, sementara Dara membantu Ningrum berdiri dan memapanya keluar kamar.
"Nenek kenapa kak " tanya Neysa saat Dara melewati ruang tamu bersama Ningrum.
"Nenek sakit sayang, kita bawa kerumah sakit dulu ya" jawab Dara.
"Aku ikut kak"
"Yuk ! Ney jalan duluan ke mobil"
Dengan kesusahan akhirnya Dara berhasil membawa Ningrum sampai di mobil, mereka langsung berangkat kerumah sakit untuk memeriksa kan keadaan Ningrum.
"Tidak usah menghubungi Kenzo ! nanti dia panik" pinta Ningrum pada Dara.
__ADS_1
"Tapi Tan, ma Kenzo berhak tau keadaan Tante "
"Tante baik-baik saja nak, biarkan Kenzo kerja dengan tenang tanpa mengkhawatirkan keadaan Tante"