
Tanpa berpamitan pada Kenzo, namun berjanji akan menghubungi nya saat di jalan nanti. Dara bergegas menaiki mobil taksi yang di pesan kan Ningrum, mobil taksi yang menuju ke arah terminal.
Saat di perjalanan, Dara mengatakan kalau dirinya tidak perlu di antar ke terminal, melainkan ke rumah sakit. Tanpa banyak bertanya sang sopir langsung menyetujui.
Setiba di rumah sakit, dengan setengah berlari Dara mencari ruangan sang Mama, perasaan nya semakin tidak enak, dan saat melihat Mario tengah berdiri di depan sebuah ruangan Dara pun langsung memanggil.
"Papa"
Mario menoleh, lalu menebar senyum penuh kebahagiaan saat melihat kedatangan putrinya.
"Dara"
Keduanya berpelukan, melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Di dalam dekapan sang Papa, Dara terisak.
"Bagaimana keadaan Mama, Pa ?" tanya Dara menggunakan suara serak karena menahan tangis agar tidak pecah.
"Tadi Mama mu sudah membaik, tapi beberapa menit kemudian tubuhnya kejang, ini tim dokter sedang menangani Mama kamu. Doakan saja semoga Mama baik-baik saja !" balas Mario yang semakin mengeratkan pelukan nya.
"Apa Mama begini karena memikirkan Dara ?" kembali Dara bertanya, dan ia harap jawabannya bukan. Karena kalau benar Syerli sakit karena mikirin dirinya, Dara tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Papa juga tidak tau nak, sakit Mama kamu terbilang tiba-tiba, padahal kemaren dia masih ceria seperti biasanya"
Dara melepaskan pelukannya, menatap wajah sang Papa dengan air mata berlinang. Lalu menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka. Dara mendekat.
"Bagaimana keadaan Mama saya dok ?" tanya Dara antusias.
Tampak dokter menghela napa panjang, membuat perasaan Dara semakin tidak enak. "Tekanan darah nya tinggi, itu yang mengakibatkan nyonya Syerli kejang. Dan mohon maaf saya harus menyampaikan kabar yang tidak enak, nyonya Syerli akan mengalami lumpuh sebagian"
Detik itu juga rasanya Dara seperti tersambar petir, ingin menjerit tapi tidak bisa. Dara hanya menangis tanpa suara, menahan rasa sesak dan rasa bersalah yang bercampur menjadi satu.
Mungkin benar Syerli seperti ini karena memikirkan keputusan dirinya. Mungkin menurut Dara jalan yang ia ambil sudah benar, tapi ternyata tidak menurut orang tuanya.
"Mama" gumam Dara, tubuhnya hampir saja tumbang tapi dengan cepat Mario menangkap tubuh putrinya, lalu menarik tubuh itu kedalam pelukan.
"Sabar sayang ! Mama pasti bisa di sembuhkan" bisik Mario.
Setelah kepergian dokter, Mario dan Dara langsung memasuki ruangan Syerli. Tampak wanita paruh baya itu memejamkan matanya dengan wajah yang cukup pucat.
Dara mendekat, menggenggam tangan sang Mama dengan erat..
"Ma, ini Dara. Sekarang Data sudah pulang. Mama bangun !" kata Dara
__ADS_1
"Maafkan Dara Ma"
Ia menelungkup kan kepalanya, mencium punggung tangan sang Mama berulang. Air matanya terus menetes.
Sementara Mario tidak bisa berbuat apa-apa, ia juga begitu terpuruk melihat wanita yang ia cintai terbaring tidak berdaya seperti ini, jika saja bisa, Mario ingin menggantikan posisi Syerli.
"Bangunlah sayang ! hari ini anak-anak kita sudah pulang, kasian mereka kalau melihat kamu yang tertidur seperti ini" batin Mario.
******
Sejak tadi Kenzo terus melihat ponselnya, menunggu balasan pesan dari Dara yang tak kunjung muncul. Ia menghela napas karena bingung kenapa Dara belum membalas pesannya.
Ingin bertanya pada sang Mama, Kenzo terlalu malu melakukan nya. Apalagi Ningrum belum mengetahui hubungannya dengan Dara yang baru terjalin semalaman.
Hari ini Kenzo merasa waktu begitu lambat berjalan, sedari tadi ia terus melirik jam dinding yang ingin sekali ia putar.
"Sialan"
"Kenapa Dara tidak membalas pesanku ? apa dia sedang sibuk"
Bukan hanya itu telepon pun tidak di angkat oleh Dara, membuat Kenzo uring-uringan.
Setiba di rumah, Kenzo langsung masuk. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah, Neysa yang sedang bermain dengan Ningrum. Kening Kenzo mengkerut melihat semua itu.
"Assalamualaikum" seru Kenzo.
Ningrum mengangkat kepala nya, menatap ke arah putranya.
"Walaikumsalam" balas Ningrum.
"Dara mana Ma ?" pertanyaan itu langsung meluncur begitu saja dari mulut Kenzo.
"Memangnya Dara gak ngabarin kamu ?" tanya balik Ningrum.
"Enggak, memangnya ada apa ?"
"Tadi bapak nya Dara telepon katanya ibunya masuk rumah sakit, jadi Dara langsung minta izin ke Mama untuk pulang kampung"
"Kok gak izin sama Kenzo ?"
"Mungkin belum sempat nak, tadi kata Dara dia akan telepon kamu. Pikiran Dara sedang kacau makanya dia belum sempat hubungin kamu"
__ADS_1
"Berapa lama dia pulang kampung Ma ?"
Ningrum menggeleng "Kalau itu Mama tidak tau nak, kata Dara jika ibunya sudah sembuh secepatnya dia akan kembali ke sini"
Kenzo terdiam, rasa kesal sedikit ia rasakan karena Dara pergi tanpa pamit, seandainya tadi Dara menghubunginya mungkin Kenzo akan mengantar Dara pulang. Pikir Kenzo.
"Mama tau alamat rumah Dara ?" tanya Kenzo lagi, kali ini berharap Ningrum menjawab iya.
"Mama lupa nanya sayang "
Harapan hanya tinggal harapan. Ningrum tidak mengetahui alamat rumah Dara, jadi otomatis Kenzo tidak bisa menyusul, sekarang hanya tinggal menunggu Dara menghubunginya.
"Ya sudah aku ke kamar Ma"
"Hmmmm"
Menurut Ningrum sikap Kenzo sangat berbeda, sejak tadi Kenzo tidak menatap Neysa bahkan menyapa nya pun tidak. Apa semua ini karena kepergian Dara.
"Mungkinkah Kenzo sudah mencintai Dara ya ? kelihatannya Kenzo marah karena Data pergi tidak pamit " batin Ningrum penuh tanda tanya.
*******
Kembali ke rumah sakit...
Seorang pria tampan, memakai celana jeans hitam di padukan kaos putih polos di tambah jaket coklat yang kancingnya ia biarkan terbuka, sedang berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit.
Saat mendapat kabar kalau sang Mama masuk rumah sakit, Tama langsung terbang ke Indonesia. Ia tidak bisa mendengar kabar kalau wanita yang telah melahirkan nya ke dunia ini terbaring tak berdaya.
"Assalamualaikum" ia mengucapkan salam saat pintu terbuka dengan pelan. Membuat Mario dan Dara serempak menoleh.
"Abang" Dara bangkit dari duduknya kemudian langsung memeluk tubuh sang Kakak dengan erat.
Tama menyambut Pelukan Dara, mencium puncak kepala adik satu-satunya itu dengan penuh kasih sayang. Sejak kecil Tama selalu memanjakan Dara, apapun yang Dara minta akan selalu ia turuti.
Setelah berpelukan dengan Dara. Tama menuju ke arah Mario, mencium punggung tangan Mario dan kemudian memeluknya. Disana Tama terisak.
"Bagaimana keadaan Mama ? kata dokter Mama gimana ?" tanya Tama beruntun.
"Dokter mengatakan Mama kamu terkena dara tinggi, sekarang ia mengalami lumpuh sebagian"
Tama terdiam, ini kabar paling menyakitkan yang pernah ia dengar. Tak tau harus melakukan apa selain berdoa kepada sang pemilik kehidupan.
__ADS_1