Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Terpeleset


__ADS_3

"Kenapa Mama bahas beginian ? Mama kan sangat tau kalau aku tidak mau menikah lagi, aku sangat mencintai Allisya Mama nya Ney"


Kenzo mengalihkan tatapannya, ia benar-benar tidak suka dengan ucapan Ningrum yang menginginkan dirinya menikah lagi, padahal Ningrum tau betul bahwa di dalam hati Kenzo ada Allisya wanita yang sangat ia sayangi.


"Mama tau itu nak, tapi coba kamu bayangkan jika Mama sudah tidak ada siapa yang akan menjaga Ney"


"Ma stop !" hardik Kenzo cepat "Lebih baik Mama tidur lagi ! ini masih malam, aku juga sudah mengantuk"


Kenzo berdiri, lalu berjalan menuju sofa, meninggalkan Ningrum yang belum selesai bicara. Ada rasa bersalah di hati Kenzo karena sudah membentak sang Mama.


Terdengar helaan napas panjang, Ningrum menatap putrinya yang sudah selonjoran di sofa, entah dengan cara apa supaya Kenzo mau menikah lagi, dan Ningrum berharap wanita itu adalah Dara.


"Semoga besok atau lusa kamu bisa membuka hati kamu nak, pikirkan Neysa, dia butuh sosok seorang ibu" batin Ningrum penuh harap.


*******


Pagi kembali datang, sejak tadi Neysa terbangun dan langsung menangis karena tidak ada Dara di samping nya. Kenzo sampai kewalahan menenangkan putrinya.


Tidak berapa lama pintu ruangan terbuka, Dara masuk sambil membawa makanan.


"Kamu dari mana ?" tanya Kenzo


"Saya habis sholat subuh mas, sambil beli makanan juga. Saya pikir Ney tidak akan bangun" jawab Dara, ia segera mendekat lalu mengambil alih menggendong Neysa.


"Kenapa tidak membangunkan saya ?"


"Tidak berani mas, apalagi mas Kenzo begitu nyenyak tidurnya"


Tangisan Neysa langsung berhenti, putri semata wayangnya Kenzo itu menempel kepalanya di dada Dara, terlihat sangat nyaman..


"Ini sarapan nya mas, tadi ada yang jual nasi uduk di depan, makanya saya beli" ucap Dara


"Letakkan saja di meja ! nanti saya makan" jawab Kenzo .


Dara menurut, ia meletakkan nasi uduk yang ia beli keatas meja.


"Kita cuci muka dulu yuk ! setelah itu Ney sarapan" kata Dara pada Neysa.


"Iya kak". jawab Neysa langsung menurut, tidak sedikitpun ia membantah apa yang Dara katakan.


Dara membawa Neysa ke kamar mandi, hanya butuh waktu lima menit ia sudah selesai.

__ADS_1


******


"Kok Dara tidak menelpon kita ya pa, Mama kangen" ucap Syerli sambil menatap layar ponselnya.


Sejak Dara mengirim pesan waktu itu, sampai sekarang tidak ada lagi kabar dari Dara, membuat Syerli begitu merasakan rindu yang teramat dalam.


"Dara itu bekerja sebagai baby sitter Ma, dia sibuk pastinya" jawab Mario yang terdengar begitu kesal saat mengatakan kalau putrinya bekerja sebagai baby sitter.


"Mungkin ya pa, kira-kira Dara kerja dimana ?".


"Mana Papa tau, nanti kalau Dara telepon Mama tanya dimana dia bekerja"


Syerli kembali menatap layar ponselnya, siapa tau Dara akan menelpon atau setidaknya mengirim pesan, tapi sudah satu jam tidak ada notif sama sekali membuat wanita paruh baya itu menarik napas berat.


"Dari pada Mama sedih , gimana kalau besok kita ke tempat Tama ?" usul Mario


"Serius Pa ?"


"Iya ma, Papa juga udah rindu sama cucu"


"Mama mau, tapi perusahaan bagaimana ?"


Syerli mengangguk, memang setiap berkunjung kerumah Tama kedua tidak bisa lama, selain karena Mario harus bekerja, Syerli juga kadang tidak selalu akur dengan istrinya Tama.


*******


Setelah dokter memeriksa keadaan Ningrum, akhirnya Ningrum sudah di perbolehkan pulang, dokter berpesan agar Ningrum istirahat total dan jangan kelelahan dahulu.


Sembari menggendong Neysa, Dara juga membantu membawakan barang lainnya, sementara Kenzo mendorong kursi roda dimana Ningrum duduk disana.


Ada bibi Rus juga yang ikut membantu, karena memang barang yang dibawa lumayan banyak.


Setiba di rumah, Dara kembali membantu membawakan barang masuk, walau Kenzo sudah melarang tapi wanita itu tetap melakukannya.


Saat Dara sedang berjalan membawa tas masuk, tak sengaja kaki nya menginjak kulit pisang yang entah siapa yang membuangnya kesana, Tubuh Dara oleng tapi beruntung ia tak terjatuh karena Kenzo dengan cepat menangkapnya.


Mata mereka saling memandang, detik itu juga detak jantung Dara berpacu dengan kuat, tersadar kalau semua ini salah Dara langsung melepaskan diri, ia menjadi salah tingkah begitupun dengan Kenzo.


"Terima kasih mas karena sudah membantu" ucap Dara.


Kenzo tak menjawab, ia justru mengambil kulit pisang yang tadi mengakibatkan Dara terpeleset.

__ADS_1


"Pak Harno" teriak Kenzo menggema.


"Iya tuan" jawab Pak Harno terengah-engah, karena memang ia dari dalam rumah


"Lain kali kalau makan pisang kulitnya jangan di buang sembarangan ! ini membuat orang jatuh" omel Kenzo.


"Maaf tuan, tapi saya tidak makan pisang"


"Lalu dari mana kulit pisang ini berasal ? tidak mungkin kan jatuh dari langit"


Pak Harno menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia memang bingung dari mana kulit pisang itu berasal.


"Sudah mas, lagian saya tidak apa-apa " sahut Dara.


"Iya itu karena saya tolong, coba tadi kalau saya tidak ada mungkin kepala kamu sudah terbentur semen ini"


"Tapi yang penting saya tidak apa-apa mas, jangan marahin pak Harno terus kasian kan"


Kenzo melirik ke arah Pak Harno, laki-laki paruh baya itu menunduk karena takut, sementara Dara sudah masuk ke rumah karena di susul oleh Neysa.


"Lain kali tolong di perhatikan ya pak ! walau bukan bapak yang memakan jika bapak melihat segera buang "


"Baik tuan"


"Ya sudah mobilnya di cuci dulu, soalnya mau saya pakek ke kantor"


Pak Harno mengangguk mengiyakan, setelah Kenzo masuk kedalam rumah ia segera menjalankan perintahnya.


Di ruang tamu ada Ningrum, Neysa dan juga Dara, mereka tak langsung masuk ke kamar karena Neysa ingin bermain dulu.


"Kenapa Mama tidak istirahat di kamar saja ? ingat kata dokter Mama harus banyak istirahat " ucap Kenzo sambil ikut bergabung disana.


"Mama bosan nak tiduran terus, lagian Mama disini hanya duduk saja tidak melakukan apapun" jawab Ningrum, padahal ia baru sehari semalam menginap di rumah sakit.


Kenzo tak lagi menjawab, ia fokus menatap kearah Dara dan juga Neysa yang sedang bermain boneka, sesekali terdengar tawa Neysa yang pecah karena kelucuan Dara dalam bermain. Tak terasa sudut bibir Kenzo terangkat melihat putrinya begitu bahagia.


Diam-diam Ningrum memperhatikan semuanya, ia mulai menghayal andai kalau Dara, Kenzo dan juga Neysa adalah satu keluarga mungkin ia akan menjadi wanita paling bahagia.


"Ya Allah semoga wanita ini engkau kirimkan untuk menjadi jodoh anak ku nanti" batin Ningrum penuh harap.


"Mama ke kamar dulu ! kamu disini aja nemenin Dara dan juga Ney" pinta Ningrum

__ADS_1


__ADS_2