
Niat untuk segera pulang, Dara kembali memutar tubuhnya untuk memasuki rumah sakit. Tentunya untuk mencari info lebih lanjut tentang kehamilan Vio.
Walau ia dan Kenzo tidak mungkin bisa bersama, setidaknya Dara tidak akan membuat pria itu jatuh ketangan Vio, apalagi mengingat tentang Neysa.
"Aku harus cari tau siapa yang membuat Vio hamil, tapi sebelum itu aku harus mengambil hasil pemeriksaan Vio tadi" Dara bergumam
Mendapatkan hasil pemeriksaan Vio bukanlah hal yang sulit. karena rumah sakit itu adalah milik keluarganya. Dara, yang biasanya tak pernah menggunakan kekayaan kedua orang tuanya, tapi kali ini harus ia lakukan demi Kenzo.
"Maaf mbak, tadi Pasien atas nama Violita habis periksa apa ?" Tanya Dara pada resepsionis.
"Sebentar saya cek dulu" sang Resepsionis mulai membuka lembaran data para pasien yang mendaftar hari ini. Setelah mendapatkan nya ia kembali mendongak dan menatap Dara.
"Nona Dara, pasien atas nama Violita tadi mendaftar ke poli kandungan"
Sudut bibir Dara terangkat, ia hampir berhasil mendapatkan kartu as Vio, nanti setelah ia mendapatkannya, Dara akan langsung membongkarnya.
Tanpa bertanya lagi Dara langsung menuju poli kandungan, kebetulan dokter yang bertugas teman dekat Dara.
"Permisi" ucap Dara, setelah berhasil membuka pintu ruangan.
Dokter Arini menoleh, lalu tersenyum ke arah Dara "Tumben kamu kesini" balas Dokter Arini.
"Aku sedang membutuhkan bantuan Kakak" ucap Dara, ia memang memanggil dokter Arini dengan sebutan Kakak, karena memang umurnya tua dokter Arini di banding Dara.
"Apa ?"
Dara menarik kursi lalu mendudukkan diri di hadapan dokter Arini. "Apa tadi ada pasien yang namanya Violita ?"
Arini menatap Dara, keningnya mengkerut dalam. Baru kali ini Dara menanyakan pasien yang periksa dengannya.
"Memangnya kenapa kalau ada ?"
"Aku ingin meminta hasil pemeriksaanya"
"Buat apa Ra ?"
"Jawab dulu kak, ada gak pasien nya ?"
Dokter Arini menarik napas panjang, ia seharusnya tak bisa memberi tahu siapapun, tapi menolak keinginan Dara juga tidak enak. Mengingat selama ini Dara sudah banyak membantu dirinya.
"Ada, tapi buat apa kamu ingin meminta hasil periksanya ?"
"Kakak gak perlu tau untuk apa, yang penting sekarang aku minta hasil pemeriksaannya"
"Kamu ini selalu saja memaksa. Ya sudah tunggu bentar" dokter Arini segera melakukan apa yang Dara pinta, ia mengeluarkan hasil pemeriksaan Vio tadi.
Usai mendapatkan nya Dokter Arini memberikan kertas itu kepada Dara. Senyum Dara langsung mengembang saat membaca hasil pemeriksaan Vio.
"Sudah berapa bulan dia hamil kak ?"
__ADS_1
"Empat bulan, memangnya ada apa sih Ra ?"
"Dia ini penipu kak, dia mau menjebak pacar aku supaya menikahinya" jelas Dara, padahal hatinya meringis saat mengakui Kenzo sebagai pacarnya.
*
*
*
Sejak kepergian Dara tadi, membuat perasaan Kenzo menjadi tidak tenang. Rasa bersalah dan kecewa bercampur menjadi satu.
Melupakan wanita itu bukanlah hal yang mudah bagi Kenzo, apalagi mengingat selama ini Dara sudah memberikan secercah kebahagiaan untuknya.
"Kamu kenapa ?"
Sebuah suara membuat Kenzo mendongak, pria beranak satu itu menatap sang mama sejenak. Lalu menggelengkan kepala pelan. Tentu saja ia tak akan menceritakan pada Ningrum apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu ?" Ningrum duduk di samping putranya.
"Keputusan yang mana Ma ?" Kenzo seakan lupa kalau ia sudah membuat keputusan untuk menikahi Vio.
"Menikah dengan Vio, bukankah katamu minggu depan"
Terdiam sejenak, Kenzo sebenarnya belum yakin kalau keputusan nya ini adalah yang terbaik. Ia masih sulit untuk percaya kalau menikahi Vio permintaan Allisya. Hanya saja saat ini Kenzo tak bisa mengungkapkan kebenarannya.
"Jika kamu tidak bisa katakan saja !, Allisya juga pasti akan mengerti nak. Perasaanya itu tidak bisa di paksakan"
"Tapi aku tidak mau kehilangan Neysa, Mama Wilda bilang kalau aku tidak mau menikah dengan Vio, mereka akan membawa Neysa"
Ningrum merasa iba dengan kondisi putra semata wayangnya itu. Ia yakin Kenzo masih sangat mencintai Dara. Tatapan mata Kenzo tidak bisa berbohong saat pria itu menatap Dara tadi.
*
*
*
Sementara itu di rumah, Vio dan Wilda baru saja tiba. Keduanya duduk di sofa.
"Bi, bikinin teh hangat" teriak Vio dengan lantang.
Bibi Rus yang mendengar itu, hanya mendengus kesal. Rasanya ia sudah tidak tahan dengan kehadiran Vio, majikan bukan tapi kelakuannya melebihi majikan.
Dengan perasaan kesal bibi Rus membuat dua gelas teh. Lalu membawanya ke ruang tamu.
"Ini teh nya Mbak"
"Hmmmm"
__ADS_1
Bibi Rus kembali berdiri, tapi matanya melihat telapak tangan Wilda yang mengelus perut Vio. Kening wanita paruh baya itu mengkerut, seingatnya, seseorang melakukan itu jika sedang hamil.
"Mala bengong, sana pergi !" Bentak Wilda yang menyadari tatapan bibi Rus.
"I-iya nyonya, maafkan saya".
Wilda menatap sinis ke arah Bibi Rus.
"Makanya ma jangan sering-sering elus perut Vio, entar kalau ketahuan gimana ?" Vio berkata dengan pelan.
"Mama sudah tidak sabar merasakan tendangannya sayang"
"Ya tapi lihat tempat Ma, gimana kalau Bibi Rus curiga lalu mengadu sama Kenzo. Kan bahaya"
"Enggak akan sayang, kalau dia sampai melakukan itu Mama akan memecatnya"
Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata bibi Rus masih berdiri di belakang mereka. Wanita itu mendengar dengan jelas apa yang baru saja Wilda dan Vio katakan. Ia cukup terkejut saat mengetahui kalau Vio hamil.
"Coba kalau mbak Dara masih di sini, pasti aku akan memberi tahu dia" batin bibi Rus
Tidak ingin ketahuan, Bibi Rus langsung pergi dengan langkah pelan. Ia mengusap dadanya saat sudah berdiri di dekat kulkas. Entah kenapa ia merasa deg-degkan saat tau kalau Vio hamil.
"Kalau aku kasih tau tuan Kenzo, pasti dia tidak akan percaya."
"Kenapa tadi tidak aku rekam, supaya aku punya bukti"
Baru saja Bibi Rus selesai bergumam, ponsel bututnya berbunyi. Wanita paruh baya itu melihat siapa yang menelpon. Tertera nama Dara disana.
Bibi Rus menuju kamar, menutup pintu kamar dengan rapat. Ia tidak ingin ada yang mendengar ucapanya dengan Dara nanti.
"Halo mbak Dara, gimana kabarnya ?" Tanya Bibi Rus setelah panggilan terhubung.
"Alhamdulillah baik, bibi sendiri bagaimana kabarnya ?"
"Baik juga mbak"
"Hari ini bibi belanja bulanan kan ?"
Bibi Rus terdiam sejenak. Ia hampir saja melupakan kegiatannya sebulan sekali untuk belanja.
"Untung mbak Dara ngingetin, bibi hampir saja lupa. Emmm, memangnya ada apa ya mbak ?" Bibi Rus kembali bertanya.
"Aku mau ketemuan sama Bibi, ada yang mau aku bicarakan"
"Baik mbak, nanti kalau udah sampai supermarket bibi hubungin"
"Ok"
Sambungan telepon pun terputus, Bibi Rus bertanya-tanya. Apa yang hendak Dara bicarakan .
__ADS_1