
Bukan hal yang sulit bagi Tama untuk menemukan siapa pria yang sudah menanam benih di rahim Vio. Terbukti sekarang pria itu sudah mendapatkan semuanya.
Bahkan tak tanggung-tanggung, Tama langsung membawa pria itu ke indonesia untuk menemui Dara.
"Siapa kalian ? Kenapa kalian membawa saya kesini ?" Pekik pria yang saat ini tengah terikat di atas kursi tua.
Tama tak menjawab, karena menurutnya ini bukan tugasnya. Biarkan Dara yang menjawab semuanya.
*
*
Sementara itu, setelah membaca pesan dari Tama, segera Dara bersiap untuk menemui kakak nya itu. Ia tidak menyangka kalau secepat ini Tama mendapatkan hasilnya.
"Abang benar-benar the best" gumam Dara.
Setelah meneliti penampilannya saat ini, Dara pun keluar kamar. Menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah yang tergesah-gesah.
"Kamu mau kemana Ra ?" Tanya Mama Syerli menatap putri kesayangan nya.
"Aku mau keluar sebentar Ma, ada urusan"
Kening Mama Syerli mengkerut "ini masih pagi Ra, ada urusan apa kamu sepagi ini ?"
"Ada pokoknya Ma, bentar aja kok"
"Ya sudah hati-hati"..
"Siap Ma"
Setelah mencium punggung tangan sang Mama, Dara sudah melesat pergi. Menuju mobil pribadinya agar segera tiba di alamat yang Tama kirimkan.
Sepanjang perjalanan, terdengar gerutuan yang keluar dari mulut Dara. Bagaimana tidak jalanan yang Dara lewati begitu sepi dan terkadang melewati hutan.
"Abang benar-benar ya, ngapain coba harus jauh banget kek gini"
Hingga tak berapa lama mobil yang di kendarai Dara berhenti tepat di depan sebuah rumah tua, hanya ada rumah itu disana dan di depan rumah itu ada dua orang penjaga yang berpakaian hitam.
Melihat kedatangan Dara, dua penjaga itu langsung mendekat dan menyambut Dara.
"Silahkan masuk nona, tuan Tama sudah menunggu di dalam"
__ADS_1
"Baik, terima kasih"
Dengan cepat Dara memasuki rumah itu. Rumah yang begitu banyak debu sehingga membuat Dara terbatuk-batuk.
"Abang" Dara berlari dan memeluk kakak kesayangannya.
"Sama siapa kamu kesini ?" Tanya Tama yang juga membalas pelukan Dara.
Dara melepaskan pelukan "Sendiri"
"Sendiri ?" pekik Tama kaget "Kan Abang sudah bilang minta antar sama sopir. Astaga Dara" pria itu mengurut pangkal hidungnya, karena masih tak menyangka kalau adik kesayangannya datang sendiri.
"Aku pikir tempatnya gak sejauh ini Bang" Dara cemberut, bibirnya maju ke depan.
"Kamu bisa lihat di Maps Ra, untung kamu selamat sampai sini. Kalau enggak Abang gak akan bisa maafin diri Abang sendiri"
Dara terenyuh mendengar ucapan Tama, ia memang tau kalau Tama begitu menyayangi dirinya.
"Ya udah Bang, yang penting Dara gak kenapa-napa. Sekarang dimana laki-laki itu ?"
Tama menunjuk ke arah sudut ruangan yang sedikit gelap, Dara pun mengikuti arah tangan sang Kakak, disana seorang pria tengah duduk dengan kedua tangan dan kaki terikat di atas kursi kayu yang sudah tua.
"Boleh Dara kesana ?"
Dara mendekati pria itu, di hatinya ada rasa bahagia karena pernikahan Kenzo dan Vio tidak akan terjadi.
"Siapa kamu ?" pria yang sedang terikat itu menatap Dara dengan tatapan tajam.
"Kamu tidak perlu tau siapa aku" balas Dara sembari mengeluarkan ponselnya di dalam tas. "Apa kamu mengenal wanita ini ?" Dara menunjukan foto Vio pada pria itu.
Mendadak pria itu terdiam dengan wajah penuh ketakutan, tentu saja ia mengenal foto wanita itu. Tapi dulu ia pernah berjanji pada Vio kalau ia harus menghilang.
"Ti-dak, saya tidak mengenal wanita ini" jawab pria itu gelagapan.
"Bohong.." bentak Dara "Ayo mengaku saja ! kalau kamu tidak mau mengaku, kedua anak buah Abang aku akan melakukan hal buruk padamu"
Pria itu semakin ketakutan, ia tidak ingin mendapat pukulan lagi. Ia masih ingat bagaimana semalam kedua pria itu memukulnya membabi buta.
"Katakan saja ! apa kamu mengenal Vio. Dan apa kamu adalah Ayah dari anak yang Vio kandung ?"
Melihat pria itu tak menjawab, Tama pun mendekat. Ia berdiri di hadapan pria itu.
__ADS_1
"Bondan, apa kamu masih ingat kejadian semalam ?, apa semua itu ingin di ulang lagi ?" hardik Tama.
"Jadi namanya Bondan ?" Dara menyahut.
"Jangan tuan, iya saya akan mengakui semuanya" pria yang bernama Bondan itu semakin ketakutan dengan ancaman Tama.
"Bagus ! dari tadi kek, kenapa harus di ancam dulu" balas Dara kesal.
Disana Bondan menjelaskan semuanya, kalau dirinya memang sudah lama berhubungan dengan Vio. Bahkan Bondan tau kalau Vio mengandung anaknya. Tapi entah kenapa wanita itu enggan untuk menikah dengan nya dan memilih pergi.
"Jadi Vio benar-benar ingin menjebak Kenzo" gumam Dara namun bisa di dengar oleh Bondan.
"Aku akan membantumu supaya pernikahan Vio batal, karena aku tidak rela anak ku di asuh pria lain"
"Bagus, sekarang kamu ikut saya kerumah ! nanti kita datang saat hari pernikahan mereka"
Bondan mengangguk patuh, ia sudah tidak kuat membantah.
*
*
*
Hari sudah berlalu, pernikahan Kenzo dan Vio akan di laksanakan besok pagi. Walau Mama Ningrum terus memberi ancaman pada Kenzo tapi tetap saja pria itu akan menikahi Vio.
Dan sekarang Mama Ningrum hanya bisa pasrah, namun untuk menerima kenyataan ini begitu sulit untuk ia lakukan. Kenzo benar-benar tidak mau mendengarkan dirinya.
Sementara itu, Vio dan Mama Wilda sedang berada di butik ternama untuk memesan gaun pernikahan. Tak tanggung-tanggung Vio memesan gaun yang sangat mahal untuk hari pernikahan nya besok.
"Bagaimana Ma, ini bagus gak ?" tanya Vio pada sang Mama sembari membolak balikkan tubuhnya yang sedang memakai gaun.
"Wow, bagus sekali" Mama Wilda terpana dengan gaun pilihan Vio.
Saat mereka sedang mencoba gaun, tiba-tiba Dara memasuki butik itu. Membuat Vio tersenyum sinis ia berniat untuk membuat Dara cemburu.
"Kebetulan ketemu kamu disini" Vio menggunakan ekspresi terkejut "Kamu sudah tau kan kalau besok hari pernikahan ku dengan Kenzo"
Dara membalas senyuman Vio "Iya, selamat untuk kalian"
"Aku gak butuh selamat dari kamu, aku ingin kamu datang besok"
__ADS_1
"Aku pasti datang, tenang saja" balas Dara.
"Karena aku yang akan membatalkan pernikahan kalian" lanjut Dara dalam hati